By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

MESSAGE STUDIES: Menuju Teori dan Metode Analisis Pesan Komunikasi

(dipresentasikan di Universitas Pelita Harapan, April 2012)

Andrik Purwasito/andrikpurwasito@yahoo.com

 Abstrak

Terminologi Message Studies saya pilih sebagai suatu topik pengkajian ilmu komunikasi, yakni satu bidang kajian yang khusus mempelajari secara mendalam tentang pertukaran pesan oleh partisipan komunikasi dalam suatu tindak komunikasi. Oleh karena komunikasi adalah komponen vital dalam kebudayaan, kedudukan pesan menjadi fokus sentral karena pesan menjadi komponen sistem kebudayaan.

Manusia sebagai pelaku dalam proses peradaban dunia menggunakan pesan untuk melakukan perubahan, kontinyuitas dan progresivitas kehidupan melalui proses-proses komunikasi. Pesan pada akhirnya menjadi “inti” kehidupan bermasyarakat, karena dengan proses komunikasi pesan akan mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia, karena pesan mampu mendatangkan profit ekonomi, profit sosial-budaya dan profit politik.

Berangkat dari pemikiran itulah, peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh kekuasaan.  Artinya, bahwa melalui proses komunikasi seorang komunikator mampu mempengaruhi komunikan (audience) sehingga target komunikasi (komunikan, receiver, publik, khalayak)  bersedia mengubah pikiran, bahkan mengubah perilaku serta dengan sukarela bertindak sesuai dengan harapan, tujuan dari komunikator.

Kesimpulannya bahwa message studies mendefinisikan komunikasi sebagai sarana memperoleh kekuasaan (communication is  tool of power).

Kata kunci: message engineering, message using, message packaging, message meaning, message

Pendahuluan

Gagasan message studies berawal  dari Paris, Prancis, ketika penulis mengambil studi wacana untuk disertasi dengan titel : “L’Image de l’Inde dans le Discours des Nationalistes Indonesiens (1992) dan terbit versi Indonesia, “Imajeri India, Studi tanda dalam Wacana,” (2001: 597 pages, diterbitkan Ford Foundation dan Pustaka Cakra).  Pada tahun 2003, saya menyusun message studies, mulai asal mula gagasan, karakteristik, ruang lingkup, basis teori dan metode analisis pesan komunikasi, yang dikenal dengan 9 formula tafsir pesan (Andrik Purwasito: 2003).

Message studies berangkat dari asumsi dasar bahwa setiap tindak komunikasi (communication actions) adalah suatu cara manusia untuk memperoleh power (kekuasaan). Dalam perspektif  power  proses-proses komunikasi di dalamnya terkandung kekuatan dan representasi pikiran, sikap dan perilaku komunikator dalam mempengaruhi pikiran, sikap dan perilaku komunikan.  Betatapun kecilnya seseorang melakukan tindak komunikasi, disadari atau tanpa disadari, sesungguhnya merepresentasikan posisi dan kedudukan sosial, budaya, politik dan ekonomi dari komunikator baik secara laten maupun yang manifest.

Dalam konteks tersebut pada akhirnya dapat diasumsikan bahwa setiap komunikator dalam proses komunikasi mempunyai motiv atau tujuan tertentu atau setidaknya berharap akan memperoleh sesuatu betatapun itu kecil dan kurang berarti bagi dirinya, tetapi mungkin bisa berarti bagi orang lain.  Artinya,  komunikator  secara sadar melakukan tindak komunikasi karena motiv yang sudah berada dalam kesadaran dirinya, seperti motiv memperoleh prestise pribadi atau mengharapkan penghargaan, penghormatan, kasih-sayang  dari orang lain. Seorang Walisongo yang berjalan-jalan di pedesaan mungkin hanya ingin mendapatkan melihat-lihat pemandangan yang indah, tetapi bagi rakyat yang bertemu, bersalaman dan berdialog, kehadiran tersebut membawa manfaat yang sangat luar biasa, misalnya harapan memperoleh berkah. Penghormatan rakyat terhadap Walisongo melalui proses-proses komunikasi yang sederhana seperti itu, juga dapat dipandang suatu representasi dan kredibilitas (kekuasaan sosial yang tinggi) dari komunikator (Walisongo).

Dalam kekuasaan politik, seseorang menggunakan  proses-proses komunikasi untuk memperoleh jabatan politik dalam pemerintahan, melalui kampanye. Dalam upaya memperoleh kekuasaan ekonomi, seseorang menggunakan proses-proses komunikasi melalui promosi, iklan, komunikasi bisnis, dengan berbagai saluran yang ada.

Message Studies mempelajari pesan dalam setiap tindak komunikasi dilakukan secara sadar  dan dengan derajat intensional tertentu. Kesadaran diri dalam suatu tindak komunikasi karena adanya latarbelakang atau motiv tertentu dari setiap Komunikator  dengan harapan memperoleh capaian hasil komunikasi yang optimal. Wilayah kesadaran manusia sebagai suatu basis analisis terhadap produksi pesan, dalam arti seseorang menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi orang lain, jelas dilakukan secara sadar dan sengaja, karena orang tersebut mengharapkan imbalan. Ketika seseorang melakukan proses-proses komunikasi dan menyampaikan “sesuatu” pesan tanpa adanya motif dan tanpa tujuan yang diharapkan untuk mendapatkan “sesuatu” kekuasaan tertentu, sudah tentu bukan bidang yang dikaji dalam studi ini.

 Focus of Interest

Dari asumsi dasar tersebut di atas, akhirnya sampailah pada focus of interest dari  message studies. Fokus message studies adalah mengkaji optimalisasi  pencapaian hasil komunikasi  (communication results) melalui rancang bangun pesan-pesan komunikasi  (message engineering) dalam suatu tindak komunikasi  (communication action).

Metoda untuk mengkaji optimalisasi hasil komunikasi melalui rancang bangun pesan komunikasi, dilakukan dengan cara mengajukan 2 problematik dasar message studies:(1) “Bagaimana komunikator merancang-bangun pesan (message engineering) melalui kemasan pesan (message packaging)  untuk memperoleh hasil komunikasi yang optimal. (2).  “Bagaimana metoda analisis yang dapat digunakan untuk menafsirkan secara valid motiv dan tujuan komunikator untuk memperoleh kekuasaan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut message studies mengajukan beberapa orientasi teoritik sebagai basis rancang bangun pesan dan metoda analisis untuk tafsir pesan, yang akan dijelaskan dalam bab metodhologi.

Tinjuan Pustaka

Message studies mengembangkan model komunikasi C. Shannon dan W. Weaver (1949) yang mempersoalkan adanya sumber gangguan dalam interpretasi pesan ketika terjadi tindak komunikasi. Melalui berbagai kajian, yang pada puncaknya diaplikasikan dalam kajian “Message engineering pesan komunikasi oleh Walisongo dalam Islamisasi di Jawa,” (Andrik Purwasito: 2011) pengujian terhadap noise (terutama noise kultur) dan distorsi dalam pemaknaan simbol-simbol komunikasi,  basis teori message studies semakin kokoh dengan temuan teoritis bahwa sumber gangguan dalam tindak komunikasi dapat diatasi dengan cara mengemas pesan (message packaging) secara kultural melalui proses rancangbangun pesan (message engineering).

Message studies juga memberi koreksi setidaknya pengembangan terhadap teori Mac Luhan yang menyatakan bahwa message is medium. Dalam beberapa kajian yang saya lakukan, terutama dalam pembimbingan disertasi, tesis dan skripsi mahasiswa bahwa  dalam prakteknya, medium memang mampu memberi peluang lebih baik terhadap tafsir makna pesan tetapi tidak hanya sebagian saja dari pesan itu yang dapat disampaikan, selebihnya pemaknaan pesan sangat bergatung dari aspek-aspek lain, seperti latar sosial-budaya, ruang dan waktu serta konteks pesan itu sendiri dengan realitas sosial masyarakat.

Beberapa peneliti yang mengkritisi persoalan pesan ini adalah Harold Innis dalam The Bias of Communication, H.J. Chaytor dalam From Script to Print, dan I.A. Richard dalam The Meaning of Meaning, Frank Zingrone, The Media Symplex, dalam pendahuluannya membahas tentang “The Bias of McLuhan.” Zingrone mengkritisi “The medium is the message” McLuhan dengan ungkapan “the medium is never the whole message.” Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa “with some degree of hyperbole, that medium is almost the whole messge,” dalam realitasnya untuk isi pesan yang kecil jumlahnya dan tidak mampu mempejelas makna pesan yang efektif yang ditimbulkan oleh adanya teknologi mediumnya, “that content counts for very little and doesn’t have much to do with the reshaping of the senses effected by the technology of the medium.” (Zingrone: 2001, p.1)

Metodologi

Sebelum membahas tentang metoda untuk membangun teori dan metoda tafsir terhadap pesan komunikasi dalam proses dan tindak komunikasi,  terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai empat pilar utama message studies,  sebagai berikut:

Pilar Pertama : Studi Kekuasaan

Message studies  berisi tentang perancang-bangun pesan (message engineering). Message studies adalah model analisis pesan berbasis teori kritis. Unit analisisnya adalah “pesan komunikasi”  yang dipertukarkan dalam tindak komunikasi dengan basis analisis (message as analysis unit) kekuasaan. Wilayah kekuasaan yang dimaksud tidak saja kekuasaan politik kenegaraan atau kepemerintahan, tetapi termasuk juga mencari kekuasaan melalui pembangunan citra diri (personal branding), penciptaan hegemoni, sampai pada mencar kekuasaan degnan penggunaan kekerasan,  seperti dalam tindak komunikasi yang berupa resistensi wacana pikir, gerakan revolusi, wacana dan gerakan reformasi dan penyebaran ideologi. Perancang-bangun pesan tersebut menghasilkan apa yang disebut dengan kemasan pesan (message packaging).

Pilar Kedua : Studi Masyarakat

Message studies digunakan sebagai satu metoda untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi membangun struktur sosial masyarakat melalui pertukaran pesan (sharing of symbol), termasuk di dalamnya bagaimana kontrol atau pengendalian sosial dilakukan melalui proses-proses komunikasi serta terbentuknya integrasi dan solidaritas sosial masyarakat, konflik dan pertikaian seperti studi yang membahas kemampuan individu dan kelompok untuk hidup berdampingan secara damai di tengah pluralitas masyarakat, kemampuan masyarakat membangun lingkungan hidup yang sehat (go green movement), dll.

Pilar Ketiga: Studi Mentalitas

Message studies digunakan sebagai upaya memahami mentalitas manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari melalui hasil karya mereka. Seluruh hasil karya manusia sesungguhnya medium (channel) komunikasi yang berisi pesan-pesan tertentu. Melalui hasil karya mereka kita dapat mengetahui secara lebih baik mentalitas individu dan kelompok. Misalnya, mengerti pandangan hidup, identitas individu atau kelompok tertentu, mengetahui gagasan mereka tentang sesuatu hal, obsesi dalam kreativitas hidupnya, sikap-sikapnya terhadap kekuasaan. Studi mentalitas termasuk juga masalah kepribadian dalam konteks komunikasi dan interaksi masyarakat, sehingga kita mengetahui semangat hidup, kesombongan, kebencian, krisis mental, cinta dan seterusnya.

Pilar Keempat: Studi Kebudayaan

Message studies digunakan sebagai upaya tafsir pesan yang bertujuan memecahkan misteri  tanda-tanda dalam produksi kebudayaan. Produk kebudayaan baik yang berupa artefact, sociofact, mentalfact, dikatagorikan sebagai saluran dan sekaligus di dalamnya berisi muatan pesan-pesan. Pesan tersebut ditelaah untuk menjelaskan maksud dan motiv komunikator atas produk kebudayaan tersebut. Dengan demikian kita akan menemukan fungsi-fungsi komunikasi melalui budaya termasuk karya seni. Hal ini didasarkan oleh anggapan bahwa komunikator mengkonstruksi pesan secara rumit, kompleks, melibatkan berbagai unsur seperti latar sosial-budaya, latar ideologi, status sosial ekonomi, gender, ras, etnik, agama sampai tingkat pendidikan individu.

Jika digambarkan sebagai berikut:

 Keterangan Gambar: Empat Pilar Message Studies

 Tujuh  Orientasi Teoritik dan Pendekatan Message Studies

Tujuh orientasi teoritik dan pendekatan dalam message studies, digunakan sebagai upaya melandasi kerangka teoritis kajian rancang bangun pesan.

Orientasi Pertama:

Komunikasi itu adalah kekuasaan (Communication is a power)

Sebagaimana disebutkan di muka bahwa message studies mendefinisikan “komunikasi” dalam perspektif  sarana untuk mencapai kekuasaan. Artinya bahwa kekuasaan yang diperoleh melalui proses-proses komunikasi.  Kekuasaan  yang  dimaksud bukan saja kekuasaan politik, tetapi juga kekuasaan sosial seperti ingin memperoleh prestise, penghargaan, penghormatan, kasih-sayang (Andrik Purwasito: 2003).  Hal ini dapat dijelaskan bahwa setiap orang yang melakukan tindak komunikasi selalu disertai motif dan tujuan tertentu betatapun kecilnya.  Motif  berkonotasi harapan untuk memperoleh sesuatu dengan cara sengaja, sedangkan tujuan berarti  ada target yang ingin dicapai. Seseorang berkomunikasi dengan orang lain karena ingin menyampaikan “sesuatu” untuk mendapatkan “sesuatu.”

 Orientasi Kedua:

Bahasa itu simbol  (language is symbole)

Kenyataan menunjukkan bahwa seluruh kegiatan atau tindak komunikasi dilakukan dengan menggunakan bahasa. Bahasa berbentuk simbol-simbol, terdiri atas simbol verbal dan simbol non-verbal.  Simbol verbal merupakan apa yang dinyatakan oleh komunikator  dalam bentuk ucapan sedangkan simbol non-verbal dinyatakan sebagai bahasa tubuh, seperti kerlingan mata, gerakan jari, gerakan tangan, sikap duduk, gerakan kepala termasuk di dalamnya adalah penggunaan waktu dan tempat untuk berkomunikasi.Bahasa komunikasi adalah pesan komunikasi. Jadi, studi tentang pesan (message studies) pada dasarnya adalah studi bahasa yang digunakan untuk pertukaran gagasan, yang sering disebut sebagai bahasa pragmatik.  Teori bahasa dan segala hal yang berhubungan dengan bahasa sangat fundamental diangkat sebagai kerangka teori karena bahasa mempunyai kedudukan sentral dalam studi pesan.  Oleh karena pesan adalah bahasa dan bahasa adalah simbol, maka  metoda analisis dalam message studies menggunakan analisis simbol atau semiologi komunikasi. Untuk itulah message studies mengacu pada teori-teori kebahasaan Ferdinand de Saussure (1857-1913) yang mana kegiatan komunikasi itu melibatkan langage (susunan atau bentuk bahasa), langue (sistem bahasa)dan parole (pemakaian bahasa).

Orientasi Ketiga:

Pesan itu Kemasan (message is packaging)

Message studies tidak dapat meninggalkan pemikiran MacLuhan yang menyatakan bahwa medium is message. Tetapi tidak seluruhnya medium dapat memberi makna pada pesan, karena pesan juga bergantung dari packaging nya. Dengan demikian, message itu dapat dimengerti melalui medium tetapi juga melalui packaging.   Medium  dan packaging dalam message studies adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

 Orientasi Keempat:

Pesan itu Semena-mena (Message is arbitrair)

Oleh karena pesan adalah bahasa, dan bahasa adalah simbol dan simbol adalah tanda, dan tanda bersifat arbitrair (sign is arbitrairy), maka pesan juga bersifat arbitrair  (semena-mena dalam relasi signifiant dan signifie.  Dengan demikian, pesan merupakan suatu proses rekayasa simbol oleh komunikator dengan mempertimbangan konteksnya, misalnya bagaimana seseorang mengemas pesan dalam komunikasi apakah menggunakan konteks  halus (high contex) atau konteks biasa (low contex).

Rekayasa pesan ditujukan untuk memperoleh hasil optimal melalui proses komunikasi, komunikator akan mempertimbangkan berbagai unsur  seperti pertimbangan kemasan pesan (message packaging), ruang dan waktu kapan pesan digunakan (message using) serta pemanfaatan makna yang lebih kongkrit (message meaning).

 Orientasi Kelima:

Pesan itu logis (Message is logic)

Oleh karena pesan bersifat arbitrair konsekuensinya pesan juga secara bebas dapat ditafsirkan oleh komunikan (khalayak). Relasi pesan dan komunikatornya sangat fundamental, tetapi bagaimanapun setiap komunikator  merancangbangun pesan menggunakan logika berpikir yang lurus apabila ia menghendaki hasil atau efek komunikasi yang diinginkan. Artinya bahwa pesan juga bersifat logik meskipun dikemas sangat rumit dan bersifat konotatif.

 Orientasi Keenam:

Pesan itu kontekstual (Message is contextual)

Rekayasa, kemasan, penggunaan pesan dipengaruhi  oleh level komunikasi dan konteks komunikasi. Partisipan komunikasi mempunyai kesadaran menggunakan berbagai level komunikasi agar pesan yang disampaikan memperoleh respon positif. Beberapa level komunikasi digunakan antara lain, komunikasi antar-persona, komunikasi massa, komunikasi publik dan  komunikasi organisasi.Sedangkan dalam praktek komunikasi digunakan dua konteks komunikasi, yaitu  high-contex dan low-contex of communication.  Orientasi teoritik dan pendekatan ke-enam ini digunakan untuk melakukan pengkajian terhadap penggunaan bahasa dalam suatu komunitas, seperti penggunaan dialek bahasa, peminjaman bahasa lain, pola-pola komunikasi suatu masyarakat.

Orientasi Ketujuh:

Pesan itu Ruang dan Waktu (Message is Time and Space)

Selain pesan dipengaruhi oleh  level dan konteks komunikasi,  rekayasa pesan juga mempertimbangkan ruang dan waktu. Dalam hal ini, pesan yang diproduksi membutuhkan strategi perencanaan komunikasi agar rancangbangun pesan mencapai hasil yang optimal atau mencapai tingkat efektivitas yang tinggi.

 Sembilan (9) Formula Kaidah Tafsir Pesan

Message Studies mengkaji pesan komunikasi melalui interpretasi logis. Untuk mendalami suatu pesan komunikasi dibutuhkan kaidah atau formula tafsir pesan, dalam message studies dikembangkan 9 formula tafsir pesan yaitu

 Formula 1:

Siapa Komunikator

Setiap pesan pasti ada komunikator (source). Oleh sebab itu, untuk menafsirkan pesan, pengetahuan tentang komunikator dibutuhkan sekali untuk memahami lebih luas mengenai simbol yang dirancang bangun, kemasan yang dipakai sehingga makna pesan akan dapat dimengerti lebih baik.

Formula 2:

Motivasi Komunikator

Setiap pesan di dalamnya memuat maksud-maksud tertentu. Ini berarti bahwa pesan berisi gagasan dan motiv komunikator melalui penyandian yang rumit. Untuk mencapai pada motiv, peneliti tidak perlu untuk mewawancarai komunikator karena pesan itu sendiri adalah produksi gagasan dan representasi pikiran dan hati nuraninya. Motivasi tersembunyi sering dirahasiakan melalui penyandian simbolik.

 Formula 3:

Konteks Fisik dan Sosial

Setiap pesan komunikasi disampaikan secara sadar oleh komunikator untuk mencapai maksud, terutama pada tataran mengubah pikir dan perilaku komunikan. Oleh sebab itu, penyandian pesan oleh komunikator berhubungan erat konteks fisik dimana dan kapan pesan itu produksi dan disebarkan serta mempertimbangkan konteks komunikan. Penempatan pesan atau penyiasatan waktu dan tempat akan mampu memberikan pintu menuju maksud-maksud komunikator.

Formula 4:

Struktur Tanda dan Tanda Lain

Setiap pesan mempunyai struktur yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang membentuk satu kesatuan, pesan komunikasi. Satu tanda jarang yang bersifat independen, namun sangat berkorelasi dengan tanda-tanda lain yang berada dalam lingkupnya, seperti waktu, tempat, serta sistem tanda yakni relasional dengan tanda-tanda lain yang berada di dekatnya.

Formula 5:

Fungsi Tanda, Sejarah dan Mitologi

Pesan dapat dimengerti melalui analisis fungsi tanda-tanda yang digunakan dalam masyarakat. Penggunaan fungsi tanda tersebut bersumber dari fungsi kebahasaan, bersumber dari mitologi, sejarah. Setiap tanda mempunyai referensi yang biasanya sudah ada dalam kaidah dan konpsep kearifan lokal masyarakat.

Formula 6 :

Intertekstualitas

Tanda sebagai kemasan pesan adalah hasil merancangbangun komunikator. Tanda bisa berada di tempat lain dengan komunikator pihak lain. Oleh karena itu, intertekstualitas diperlukan sebagai salah satu cara untuk memaknai tanda, karena perbandingan makna dan fungsi atas tanda tersebut akan membantu pemaknaan.

Formula 7 :

Intersubyektivitas

Oleh karena tanda bersifat arbitrair tetapi dalam relasi dengan komunikatornya bersifat logik. Pesan, mungkin saja bukan untuk pertamakalinya dimaknai, oleh sebab itu pesan-pesan yang telah dimaknai oleh para ahli (subyektif) dapat digunakan untuk mendukung atau menolak penafsiran.

Formula 8 :

Common sense

Pada dasarnya setiap tanda sebagai pesan, maknanya sudah dipakai oleh masyarakat (common sense). Oleh karena tanda itu telah digunakan oleh masyarakat berdasarkan kesepakatan kolektif atau konsesus sosial sehingga secara konvensional tanda telah milik masyarakat. Hal itu membuktikan bahwa pesan yang dipertukarkan dapat bersifat sosial. Dalam hal tanda bersifat privat, maka makna commen sense tersebut dapat pula dijadikan pintu penafsiran terhadap pesan yang bersifat khusus tersebut.

Formula 9 :

Krediblitas dan Otoritas Individual

Pada akhirnya makna pesan berpulang kepada penafsirnya. Setelah melalui penjelahan 8 (delapan) tingkat pengujian di atas, makna terakhir yang dipilih diserahkan sepenuhnya kepada keyakinan si penafsir sendiri.

Hasil Penelitian

Dari hasil uraian di atas, temuan teoritisnya dapat disebutkan sebagai berikut:

Bahwa efektivitas komunikasi agar mencapai efikasitas (hasil yang optimal) yang tinggi dibutuhkan message engineering.  Yang dimaksud message engineering adalah serangkaian kegiatan untuk merekayasa kemasan pesan yang sesuai dengan latar sosial-budaya target sasaran. Proses rekayasa pesan dimulai dari (1) hadirnya simbol sebagai representasi gagasan komunikator, (2) rekayasa simbol sebagai manifest pesan, (3),  kemasan pesan sebagai hasil rancangbangun pesan untuk disampaikan kepada khalayak.  Jika digambarkan proses rekayasa pesan tersebut sebagai berikut:

Keterangan Gambar : Diagram proses message engineering

 

Temuan toeritisnya dapat diketengahkan sebagai berikut:

Bahwa untuk melakukan kajian pesan, message packaging  yang dilakukan komunikator melalui  rancang bangun pesan (message engineering) mengacu pada 5 unit analisis, yaitu analisis terhadap komunikator,  analisa saluran yang dipilih oleh komunikator, menyelidiki pemilihan manifestasi (wujud kemasan), pertimbangan ruang dan waktu oleh komunikator,  menganalisis makna pesan (message meaning) untuk mengetahui maksud, juga motif tersembunyi komunikator.  Lima komponen rancang bangun kemasan pesan dapat dilihat berikut ini:

Keterangan Gambar : Komponen dasar message packaging

 Kesimpulan

Paradigma studi tentang pesan (message studies)   studi tentang akumulasi kekuasaan melalui proses-proses komunikasi.  Dalam perspektif tersebut, akhirnya messega studies menyimpulkan bahwa komunikasi adalah sarana untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam konteks message studies, definisi komunikasi adalah kekuasaan, communications is power.

Untuk mengetahui power (kekuasaan) melalui proses-proses komunikasi, message studies membagi analisis pesan melalui 3 metoda rancang bangun pesan (message engineering methode) yaitu (1) message packaging, (2) message using, (3) message meaning.

Daftar Pustaka

Barthes, Roland, (1985), L’Aventure Semiologique,  Editions du Seuil, Paris

Berger, Arthur Asa ( 2000) Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Tiara Wacana, Yogyakarta.

Eco, Umberto (1976) “Introduction: Toward a Logic of Culture” dalam Theory of Semiotics, Indiana University Press, terjemahan, dalam Panuti Sudjiman adan Aart van Zoest, Serba-Serbi Semiotika, Gramedia, Jakarta, 1992

Geertz, Clifford(1992), The Interpretation of Culures, Hutchinson & CO Publisher LTD, London, 1974, versi Indonesia dengan judul Tafsir Kebudayaan, oleh Yayasan Kanisius Yogyakarta, 1992

Hjelmslev,  L (1971), Essais linguistiques, Edition Minuit, Paris, 1971

Littlejohn, Sthephen W and Roberta Gray (1996), Theories  of Human Communication, Edisi ke 5,  Wadsworth Publishing Company, Belmont

Mounain, G. (1960), “Communication linquistique humaine et communication non linguistique animale,” Les Temps Modernes, avril-mai 1960

Purwasito, Andrik (2003), Message Studies, Studi Tanda dalam Wacana, nDalem Poerwahadiningratan Press, Surakarta

————-, (2001) Semiologi Komunikasi, Masyarakat Semiologi Komunikasi, FISIP-UNS, Surkarta

————-, (2002) Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana, Ford Foundation dan Pustaka Cakra, Surakarta

—————-, (2003) Komunikasi Multikultural, Universitas Muhammadiyah Surakarta Press, Surakarta

—————- “Perang Peradaban.” Kompas, 1992

—————-. “Kemiskinan Intelektual, ” Kompas, 1993

 

Sekian semoga bermanfaat

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s