By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Seven Fundamental Norms of Message Studies

Tujuh Pilar Kaidah Dasar Message Studies.

Selanjutnya di bawah ini, saya sajikan 7 (tujuh) pilar kaidah dasar kajian pesan (fundamental norms of message studies) sebagai basis teoritisasi untuk memahami message studies.

Kaidah Pertama:

Komunikasi itu adalah kekuasaan (Communication is  power)

Term “komunikasi” dalam kajian ini diambilkan dari terjemahan atau pengertian yang lebih khusus, yaitu komunikasi itu adalah kekuatan (communication is power). Artinya bahwa setiap tindak komunikasi adalah suatu cara untuk memperoleh power (kekuasaan). Power yang dimaksud dalam konteks pengertian ini adalah  : pertama, kekuasaan sosial,  yaitu keinginan Komunikator  memperoleh prestise pribadi,  suatu tindak komunikasi yang mengharapkan penghargaan, penghormatan, kasih-sayang  dari komunikan. Kedua, kekuasaan politik,  yakni suatu tindak komunikasi yang dilakukan oleh Komunikator agar memperoleh kekuasaan dalam domain ketata-negaraan (Andrik Purwasito: 2003).  Dalam pengertian ini, setiap tindak komunikasi dilakukan secara sadar  (sadar komunikasi) dan derajat intensional tertentu.

“Sadar komunikasi,” yang dimaksud dalam pengertian di atas, adalah suatu tindak komunikasi yang  dilatarbelakangi oleh motif  setiap Komunikator  dengan harapan memperoleh “sesuatu power” baik power sosial maupun power politik dengan cara sengaja. Dengan kata lain, seseorang berkomunikasi dengan orang lain, secara sadar dan sengaja karena seseorang tersebut ingin menyampaikan “sesuatu” dengan motif dan tujuan untuk mendapatkan “sesuatu” pula. Bagaimana kita mampu menghitung dan mengetahui “sesuatu” tersebut, Message Studies memberikan jalan keluarnya, yakni melalui pisau bedah  yang terdiri atas 4 (empat) pisau. Pisau pertama disebut rekayasa pesan (message engineering), pisau kedua kemasan pesan (message packaging), pisatu ketiga makna pesan (message meaning) yang keempat  penggunaan pesan (message using).  kemasan pesan dan pemaknaan pesan (Andrik Purwasito: 2003).

Kaidah dasar pertama ini (communication is a power) setidaknya memberikan satu fondasi bahwa message studies (studi pesan) dapat digunakan untuk bidang-bidang di luar studi komunikasi,  seperti studi sosial- politik, studi seni, sastra dan budaya,  bidang agama, kepercayaan dan spiritualism,  studi ekonomi, kedokteran, arsitektur, psikologi, antropologi dan bidang-bidang ilmu yang melibatkan komunikasi.

Kaidah ke-Dua :

Bahasa itu simbol (language is symbole)

Untuk memahami message studies dibutuhkan pengetahuan tentang bahasa secara baik. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seluruh kegiatan komunikasi dilakukan dengan menggunakan bahasa. Bahasa berwujud tanda dan dipahami sebagai suatu sistem simbolik, terdiri atas tanda verbal dan tanda non-verbal.  Tanda verbal, yang kemudian disebut sebagai pesan verbal,  merupakan pesan yang dinyatakan oleh Komunikator melalui berbagai macam simbolik, seperti tulisan, gambar, patung,  audio, audio-visual. Sedangkan tanda non-verbal lebih diartikan sebagai pesan yang dikonstruksi melalui bahasa tubuh, seperti kerlingan mata, gerakan jari, gerakan tangan, sikap duduk, gerakan kepala termasuk di dalamnya adalah penggunaan dan pemilihan waktu dan tempat oleh Komunikator untuk melakukan tindak komunikasi.

Bahasa sebagai bahasa komunikasi adalah pesan (message). Pada dasarnya studi bahasa yang menitik-beratkan pada penggunaan bahasa sebagai pertukaran gagasan, disebut oleh Barthes sebagai semiotika pragmatik (Rolanda Barthes:         ).  Oleh sebab itu,  ilmu kebahasan (linguistik pragmatik) mempunyai kedudukan sentral dalam studi pesan.

Pada akhirnya dapat kita simpulkan bahwa  unit analisis dalam studi pesan basisnya adalah analisis kebahasaan pragmatik. Yakni bahasa yang digunakan dalam praktek komunikasi  (communication actions).

Di sinilah dibutuhkan teori  F. De Saussure (1857-1913) tentang linguistik yang menyebutkan bahwa kegiatan komunikasi itu melibatkan langage (susunan atau bentuk bahasa), langue (sistem bahasa) dan parole (pemakaian bahasa).

Kaidah ke-Tiga:

Pesan itu Kemasan (Message is Packaging)

Studi pesan meminjam juga pemikiran Mac Luhan yang menyatakan bahwa medium is message (Mac Luhan:    ) .  Berangkat dari Mac Luhan, saya memperoleh kesimpulan bahwa pada dasarnya pesan itu selain tergantung saluran (medium) juga dipengaruhi oleh kemasannya (message is packaging ). Dengan demikian kemasan pesan mudah dan tidaknya diketahui dan diterima oleh khalayak tergantung pada materi pesan dan salurannya. Antara Materi dan Medium adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Dengan kata lain, sesungguhnya message meaning dipengaruhi langsung atau tidak langsung pada kemasannya (message packaging). Kemasan adalah hasil rekayasa atas materi dan medium. Kemasan sangat vital karena kemasan menghadirkan gagasan komunikator. Oleh sebab itu, kemasan adalah representasi gagasan.

Kehadiran gagasan dalam kemasan tersebut terbagi dalam dua 2 bagian.

Pertama, adalah gagasan Orisinal  yakni gagasan murni (dimensi privat), yaitu gagasan yang berasal dari hati-nurani yang sesungguhnya. Gagasan murni yang hadir  berasal dari pemikiran itu sendiri, sebuah kejujuran yang sejati. Dengan pandangan tersebut, kita tidak akan terkecoh dengan kemasan, karena antara kemasan dan isi menunjukkan kesesuaian. Kehadiran gagasan murni adalah representasi ideal dari moda message engineering.

Kedua, gagasan artifisial (dimensi sosial), yakni gagasan yang berbanding terbalik dengan gagasan orisinal. Dimensinya sosial dan dianggap sebagai gagasan yang dipalsukan (artifisial). Artinya, bahwa gagasan dimaksud bukan murni datang dari hati-nurani sejati, melainkan hadir  secara sosial karena faktor  motif, kepentingan praktis dan ambisi-ambisi. Dengan kata lain, kehadiran gagasan dalam kemasan pesan  merupakan percampuran berbagai motiv, kepentingan dan ambisi-ambisi yang berasal dari pengaruh sosial di luar dirinya sendiri.

Dalam dua kasus diatas dapat kita simpulkan bahwa:  pada kasus yang pertama, kita memperoleh hubungan yang signifikan antara kemasan pesan dengan isi pesan. Selain itu, kita juga memperoleh suatu kesesuaian antara kualitas kemasan dengan kualitas isi.

Kemasan yang demikian itu,  mendapatkan tempat yang baik di hati khalayak. Ketika pesan diterima oleh khalayak dan mampu menumbuhkan kepercayaan, maka kepercayaan itu mampu bertahan dalam waktu yang cukup panjang.  Hal itu disebabkan oleh kepuasan khalayak terhadap pesan yang disampaikan.

Sedangkan dalam kasus kedua, antara kemasan dan isi tidak  bersesuaian. Jadi,  tidak ada hubungan yang sifnifikan antara isi dan kemasan. Hal ini bisa mendatangkan kekecewaan dan kepercayaan khalayak akan mudah luntur. Dalam dunia politik, kasus tersebut banyak terjadi, karena Komunikator membuat kemasan sedemikian rupa hanya karena ingin memperoleh efek citra positif yang sifatnya sementara. Kemasan demikian banyak dibuat untuk kepentingan politik, seperti dalam kampanye Pemilu dan Pilkada. Kemasan pesan dalam kampanye politik terbukti mempunyai kemampuan memikat khalayak (banyak variabel lain yang mendorong mengapa khalayak terpikat oleh kampanye politik).

Hanya saja,  kemasan sekejap tersebut tidak mampu bertahan cukup lama, karena khalayak tahu bahwa kemasan yang mewah tersebut ternyata isinya palsu. Kepalsuan tersebut dapat dianggap kebohongan publik,  khalayak menganggap Komunikator tidak jujur dan hanya memikat sesaat. Kkemasan demikian niscaya akan menjadi boomerang (kontra-produktif). Contohnya, pada Pemilu para Caleg mengemas pesan dengan manis, ramah, mewah tetap setelah Pemilu mereka melupakannya. Inilah kemasan palsu yang banyak mengecewakan rakyat.

Kaidah ke-Empat:

Pesan itu Semena-mena (Message is arbitrair)

Tanda yang digunakan dalam dalam message bersifat arbitrair (semena-mena dalam relasi signifiant dan signifie (Ferdinand de Saussure:       ).  Bagaimanapun juga Tanda dalam pesan merupakan suatu proses rekayasa komunikator terhadap pesan (message engineering). Dengan kata lain, studi pesan membicarakan tentang bagaimana pesan dikemas, dengan mempertimbangan konteksnya, disampaikan dalam konteks  halus (high contex) dan konteks biasa (low contex).

Sejalan dengan de Saussure,  pada dasarnya pesan itu juga bersifat arbitrair. Hal ini disebabkan oleh kondisi budaya dimana komunikator berada (space and time). Ketika partisipan komunikasi tidak mau menggunakan konvensi tanda yang sudah ada,  mereka dapat melakukan rekayasa terhadap pesan yang ingin disampaikan. Terutama dalam dunia seni, para seniman ingin menyampaikan pesan dengan caranya yang unik.

Medium yang digunakan seniman menggunakan berbagai macam seni, seperti seni suara, seni sastra, seni tari, seni rupa, seni patung, musik dan berbagai macam bentuk ekspresi seni lainnya.  Ini adalah suatu bentuk kebebasan oleh komunikator untuk merekayasa pesan sesuai dengan pengetahuan komunikator terhadap visi komunikator, referensi yang diambil, penguasaan bahan/materi yang digunakan, keahlian praktis dalam bentuk visual, pengalaman spiritual dan pengalaman profan. Kelima unsur dalam rekayasa pesan seni tersebut menjadi apa yang saya sebut sebagai kemasan pesan (message packaging).  Hasilnya rekayasa tersebut tidak saja pesan bersifat artistik (message artistic) tetapi juga bersifat pesan simbolik (message symbolic). Begitu juga yang bukan seniman, kebebasan dalam rekayasa pesan yang unik adalah hak setiap orang.

Dari sisi pemaknaan pesan seni, setiap partisipan komunikasi dapat memberikan makna yang khas pula. Artinya, setiap komunikan dapat memberikan arti sebebas-besanya terhadap message, baik bersifat message artistic maupun message ordinary.  Hal ini disebabkan oleh karena pada dasarnya sign is arbitrairy.

Kaidah Ke-Lima:

Pesan itu logis (Message is logic)

Manifestasi pesan selalu berwujud tanda, dan tanda bersifat arbitrair,  konsekuensinya pesan juga arbitrair, sebagaimana pernyataan di atas bahwa pesan itu secara bebas dapat ditafsirkan oleh komunikan. Dalam kaitan ini, muncul pendapat bahwa semua pesan, khususnya dalam seni, pemaknaan pesan sangat bergantung dari interpretannya. Intepretan mempunyai kebebasan untuk menafsirkan terhadap karya seni. Untuk mendapatkan makna yang mendekati apa yang dimaksud oleh komunikator,  saya  membangun satu metoda tafsir yang saya sebut sebagai Semiologi Komunikasi (Andrik Purwasito: 2003). Saya membuat 9 formula sebagai metoda tafsir dengan tujuan memberi kemudahan bagi komunikan (interpretan) untuk menganalisis pesan. Sembilan formula tersebut  merupakan logika tafsir pesan yang memberi kontribusi terhadap interpretasi pesan untuk memperoleh kepastian makna pesan (message meaning). Logikanya sebagai berikut:

De Saussure menyebutkan bahwa  tanda mempunyai relasi dua unsur : yaitu unsur signifiant , yaitu apa yang diucapkan, didengar atau yang dituliskan atau yang dibacakan, yang digerakkan) kemudian dalam bahasa kita, disebut  “Penandan” (sebagai wujud tanda). Kedua, unsur signifie,  yaitu apa yang ada didalam pikiran dan mental komunikator  yang berupa konsep-konsep, yang kemudian dalam bahasa kita disebut “Petanda” (sebagai konsep tanda).  Relalsi keduanya seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Jadi, pesan komunikator yang diwujudkan dalam tanda-tanda komunikasi juga bersifat logik.

Dasar inilah yang melatarbelakangi  analisis rekayasa dan kemasan pesan. Bahwa sesungguhnya, komunikator  menggunakan logika berpikir yang lurus untuk menghasilkan efek komunikasi yang dikehendaki.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh kegiatan komunikasi,  pesan dibangun secara logis (menggunakan akal sehat). Oleh sebab itu, komunikator dalam merekayasa pesan, mengemas pesan, dan komunikan dalam memaknai pesan berbasis pada keputusan logika yang lurus.  Dalam rekayasa (message enginnering), kemasan (message packaging) dan interpretasi (message meaning) dibutuhkan intertekstualitas (Julia Kristiva:       ). Yaitu, suatu cara komunikator  merujuk/merefers pada teks-teks lain yang mempunyai hubungan erat dengan tanda yang ingin dipertukarkan, baik secara tematik, semantik, pragmatik.

Rekayasa (message enginnering), kemasan (message packaging) dan interpretasi (message meaning) pesan juga mempertimbangkan common-sense. Hal ini untuk menghindari penafsiran yang sesat dari khalayak. Selain itu juga dibutuhkan inter-subyektivitas, yaitu bantuan para penafsir lain yang hasil tafsirnya bisanya telah diuji sebagai hasil penelitian, atau memang penafsir yang mempunyai kredibilitas keilmuan yang memadai.  Semua ini dilakukan,  kurang lebih untuk menghindari kesesatan dalam rekayasa (message enginnering), kemasan (message packaging) dan interpretasi (message meaning) sehingga pesan mencapai tingkat logika yang diharapkan.

Kaidah Ke-Enam:

Pesan itu kontektual (Message is contextual)

Rekayasa, kemasan pesan itu dipengaruhi juga pada level komunikasi dan konteks komunikasi. Partisipan komunikasi mempunyai kesadaran menggunakan berbagai level komunikasi (Little John:        ) agar pesan yang disampaikan memperoleh respon positif. Beberapa level komunikasi digunakan antara lain, komunikasi antar-persona, komunikasi massa, komunikasi publik dan  komunikasi organisasi.

Sedangkan dalam praktek komunikasi digunakan dua konteks komunikasi. Yaitu  high-contex dan low-contex of communication. Kaidah ke-enam ini digunakan untuk melakukan pengkajian terhadap penggunaan bahasa, seperti dialek bahasa, peminjaman bahasa, pola-pola komunikasi suatu masyarakat dalam komunikasi sosial-budaya.

Kaidah ke-Tujuh:

Pesan itu Ruang dan Waktu (Message is Time and Space)

Selain pesan dipengaruhi oleh  level dan konteks komunikasi,  rekayasa (message enginnering), kemasan (message packaging) dan interpretasi (message meaning), juga dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Artinya bahwa penggunaan dan kemasan pesan disesuaikan dengan kapan dan dimana pesan akan disampaikan.

Kaidah terakhir ini melandasi perhitungan Komunikator untuk mencapai efek positif yang ingin dicapai. Bagaimanapun studi pesan memperhitungkan ruang dan waktu. Hal ini sangat berhubungan tidak saja supaya pesan mudah terlihat (eye catch), supaya pesan tampak lebih artistik juga memperhitungkan  aspek  khalayaknya.  Bagi seniman, display suatu karya dalam pameran menjadi sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah saat kapan suatu karya  harus dipamerkan dan dimana suatu karya perlu dipamerkan. Ini membutuhkan perencanaan komunikasi yang lebih komprehensif. Ruang dan waktu di dalamnya memuat karakter khalayak, latar budaya masyarakat, mitologi yang berkembang, sejarah yang mencatat berbagai peristiwa sebelumnya, ideologi yang dianutnya, pragmatisme masyarakat, nilai dan norma yang menjadi kaidah berperilaku, serta adat kebiasaan (Fernand Braudel:    ). Meminjam de Saussure bahwa bahasa, sebagaimana pesan komunikasi, bersifat sinkroni (bertepatan menurut waktu) dan diakronis (berdasar pada perjalanan historis).

Mohon Pembaca selalu melihat Update seluruh artikel dalam Web kami. Terima Kasih. AP Foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s