By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Sihir Rusman dan Magnit Bung Karno

Kisah Wayang Wong Sriwedari

By: Andrik Purwasito/Guru Besar Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya

Berbagai upaya untuk mengangkat Wayang Wong Sriwedari (selanjutnya disingkat WWS) dalam era surut belum menampakkan hasil.  Upaya perbaikan yang dilakukan dari persoalan materi pemain, gedung pertunjukan, perbaikan kualitas panggung, manajemen dan promosi, sampai pada pergantian pengelola serta kucuran dana agaknya tidak membuahkan hasil yang gemilang.

Dalam situasi itulah seorang wartawan datang kepada saya dan menanyakan “apakah Wayang wong Sriwedari dapa diangkat lagi pamornya sehingga masyarakat kembali membanjiri panggung seni pertunjukan tradisional yang prestisius tersebut. Saya menjawab dengan perspektif yang agak lain dari pendapat yang sudah ada. Persoalan WWS bukan terletak pada lemahnya manajemen dan promosi  dll seperti yang saya sebutkan diatas tetapi WWS  telah kehilangan ruhnya sebagai tempat hiburan rakyat dan sekaligus sebagai panutan bagi masyarakat. Dengan kata lain WWS adalah tempat pembelajaran atau semacam “padepokan” yang mana penonton mengharapkan pencerahan dalam kehidupan.

Artinya bahwa WWS memiliki faktor determinasi dalam kejayaan tersebut. Kunci utama WWS populer di masyarakat dalam perspektif tersebut karena pada zamannya WWS memang mampu menjadi salah satu “syarat” untuk menjadi  pribadi yang luhur.  Dalam kondisi tersebut WWS pada akhirnya dicari oleh masyarakat sebagai untuk menjadi Jawa. Dengan kata lain, semakin tinggi frekuensi seseorang menonton WWS maka derajat orang tersebut semakin terhormat di mata masyarakat.

Apa yang dimaksud dengan “menjadi Jawa Terhormat” di dalamnya terkandung pengertian bahwa hidup ini tidak saja diukur dalam bobot materi (banda donya, pangkat derajat), tetapi juga diukur dari kecintaan terhadap kebudayaan sendiri. Proses menjadi “Jawa Terhormat” tersebut berkaitan dengan eksistensi seseorang di masyarakat yaitu martabat sebagai manusia Jawa.

Konsep rujukan martabat orang Jawa dalam hal ini adalah mengacu pada konsep “sembah raga, sembah cipto dan sembah rasa.” Konsep yang memandang bahwa apa yang bersifat lahiriyah sesungguhnya bersumber dari apa yang ada dalam batin. Batin adalah kosmis numinus yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang menggerakan lahir. Martabat seseorang dapat dinilai tinggi ketika kekuatan kosmis numinus terpancar dari perilaku kehidupannya, ditandai dengan ketenangan batin, kesopanan, dan secara psikologis mampu nrima ing panduming Gusti Allah, yakni manusia yang mampu mensyukuri nikmat yang diberikan dariNya, yang disebut dalam khasanah fasafah Jawa sebagai pribadi yang mampu mamayu hayuning bhawana. Inilah  “ideal type” menjadi manusia Jawa yang luhur dimaksud di atas.

Problematik

Pandangan saya tersebut memberi celah baru bagi WWS untuk kembali bangkit  menjadi edu-tainment yang digandrungi masyarakat. Persoalannya apakah WWS mampu menjadikan dirinya sebagai tempat pembelajaran sekaligus sekolah informal, sangat tergantung dari good will pemerintah (Pusat dan Daerah) sendiri. Di sinilah dibutuhkan suatu konsep yang matang agar WWS menjadi tempat tujuan dan idola baru mendampingi Dufan, Taman Safari, dll. apakah melalui pendekatan pariwisata atau melalui pendekatan pendidikan.

Belajar dari Kejayaan

Sebelum melanjutkan jawaban saya atas pertanyaan wartawan tersebut, saya akan memaparkan beberapa faktor penting bagaimana pada zamannya WWS mampu  mengangkat diri puncak kejayaannya, yang saya gambarkan sebagai berikut :

 

 WAYANG ORANG SRIWEDARI

Edu-tainment

(Faktor Ikonik, tempat pembelajaran)

Ruang dan Waktu

(Faktor sosial-budaya)

Good Will Politik

((Faktor Bung Karno)

Kharisma Pemain

 (Faktor Ruman)

Koreografi

(Faktor  Artistik, tari, cengkok tembang, antawacana)

Busana  Wanda, Gandar, wiraga, wirama, wirasa,  panggung

Manajemen dan  Promosi

(Faktor visi-misi, program, biaya, media, SDM)

   Dari seluruh determinan di atas, saya hanya akan membahas dua hal, yaitu faktor Goodwill Politik dan Pemain. Goodwill pemerintah dimaksud adalah faktor Bung Karno yang sangat dekat dengan kehidupan WWS dan kepedulian yang tinggi.  Sedangkan dari aspek pemain adalah faktor Rusman yang mencitrakan dirinya sebagai TOP SELEBRITIS tak tergantikan dalam WWS. Pamor Rusman berdampingan dengan pamor Bung Karno sebagai seorang budayawan.

Magnit  Bung Karno

Di sini peranan pemerintah merupakan faktor yang cukup dominan. Pemerintah sangat peduli dan menjadikan WWS sebagai Ikon peradaban Indonesia. Peran apa yang dimainkan oleh pemerintah pada waktu itu adalah faktor Bung Karno. Mengapa Bung Karno saya libatkan dalam melihat puncak kejayaan WWS? Menurut pendapat saya karena Bung Karno ternyata menjadi promotor vital kejayaan tersebut. Dengan kata lain, Bung Karno adalah bagian penting dari aspek promosi Wayang Wong Sriwedari.

Presiden Soekarnolah yang memanggil Rusman untuk pentas tari di Istana, Gedung Agung. Konon kabarnya, Bung Karnolah yang menyelipkan WWS dalam berbagai pembicaraan dengan berbagai kalangan bahkan dalam pidato-pidatonya. Pujian dan promosi Bung Karno terhadap WWS disebarluaskan dari mulut ke mulut, lewat media koran dan terutama lewat Radio Republik Indonesia.

Ini artinya bahwa Presiden Soekarno telah menjadi seseorang yang mempunyai martabat tinggi sebagai manusia dan sekaligus orang Jawa. Keyakinan masyarakat itu telah menjadi magnit yang sangat luar biasa, yang pada zamannya beliau memang seorang panutan.

Sihir Rusman

Rusman adalah idola Bung Karno dan Rusman sendiri mengidolakan Bung Karno. Dua figur yang melakukan peran simbiosis mutualistis tersebut menguntungkan WWS sebagai arena meraih profit. Tetapi jauh di luar itu, Rusman memang memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Sebagai seorang pemain role, ia mengetahui secara baik tentang dunia panggung sebagai sebuah teks. Lembar demi lembar teks wayang kulit diangkat ke dalam dunia panggung. Dia sendiri memainkan peranan utama, berkat dukungan postur tubuh yang sangat Indonesia, tinggi badan 163 cm, Rusman menerjemahkan teks wayang kulit ke dalam dirinya sendiri.

Ia adaah Gatotkaca. Sadar Gatotkaca inilah yang menyebabkan ia melalui pencarian spiritual menemukan siapa dan bagaimana Gatotkaca ditakdirkan dalam teks yang sudah ada. Tampaknya pencarian, baik melalui ritual Jawa maupun melalui kajian dan observasi yang intensif, sehingga memperoleh gambaran yang cukup mengenai Gatotkaca. Interpretasi simboliknya dia padukan dengan berbagai teknologi yang seadanya, yang memungkinkan teks wayang kulit mampu diejawantahkan dalam wayang orang juga.

Gatotkaca adalah pilihan yang tepat. Pada saat revolusi Indonesia belum berakhir, Bung Karno memang membutuhkan figur pemberani, panglima perang dan figur teladan yang tidak pernah takut  menghadapi musuh. Rusman adalah figur pilihan, Sang Panglima Perang imajiner, yang mewakili gagasan Bung Karno tentang Bharatayuda. Yaitu peperangan antara Sekutu Bart dan Kelompok Timur,  yang mana Indonesia adalah kelompok Non-Blok, tetapi ikut aktif ambil bagian dalam peperangan Bharatayuda. Meskipun pada saat itu, tidak terjadi Perang Dunia III, tetapi perang ideologi, teknologi dan perang ekonomi terus berlangsung sampai hari ini.

Kehadiran Gatotkaca sebagai figur pembangkit tenaga muda yang berani memang klop dengan konteks zamannya. Gatotkaca yang diperankan Rusman memberi inspirasi bagi banyak orang. Oleh karena itu, Rusman tidak saja dinilai sebagai penari yang handal, Rusman juga menjadi ideal type seperti yang dikehendaki oleh zamannya.

Itulah Rusman, pemain role yang tidak saja mengandalkan pada aspek koreografis semata, tetapi juga mempertimbangkan pilihan figur yang sesuai dengan jiwa zamannya. Ia mendapatkan pasangan yang tepat, disaat yang tepat dalam konteks zaman yang tepat pula. Itulah yang saya sebut sebagai sihir Rusman. Inilah yang saya sebut sebagai penciptaan seni yang holistik (mengacu pada filosofis Jawa : sembah raga, sembah cipto dan sembah rasa).

Kesimpulan

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa keberhasilan WWS dengan berbagai faktor di atas pada dasarnya adalah keberhasilan mengembangkan berbagai faktor yang saya maksudkan. Di sini, saya menawarkan konsep SIHIR dan MAGNIT sebagai konsep dasar pemgembangan WWS. WWS perlu mencari Apa dan siapa yang mampu menyihir masyarakat, serta energi apa dan siapa yang mampu menjadi magnit sehingga WWS kembali menjadi idola masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s