By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Berkah dan Bencana atas Kehadiran IT

Andrik Purwasito, Guru Besar Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya
Tematik : Benturan Teknologi Informasi dengan Budaya dalam kaitannya dengan Hari Kebangkitan Nasional
1.Pengantar
Saya mengawali paper saya ini dengan menyitir dua paragraf “garis peringatan” (pandangan) Islamolog Prancis Roger Garaudy (1981) tentang arah perkembangan peradaban Barat sebagai berikut:
Pada masa sekarang, karena keunggulan yang tiada taranya dalam bidang ekonomi, politik dan militer, Barat memaksakan kepada seluruh dunia caranya ia berkembang; cara itu akan mendorong kita kepada suatu bunuh diri seluruh dunia sekaligus. Karena (keunggulan tersebut justru) menimbulkan ketidakseimbangan yang bertambah-tambah, menghilangkan segala perspektif bagi kaum yang tak berada, dan mematangkan revolusi-revolusi yang putus asa, dalam pada itu ia menyediakan seberat 5 ton bahan peledak atas tiap kepala penduduk bumi ini.
Telah sampai waktunya untuk menginsyafi bahwa cara berkembangnya Barat yang mendorong kita kepada hidup tanpa tujuan dan kepada kematian, telah berusaha untuk membenarkan dirinya dengan suatu kebudayaan dan ideologi yang membawanya kepada kematian.
Dengan ditambahkannya kemampuan keberhasilan Barat membangun ICT (Information and Computer Technology), di tahun 2011 “garis peringatan” Garaudy tersebut sangat relevan untuk digarisbawahi lebih tebal lagi. Keterlibatan Barat secara militer (diwakili oleh NATO), di berbagai belahan bumi, terakhir kita sekarang tahu di Afghanistan, di Afrika, di Jasirah Arab, di Libya, Tunisia, Mesir, semuanya cukup membuka lebar mata kita tentang serial bertajuk demokratisasi dunia.
Tema Depkominfo “benturan IT dan Budaya” seolah membenarkan bahwa telah terjadi “clash of civilisation” sebagaimana Samuel P. Huntington (Huntington: 2001) membeberkan kepada kita satu dekade yang lalu. Dialog lintas-budaya adalah suatu kebutuhan bahkan suatu keharusan (il faut faire), sebagai salah satu jalan dan cara untuk mencapai keberhasilan proyek kemanusian di muka bumi yang adil dan beradab. Meskipun hasilnya mungkin tidak terlalu memuaskan karena “dialog lintas-budaya” kurang efektif dibandingkan dengan cara militer dan ekonomi, setidaknya dialog lintas-budaya memberi perspektif yang lebih transendental, yakni berangkat dari harkat dan martabat sebagai manusia yang mempunyai hak untuk hidup dan berkembang secara normal.
Menurut Garaudy, perdebatan dunia tidak lagi antara kapitalisme dan sosialisme, tetapi persoalan vital terletak pada implementasi mitos kemajuan bangsa-bangsa dan gaya kemajuan Barat. Persoalan mitologi Barat yang bisa membunuh lebih banyak lagi korban, ideologi yang memisahkan antara sains dan kekuasaan, ideologi yang meninggikan martabat invidualisme dengan memutuskan kodrat manusia sebagai makluk sosial. Barat sekarang ini, menurutnya memainkan drama monolog sepihak yang bisa “mengancam manusia pada kepunahan” (Garaudy: ibid, p.18).
Dengan mempertahankan mitologi yang ada, Barat memposisikan diri sebagai Bangsa Beradab sedangkan bangsa lain sebagai “the others” (istilah Garaudy: Manusia Timur dilengahkan, dianggap remeh atau dienyahkan, sebagai bangsa Barbar dengan perilaku biadab bahkan dilahirkan hanya untuk diperbudak (Garaudy: Ibid, 19). Sekarang cara pandang Barat terhadap dunia juga belum berubah, yakni memandang dunia sendiri sebagai yang paling “demokratis” dan yang lain “tidak demokratis.”
Pernyataan di atas adalah potret yang mempersoalkan hegemony Barat atas Bangsa-bangsa lain dengan cara-cara mereka sendiri, yang sering cara tersebut bertentangan dengan kodrat manusia sendiri. Apalagi dengan kehadiran Teknologi Informasi dan Komputer sekarang ini, tidak dapat dibantah hegemoni tersebut jauh semakin kokoh dan seolah-olah tak terkalahkan.
2. Perkembangan Teknologi Informasi
Teknologi Informasi (IT) telah kita lihat mempunyai kemampuan mengubah dunia. Perkembangan yang spektakuler IT dibarengi dengan perkembangan terknologi transportasi, “booming” ekonomi global ditandai dengan kerja sama ekonomi diantara Negara-Negara Kaya-Miskin yang makin meningkat (Naisbitt dan Aburdene: 1990), kemampuan pembiayaan program developmentalism, dibuktikan dengan keberhasilan dunia mencegah terjadinya Perang Dunia III.
Apa yang terjadi dalam revolusi IT dan perkembangan di atas adalah penemuan dan inovasi teknologi komputer dan internet, yang mampu mempercepat perjalanan sejarah dengan kemampuan menciptakan roda peradaban manusia semakin cepat (real time) dan biaya semakin murah. Kemampuan komunikasi manusia dengan internet untuk melakukan komunikasi antar bangsa, melahirkan terbukanya share dan peluang membangun networking tingkat global.
Internet berkembang pada awal tahun 1960an di Amerika Serikat dilakukan oleh laboratorium DARPA, mengarah pada konsepsi “galactic network” yang 68 tahun kemudian laboratorium ARPANET memperkenalkan konsep “internetting.” Perkembangan jumlah Web-sites dunia berdasarkan laporan UNDP (2001) berkembang dari 200 web-sites pada Juni 1993 menjadi 20 juta web-sites di akhir tahun 2000. Diperkirakan jumlah penambahan web-pages setiap harinya kurang lebih 2 juta lebih.
Menurut laporan UNDP dan ITU (International Telecommunications Union), jumlah pengguna internet diperkirakan 16 juta pada 1995 dan meningkat menjadi 655 juta users pada 2002. Jumlah email mencapai lebih dari 15 juta users di awal tahun 1990an berkembang menjadi kurang lebih 569 juta email di akhir tahun 1999. Sedangkan jumlah Negara pengguna internet menurut sumber ITU berkembang dari 8 Negara tahun 1998 menjadi 214 tahun 2000.
3.Problematik
Makin meningkatnya pengguna internet di seluruh dunia dan keterlibatan Negara-negara, Organisasi sosial, Organisasi Politik dan Organisasi Komersial dalam membangun jaringan dan integrasi dunia, Naisbitt mengungkapkan secara sederhana “the world in your pocket.”
Integrasi mondial melalui kemudahan berkomunikasi melalui dunia maya tersebut, dipastikan membawa konsekuensi logis. Pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia, melalui seminar ini menyebut perkembangan IT melahirkan “ancaman” oleh sebab itu terjadi “benturan” antara Teknologi Informasi (IT) dengan Budaya.
Pertanyaan yang dapat diajukan adalah “Apa yang terjadi dengan adanya “benturan” tersebut? Efek apa yang ditimbulkan bagi bangsa Indonesia dan bagaimana cara kita mengantisipasinya?

4.Antara Berkah dan Bencana
Menjawab atas pertanyaan di atas, dua konsekuensi logis terjadinya “benturan.” Pertama “benturan” yang membawa berkah (advantage).
Kedua “benturan” yang mengakibatkan bencana (disadvantaged).

a.Sebagai Berkah
Kita semua telah merasakan bahwa perkembangan IT merupakan berkah (membawa banyak keuntungan) yang mampu mengampiflikasi (menguatkan) sendi-sendi kehidupan dan kemajuan peradaban kita. Dalam kehidupan sehari-hari warga kita menggunakan internet untuk melakukan share dan networking baik untuk kepentingan pribadi, kepentingan komersial, pendidikan, kepentingan militer maupun kepentingan sosial-budaya lainnya. Melalui teknologi internet, kita mempunyai lebih banyak kesempatan untuk bergaul dan berkomunikasi serta melakukan akses berbagai informasi dunia dengan cepat dan murah. Dengan kedahsyatan kapabilitasnya open source dan share meaning, Internet juga mempunyai kapasitas untuk mendorong penambahan ilmu pengetahuan yang beragam, sehingga mampu mendorong “bangkitnya” tuntutan publik Indonesia terhadap perbaikan kualiatas dan fasilitas kesehatan, perbaikan kesejahteraan rakyat melalui program jaminan sosial, perbaikan sistem pendidikan, hak-hak asasi manusia, hak-hak politik dan partisipasi rakyat dalam proses pembangunan nasional.
b.Efek Bencana
Internet adalah technology of freedom yang membuka kebebasan. Artinya, publik dan privat semakin terbuka dan rendahnya batas-batas privasi. Dengan kata lain, transparansi menjadi bagian penting dari aspek demokratisasi informasi tersebut. Bencana yang lebih dahsyat atas kecanggihan teknologi informasi adalah dimanfaatkan oleh berbagai pihak (baca Kapitalisme) sebagai bentuk-bentuk baru dari imperialisme Barat. Karena pada dasarnya internet adalah diffusing Western logic, yang sering diwaspadai dengan kemampuan internet sebagai E-imperialism.
Naisbitt melihat bahwa dengan perkembangan teknologi informasi dan transportasi terjadi apa yang ia sebut cultural homogenization. Pendek kata, bahwa internet mempunyai kemampuan lebih (the most powerful) untuk mengitegrasikan dunia dibawah dominasi Barat, dikombinasikan dengan kekuatan ekonomi yang monopolis. Hal ini sejalan dengan pemikiran Garaudy, bahwa Teknologi informasi pada akhirnya secara alami melahirkan gap-gap baru antara bangsa maju dengan bangsa yang relatif berkembang. Gap teknologi dan sumberdaya mengakibatkan marginalisasi atau tersingkirnya budaya lokal disebabkan oleh karena budaya lokal kurang unggul dalam persaingan antar produk dunia (Barat) serta kurang diminati oleh bangsa sendiri.
Kemampuan Barat dalam teknologi dan sumberdaya mampu menggoyahkan sendi-sendi kehidupan sehari-hari melalui saluran informasi yang terbuka dan cepat (bypass), sementara kemampuan Negara (misalnya seperti Pemerintah Indonesia melalui Depkominfo) cukup sulit melakukan sensorship terhadap media elektronika, khususnya Internet. Saluran informasi melalui internet dan media elektronika, media content yang ada juga mengikuti filosopi technology of freedom, dengan segala variasi dan konsekuensinya. Tayangan televisi, situs internet dengan content seperti pornografi, terorism, human rights, the right of self-determination (hak-hak sekelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan), menjadi ruang pembelajaran, memberi arah (guiding), cara-cara bertindak (manual) yang lengkap tentang berbagai hal.
Apa yang disalurkan oleh Internet, yaitu western logic dapat diartikan sebagai suatu bentuk kontrol isi informasi oleh Barat untuk kepentingan yang strategis mereka. Internet tidak ubahnya “saluran siluman” yang terbang memasuki wilayah publik tanpa pandang bulu dengan cara penetrasi yang paling canggih dan halus memasuki kamar tidur setiap orang. Bahkan dengan handphone, “saluran siluman” itu dimasukkan saku dan dengan mudah dibawa kemana-mana.
Uraian tersebut menunjukkan kepada kita bahwa perkembangan IT menjadi ampiflikasi sendi-sendi budaya, mengakibatkan “benturan” dan sangat jelas sebagai “ancaman” yang berada di depan mata. Dalam menyikapi, mengantisipasi dan membendung arus informasi “siluman” tersebut perlu strategi khusus agar sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia yang Pancasilais tidak terkisis habis.

5.Sikap Kita : Communication Engineering
Strategi khusus yang dimaksud adalah kapabilitas bangsa Indonesia untuk mengambil dan memanfaatkan seluas-luasnya perkembangan IT sekaligus melakukan cara-cara bijak untuk menanggulangi efek negatif yang ditimbulkannya.
Budaya sebagai pedoman berperilaku sangat rentan terhadap “benturan” apabila budaya tersebut berada pada kondisi masyarakat yang heterogen yang merupakan ciri-khas masyarakat Indonesia. Keberagaman budaya adalah kenyataan hidup, cultural diversity is a fact of life, (Samovar dan Porter: 2000) maka perlu strategi khusus tersebut agar kita selamat dari kehancuran yang disebabkan oleh benturan budaya.
Heterogenitas budaya di satu sisi mampu menjadi kekuatan pemersatu bangsa, di sisi yang lain, heterogenitas juga mempunyai potensi sebagai sumber konflik yang mampu mengancaman integrasi nasional. Oleh sebab itu dibutuhkan sistem kelola yang handal oleh Negara, apa yang saya sebut sebagai Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya (Andrik Purwasito: 2009).
Pada prinsipnya, dasar manajemen komunikasi lintas-budaya adalah communication engineering yaitu strategi merekayasa komunikasi massa untuk mengubah perilaku masyarakat sesuai yang dikehendaki (hardening attitudes) dengan cara menghapuskan sikap ragu-ragu dan bimbang sekaligus memberikan kepercayaan (breeding belief) sesuai dengan norma dan nilai-nilai kita dalam berbangsa dan bernegara.
Communication engineering adalah suatu sistem kelola untuk menghapuskan ketidakpastian informasi yang berkembang (avoid uncertainty) agar supaya tidak terjadi kesesatan dalam berpikir (avoid maladaptation).
Pada akhirnya, communication engineering merekayasa komunikasi massa agar mempunyai kemampuan menghapuskan kesenjangan informasi (gap information), karena kesenjangan tersebut suatu hari akan mampu melahirkan kekacauan (chaos). (Purwasito: Ibid) Hal ini biasanya ditandai dengan meluasnya informasi dan berita yang variatif, dari “ekstreem kanan-ekstreem kiri” sikap apatisme dan fatalisme yang terjadi pada berbagai tingkatan kehidupan perlu mendapatkan perhatian yang serius.
Dua dari tiga implementasi sistem kelola tersebut adalah :
1.Redesign kurikulum nasional dengan menambahkan unsur-unsur yang menggoyahkan tentang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti korupsi, terorisme, sistem sosial-budaya dunia, dll.
2.Rancang bangun Komunikasi Massa, tidak saja inter-conecting desa-desa, tetapi menekankan pada edukasi dan sosialisasi tentang visi-missi bangsa baik kepada insan pers dan kepada masyarakat dengan cara mengoptimalkan lembaga-lembaga negara dan swadaya masyarakat.

Demikian semoga bermanfaat.
Referensi:
Garaudy, Roger, Promesses de l’Islam, terjemahan Janji-Janji Islam, Paris 1981 versi Indonesia diterbitkan oleh Bulan Bintang, Jakarta, 1985
Huntington, Samuel P., Benturan Antar-Peradaban, dan Masa Depan Politik Dunia, Penerbit Qalam, Cetakan kedua, Yogyakarta, 2001
Naisbitt, John dan Patricia Aburdene, Megatrends 2000, Sidwick &Jackson, London, 1990
Purwasito, Andrik, Manajemen Komunikasi Lintas-budaya di tengah dinamika dan Perubahan Global, Pidato Pengukuhan Guru Besar , UNS, Surakarta, 2009
Samovar, Larry A. and Richard E Porter, Intercultural Communication, A Reader, edisi ke IX, Wadsworth Publishing, Belmont, 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s