By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

MESSAGE STUDIES

Pemikiran ini diterbitkan di Surakarta  oleh penulisnya, Andrik Purwasito, tahun 2003, sebagai upaya membangun teori Komunikasi Versi Asia.

BAB I : AWAL MULA GAGASAN

Bagian Pertama

Komunikasi dan Kebudayaan

Semua berawal dari inequalitas, kesenjangan dan ketegangan budaya dalam kehidupan sehari-hari, menyaksikan kemajuan peradaban dibarengi dengan kemunduran moral, melihat perang setiap hari ditengah teriakan perdamaian, mendukung polisi kejahatan tambah merajalela, mengharap politisi mengatasi krisis malah mereka berfoya-foya dengan uang rakyat, terlibat dalam urusan pendidikan kini dikomersialkan. Perempuan menuntut hak kesamaan derajat dengan laki-laki pada hal perbedaan itulah yang membuat mereka mampu membangun peradaban. Apa  yang membuat semua ini berlangsung terus tanpa dapat dicegah. Mengapa orang tak peduli terhadap drama tragedi kemanusiaan ini?. Barangkali jawabannya sangat sederhana, yaitu pengabaian terhadap komunikasi.

Semua berawal dari komunikasi. Dengan komunikasi orang mampu membangun kekuasaan. Oleh sebab itu setiap orang secara sendiri atau secara berkelompok menggunakan komunikasi sebagai alat untuk menjalankan kehidupan sosial, ekonomi, intelektual, politik dan spiritual. Komunikasi adalah urat nadi yang mengalirkan darah sedangkan pesan adalah darah yang menghidupi. Dengan kata lain, komunikasi adalah alat dan sarana untuk mencapai kekuasaan.

Bagian Kedua

Kekuasaan

Kekuasaan menjadi landasan dasar tujuan hidup manusia. Kekuasaan adalah serangkaian pendapatan (benefit dan profit) yang diperoleh dari proses interaksi dengan pihak lain. Kekuasaan diperjuangkan sebagai sarana memenuhi kebutuhan hidup yang dasariyah, yakni memperoleh sandang, pangan, papan sampai pemenuhan kebutuhan yang lebih di atas rata-rata, yakni kehendak untuk memperoleh drajat (benefit sosial), pangkat (benefit politik), semat (profit finansial) dan kemat (prestige).

Setiap hari orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuasaan. Dari tingkat paling rendah, seperti berupa senyuman dan basa basi sampai tingkat yang tinggi seperti jabatan, kewibawaan, otoritas, status sosial, hak-hak istimewa dan fasilitas. Pada tingkat yang tinggi, karena tingkat kesulitan dan kompleksitas persyaratan dan tingginya tingkat kompetisi, para kandidat tidak segan-segan mencapai kekuasan dengan berbagai cara, termasuk fitnah dan tipudaya.

Setiap hari orang-orang berbicara tentang reformasi tetapi apakah reformasi itu? Jawabannya sederhana, money politics, ketidakpercayaan rakyat terhadap negara, krisis multidimensional, kebohongan publik, anarkhisme, penguasa over acting dan sejenisnya (Andrik Purwasito, Perpektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah: 2001, 100 halaman).

Bagian Ketiga

Pemiskinan intelektual

Sementara itu, dunia pendidikan secara intelektual terjadi pemiskinan (Andrik Purwasito, “Kemiskinan Intelektual,” Kompas: 1993) ditandai dengan perendahan dan pelecehan fungsi perguruan tinggi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap nilai-nilai luhur perguruan tinggi sebagai tempat membimbing dan mendidik serta memberi pencerahan kepada umat manusia. Perguruan tinggi mulai mengkomersialkan diri, dengan cara berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan kemat bahkan dengan cara yang kasar. Negara dan birokrasi pendidikan tinggi tidak lagi berorientasi pada visi dan missi pendidikan yang bersifat sosial dan spiritual. Keserakahan dan ketamakan telah melanda dunia terhormat yang kini direndahkan oleh kekuatan uang. Uang bagi orang-orang semacam itu adalah segala-segalanya.

Komersialisasi dunia pendidikan menjadi kenyataan pahit yang tak seorangpun dapat mencegahnya. Institusi negara sudah kehilangan pamornya kini perguruan tingi ikut memeras rakyat yang dibelanya. Di satu pihak, negara yang bertanggung jawab terhadap dunia pendidikan tidak mampu mengalokastkan uang rakyat untuk pendidikan rakyat, di pihak lain kita melihat terjadinya penghamburan uang rakyat guna sesuatu yang tak perlu, seperti kunjungan legislatif ke berbagai negara yang fiktif, dana purnabhakti bagi anggota legislatif yang berbau money politics, dana asuransi legislatif dan masih banyak yang lain.

Ini sungguh tragedi yang memprihatinkan. Dunia pendidikan telah menempatkan dirinya sejajar dengan kekuatan politik dan mendefisinikan dirinya sebagai penguasa dunia pendidikan dengan segala kesombongannya. Tidak menyalahkan anggapan orang awam jika pada akhirnya perguruan tinggi adalah “dunia kotor,” sebagaimana anggapan mereka terhadap dunia politik. Sungguh amat menjijikkan jabatan-jabatan di birokrasi pendidikan diperebutkan, penggunaan hak-hak prerogatif dalam pengambilan keputusan, yang bertentangan dengan aspirasi kolektif, tidak ubahnya kekacauan dalam jabatan-jabatan politik seperti dalam pemilihan kepala daerah. Dunia pendidikan bukan sebagai  tempat pengabdian yang mulia, kini dunia pendidikan tidak ubahnya pasar menjadi lahan para birokrat kampus untuk berdagang supaya mendapatkan profit dan benefit. Lihatlah setiap semester buku-buku baru diterbitkan hanya karena keuntungan dari kantong orang tua murid. Sekolah-sekolah menjadi agen penjualan buku dengan tujuan yang tidak jelas. Kurikulum terus berganti tetapi mutu pendidikan justru jauh dari nilai-nilai budi luhur, budi pekerti yang baik, jujur dan sportif. Akhirnya, dunia pendidikan tidak ubahnya dunia politik yang penuh intrik, gosip, jegal menjegal, fitnah bahkan juga korupsi, kolusi dan nepotisme. Dunia pendidikan tidak ubahnya pasar yang dijadikan tempat untuk transaksi jual beli demi mempertimbangkan untung dan rugi.

Bagian Keempat

Perang Peradaban

Selanjutnya, kita berhadapan dengan dunia global, importasi informasi dan hiburan baik lewat media massa atau lewat pertukaran dan mutasi warga dari seluruh penjuru dunia telah menempatkan bangsa-bangsa dunia menjadi satu keluarga, yaitu “keluarga global.” Tembok negara telah roboh, sekat bangsa telah punah dan lahirlah keluarga plural. Sebuah keluarga besar yang dipimpin oleh kekuatan ekonomi, informasi dan teknologi, yaitu kapitalisme. Sebuah tatanan liberalistik yang penuh kompetisi dan persaingan bebas. Pada hal pluralisme baru saja lahir yang tak semua dapat menerima kehadirannya di muka bumi ini. Perang, kriminal, terorisme, eksploitasi dan perusakan lingkungan, demi kekuasaan terus berjalan dihadapan mata kita. Maka tidak mengherankan tatanan yang demikian bebas menyumbangkan sebuah atmosfir untuk membuka “perang peradaban,” (Andrik Purwasito, “Perang Peradaban”, Kompas: 1992). Kini kapitalisme membangun sentral kekuasaan dunia yang mengagumkan. Hegemomi dan dominasi, monopoli dan oligopoli menjadi bagian tak terpisahkan atas kekuasaan itu.

Kini orang tersenyum bukan berarti dia ramah tetapi karena ingin dihormati.   Orang menganggukkan kepala bukan karena hormat tetapi sebab ketakutan-ketakutan. Orang mengatakan “Ya, saya tahu,” pada hal ia tidak tahu kecuali takut dianggap bodoh, dan masih banyak perilaku manusia yang terinveksi oleh virus kompetitif. Akhirnya, kekuasaan menjadi sumber utama datangnya malapetaka dan marabahaya.

Bagian Kelima

Media Massa

Media massa adalah pasukan kapitalisme. Ia digunakan oleh Penguasa Dunia tersebut sebagai cara untuk memperoleh hegemoni, monopoli dan dominasi. Atmosfer kehidupan penuh persaingan dan tipudaya, eksploitasi, penindasan, kekerasan, kebebasan yang berlebihan, gender, ideologi dan inequalitas merupakan produk yang dihasilkan oleh pasukan kapitalisme. Mereka tidak ragu-ragu menggunakan kekuatan militer secara terang-terangan terhadap musuh-musuhnya, biasanya menggunakan kekuatan ekonomi yang dibungkus dengan wacana dengan menyebarkan sejumlah simbol-simbol yang disebarluaskan lewat berbagai jenis pasukan itu, pers, televisi, film, buku dan teknologi. Sedangkan rakyat dari bangsa-bangsa yang lemah secara ekonomi dan budaya, teknologi dan akses informasi, agakya sudah sangat baik mampu menjadi users (pengguna) ketimbang tidak sama sekali. Hal ini karena penduduk sebagian terbesar di dunia itu makin sulit untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, kerja keras membanting tulang siang dan malam. Sebagian yang lain mengitimasi produk kapitalisme seperti film-film spy dan bandit, yakni tindakan sekelompok orang merebut secara paksa hak milik orang lain. Saban hari kita dengar perampokan, penjambretan, bahkan pemerkosaan, pembunuhan dan bentuk pencurian dengan kekerasan.

Bangsa-bangsa yang lemah asset ekonomi dan teknologi yang masih asyik dengan media tradisionalnya, mau tidak mau harus bergabung dengan kapitalisme. Media tradisional secara perlahan-lahan dan pasti punah dari muka bumi. Beberapa intelektual dan seniman mencoba mempertahankan kekayaan lokal tersebut dengan susah payah daripada tidak sama sekali.

Media massa telah menyumbangkan keberhasilan yang mengagumkan dalam upaya kapitalisme membangun kekuasaan dan kejayaan di muka bumi ini. Kini hampir setiap jengkal bumi, udara dan lautan yang telah dikuasai, kini telah dilegalisasi, dikeramatkan, dilegitimasi tidak lain supaya kapitalisme tetap bisa dipertahankan.

Bagian Keenam

Kesadaran Multikultural

Apakah ini sebuah kekacauan? Katakanlah inilah kebingungan massal yang telah manusia dunia, baik terhadap identitasnya sebagai bangsa maupun terhadap identitas dirinya sendiri. Idealisme digadaikan dengan lembar ribuan, karena pragmatisme sesaat lebih mengungtungkan, dan secara perlahan mereka menjauhkan diri dari estetisme bahkan tak tahu dimana tempat berpijak dan kemana orientasi diri untuk masa depan.  Uang dan kemewahan telah membutakan mata bagi banyak orang.

Apa dan siapa yang dapat mengembalikan kekacauan ini? Pertanyaan yang tak perlu dijawab karena sekarang sebagian orang tengah bersinergi dengan kapitalisme, sebagian yang lain berusaha melawan kejahatan kapitalisme. Dalam kancah kekacauan peradaban dan krisis identitas inilah peran komunikasi menjadi amat berharga.

Komunikasi mampu membantu resolusi konflik dan kekacauan ini. Komunikasi mampu membangun hidup berdampingan secara damai. Komunikasi mampu menumbuhkan kesadaran multikultural. Tanpa komunikasi bencana akan datang lebih cepat menerkam kehidupan kita.

Kesadaran multikultural adalah kehendak untuk hidup bersama dalam perbedaan tanpa rasa takut akan kekalahan, tanpa bertepuk dada karena kemenangan. Dalam kesadaran multikultural, membimbing manusia menemukan pencerahan dan kebijakan.

Secara ideal, kesadaran multikultural berhasil oleh adanya interaksi manusia yang berkesinambungan. Keberhasilan itu tampak ketika manusia mampu menumbuhkan saling pengertian ditengah perbedaan budaya, manusia sedia saling berbagi pengalaman dalam diversitas, terbuka menyatukan spirit untuk bekerjasama tanpa memandang ras, suku, agama, golongan, kelas, usia, pendidikan, dan gender (Andrik Purwasito: Komunikasi Multikultural: 2003, 367 halaman).

Bagian Keenam

Message engineering

Akhirnya, kesadaran multikultur adalah proses mencapai hidup rukun, damai dan sejahtera. Saya rasa inilah tujuan manusia hidup di muka bumi. Dari uraian di atas dapat ditarik pemikiran bahwa semua cita-cita itu dapat diperoleh jika keluarga global ini mengamalkan amanah komunikasi. Proses pengamalan tersebut harus mencakup seluruh domain komunikasi, baik komunikasi publik, komunikasi massa, interpersonal maupun komunikasi dalam kelompok. Suatu tahap pencapaian komunikasi yang berhasil terletak pada kunci utama, dalam hal ini saya sebut sebagai upaya rekayasa pesan (message engineering). Oleh sebab itu, mengapa di Ndalem Poerwahadiningratan ini, saya bersama para murid dan kolega kami yang setia terhadap ilmu pengetahuan mengembangkan pesan sebagai subyek kajian.

Bagian Ketujuh

Problematik

Komunikasi pada akhirnya adalah sarana vital mencari, mempertahankan, dan merebut kekuasaan. Keberhasilan sebuah kekuasaan sangat tergantung dari rekayasa pesan. Pesan menjadi sebuah alat pertukaran selain uang. Masyarakat dan sejarah bergerak terus karena pertukaran pesan dalam proses komunikasi yang tiada henti. Komunikasi sejak lama digunakan manusia dalam berbagai bentuknya, dalam berbagai levelnya, guna mencapai tujuan kekuasaan dimaksud. Selain cara-cara ekonomi, politik, militer dan budaya, kekuasaan dalam konteks ini diperoleh lewat wacana. Wacana, baik secara sengaja diproduksi oleh media massa maupun oleh tuturan dalam budaya lisan, sebagai contoh telah telah berhasil memerdekakan bangsa Indonesia. Bagi kaum nasionalis Indonesia, “wacana adalah senjata perang dengan cara yang lain.” Jika media massa menjadi pasukan kapitalisme, wacana  adalah senjata yang digunakan untuk membangun kekuasaan, mempertahankan, menjatuhkan bahkan menindas orang lain (dalam Andrik Purwasito, Imajeri India: 2001, 600 halaman).

Selanjutnya baca di bagian lain di Blog ini tentang : Background and Methode

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s