By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Menyongsong Komunitas ASEAN 2015 : Survival, Self-Sufficience, Peacefull Coexistance

Andrik Purwasito/Ketua Prodi Hubungan Internasional, FISIP-UNS Surakarta

Abstract

Dalam Konvensi III Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia di UMM Malang 8-10 Oktober 2012

The tendency in international current events is marked  to multidimentional crisis, especially by the economic crisis in Europe and Western countries, and we know there are the shock of democratization in the Middle East countries. The  international orders are now undergoing search to  re-orientation and seemly  the tendency to return to block regional.  Now, we are on  the regionalization process, since occurred after the Second World War, starting with regional organizations such as NATO, SEATO, CENTO ect. followed by efforts to unite of Europe, we can see since the European economic union emerged. The European Union birth by the Treaty on European Union which initiated the road to political union, economic and currency.  International order changed at the moment of  the reunification of Germany, it was also influenced by the collapse of the Soviet Union with his East Block, thats why, “Necessary Europe made ​​a re-thinking of the European project.”  Meanwhile, the countries of  South East Asia, build the ASEAN and increasingly cemented himself into the spirit of unification, which is roughly equal to what is happening in Europe. Now,  ASEAN e have the Roadmap for an ASEAN Community 2009-2015, based on the Declaration of Cha-am Hua Hin. This regional change is directed more or less marks the return of the spirit of the movement toward regionalism. Indonesia and ASEAN must be take role in this change, for maintenance of peace, survival, self-sufficiency and democratization

Keyword : regionalism, peace, survival, peacefull coexistance, global interest and global concern, democratization

Pengantar

Kecenderungan mutakhir yang ditandai  antara lain dengan adanya krisis ekonomi di Eropa dan Negara-negara Barat serta goncangan demokratisasi di Negara-negara Timur Tengah, sekarang order internasional mengalami re-orientasi dan kecenderungan kembali kepada proses regionalisasi sebagaimana terjadi setelah Perang Dunia Kedua diawali dengan organisasi regional seperti NATO, SEATO, yang disusul dengan upaya Eropa bersatu, sejak terjadinya penyatuan ekonomi Eropa yang melahirkan Uni Eropa berdasarkan The Treaty on European Union yang menginisiasi jalan menuju penyatuan politik, ekonomi dan mata uang. Tata internasional yang mendorong terjadinya penyatuan kembali juga dipengaruhi oleh penyaturan Jerman dan jatuhnya Uni Soviet bersama Blok Timurnya, Eropa made necessary a re-thinking of the European project. Sementara itu,  di Asia Tenggara sendiri ASEAN semakin mengokohkan dirinya menuju spirit penyatuan, yang kurang lebih sama dengan apa yang terjadi di Eropa, sebagaimana tertuang dalam  Roadmap for an ASEAN Community 2009-2015, berbasis Deklarasi Cha-am Hua Hin. Inilah suatu arah perubahan regional yang sedikit banyak menandai gerakan ke arah kembalinya semangat kubu-kubu regionalism. [1]

Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut adalah  pilihan kebijakan memperkokoh regionalisme adalah salah satu prioritas yang cerdas, karena memang masa depan penuh ketidakpastian, sementara setiap negara di suatu kawasan harus berpikir untuk tetap bertahan terhadap krisis (survive) dan memenuhi kebutuhan hidup bangsa-bangsa di kawasan (self-suffiency), dibutuhkan tidak saja  menjamin kelangsungan hidup berdampingan secara damai (peacefull coexistance) dan tetapi juga negara-negara di kawasan tersebut mampu menunjukkan eksistensi serta memainkan peranan dalam percaturan politik internasional (global concern dan global interest).

Survive dan Self-suffiencey

Untuk mampu bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri,  suatu bangsa membutuhkan resources (sumber daya) baik sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun sumber daya budaya. Sumber daya tersebut dapat berdaya guna apabila mampu di kelola secara profesional.  Prioritas utama untuk mampu bertahan hidup adalah kemampuan manajemen mengubah human resource menjadi human capital.[2]  Keberadaan Komunitas ASEAN sangat memungkinkan membuka peluang dan tantangan yang positif di masa depan. Oleh sebab itu, semenjak sekarang, setiap pemerintah Daerah sudah sewajarnya untuk memanfaatkan peluang dan tantangan tersebut untuk membina SDM setempat memasuki komunitas ASEAN.

Tujuan tersebut akan cepat tercapai dengan bekerjasama dengan Kementerian Luar Negri dan Perwakilan RI di negara-negara ASEAN yang secara konseptual telah membuat “Masterplan Percepatan dn Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025” yang didukung dengan “Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC).” Kesiapan tersebut sudah barang tentu harus dibarengi dengan sistem regulasi daerah yang adaptabel, perbaikan infrastruktur, sarana dan prasarana bagi kelancaran dunia usaha serta infrastruktur sosial, khususnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Kata “connectivity” menunjukkan arah penyatuan ekonomi secara regional, dan bagi Indonesia pertanda dibangunnya jaringan bisnis yang menghubungkan kantung-kantung ekonomi Daerah yang tersebar di berbagai kawasan

Peacefull Coexistance

Perang Dunia adalah tonggak bersejarah perebutan kekuasaan dan hegemoni atas dunia. Negara-negara kapital menjalankan politik perluasan wilayah pengaruh dengan berbagai cara, baik bersifat politik agressi militer, politik ekonomi maupun politik prestise.  Kini mereka harus menjalankan industri  mereka seperti pesawat tempur, senjata dan peralatan perang sebagai komoditas dan bukan sebagai alat pertahanan diri. Mereka membutuhkan pasar dan pasokan cadangan minyak untuk menghidupkan jalannya roda kehidupan di kota-kota metropolis mereka.

Politik hegemoni melahirkan berbagai instabilitas kawasan seperti di Timur Tengah, ketika demokratisasi sistem politik dan pemerintahan menjadi panglima hegemoni. Krisis politik sepanjang tahun satu dasawarsa terakhir mulai dari Irak, Tunisia, Libya, Mesir, Yaman, dan yang tengah bergejolak di Suriah mewujudkan Negara-negara Besar menjalankan politik hegemoni untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka.

Apa yang dapat dipetik dari pelajaran tersebut bagi ASEAN adalah menandai pentingnya suatu respon strategis guna menanggulangi gelombang politik hegemoni dengan tema yang berbeda, “demokratisasi” bagi Timur Tengah dan barangkali lebih tepat pembasmian “terorisme” bagi Asia Tenggara.  Geopolitik Asia Tenggara sangat strategis, baik dari segi militer dan ekonomi, oleh sebab itu, kawasan Asia Tenggara tetap menjadi target operasi bagi Negara-negara Adikuasa.

Yang dapat dilakukan oleh ASEAN adalah bagaimana menciptakan stabilitas ekonomi dan keamanan regional agar setiap Negara mampu menghormati kedaulatan masing-masing serta menjaga perdamaian untuk menciptakan hidup bertetangga yang baik melalui berbagai upaya yang positif dan realistis. Terbitnya blueprint untuk komunitas ekonomi ASEAN , blueprint Komunitas Sosial-Budaya ASEAN, blueprint untuk Politik dan Keamanan Komunitas ASEAN, dan banyak lagi dokumen strategis ASEAN lainnya, merupakan roadmap yang siap dioperasionalkan oleh berbagai komponen warga di kawasan ASEAN dengan kerjasama yang saling menguntungkan dengan menjunjung tinggi prinsip liberte (kebebasan), egalite (kesederajatan), dan fratenite (persaudaraan).

.

  1. Global Concern dan Global Interest

Sejarah telah menunjukkan bahwa rempah-rempah telah menjadi pusat perhatian dunia. Asia Tenggara tidak hanya mempunyai “rempah-rempah” tetapi juga pasar yang potensial bagi produk industrial, serta mempunyai masa depan pertumbuhan ekonomi yang menggiurkan. Untuk itulah, ASEAN harus mengedepankan kualitas dan standar produk barang dan jasa yang berkualifikasi internasional.

Melihat potensi pasar, geopolitik dan masa depan, ASEAN pastilah menjadi pusat perhatian dunia (global concern) sekaligus menjadi kepentingan dunia (global interest). Keunggulan apa yang kita (ASEAN) miliki haruslah menjadi icon produk, yang tidak hanya produk barang dan jasa, tetapi juga produk budaya, termasuk falsafah kehidupan yang bisa dijadikan referensi untuk menjalankan kehidupan secara rukun dan damai.

 Kesimpulan[3]

Survival, self-sufficiency, peacefull coexistance, global concern dan global interest adalah suatu kontribusi pemikiran kami demi terwujudnya Komunitas ASEAN di tahun 2015, yang secara realitis komunitas tersebut mampu memberikan peningkatan kualitas kehidupan bagi warga ASEAN, mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri bersama komunitas kawasan, menjunjung tinggi kerukunan dan kedamaian sebagai tetangga yang berdampingan, dan dalam banyak hal ASEAN mampu menjadi contoh (tredsetter) bagi dunia, seperti pengenalan terhadap pedoman dan perilaku hidup KeTimuran yang santun dan damai, seni budaya adiluhung, kekayaan hayati yang tak terhingga, dll. sehingga ASEAN akan menjadi pusat perhatian dunia sekaligus aspek geopolitik dan demografisnya, ASEAN juga mampu menjadi pusat kepentingan dunia.


[1]Andrik Purwasito, “Masa Depan Bangsa-Bangsa Melayu di Tengah Krisis dan Perubahan Politik Global,” Seminar Internasional, UUM-UNS, di Surakarta, 2 September 2012

[2]Edy Putra Irawadi, dalam kegiatan Sosialisasi Kerja Sama ASEAN dengan tema “Menuju Pembentukan Komunitas ASEAN 2015” di Jambi, (29/06) diselenggarakan oleh Ditjen Kerja Sama ASEAN bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi.

[3]Tulisan ini disampaikan dalam acara KONVENSI NASIONAL ke III, ASOSIASI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL INDONESIA (AIHII) di Universitas Muhammadiyah Malang, tanggal 9 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s