By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Daerah Istimewa Surakarta

Orasi Budaya:

Surakarta Daerah Istimewa Hamemayu Hayuning Bawana

Bismillahirohmanirachim

Yang terhormat, para sesepuh, pinesepuh, para pejabat dan Nayaka praja, para seniman, budayawan, para wartawan, dan seluruh hadirin

Assalamu’alaikum Wr. Wb,

Selamat malam, salam damai dan sejahtera bagi kita semua

Alhamdulillahirabbil’alamin …. Pertama-tama puja dan puji syukur kehadhirat Allah SWT, yang telah memberikan kita berupa limpahan rahmat, berkah, kenikmatan dan kebahagiaan, petunjuk dan bimbingan, serta kesehatan dan perlindungan yang teduh, sehingga kita dapat berkumpul di Soto Gerabag, Soto Unik milik Mas Hari Wiryawan dan Mbak etik, dalam rangka menyambut tahun baru 2010 yang diisi oleh berbagai ekspresi seni dan orasi budaya, dalam tema SOLO KUNCARA Hamemayu Hayuning Bawana. Amien..amien ya rabbal’alamin….

Kedua, perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya, rasa terima kasih yang dalam dan tulus eklas kepada semua pihak yang mendukung terhadap Surakarta sebagai daerah otonomi, yang mengatur wilayah istimewa ini berdasar aspirasi masyarakatnya.

Selanjutnya ucapan terima kasih dan rasa hormat saya sedalam-dalamnya kepada seluruh hadirin yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara mangayubagyo warsa enggal punika.

Hadirin yang saya mulyakan,

Dalam rangka mangayubagyo warsa enggal punika, saya ingin menyampaikan gagasan yang pernah saya sampaikan lebih dari sepuluh tahun yang lalu tentang Daerah Istimewa Surakarta sebagai daerah otonomi, ide yang muncul jauh sebelum dibukanya kran daerah pemekaran lain yang kini terjadi di penjuru Tanah Air. Malam ini saya mencoba menggali kembali khasanah Jawa, Sala Kuncara, sebagai konsep pengembangan daerah oleh Nenek Moyang yang dirancang sejak ratusan tahun yang lalu.

Malam ini, saya mencoba mengangkat kembali dan sekaligus mengingatkan bahwa Sala Kuncara adalah modal budaya yang sangat berharga untuk mengembangkan daerah Surakarta berdasar aspirasi masyarakatnya. Persoalannya adalah darimana kita harus memulainya? Jawaban saya adalah mulai memantapkan Surakarta sebagai Daerah Istimewa yang Otonom, sehingga masyarakat Surakarta dapat mengelola secara mandiri daerahnya dengan status sebagaimana daerah lain yang dimekarkan, yaitu Provinsi Daerah Istimewa Surakarta.

Bagaimana asal-usulnya?

Tahun 1985 ketika saya berpindah di Surakarta, tepatnya di Perumahan Wahyu Utomo, Palur, dalam impian, saya didatangi dua sosok berpakaian Jawa lengkap mengaku sebagai abdi dalem Karaton Surakarta. Kedatangannya menyampaikan pesan dari “penguasa” Karaton Surakarta bahwa saya telah diberi lilah untuk bertempat tinggal di wilayah Surakarta. Dalam kenyataannya memang datang 2 orang dari Karaton Surakarta, yaitu Ir. Raden Yuli Wibawa (Sekretaris Pribadi Susuhunan Pakoebowana XII) dan putra Mantu, Dr. Kanjeng Pangeran Eddy S. Wirabhumi, SH) di pagi hari tahun 1998, yang mengajak saya masuk ke dalam wilayah sakral Karaton Surakarta.

Sejak saat itulah saya mulai mempelajari Surakarta, Budaya Jawa, Karaton-karaton Nusantara, baik secara politis, sosial-ekonomi dan khususnya kebudayaan. Dari Karaton akhirnya saya mengenal secara lebih dekat dengan Susuhunan Pakoeboewana XII, yang melewatkan waktu bersama beliau di beberapa kesempatan, seperti di meja makan, perjamuan makan, kunjungan tamu, acara santai sampai acara resmi di Hari Perayaan Penobatan, Peringatan Satu Syuro, dan acara seminar-seminar.

Saya juga mengenal dekat dengan keluarga Besar Karaton, Putra-putri Dalem, Gusti Moeng, Gusti Poeger, Kanjeng Gusti Ratu Alit, Gusti Benawa, Gusti Behi (sekarang Susuhunan Pakoeboewana XIII) khususnya Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo, karena beliau adalah teman sekelas saya ketika duduk di bangku kuliah, di UGM Yogyakarta, yang sehari-harinya waktu itu bermain dan sering tiduran di kost saya (waktu itu saya tidak tahu kalau beliau adalah putra seorang Raja).

Apa yang saya lakukan di Karaton, selain sering mengikuti acara ritual tradisi, melakukan ziarah di tempat peristirahan terakhir Raja-Raja Mataram, juga berdiskusi dengan berbagai pribadi yang sangat luar biasa, baik tokoh spiritual maupun pemerhati sejarah spiritual Karaton Surakarta, seperti asal usul berdirinya Karaton, eksistensi dan peran tokoh legendari Nyai Roro Kidul, dll. Yang dalam hal ini adalah Ibu Gusti Broto.

Program lain yang saya kerjakan dengan Gusti Moeng dan Pangeran Eddy, serta Raden Yuli Almarhum (dan dukungan segala pihak) adalah mencoba mengangkat eksistensi Karaton dalam ikut serta memainkan peranan dalam era Republik Indonesia dan dalam kancah global. Lahirlah program Ikrar Tekad Bersatu, suatu gagasan dan ide yang keras bergema waktu reformasi itu, karena dengan lantang menyuarakan tekad untuk tetap mendukung Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Produk yang dapat dilihat antara lain adalah Deklarasi Indonesia Tekad Bersatu oleh Karaton-karaton Se Nusantara (1998) dan juga gagasan Susuhanan sebagaimana yang termuat dalam Maklumat Susuhunan Pakoe Boewana XII dalam memperingati Hari Peringatan Penobatan Raja yang ke 55.

Dari banyak kesempatan itu, saya memperoleh banyak sekali pengalaman, inspirasi, ilham dan pelajaran yang sangat berharga. Saya akhirnya punya keyakinan bahwa Karaton sebagai sumber inspirasi budaya tetap dibutuhkan kelestarian dan kesinambungannya. Karaton sebagai pamengku adat istiadat, kepercayaan dan visi budaya, harus menjadi bagian sangat penting dalam mengelola ke-Indonesiaan kita. Oleh sebab itu, sebagai rasa tanggung jawab saya sebagai pribadi, intelektual akademik dan orang Jawa, mengusulkan dua gagasan besar :

1. Gagasan Surakarta sebagai Daerah Otonomi

2. Gagasan pengelolaan Republik dengan Manajemen Komunikasi Lintas-budaya (sudah saya sampaikan dalam pengukuhan saya sebagai Guru Besar di Universitas Sebelas Maret Surakarta, 10 Desember 2009 lalu).

Hadirin yang saya mulyakan

Dari uraian saya di atas, jelas sekali bahwa inspirasi Surakarta sebagai Daerah Istimewa yang Otonom adalah ilham dari Sang Khalik, melalui Raja Surakarta yang arif bijakasana, almarhum SISKS Pakoeboewana ke XII. Inilah yang saya kira awal mula bagaimana membangun Surakarta agar termasyhur (Solo Kuncara).  Surakarta yang sejak pertama teguh berdiri dan berjuang di belakang Republik Indonesia, saya kira sangat pantas memperkuat eksistensinya sebagai pelestari budaya dan suri-tauladan bagi dunia, dengan konsepsi universal hamemayu hayuning bawana.

Surakarta adalah bagian penting dari Republik Indonesia, menjunjung tinggi Republik sebagai Tumpah Darah dan tetap setia tuhu mengabdi bagi kepentingan Nusa dan Bangsa. Surakarta akan terus dan terus tak pernah berhenti menyatukan langkah saling bahu membahu dengan seluruh komponen anak Bangsa yang berjajar di sepanjang garis emas Khatulistiwa dari Sabang sampai Merauke dengan semboyan abadi Bhineka Tunggal Ika.

Hadirin yang budiman,

Di sini saya adalah pembawa berita yang menyampaikan gagasan dari para Leluhur Surakarta lewat Sang Pakoeboewana ke XII dimasa hidupnya. Beliau tak pernah berhenti berpikir dengan segenap tenaga dan kekuatan batiniahnya hanya untuk tetap mendukung berdiri tegaknya Republik Indonesia yang kuat dan kokoh bersatu. Seluruh hidup dan kejuangan beliau, tak satupun terlepas kecuali untuk menyerahkan kejuangannya demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia pada umumnya dan khususnya untuk rakyat Surakarta, agar terhindar dari musibah dan malapetaka dunia. Sebagai Raja yang tak lagi mempunyai kekuasaan politik, ekonomi, hukum dan sosial, kecuali sebagai kepala Keluarga Kasunanan Surakarta, namun ia tetap bertanggung jawab sebagai pamengku budaya Jawa yang tak pernah berhenti untuk terus melestarikan adat istiadat, norma dan nilai budaya yang telah dilahirkan dan diyakini sebagai pedoman hidup bagi orang-orang Jawa, sebagai nilai-nilai dan norma luhur Nenek Moyang.

Di sini saya hanyalah pemerhati budaya Jawa yang percaya terhadap kontribusi Surakarta dalam proses peradaban Indonesia. Proses pembudayaan Indonesia, lewat dinamika sosial, politik, ekonomi yang tidak sepenuhnya lurus mulus, yang tidak semua bisa menyenangkan semua orang, yang tidak seluruhnya bisa diterima namun Surakarta adalah fakta sebagai sumber budaya yang mampu sebagai kaca brenggala bagi siapapun yang ingin belajar, dengan sesanti “Buanglah abu yang tak berguna dan ambilah cahaya terang dari api yang menyemangati kekinian dan masa akan datang.”

Hadirin yang saya mulyakan,

Surakarta sebagai Daerah Istimewa adalah fakta, bukan imajinasi, bukan mengada-ada, bukan motiv-motiv negatif, bukan berisi nafsu-nafsu separatis dan bukan kudeta. Berpikirlah yang jernih, heningkan cipta rasa karsa, dan janganlah sekali-kali saudara-saudara bersyak-wasangka. Daerah Istimewa Surakarta adalah suatu kenyataan obyektif yang tidak dapat dipungkiri lagi, istimewa sebagai entitas budaya Jawa. Budaya yang melahirkan sistem sosial-budaya, sistem politik dan ekonomi, sistem nilai dan norma yang dilahirkan dari ibu kandung sejarah bangsa yang terhormat, hasil perkawinan akulturasi budaya lokal dan budaya yang datang dipangkuan Bumi Surakarta.

Sejak zaman Pithecanthropus Erektus membangun komunitas Sangiran sampai pada Mataram, Kasunanan Surakarta sampai Republik Indonesia, Surakarta tetap disebut-sebut sebagai Negeri yang Istimewa, karena tidak saja ia sebagai avant garde dalam berbagai peristiwa besar Republik Indonesia, dengan batiknya, dengan wayang orang dan ringgit wayang purwanya, dengan manusia purba, dengan empu kerisnya, dengan PON pertamanya, dengan monumen persnya, dengan tari bedaya Ketawangnya, dengan Gerakan Syarikat Islamnya, dengan Kejawennya, dengan Lawu, dengan Merapinya, Candi Cetho, Kahyangan, Nyai Roro Kidulnya, dan lain-lain dan lain-lain, yang terlalu banyak lagi disebutkan di sini.

Hadirin yang terhormat,

Apa artinya semua ini? Artinya sudah jelas, bahwa Surakarta adalah sebuah entitas kultural yang mempunyai ciri-khas, mempunyai ke-Istimewaan dan karenanya perlu diberi kewenangan mengurus rumah tangganya sendiri, agar lebih fokus melakukan pelestarian budaya lebih trengginas mengembangkan ekspresi dan gagasan budayanya, supaya ke-Istimewaan Surakarta juga akan memperkuat identitas ke-Indonesiaan. Maka ijinkan sekali lagi, wahai Allah SWT Penguasa di Langit dan di Bumi, wahai Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif yang menjadi Penguasa atas Negeri ini. di malam Tahun Baru ini, saya mengingatkan kembali bahwa Surakarta adalah Istimewa maka wujudkanlah ke-Istimewaan ini sebagai Daerah Otonomi Istimewa.

Sekian dan terima kasih atas perhatian dan dukungannya. Semoga Solo benar-benar Kuncara, ….Kuncara untuk masyarakat Surakarta, Kuncara untuk Indonesia dan juga Kuncara bagi seluruh Dunia, inilah hamemayu hayuning bawana.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ditulis dan disampaikan oleh Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA, dalam acara Menyambut Tahun Baru dengan Tema: Solo Kuncara, Hamemayu Hayuning Bawana, tanggal 31 Desember 2009, pk. 22.00 – 24.00 di Soto Gerabah. Jejaring tentang DIS klik http://bppsdis.wordpress.com/

2 responses

  1. Pingback: Surakarta Daerah Istimewa, Hamemayu Hayuning Bawana « BPPS DIS

  2. Prof, nyuwun sewu, artikel punika badhe kula unggah wonten http://www.bppsdis.wordpress.com. Maturnuwun, salam

    18/01/2010 at 07:00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s