By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Masa Depan Bangsa-bangsa Melayu di tengah Krisis dan Perubahan Global

Andrik bersama Gus Dur di Paris 1992, berbincang bincang tentang Mengapa Forum Demokrasi penting?

Oleh: Andrik Purwasito[1]

 Mengapa Penting Masa depan bagi Bangsa-Bangsa Melayu?

 Dunia Melayu dimasa lalu merupakan suatu entitas kebudayaan dan ekonomi yang  dihubungkan dengan semangat bahari, meliputi wilayah yang membentang dari Pasific sampai Madagaskar.  Suatu wilayah yang sangat luas dan disatukan oleh linqua-franca melayu yang sangat kental.  Kini wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar itu merupakan Dunia tersendiri, yang dalam hal ini kami sebut sebagai Dunia Melayu (Malay World), terdiri atas berbagai negara seperti Filipina (Khususnya Bagian Selatan), Indonesia, Brunei, Muangthai (Khususnya Bagian Selatan), Malaysia dan Singapura (meskipun Melayu minoritas), bahkan pengaruh Melayu ditengarai sampai di Negara Srilanka, Madagaskar dan Afrika Selatan.

 Faktor Ilmu Pengetahuan

Jauh-jauh hari sebelum perjanjian damai Westphalia yang akhirnya memulai lahirnya Negara-negara kebangsaan (nation states), yang secara langsung menghapuskan Kerajaan-kerajaan Eropa dari Ikatan Keluarga Kristen (Christendom)[2] dan hilangnya legitimasi Paus sebagai pemegang kuasa simbolis tertinggi atas umat manusia, Bangsa-bangsa Melayu sudah lama membangun suatu komunitas Nusantara yang terdiri atas wilayah yang dikuasai oleh Raja-raja dan Emperor, terbentang dari Pasific Raya sampai Madagascar dan sudah tentu tidak mengikuti arah perubahan yang terjadi di Eropa tetapi para pelancong dan pedagang Eropa disertai oleh para missionaris Kristen datang ke Bumi bangsa-bangsa Melayu terutama konsentrasi di Selat Malaka mendatangkan perubahan dan krisis di Bumi Melayu.

Secara antropologis Bangsa-bangsa Melayu berada pada dua ras besar dunia, yaitu ras Australoid dan ras Mongoloid. Pembagian ras secara antoprometri tersebut didasarkan kelas manusia atas dasar ciri-ciri kualitatif, seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bagian wajah, bentuk mata, dan ciri-ciri kuantitatif seperti berat badan, ukuran tinggi-rendah badan.[3] Pendekatan secara fisik ras bangsa-bangsa Melayu serumpun secara genetikal  yang membedakan dengan Bangsa-bangsa lain, termasuk di Asia sendiri. Pembagian antoprometri tersebutdalam beberapa hal, ternyata tidak produktif dan sejarah banyak membuktikan bahwa pendekatan tersebut banyak membawa bencana, ketika dikaitkan dengan sentimen agama, etnisitas dan kebudayaan. Kondisi itu apabila tidak dijelaskan secara proporsional mungkin masih akan terus melahirkan konflik dan kesalahpamaham di masa depan. Sejarah telah mencatat rasialisme dan etnisitas telah menjadi sumber kekacauan peradaban dan ilmu pengetahuan serta teknologi sendiri sedikit banyak mendukung pemahaman yang bersifat rasialis dan apartheid, sehingga banyak memakan korban.

Upaya untuk menjelaskan secara proporsional tentang kenyataan obyektif fisik dalam hubungannya dengan ekonomi, politik dan kebudayaan, sebagaimana dikumandangkan oleh pemikir dan filsup India seperti Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore serta Gerakan Kaum Theosofi yang memproklamirkan persaudaraan dunia berdasarkan egalitarianisme, belum berhasil juga mengikis kehidupan umat manusia yang berbasis primordial.

Gagasan mulia tersebut hanya sebatas wacana yang belum mengakar pada upaya  menjalin kerjasama dan hidup berdampingan secara damai. Perbedaan agama, budaya, warna kulit, bahasa, golongan, asal-usul serta karakter agaknya masih sering digunakan sebagai basis pengambilan keputusan dan kebijakan oleh Negara-negara Kebangsaan sekarang.

Akibatnya kita sering melihat sepanjang sejarah peradaban kita, perbedaan agama, ras, etnik, golongan dan perbedaan asal-usul serta ideologi yang menjadi subyek ilmu pengetahuan gagal menghapuskan kesalahpahaman antar bangsa-bangsa. Bahkan kita melihat tindakan fatalisme, konflik, perang, racial cleansing, masih terus berlangsung di berbagai kawasan dunia, termasuk di Myanmar sekarang ini.

Ilmu pengetahuan masih terpana dengan kajian sains dan teknologi dan belum belum banyak memfokuskan diri untuk memberikan solusi kepada konflik dan kesalahpahaman antar etnik, antar agama dan antar rasi diantara bangsa-bangsa di dunia. Bahkan kecenderungan akhir-akhir ini, hubungan antar ras dan etnik bangsa-bangsa kembali mengarah kepada penguatan “komunitasisme,” yang diawali di Eropa sejak terjadinya penyatuan ekonomi Eropa yang melahirkan Uni Eropa berdasarkan The Treaty on European Union (7/2/1992) yang menginisiasi jalan menuju penyatuan politik, ekonomi dan mata uang, digagas setelah penyaturan Jerman dan jatuhnya Uni Soviet, made necessary a re-thinking of the European project.[4] dan Komunitas dan konektivitas ASEAN, tertera dalam  Roadmap for an ASEAN Community 2009-2015,[5] berdasar pada Deklarasi Cha-am Hua Hin,  sedikit banyak menandai gerakan ke arah kembalinya semangat kubu-kubu regionalism dan agaknya juga primordialisme. Apalagi dengan adanya krisis ekonomi di Eropa dan Negara-negara Barat seperti sekarang ini, maka arah kebijakan regionalisme adalah salah satu prioritas untuk tetap bertahan hidup dan keluar dari krisis.

Strategi Bangsa-bangsa untuk tetap bertahan hidup, ekist dan survive,  dapat kita gali melalui Ilmu Pengetahuan sebagaimana terlihat dari hasil karya para Ilmuwan Barat antara lain penulisan sejarah bangsa-bangsa Eropa, yang mereka definisikan peran dan ketokohan Barat dalam peradaban dunia sebagai hero cilisateur (pahlawan pemberadaban dunia).[6] Sedangkan bangsa-bangsa  di luar Eropa pada umumnya mereka sebut sebagai bangsa yang kurang beradab. Hal ini sangat jelas bahwa Ilmuan Barat melihat peradaban bangsa-bangsa lain diukur sesuai standar mereka. Inilah yang melahirkan stereotype sampai hari ini, bahkan lebih parah lagi para ilmuan menyebut bangsa-bangsa di luar Eropa sebagai bangsa sauvage (buas/primitif).

 Survive, Existance, Global concern dan Global interest

Setiap bangsa selalu ingin diakui keberadaan dan perannya dalam peradaban dan politik dunia. Untuk itulah mereka harus tetap memelihara power mereka supaya dapat bertahan hidup (survive). Dalam upaya mempertahankan hidup inilah setiap bangsa, termasuk Bangsa-bangsa Eropa mengembangkan ilmu pengetahuan yang bersifat eksploitif terhadap alam dengan berbagai cara, antara lain menjalankan kebijakan meluaskan pencarian bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan politik, ekonomi dan ilmu pengetahuannya. Mereka melakukan dengan berbagai cara untuk bertahan hidup, tidak saja dengan senjata, melakukan penaklukan dan invasi, juga dengan kedok agama dan superioritas rasial. Legitimasi tindakan mereka dalam menguasai dunia, diperkuat oleh studi-studi diperguruan tinggi mereka, yang akhirnya seperti kita lihat berabad-abad,  berdampak sangat fatal bagi kehidupan manusia itu sendiri, seperti  hancurnya lingkungan, hancurnya peradaban karena dijalankan melalui perang dunia, menerapkan sistem kolonialisme dan imperialisme dalam ekonomi bahkan lebih mengerikan lagi melakukan pembunuhan massal terhadap suatu bangsa, hanya karena perbedaan paham.

Berbeda dengan Bangsa-bangsa Melayu, yang menganggap alam sebagai berkah Illahi oleh karenanya wajib dipelihara. Eksploitasi alam dapat dilakukan dengan dasar konsep harmonisasi, artinya mendayagunakan alam tanpa merusak lingkungan.  Namun, Bangsa-bangsa Melayu yang kini berada dalam jalinan politik global, gagasan dan konsep kearifan lokal tersebut terpinggirkan. Oleh sebab itu, Bangsa-bangsa Melayu harus kembali kepada habitat semula yakni kembali kepada kearifan lokal (local genius).

Dalam sejarah Barat mengembangkan konsep survival, antara lain melalui konsep hegemoni atas dunia, terutama dijalankan melalui policy perluasan wilayah pengaruh. Dan kita melihat untuk menjalankan pabrik-prabrik mereka serta mobil, motor dan mesin mereka, Orang Barat seperti tidak ada pilihan  untuk menjalankan kebijakan tersebut, seperti demi jaminan pasokan cadangan minyak dan pasar ekonomi serta stabilitas gerakan politik. Dalam banyak hal, bagaimanapun, Barat tidak dapat memungkiri keterlibatan mereka dalam berbagai krisis dan pergolakan dunia, seperti krisis moneter dunia, krisis Timur Tengah misalnya sejak embargo minyak di tahun 1970an sampai sekarang krisis politik dari Tunisia, Libya, Mesir, Yaman, Suriah dan Irak serta Iran, secara teoritis dapat dilihat sebagai perwujudan strategi global Negara-negara Besar untuk jaminan survival tersebut, termasuk strategi dan propaganda melawan gerakan perlawanan yang mereka sebut kaum teroris.

Melihat perubahan politik dan krisis global tersebut, politik internasional agaknya masih tetap berkutat seputar hegemony, sphere of influence, new imperialism and colonialism, dan ekonomi berkembang tanpa batas.[7]Hanya saja kini mereka semakin cantik mengemas sehingga cara-cara mereka lebih tampak lebih beradab, seperti jargon Bantuan Dunia bagi Negara-negara Sedang Berkembang, Demokratisasi bagi Negara-negara diktatorial.

Tujuan sphere of influence dan hegemony dunia akan menguntungkan secara politik dan ekonomi, yang mana ikut disebarluaskan secara lebih beradab melalui ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan-perguruan tinggi dunia, sehingga banyak Negara tanpa merasakan adanya gerakan penguasaan yang sukarela tersebut bahkan dalam beberapa hal, ilmuan dan pemimpin kita meyakini sebagai kebenaran, seperti demokratisasi,[8] multinational cooperartion, United Nations, UNESCO etc. Tidak jauh dari apa yang pernah disampaikan oleh Woodrow Wilson dengan gagasannya yang menyatakan bahwa demokrasilah yang akan membuat dunia aman dan damai.

Gagasan demokrasi disambut riuh rendah, tampuk surak yang tiada tara oleh berbagai pemimpin dunia, serta para ilmuwan kita, bahkan dikembangkan di berbagai universitas dunia, termasuk di Indonesia dan di Universitas Sebelas Maret ini, tetapi apa yang terjadi, gagasan yang megah dan sempurna tersebut nyatanya masih belum mampu memajukan tata kehidupan umat manusia yang berlandaskan liberte (kebebasan), egalite (kesederajatan), fratenite (persaudaraan).

Kita barangkali sadar bahwa kekacauan dunia tersebut justru dilahirkan dari kepentingan golongan ekonomi kuat, yang juga relasional dengan sentimen etnik, sentimen keagamaan, sentimen kelompok, stereotipe, etnosentrisme, rasialisme, dan fundamentalisme. Tetapi kita tidak mampu melawan kekuatan ekonomi yang membelenggu kita lebih jahat dari penjajahan ekonomi selama 350 tahun silam.

Cukup aneh juga para pemimpin dunia, termasuk sumbangan ilmu pengetahuan terhadap persoalan tata dunia yang damai dan penuh toleransi masih jauh dari harapan kita. Bahkan lunturnya Perang Dingin sehabis Perang Dunia II, sebagaimana ditulis oleh John Foster Dalles, dunia terbagi menjadi Dua Kutub, diungkap kembali dalam kemasan yang lebih menarik di masa kini oleh Samuel Huntington dalam Class of Civilisation.

Semua kegagalan tersebut mungkin saja disebabkan oleh karena ilmu pengetahuan masih terus berada di bawah kekuasaan politik, sebagaimana Hukum Internasional, sehingga  peradaban dunia lebih mendasarkan pengembangan pendidikan untuk kepentingan primordial  dari pada untuk kepentingan dan kemashlatan bagi seluruh umat manusia. Ilmu pengetahuan dalam banyak hal justru memperkuat tata kehidupan global berdasarkan asal-usul, agama dan budaya yang sering dijadikan semacam ideologi (madzab) untuk bertahan hidup demi memenuhi tuntutan kebutuhan dasariyah manusia.

 Terjebak

Dari  uraian di atas, Bangsa-bangsa Melayu saya kira juga terjebak dalam arus politik dunia yang sangat deras seperti air bah. Order internasional dan rule of the game in international politics sangat cepat berubah dan silih berganti taktik yang digunakan untuk bertahan hidup dan berperanan.

Terjebak adalah hal yang lumrah mengingat eksistensi Bangsa-bangsa Melayu yang mengalami masa kolonialisme dan secara pengembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi jauh tertinggal dari mereka. Sehingga perguruan tinggi di Negara-negara Melayu sendiri juga terjebak dalam arus demokratisasi dan pengembangan IPTEK sebagaimana keberhasilan Jepang yang dielu-elukan di seluruh dunia.

Bangsa-bangsa Melayu agaknya kurang memperhatikan persoalan pemberadaban dunia yang bersifat regionalisme. Kita beruntung pada tahun 1967 membangun komunitas ekonomi bernama ASEAN. Meskipun kini belum berjalan seperti yang diharapkan, keberadaan ASEAN dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh Bangsa-bangsa Melayu sebagai payung untuk mencapai kepentingan yang lebih luas, baik survive and existance, tetapi juga menjadi pusat perhatian dunia (global concern) dan juga pusat kepentingan dunia (global interest).

Terjebak dalam wacana mainstream dunia harus diakhiri pada hari ini. Bangsa-bangsa Melayu harus melakukan pengembangan ilmu pengetahuan yang mengarah kepada empat hal di atas dengan tetap menjalankan pengembangan teknologi Barat yang memukau, sebagaimana dipersembahkan oleh keberhasilan Negara-negara Tetangga kita, yaitu Jepang dan Korea.  Dengan cara kira menghargai kekuatan Asia pada seperti kekuatan untuk membangun Borobudur dan Prambanan, kekuatan sebagai Penguasa Bahari di Selat Malaka dan Laut Hindia, Bangsa-bangsa Melayu mempunyai kebanggaan.

Mainstream sciences and technology, memang kini sengaja diajukan acuan dan standar bagi kemajuan bangsa. Dan kita sangat memuja ukuran-ukuran yang dibuat oleh orang-orang Barat, bangga dengan penilaian orang-orang Barat, sementara kita melupakan diri sendiri bahkan tidak punya standar sendiri demi kebaikan diri kita sendiri. Seperti jargon kebanggaan kita untuk mensejajarkan diri sekaliber Dunia telah menyeret kita dalam berbagai program yang kurang membumi. Pada hal sesungguhnya, dalam berbagai aspek, mungkin kompetisi itu hanya sia-sia, wasting time, dan tidak berguna bagi kemaslahatan umat manusia khususnya bagi Bangsa-bangsa Melayu.

Oleh sebab itulah, dalam kesempatan ini saya mengingatkan, bahwa kiblat peradaban dan pengembangan sains dan teknologi kita haruslah berlandaskan kearifan lokal yang memang dimiliki oleh Bangsa-bangsa Melayu, seperti pengembangan pemikiran yang cerdas dari pemimpin Bangsa-bangsa Melayu, di sana ada Bung Karno, Sutan Sjahrir, Tun Mahathir Mohamad, HOS Tjokroaminto, dll.

Kesimpulan

Dengan membaca situasi dan kondisi global saat ini, sebagaimana diuraikan di atas, terutama terjadinya krisis ekonomi yang mendera, krisis kemanusiaan yang memprihatinkan, serta krisis energi yang mengkhawatirkan, global warming, konflik, peperangan dan pemusnahan rasial dan etnik, maka saya menyarankan bahwa fokus Dunia Melayu tetap pada pemahaman yang lurus terhadap harkat hidup manusia dan cara-cara perjuangan hidup yang halal demi kelangsungan hidup kini dan masa akan datang.

Kini tidak tidak dalam bahaya menghadapi Barat tetapi kita akan berhadapan dengan musuh dalam kawasan kita sendiri yakni dalam memenuhi kecukupan kebutuhan hidup paling dasar dari manusia. Semakin hari kebutuhan akan peningkatan kualitas kebutuhan fisiologis seperti sandang, pangan, papan, harus dibarengi dengan tercukupinya kebutuhan rasa aman dan kasih sayang antar sesama. Sekarang Bangsa-bangsa Melayu sudah seharusnya berbicara mengenai kecukupan  kebutuhan akan harga diri sebagai Bangsa Melayu. Seminar internasional Bangsa-bangsa Melayu, Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa kepada Tun Dr. Mahathir Mohamad, pendirian Pusat Studi Bangsa-Bangsa Melayu, pendirian program studi Hubungan Internasional di Universitas Sebelas Maret sekarang ini adalah bentuk exixtance aktualisasi diri,[9] dan penghormatan kita terhadap bangsa kita dan juga bagi Dunia Melayu.

Bagaimanapun juga Kehormatan, Kebanggaan dan Martabat bangsa-bangsa Melayu hanyalah dapat dijunjung dan diangkat oleh Bangsa-bangsa Melayu sendiri. Yang jelas, kita tidak lagi mengulang dasar kehidupan dan peradaban berdasarkan primordialisme seperti rasial, etnisitas, agama dan golongan. Bangsa-bangsa Melayu yang notabene lebih mempunyai kebudayaan yang bersifat multikultur mungkin saja dapat dijadikan pilihan sebagai landasan dasar karena semangat multikulturalisme mendasarkan pada hidup bersama dalam perbedaan. Fernand Braudel, dalam satu bukunya pernah menulis kurang lebih dua halaman, bahwa Dunia Melayu memiliki masa depan yang cerah, selain karena faktor sumber daya manusia yang besar di dunia, juga Dunia Melayu memiliki sumber daya alam yang berlimpah yang belum dieksplorasi dan dieksploitasi secara berkeadilan dan berkelanjutan.

Apa yang saya ajukan tersebut sejalan dengan gagasan ASEAN community 2015, yang menganggap bahwa krisis ekonomi Barat haruslah membangkitkan spirit kebersamaan, antara lain dengan strategi “mengubah human resource menjadi human capital.”[10] Bangsa-bangsa Melayu aktif mebangun masa depan bersama ASEAN yang mana telah proaktif untuk langkah-langkah tersebut, antara lain berhasil dibuat blue print/ Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC). Isinya antara lain, blueprint untuk Komunitas Sosial-Budaya ASEAN, blueprint untuk Politik dan Keamanan Komunitas ASEAN, dan masih banyak lagi dokumen strategis ASEAN.

Akhirnya, semua hal yang saya uraikan tersebut di atas, telah memberikan suatu harapan yang positif terhadap masa depan Bangsa-bangsa Melayu berkat telah integrasi dalam asosiasi tersebut. Hal itu juga sejalan dengan suasana kebatinan yang terjalin (chemestry), antara Bangsa-bangsa Melayu dengan Negara-negara ASEAN lain, karena ASEAN adalah jembatan yang ready to use mencapai Bangsa-bangsa Melayu yang semakin mampu bertahan hidup (survive and self sufficient) kuat peranannya (exixtance), yang menjadi perhatian dunia (global concern) dan juga menjadi kepentingan dunia (global interest).

Sekian terima kasih dan semoga pemikiran ini bermanfaat.


[1]Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA adalah staf pengajar dan Ketua Prodi Hubungan Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNS. Paper ini disampaikan dalam acara Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh UNS bekerjasama dengan UUM Malaysia pada tanggal 2 September 2012 di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia.

[2]Andrik Purwasito, Pengantar Studi Politik, UNS Pres, Surakarta, 2011, p. 89 baca http://www.1911encyclopedia.org: TREATY OF WESTPHALIA, a collective name given to the two treaties concluded on the 24th of October 1648 by the empire with France at Munster and with Sweden and the Protestant estates of the empire at Osnabruck, by which the Thirty Years’ War was brought to an end.

 

[3]Andrik Purwasito, Art Hamengku Jagad, paper disampaikan dalam acara Diskusi Festival Seni Rupa 2012 di Yogya National Museum, Gampingan, 15 April 2012, Yogyakarta

[6]Andrik Purwasito, Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana,  Pustaka Cakra dan Ford Foundation, Surakarta, 2001

[7]Kenichi Ohmae, Hancurnya Negara-Negara, Qalam, Yogyakarta, 2002, p. 19

[8]John Markoff, Gelombang Demokrasi Dunia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, p. 174. Disebutkan a.l bahwa “klaim atas demokrasi seolah-olah menjadi keinginan untuk mendapatkan respek di arena internasional. “

[9]Basic Need dari Abraham Harold Maslow (April 1, 1908 – June 8, 1970) was an American psychologist who was best known for creating Maslow’s hierarchy of needs, a theory of self-actualization.[2] Maslow was a psychology professor at Brandeis University, Brooklyn College, New School for Social Research and Columbia University. He stressed the importance of focusing on the positive qualities in people, as opposed to treating them as a “bag of symptoms.” http://en.wikipedia.org, dowload 30 September 2012, pk . 8.31

[10]Paper disampaikan Edy Putra Irawadi dalam Sosialisasi Kerja Sama ASEAN dengan tema “Menuju Pembentukan Komunitas ASEAN 2015” di Jambi, (29/06) diselenggarakan oleh Pemvrop Jambi bekerja sama dengan DDitjen Kerja Sama ASEAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s