By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Dekonstruksi Inistitut Seni ke Institut Seni-Budaya

Oleh: Andrik Purwasito

Dengan kembalinya Kementerian Pendidikan Nasional menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ditandai pula dengan hadirnya dua wakil menteri pada kementerian tersebut, telah melahirkan pula gagasan “nyalawadi” yakni pengubahan ISI (Institut Seni Indonesia) menjadi ISBI (Institut Seni-Budaya Indonesia). Tanggapan atas pengubahan tersebut terjadi dua kubu, yang pro dengan ISBI dan yang kontra. Tulisan ini mencoba melihat dari sisi yang lain.

Hati-hati kata “budaya”

Penambahan kata “budaya” dari ISI menjadi ISBI, akan membawa konsekuensi yang luar biasa. Seni dan Budaya adalah dua istilah yang sering digunakan sama, tetapi dalam prakteknya kedua istilah tersebut ambigu dan kontradiktoar. Keduanya memang sama-sama berbicara tentang hasil rasa, cipta dan karsa manusia. Keduanya buah peradaban manusia, menduduki posisi seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Perbedaannya seni berkarakter khas yaitu “ekspresi estetik” sedangkan budaya berkarakter “norma dan nilai.” Alhasil, seni dan budaya merupakan dua matra yang dapat berjalan beriringan, di sisi lain seni dan budaya melahirkan ketegangan-ketegangan. Untuk itulah, budaya harus dipahami sebagai suatu pedoman dan kaidah dalam perilaku kehidupan. Budaya sebagai ilmu yang berdiri sendiri sesungguhnya telah ter-representasikan dalam berbagai jurusan humanologi, seperti antropologi, sosiologi, sosiatri, etnografi, linguistik, termasuk seni seperti seni sastra, tari, musik, visual. Artinya apa? Institusi pendidikan seni, tidak dapat melepaskan dari aspek atau unsur-unsur humanologi. Basis seni terletak pada kehidupan masyarakat oleh sebab itu, seni seperti ilmu-ilmu lain mempunyai kemampuan untuk membangun masyarakat. Kalau ISBI diarahkan untuk mengubah peranan seni untuk pembangunan budaya masyarakat, maka tidak perlu “budaya” dijadikan legitimasi untuk penggantian nama. Biarkanlah ISI tetap menjadi institusi yang merepresentasikan dirinya sebagai ilmu yang mandiri. Apabila sekarang dipandang adanya kekurangan dalam visi dan misinya, maka persoalan itulah yang menjadi pokok pengubahan dan bukan dekonstruksi nama.

Matinya Estetika

Dengan pemahaman tersebut, maka sangat jelas sekali bahwa pengubahan ISI menjadi ISBI merupakan langkah dekonstruksi yang membawa konsekuensi logis, yakni “matinya estetika.” Kematian estetika adalah suatu bentuk penghancuran terhadap sistem peradaban manusia. Apa yang diharapkan penggagas ISBI kurang lebih adalah kebudayaan sebagai alat bagi kemajuan bangsa. Pandangan ini menyamakan fungsi kebudayaan sebagaimana fungsi politik dan fungsi ekonomi. Dengan begitu, ISI yang sudah on the track tersebut akan dibuatkan jalur baru, yakni jalur fungsional karena penggagas ISBI menganggap bahwa ISI selama ini hanyalah berfungsi sebagai lembaga pendidikan vokasi. Pengubahan jalur akademik ISI menjadi jalur baru ISBI justru suatu langkah pragmatik untuk mengatasi stagnasi yang terjadi terhadap lulusannya. Hal ini disebabkan oleh pemahaman penggagas ISBI yang keliru dengan mengatakan bahwa seni itu hanyalah bentuk ketrampilan. Pada hal seni adalah anak dari kebudayaan. Artinya, bahwa berbicara seni tidak mungkin dilepaskan dari kebudayaan. Culture is mother Art. Kesimpulannya Istitut Seni pada dasarnya adalah institut budaya juga. Ilmu Seni, yang kini tengah berkembang secara local genius, merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu-ilmu budaya Indonesia dan karenanya tolong biarkan Seni sebagai ilmu pengetahuan dapat mengembangkan dirinya sendiri secara lebih terarah dan memenuhi amanah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Pembobotan Perasoalan ISI menjadi ISBI pada akhirnya adalah soal pembobotan pada wilayah institut seni. Seberapa besar penambahan bobot untuk ISI dapat ditelusuri melalui kurikulum yang diajarkan pada institut seni. Kalau pembobotan tentang kebudayaan dianggap belum cukup, maka persoalan dekonstruksi akan berubah, dari dekonstruksi lembaga menjadi dekonstruksi kurikulum. Promosi tentang profile lulusan ISI memang belum banyak menyentuh masyarakat luas. ISI lebih banyak dikenal sebagai institusi pendidikan yang berbasis kesenian, pada hal idealnya seni mampu memasuki ruang-ruang sosial, politik dan ekonomi. Termasuk juga pengetahuan yang cukup dari pengelola pendidikan (dalam hal ini DIKTI) untuk melakukan pendekatan yang berkaitan erat dengan perkembangan seni dengan perkembangan sosial, politik, budaya, teknologi, karena cara pandang yang salah bahwa seni terlepas dan dilepaskan dari perkembangan sains dan teknologi. Dalam hal ini, pembobotan menjadi sangat urgens, mengingat seluruh perkembangan masyarakat terutama masa depan bangsa dan negara harus menjadi acuan untuk pengembangan institusi pendidikan, termasuk ISI. Dari pengalaman penulis, pendekatan interdisipliner dan multidisiplin akan mampu memberi bobot yang lebih agar Seni berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang ikut berpartisipasi aktif dalam tanggung-jawab sosial bangsa. Pengubahan paradigmatik ISI melalui redefinisi peran lembaga, pembobotan pada visi dan misi, dan perubahan kompetensi kurikulum, akan lebih substansif daripada dekonstruksi lembaga dari ISI ke ISBI. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penggunaan kata “budaya” tidak semudah dan sedangkal apa yang mungkin kita pahami selama ini. Budaya merupakan seluruh kegiatan manusia beserta seluk beluk yang sangat kompleks. Dengan ISI menjadi ISBI, para penggagas berambisi untuk memasukkan seluruh aktivitas kehidupan, sebagaimana yang tercakup dalam kata “budaya,” dalam format pendidikan yang sudah mapan adalah tindakan yang kurang bijak.

Seni Sosial

Belakangan ini, muncul genre baru seni post kontemporer Indonesia yang berbasis Seni Sosial, mendampingi seni lain seperti yang berbasis seni lingkungan, yang memfokuskan diri pada aktivitas seni yang bekerja dan berkarya seni bersama masyarakat empowering society, yang diarahkan selain memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat, seni juga sebagai solusi untuk penyelematan lingkungan (save nature). Dalam seni sosial, seni diarahkan untuk membangun kehidupan rukun dan damai (peacefull coexistance). Tisna Sanjaya dari ITB Bandung yang baru saja lulus program doktornya di ISI Yogyakarta, mengerjakan proyek seni berbasis seni sosial. Hasilnya suatu gagasan tentang aktivitas menyelematkan lingkungan di Cigondewah, suatu masyarakat plastik di Bandung Selatan. Melalui program Doktor Penciptaan Seni ISI Yogyakarta telah memperluas cakrawala seni dalam sistem peradaban dunia. Dengan lahirnya seni post-kontemporer yang berbasis sosial-budaya, perkembangan seni Indonesia mengalami suatu revolusi seni yang sangat dahsyat. Selain mulai meninggalkan cita-rasa estetik seni menuju menuju cita-rasa estetik sosial. Perkembangan tersebut memang membutuhkan perhatian dan kepedulian dari pengelola pendidikan, khususnya Kementerian pendidikan dan kebudayaan, karena seni tidak saja berada pada wilayah yang elitis, tetapi seni sosial adalah antitesa terhadap seni yang beradaptasi dengan kapitalisme menuju seni yang beradaptasi dengan lingkungan sosial. Seni sosial adalah seni yang berpihak untuk masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem kapitalistik dengan pembebasan lokal, bukan saja untuk kepentingan dan tindakan seni tetapi menuju tindakan global bersama teknologi, media baru, perkembangan sains. Seni sosial mengajak masyarakat go green yang telah dibuktikan oleh Tisna Sanjaya dengan upaya mengubah, sikap dan pola perilaku yang destruktif kearah sikap dan perilaku yang konstruktif (save nature), dari sentimen primordial monokultur menjadi multikultural, berbasis semangat hidup bersama dalam perbedaan (peacefull coexistance).

Jembatan Sosial

Dalam hal ini, seni berada pada posisinya sebagai “jembatan sosial” yang mencita-citakan keindahan dunia (mamayu hayuning bhawana). Keindahan dunia adalah keindahan sosial (social aestethic). Keindahan seni di Cigondewah adalah keindahan bagi dunia itu. Meskipun keindahan sosial masih dalam taraf cita-cita moral, tetapi seni mengerjakan bidang sosial-budaya yang berarti mengemban dharma perguruan tinggi, yakni Pengabdian kepada Masyarakat. Seni sebagai jembatan sosial telah merobohkan determinasi space and market, yakni robohnya sekat-sekat dan pasar modal dalam kesenian. Seni sosial tidak saja mengangkat fenomena global seperti penindasan, perusakan lingkungan, perang dan pemerkosaan melalui karya seni bersama masyarakat tetapi berbuat konstruktif untuk memperbaiki kesalahan dan keserakahan manusia. Dari uraian di atas, jelas ISI bukan sebagaimana dibayangkan orang selama ini, hanya berkutat seputar seni untuk kesenian itu sendiri. Seni mampu menjadi penyelemat lingkungan, mampu menjadi pendamai tetapi juga menjadi penghibur dan pemberdaya masyarakat. Kalau memang demikian gagasan ISBI sebaiknya ditanggalkan saja. (Penulis Guru Besar Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya, Departemen Komunikasi, FISIP-UNS, Surakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s