By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Message Studies: Background and Methode

by Andrik Purwasito/Professor on Communication Management Studies

MESSAGE STUDIES

Karya ini terus melakukan update, oleh karena itu pembaca dapat selalu melihat yang berbaru. Terima Kasih

Bagian Pertama

Pengertian

Berdasarkan latar belakang seperti yang diuraikan dalam bab terdahulu (lihat Message Studies di Blog ini) akhirnya saya berkesimpulan bahwa memahami seluk beluk kehidupan manusia di muka bumi ini dapat dilakukan melalui pengkajian terhadap produksi pesannya. Pesan adalah simbol yang disalurkan dan dipertukarkan. Pesan memuat maksud-maksud tertentu yang disalurkan dari sumber (komunikator) kepada penerima (komunikan) lewat berbagai saluran, baik secara langsung,  media massa maupun saluran media yang lain. Pesan menggambarkan tentang realitas sosial yang obyektif, meskipun realitas media yang digunakan bukanlah sebagaimana realitas tersebut, karena telah melalui rekayasa.  Komunikator mendistribusikan gagasan individual, kelompok dan institusional untuk dipertukarkan dengan partisipan komunikasi lainnya. Pesan menimbulkan efek pada partisipan komunikasi dengan cara merekuperasi, mengadopsi, merekonstruksi, dan mereproduksi simbol baru dalam sebuah transformasi simbolik yang digunakan dalam kehidupan keseharian.  Bagaimana pesan dikonstruksi melalui proses rekayasa (engineering), dan pesan diproses menjadi kemasan (message packaging), bagaimana partisipan memaknai pesan (message meaning) serta bagaimana pesan digunakan (message using) dalam tindak komunikasi  adalah masalah sentral Message Studies.

 Bagian Kedua

Why Message Studies?

Silakan dibaca tentang persoalan ini pada page yang lain.

Pesan merupakan konstruksi yang kompleks. Pesan dikaji karena pada dasarnya integritas sosial dan dinamika masyarakat, kemajuan peradaban dan perkembangan sejarah digerakkan oleh pertukaran pesan.

Pesan dalam konteks ini didefinisikan sebagai penggerak kebudayaan. Sebagai produksi simbolik, pertukaran pesan merambah pada locus individual, locus sosial, lokal maupun global. Pesan dalam hal ini saya anggap sebagai kekuatan yang mampu tidak saja membangun harmoni, solidaritas, integritas dan kerjasama, tetapi juga potensial melahirkan kesalahpahaman, prasangka, konflik dan  peperangan. Dari pengertian tersebut lahirlah satu definisi, bahwa communications is power.

Bagian Ketiga

Focus of interest

Message studies memfokuskan diri pada lima fokus kajian:

Pertama, message studies merupakan kajian produksi dan reproduksi pesan, Yakni bagaimana REKAYASA PESAN (message engineering) dan bagaimana pesan DI KEMAS (message packaging) melalui unsur-unsur  kompleks (konstruksi simbolik) yang dijadikan referensi atau bahan untuk menyusun, merekayasa dan mengembangkan, menggunakan pesan (message using) dan memaknai  pesan (message meaning). Dari ranah individual, ranah tradisional sampai ranah teknologi informasi dan komunikasi.

Kedua, message studies merekayasa realitas untuk suatu konstruksi pesan (melalui konstruksi simbolik). Yakni, bagaimana pesan secara teknis verbal dan non-verbal dibangun dengan tujuan memperkuat bobot pesan agar mencapai derajat tertentu yaitu mudah diterima gagasan yang ingin disampaikan, sehingga studi pesan melihat sejauhmana optimalitas pesan, efektifitas dan keberhasilan yang diinginkan dengan fokus rekayasa packaging yang dipilihnya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek seperti bentuk fisik dan tipologi, struktur pesan, imago mundi, latar belakang produktor, distributor dan bahasa.

Ketiga, message studies merupakan kajian tafsir makna dan bedah fungsi (message meaning). Karena dalam rekayasa kemasan tersebut di dalamya adalah substransi dan medium sekaligus yang didalmnya terdapat unsur-unsur seperti motif komunikator, saluran, ruang dan waktu, manifestasi, serta meaningnya. Meaning tersebut sebagai upaya untuk menjelaskan makna pesan secara mendalam dan fungsi-fungsi pesan dalam kehidupan sehari-hari melalui metode tafsir yaitu proses sifnifikansi yakni proses semiosis.

Keempat, message studies mengkaji secara mendalam tentang  tujuan dan maksud-maksud produktor dan distributor pesan (message using). Artinya, pesan menjadi “sarana”, menjadi “alat” dan menjadi “cara” dalam konteks kemasyarakatan, apakah digunakan oleh sumber (produktor dan distributor, komunikator) untuk memperoleh KEKUASAAN seperti keuntungan-keuntungan sosial, ekonomi, politik atau sekedar kepuasan spiritual semata.

Kelima, message studies adalah kajian pesan untuk menentukan derajat kualitas pesan. Pesan bersifat original dan pesan bersifat artifisial (palsu). Yakni mengkaji penggunaan simbol-simbol oleh individu atau kelompok, yang menunjukkan adanya rekayasa realitas yang berarti adanya MANIPULASI dengan KEMASAN itu. Ini berarti bahwa  kemasan pesan mungkin saja tidak seperti realitas yang sebenarnya, karena komunikator memang mencoba memanipulasi realitas sosial melalui KEMASAN tersebut. Artinya, pesan yang diterima oleh komunikan, kemudian direkuperasi, direproduksi dan dipakai dalam kehidupan sosial sehari-hari bisa jadi adalah pesan palsu dan bahkan bertentangan dengan realitas yang sesungguhnya.

Demikian penjelasan mengenai karakteristik Pesan adalah Kemasan. Tujuan kajian bidang ini, berbeda dengan kajian khalayak, menekankan pada transformasi (rekayasa) simbolik. Manfaat kajian ini tidak lain guna memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana Komunikator melakukan pertukaran lewat merekayasa pesan.

Bagian Keempat

Siapa, Apa dan Saluran mana

(Baca di Blog ini tentang Orientasi teoritik Studi Pesan)

Pesan siapa? Pesan bukan monopoli manusia, tetapi makluk hidup yang lain serta alam semesta juga memproduksi pesan. Message studies di sini juga menganjurkan untuk mempelajari pesan-pesan dari makluk hidup dan alam semesta.

Pesan apa? Pesan, yang dijadikan unit analisis berupa pesan verbal dan pesan non verbal, gejala alam semesta.

Saluran mana? Pesan dapat dipertukarkan secara langsung biasanya pada tataran intrapersonal dan interpersonal, tataran makluk hidup yang lain maupun gejala alam. Pesan disalurkan secara tidak langsung, yakni melalui saluran media massa, media tradisional, media publik, maupun media lain, seperti tembok, tubuh, pagar, badan jalan, termasuk bangunan, perilaku dan seluruh produk manusia.

Kesimpulannya?

Message studies, merupakan kajian yang sangat luas dan kompleks. Bukan sekedar kajian komunikasi dan media massa, tetapi juga menyangkut kajian seluruh komunikasi manusia dan melibatkan seluruh kegiatan  makhluk hidup dan alam raya.

Bagian Kelima: Fungsi Kajian Pesan

Message studies, menurut versi buku ini berfungsi sebagai : 1) sarana untuk mengkomunikasikan gagasan dengan tujuan memperoleh kekuasaan 2) tanda-tanda zaman, sebuah pengantar akan terjadinya suatu peristiwa yang lain 3) cara untuk mempertegas identitas individu atau kelompok 4) alat untuk menjelaskan masalah, peristiwa, gejala, sampai pada tingkat kedalaman tertentu sehingga mampu memberikan penjelesan yang komprehensif 5) alat untuk memperkuat informasi.

BAB III:  RUANG LINGKUP MESSAGE STUDIES

Message studies, merupakan kajian yang sangat luas dan kompleks. Bukan sekedar kajian komunikasi massa yang biasanya berbasis pada kajian media seperti media effect, media contents dan media studies. Message studies di sini lebih memfokuskan diri pada kajian seluruh komunikasi manusia yang melibatkan seluruh kegiatan  makhluk hidup dan alam semesta.

Manusia sebagai Subyek

Kita bersama media massa sebagai saluran pesan kontemporer tetapi bukan berarti meninggalkan saluran komunikasi yang lainnya. Orang-orang melukis ditubuhnya (tatto), atau armada angkutan digambari bodi dan bak-baknya, tembok-tembok dicorat-coret (grafitty) atau  melukis secara lebih serius (mural), orang-orang mengecat rumahnya, masyarakat membangun model dan gaya rumah berbeda-beda, lagu diciptakan, lukisan digoreskan, tari disuguhkan, mode pakaian disebarluaskan, makanan dan obat-obatan dikemas secara berbeda-beda,  semua menunjukkan bahwa pesan ada dimana-mana dan kapan saja.

Pesan tidak hanya monopoli manusia, Burung malam berkicau, di Jawa pertanda akan ada kematian di Sunda ada orang hamil diluar nikah. Burung  puter berkicau pertanda datangnya subuh. Anjing menyalak atau angsa bersuara bersahut-sahutan pertanda ada orang jahat. Kucing mulai kawin pertanda musim dingin tiba.

Selain manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta alam semesta juga menyalurkan pesan secara insting, kodrati, kekuatan misterius lain yang belum diungkapkan. Dalam konteks ini pesan didefinisikan sebagai suatu tanda atau gejala menunjuk makna yang lain. Pesan dipelajari dalam konteks kepercayaan atau pemahaman masyarakat terhadap gejala alam dan makluk hidup. Mereka adalah komunikator, bagian dari kehidupan manusia, yang mendapatkan respon-respon dari masyarakatnya. Kajian ini belum banyak ditekuni dan lebih banyak tumbuh dalam kajian antropologi.

Dalam message studies di sini, gejala alam didefinisikan sebagai pesan. Suara dan perilaku binatang atau tumbuh-tumbuhan dianggap sebagai komunikator yang menyalurkan pesan kepada umat manusia. Jadi, alam, perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan dikaji dalam hubungannya dengan kegiatan manusia.

Tegasnya, manusia tetap menjadi subyek. Artinya, mempelajari pesan di luar manusia tetap berpegang teguh dalam konteks kegiatan manusia sehari-hari. Misalnya, musim kemarau tanda tidak turun hujan, penduduk Gunung Kidul kekurangan air, sawah tidak bisa ditanami padi, kalau toh ditanam harus membeli diesel air. Harga gabah naik, petani gembira sedangkan orang kota membeli beras lebih mahal, lalu ada impor beras, tetapi juga dibarengi meningkatnya kriminalitas, dll. Dalam pendekatan religius, kemarau panjang sebagai pesan terhadap manusia, dapat diartikan misalnya peringatan manusia atas tugas perilaku hidup di bumi, seperti Gunung Meletus oleh masyarakat Bali misalnya dianggap sebagai kemarahan Sang Pencipta, dengan maksud memperingatkan terhadap perilaku manusia yang menyimpang. Dalam hal ini, kemarau panjang ditafsirkan sebagai sebuah pesan agar manusia mawas diri, kembali ke fithrahnya sebagai manusia.

BAB IV : KARAKTERISTIK

Bagian Pertama: Memecahkan misteri Tanda

Message studies bertujuan untuk memecahkan misteri  tanda-tanda dalam pesan media massa, media tradisional. Dengan kata lain, pesan dikaji dengan tujuan menjelaskan maksud-maksud komunikator secara lebih luas dan mendalam, setidaknya mendekati maksud yang tidak tersurat. Hal ini didasarkan oleh anggapan bahwa komunikator mengkonstruksi pesan secara rumit, kompleks, melibatkan berbagai unsur-unsur seperti latar sosial budaya, status sosial ekonomi, gender, ras, etnik, agama, kelompok sosial politik, ideologi, kepribadian dan tingkat pendidikan individu, kelas, organisasi, serta etika global.

Bagian Kedua: Memahami Mentalitas

Message studies adalah upaya memahami mentalitas manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, yang termanifestasi lewat produk-produk mereka. Tujuannya adalah untuk mengerti lebih jelas tentang pandangan hidup, obsesi, sikap, konsepsi, simpati, empati, kepribadian, identitas, konflik, gagasan, semangat, kesombongan, kebencian, krisis, iri hati, cinta dan kerinduan dan seterusnya.

Bagian Ketiga: Memahami Struktur Masyarakat

Message studies juga bertujuan tidak saja untuk memahami struktur sosial masyarakat tapi juga bagaimana konstruksi pesan dibangun oleh komunikator dan distributor. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana pesan membangun struktur sosial dan motiv-motiv membangun pesan dengan konstruksi khasnya, termasuk ideologi, keberpihakan, dan maksud-maksud terpendam. Caranya mengupas konstruksi pesan dalam segala bentuk dan kerumitannya dengan metode bedah pesan dan tafsir tanda (semiologi). Baik  dalam konteks publiknya, konteks institusional, organisasi, kelompok, latar kepribadian dan sosial budayanya.

Bagian Keempat: Mengetahui Fungsi-Fungsi

Message studies menjalankan fungsi : 1. Secara pragmatis adalah kajian untuk melihat sejauhmana pesan menjadi alat untuk memperoleh profit, benefit dari pertukaran pesan, 2. Secara intelektual kajian ini menyumbangkan tentang pola interaksi manusia dalam segala lapisan masyarakat.

Bagian Kelima: Membedah Kekuasaan

Message studies mencoba memperluas kajian komunikasi dari sekedar pada tataran mass media studies. Dengan cara ini kajian pesan tidak mencoba untuk keluar dari induknya tetapi justru mencoba untuk memasuki berbagai bidang pengetahuan dengan mempromosikan “pesan” sebagai roh dan kekuatan yang mampu membangun kekuasaan,  dari hegemoni dan dominasi, kekerasan, sampai citra positif, brand image, corporate culture bahkan resistensi, revolusi, reformasi dan ideologi.

Bagian Keenam: Peran kontrol dan Pengendalian Sosial

Message studies adalah memahami upaya manusia memperoleh profit dan benefit berkah pertukaran pesan. Inilah kajian pesan dalam ranah komunikasi sosial. Artinya, kajian ini mencoba untuk melibatkan diri dalam upaya memahami sejauhmana pesan dijadikan sebagai alat pengendalian atau kontrol sosial. Dalam perspektif ini, message studies ingin memahami bagaimana pesan mampu berperan dalam pencerahan dan pembimbingan masyarakat.

Bagian Ketujuh: Peran Integrasi dan Solidaritas Sosial

Pada akhirnya, pesan didefinisikan sebagai elemen utama dalam proses integrasi dan solidaritas sosial, mendorong terselenggaranya kehidupan sosial yang mengutamakan penghargaan atas prestasi dan jasa orang lain, mengutamakan saling pengertian antar individu dan mendorong tercapainya kemampuan individu hidup berdampingan secara damai di tengah pluralitas.

BAB V

Tema Kajian

Pesan terdapat di semua jenjang kehidupan (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam semesta) dan terdapat pada semua level komunikasi (intrapersona, antarpersona, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi publik, komunikasi massa) dan dalam berbagai jenis pesan (berupa teks, wacana, perilaku manusia dan binatang, gejala alam semesta). Tema-tema yang dapat dikaji dalam message studies sebagai berikut:

Bagian Pertama: Ranah Media Massa

1.    Pesan jurnalistik di media cetak

2.    Pesan jurnalistik di media radio

3.    Pesan jurnalistik di media televisi

4.    Pesan jurnalistik di media on-line

5.    Pesan iklan di media cetak

6.    Pesan iklan di media radio

7.    Pesan iklan di media televisi

8.    Pesan iklan di media on-line

9.    Pesan iklan di media out-door

10. Pesan dalam novel, cerita pendek, kartun cetak, komik

11. Pesan dalam film, kartun, animasi

12. Pesan dalam leaflet, spanduk, baliho

13. Pesan dalam buku panduan, presentasi

14. Pesan dalam handphone (sms, ems, mms)

15. Pesan dalam cover album, kemasan produk

16. Pesan dalam lagu, otobiografi,

Bagian Kedua : Ranah Media Tradisional

1.    Pesan dalam teater rakyat (wayang, kethoprak, ludruk, dll)

2.    Pesan dalam ritual tradisi dan keagamaan (sekaten, labuhan, bersih desa, slametan, tahlilan, wilujengan nagari, dll)

3.    Pesan dalam seni suara (macapat, tembang dolanan, geguritan dll)

Bagian Ketiga: Ranah Komunikasi Sosial-budaya

 1. Pesan dalam wujud pembangunan (rumah, gedung, taman, jalan, arsitektur, letak, dll).

2. Pesan dalam wujud perilaku orang perseorangan, keluarga, kelompok

3. Pesan dalam wujud resistensial (pepe, bakar sampah, menutup jalan)

4. Pesan dalam wujud gossip, humor, basa-basi

5. Pesan dalam wujud superioritas individual (dalang, ledhek, penjahat, dll.)

6. Pesan dalam wujud ekspresi seksual dan gender

7. Pesan dalam wujud sentimen keagamaan, ras dan suku, primordial

8. Pesan dalam wujud “seni” (graffiti, mural, tattoo  dan truck painting)

Bagian Keempat: Ranah Komunikasi Alam Semesta

1.    Pesan yang diproduksi oleh alam semesta

2.    Pesan yang diproduksi oleh binatang-binatang

3.    Pesan yang diproduksi oleh tumbuh-tumbuhan

4.    Pesan yang diproduksi oleh kekuatan gaib

BAB VI

PENDEKATAN, TEORI DAN TEKNIK ANALISIS

Bagian Pertama:  Multidisiplin

Dasar atau prinsip teoretis berbasis pada ilmu komunikasi. Mempelajari pesan, setiap orang dibebaskan untuk memiliki pendekatan teori dan metode dari berbagai disiplin ilmu dan cabang ilmu pertanian, kedokteran, teknik, arsitektur, seni, hukum, ekonomi, teknologi informasi, politik, sosiologi, antropologi, psikologi, linguistik, sastra, filsafat, sejarah. Pendek kata, karakternya multidisipliner.

Bagian Kedua: Human Communication Theory

Dasar atau prinsip teoretis message studies berbasis pada communication sciences dan human communication theory. Pendekatannya multidisiplin. Dalam pandangan saya, mempelajari pesan adalah sebuah kebebasan bagi setiap peneliti untuk memilih pendekatan teori dan metode dari berbagai paradigma metodologis, pendekatan dari berbagai disiplin ilmu dan cabang-cabang ilmu yang lain. Misalnya ilmu pertanian, kedokteran, teknik, arsitektur, seni, hukum, ekonomi, teknologi informasi, politik, sosiologi, antropologi, psikologi, mitologi, linguistik, sastra, filsafat, sejarah, dll. Pendek kata, karakter message studies adalah multidisipliner dengan standart kualitas keilmuan yang memadai.

Bagian Ketiga: Metode Analisis

Metode analisis message studies berbasis pada semiologi komunikasi untuk interpretasi pesan dalam teks dan perilaku. Kedua, berbasis pada etnografi komunikasi untuk interpretasi pesan dalam proses komunikasi dan kebudayaan.

  1. Studi Pesan
  2. Semiologi Komunikasi

DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland, L’Aventure Semiologique, Editions du Seuil, Paris, 1985

Berger, Arthur Asa Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Tiara Wacana, Yogyakarta, Juni 2000.

Eco, Umberto “Introduction: Toward a Logic of Culture” dalam Theory of Semiotics, Indiana University Press, 1976, terjemahan, dalam Panuti Sudjiman adan Aart van Zoest, Serba-Serbi Semiotika, Gramedia, Jakarta, 1992

Fagen, Richard R Politics and Communication, Little, Brown and Company, Canada, 1966

Geertz, Clifford The Interpretation of Culures, Hutchinson & CO Publisher LTD, London, 1974, versi Indonesia dengan judul Tafsir Kebudayaan, oleh Yayasan Kanisius Yogyakarta, 1992

Hjelmslev,  L. Essais linguistiques, Edition Minuit, Paris, 1971

Littlejohn, Sthephen W and Roberta Gray, Theories  of Human Communication, Edisi ke 5,  Wadsworth Publishing Company, Belmont, 1996

Mounain, G. “Communication linquistique humaine et communication non linguistique animale,” Les Temps Modernes, avril-mai 1960

Purwasito, Andrik, Semiologi Komunikasi, Masyarakat Semiologi Komunikasi, FISIP-UNS, 2001,

————-, Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana, Ford Foundation dan Pustaka Cakra, Surakarta, 2002

—————-, Komunikasi Multikultural, Universitas Muhammadiyah Surakarta Press, 2002  —————-, Perspektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah, Political laboratory for Supporting Good Governance, 2001

—————-, Wacana “Begitu aja kok Repot” Gus Dur, Analisis Wacana, Projek QUE Bank Dunia, FISIP-UNS, 2001

—————-. Pemilihan Presiden Prancis, kajian Komunikasi Publik, Hasil penelitian atas biaya Pemerintah Prancis, Paris, 1995

—————-, Strategi Global Super Power dalam Percaturan Politik Internasional, UNS Press, 1995

—————- “Perang Peradaban.” Kompas, 1992

—————-. “Kemiskinan Intelektual, ” Kompas, 1993

Swanson David L. dan Dana Nimmo, New Directions in Political Communication, Sage Publication, London, 1990

Zoest, Aart van “Interpretation et Semiotique,” dalam A. Vibodi Varga, ed, dalam J. Picard et all, Theorie de la Litterature, Paris, 1981, terjemahan, “Interpretasi dan Semiotika,” dalam Sudiman dan Zoest, 1992

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s