By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

The Great Melay Civilisation

BAHASA INDONESIA & MELAYU SEBAGAI PENGIKAT IDENTITAS BANGSA-BANGSA MELAYU DALAM THE GREAT MELAYU CIVILISATION

Andrik Purwasito[1]

Abstract:

The Bahasa Melayu is the root of bahasa Indonesia. Since the longtime ago, history show us that bahasa melayu used by the archipelagost as the lingua franca. Assume that since this periode, the archipelagost is united by bahasa melayu and living together in certain region, in the same interest, like in commercial domain, social contact and more like the same of political vision, especially for maintenance of Melayu cultures and traditions. The united of Archipelagost  existe in that periode and try to fight against the influence of cultural imperialism (wong sabrang). This paper, try to expose the role of bahasa Indonesia and Melayu in present, promote and explore The Great Melayu (Nusantara) Civilisation as the melayu identity. (paper presented in International Seminar at Faculty of Letter and Fine Art, Sebelas Maret University, Surakarta, 22 July 2010)

  1. Pengalaman Bahasa Indonesia

Pengalaman bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu bangsa Indonesia telah ditunjukkan oleh sejarah. Langkah-langkah strategis Indonesians founding fathers memilih bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia adalah tindakan yang tepat bagi masa depan bangsa Indonesia.  Pertama, tonggak Soempah Pemoeda 1928 yang menyatakan bahwa Bersatu Bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Kedua, gagasan jati diri bangsa yang pernyataan di atas melahirkan gagasan multikulturalisme, yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia heterogen dan bahwasannya bahasa Indonesia akan mampu mengatasi perbedaan, yang diukir dalam lambang Garuda Pancasia, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Ketiga, adalah sila ketiga Pancasila yang menyatakan bahwa Persatuan Indonesia, memuat prinsip integrasi nasional yang bersumber dari perbedaan. Sebagaimana dikatakan oleh Ernast Renan bahwa “nation, c’est la volonte vivre d’ensemble” (kemauan hidup bersama).

  1. The Great Nusantara

Mencermati eksistensi bahasa Melayu dalam periode kuno, kita sependapat bahwa peranan dan kontribusinya dalam integrasi Melayu tidak diragukan lagi. Persoalannya bagaimana sikap kita sekarang dalam menghadapi kenyataan bahwa bahasa Indonesia dan Melayu telah menjadi bahasa nasional di beberapa Negara Melayu.

Kenyataan ini adalah modal dasar, yang dapat ditingkatkan peranan dan kontribusinya tidak saja sebagai bahasa nasional oleh beberapa negara di wilayah Melayu, tetapi sebagai bahasa “supra nasional” yang digunakan sebagai lingua-franca untuk mewujudkan The Great Nusantara.

Menengok pengalaman bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional bangsa Indonesia, ide identitas kultural yang dirangkum dalam “the Great Nusantara,” adalah gagasan yang sangat realisable.

Hal ini berkaitan erat dengan fungsi bahasa sendiri yang mampu membangun jaringan budaya, sosial dan politik. Dengan begitu, lahirnya The Great Nusantara haruslah diterjemahkan sebagai kebangkitan Bangsa Melayu dalam era Global.

  1. Identitas Melayu

Bahasa Indonesia/Melayu adalah roh yag menghidupi identitas ke-Melayuan ini. Sebagai bangsa Indonesia, saya tidak terbiasa menyebut diri sebagai orang Melayu. Ini kenyataan, perasaan yang juga dirasakan oleh banyak orang Indonesia. Melayu itu identik dengan Malaysia.

Oleh sebab itu, salah satu cara untuk meningkatkan peranan bahasa Indonesia/Melayu adalah dengan mengaitkan dengan identitas ke-Melayuan ini. Ini merupakan langkah strategis-politis, tetapi dilakukan dengan cara-cara budaya. Bahasa sebagai pilar budaya memainkan peranan yang vital dalam upaya membangun identitas Melayu.

  1. Problematika

Globalisasi telah membawa kebangsaan dan batas-batas wilayah dinisbikan. Global adalah negara besar tetapi juga sebuah desa, yang dihubungkan dengan teknologi internet, telekomunikasi dan transportasi. Perasaan global telah masuk ke dalam bilik-bilik kamar kita. Tidak ada yang merasa menjadi bangsa lokal, semua seakan-akan terikat dalam kebangsaan global. Jadi, paradox sekali bahwa kita akan membicarakan The Great Nusantara atau The Great Melayu. Karena memang melayu sudah lama mati. Benarkah demikian?

Semangat Melayu atau The Great Nusantara setelah Majapahit tidak lagi pernah terdengar. Ketika Muhammad Yamin mulai mengangkat tema-tema Nusantara, ia kaitkan dengan Melayu sebagai bagian dari Indonesia Nusantara. Sekarang kita tidak berbicara atas nama politik kewilayahan. Kita berbicara pada domain The Nusantara sebagai Melayu Megah yang memang menjadi cikal bakal peradaban Melayu.

Kita telah mempunyai format yang jelas akan peradaban Melayu ini dan saya kira  tidak diragukan lagi bahwa kesamaan budaya yang membentang dari Pulau Madagaskar di Afrika sampai Solomon di Pasific Raya adalah perwujudan rumpun Melayu. Dalam hal apa bahasa diperankan?

  1. Deklarasi Surakarta

Bahasa memang tidak bisa kita paksakan harus memainkan peranan demi penguatan identitas kultural bangsa. Artinya peranan bahasa sangat bergantung pada pemerhatinya, kepada para pelaku penggunanya. Dengan kata lain, bahasa sebagai sarana pembangun cita-cita suatu bangsa, mampu menjembatani perbedaan dan membangun tali ikatan persaudaraan serta membentuk kesepahaman antar bangsa apabila para pelakunya saling berinteraksi secara intensif dan membangun cita-cita bersama.

Secara politis penjelasan di atas menunjukkan perlunya di Kawasan Melayu ini dibentuk semacam Pakta Persaudaraan Melayu, Komunitas Peradaban Melayu atau apa saja namanya, sebagai realisasi dan implementasi yang  lebih kongkrit yaitu bagi Persaudaraan Melayu. Langkah politis ini dibutuhkan agar setiap gagasan untuk membangkitkan semangat ke-Melayuan ini ada payung hukumnya. Misalnya dibentuk Pusat Pengkajian Sejarah dan Peradaban Melayu,[2] yang berfungsi mengorganisasi kegiatan pengkajian lebih mendalam tentang ke-Melayuan ini.

Nasionalisme Melayu sentris semacam itu akan lebih produktif sebagai upaya saling pengertian antar bangsa dan kemampuan hidup berdampingan secara damai. Bahasa mampu memperpendek jarak budaya dan meminimalisir kesalahpahaman. Saya punya keyakinan bahwa dengan komunikasi yang intensif dari bangsa-bangsa Melayu ini, akan lebih mendekatkan diri pada akar budaya yang sesungguhnya, dan akhirnya menyatukan semangat Melayu untuk identitas kebangsaan dan peradaban yang diperhitungkan dalam kancah global.

Tentu kita tidak asal usul dan usul yang asal-asalan. Sejarah politik internasional menunjukkan perlunya membangun spirit bersama di suatu kawasan berdasarkan kepentingan yang sama. Apakah didasarkan pada pakta militer, ekonomi atau kepentingan untuk membangun pengaruh dan hegemoni kewilayahan agar mampu berhadapan dengan kawasan strategis lainnya. Yang jelas, Uni Eropa sejak tahun 1960an telah membangun kesatuan ekonomi yang kini ditunjukkan lewat kesatuan Mata Uag EURO adalah contoh paling aktual dewasa ini.

Ini berarti harus adanya good will dari Government to Governement untuk menciptakan langkah strategis, setelah adanya ASEAN, sebuah pakta politik-pertahanan dan ekonomi yang aksinya kurang terlalu menggembirakan. Tetapi pakta Melayu yang saya pikirkan ini belum pernah diambil langkah-langkah positif, sejeak konfrontasi Malaysia,  dan perkermbangan persaingan dan kerjasama ekonomi, budaya dan politik justru – dalam beberapa hal – bersifat kontra produktif.

Baiklah sebelum kita berangkat kesana (langkah G to G), di sini kita bertemu dan saya berharap seminar ini menghasilkan sebuah Deklarasi Surakarta yang melahirkan Pakta Melayu untuk memberikan pijakan kongkrit menuju The Great Nusantara atau The Great Melauyu. Dengan demikian identitas kebangsaan Melayu ini selain semakin populer di masyarakat Internasional juga akan mampu menjadi spirit untuk kemajuan bangsa-bangsa Melayu itu sendiri.

  1. Pandangan Akhir

Bahasa Indonesia dan Melayu perlu disinergikan sebagai bahasa komunikasi yang sederajat antara bangsa-bangsa Melayu sendiri. Secara politis sinergis berarti upaya untuk membangun standarisasi bahasa Melayu agar mempunyai kesamaan meaning dalam penggunaan bahasa dalam kehidupan sosial. Dengan catatan sinergi bahasa itu tidak harus adanya saling intervensi atau menganggap dirinya paling benar atas satu dua kata, karena bahasa itu sangat bergantung dari penggunanya, yaitu masyarakat itu sendiri.

Pusat Pengkajian Sejarah dan Peradaban Melayu seperti yang saya usulkan di atas sangat realistis. Supaya seminar kali ini juga terus berlanjut untuk sampai pada perumusan kerjasama ilmu pengetahuan dan seni-budaya yang bermanfaat bagi bangsa-bangsa Melayu. Setidaknya ini berlajar dari pengalaman para pendiri Bangsa Indonesia yang kini telah terbukti bahwa bahasa memainkan peranan yang vital dalam membangun kesepahaman antar suku-suku bangsa yang secara historis dan kultural berbeda-beda.

Jadi, proye dan kerja pertama Pusat Pengkajian ini adalah membuat Dictionary atau Encyclopedia of Bahasa Melayu. Apabila berhasil, content of encyclopedia ini akan memuat histori dan peradaban Melayu. Dampak politis dari penerbitan ini akan mampu meminimalisir klaim-klaim budaya dan seni seperti yang selama ini terjadi.

Ensiklopedi tersebut adalah sumber atau akar (cikal bakal) sebagai Babon (rujukan) berbagai masalah dalam kebudayaan Melayu. Ini membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, tetapi hasilnya pasti akan jauh lebih besar dimasa depan untuk membangun peradaban Melayu Besar yang dalam sejarahnya mempunyai kekuatan sosial-politik dan ekonomi yang luar besar pada masanya.

Sekian gagasan saya semoga bermanfaat.


[1] Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA adalah Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Indonesia. Selain dosen, ia dikenal sebagai budayawan (melukis, menulis novel, puisi, kritik sastra, performing art, theater), perintis kursus bahasa (Prancis, Arab, Belanda, Jepang) di UNS. Pendiri Forum Bahasa dan Budaya Jepang di UNS, juga pendiri Pusat Pengkajian Politik dan Pemberdayaan Masyarakat di UNS (keduanya telah almarhum). Lulus Doktor dalam bidang Sejarah dan Peradaban di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris,, Prancis 1992. Kini menekuni bidang Cross-Cultural Studies. Alamat/kontak: Webpage  https://ndalempoerwahadiningratan.wordpress.com, email: andrikpurwasito@yahoo.com. Kontak lewat Facebook (email purwasito@yahoo.com).

[2]Untuk pembentukan Pusat Pengkajian ini secara teknis perlu dibentuk tim kecil (Panitia Khusus) beranggotakan berbagai bangsa-bangsa Melayu dengan tujuan mewujudkan gagasan The Great Melayu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s