By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Suksesi Raja-Raja Jawa

Oleh:  Andrik Purwasito

Susuhunan XII, Raja Kasunanan Surakarta (alm)

Suksesi atau pergantian raja-raja di Jawa sejak jaman Hindu-Budha sampai pada jaman Islam tidak mengalami perubahan yang berarti. Yakni didasarkan atas kesinambungan kekerabatan. Apakah hubungan darah langsung (Putra Mahkota) maupun pengalaman keagungan yang dipunyai oleh seseroang serupa dengan keagungan yang dimiliki oleh waris pendahulunya, biasanya ditandai oleh sinar aura yang memancar dari dalam perut ibunya jika putra mahkota itu masih dalam kandungan, atau bersinar di wajahnya, seperti Amangkurat II ketika akan merebut Kerajaan dari Trunajaya, sebagaimana dituturkan oleh para pengikutnya: “wajahnya lesu dan tak berseri, kini air mukanya bercahya dan penuh keagungan yang mulia.” Paku Buwana I menjadi Raja pertama Dinasti Mataram Baru, karena telah berhasil menghisap wahyu yang bersinar dari kemenakannya, Sunan Amangkurat Mas (III) tahun 1705. Demikian itu karena aura telah berada pada putra mahkota.

Mata rantai kekerabatan ini tercermin dalam ungkapan, Raja adalah keturunan ratu-ratu (trahing kusuma), yang di dalam  ririnya mengalir kualitas prima (rembesing madu), yang mempunyai benih keilmuan yang tinggi (wijining tapa), dari keluarga dekat yang mengerti leluhur dan sopan-santun keluarga Raja (tedhaking andana warih). Dengan kata lain, legitimasi utama untuk menjadi Raja baru atau mendirikan dinasti baru, dengan cara membuktikan dirinya mempunyai kesinambungan hubungan darah dengan leluhur raja atau dinasti sebelumnya adalah unsur yang sangat penting.

Legitimasi lain dalam suksesi raja atau memebangun dinasti baru dapat pula dilakukan dengan cara mengidentifikasikan dirinya dengan Ratu Adil, dengan tujuan mengakhiri jaman Kalabendu yang dipercaya penuh dengan dosa peradaban untuk selanjutnya memasuki masa kesejahteraan dan kemakmuran. Cara  terakhir ini sering ditempuh dengan kerusuhan  dan pemberontakan, justru berulang kali terjadi dalam sejarah suksesi Raja-Raja Jawa.

Disamping itu, Raja-Raja Mataram, percaya bahwa ada unsur kegaiban yang tidak dapat direkayasa dalam suksesi Raja adalah turunnya andaru (tanda keagungan) yang merupakan ruh yang memilih berasal dari kekuatan Illahi yang Maha Benar dan Berkuasa. Raja Jawa menyebutnya sebagai wahyu Kedhaton,  rahmat atau karunia bagi kedudukan Raja atau disebut juga wahyu Cakraningrat, wahyu Nurbuwah. Sebagai contoh adalah pergantian dinasti baru dari Majapahit ke Demak ditandai oleh andaru dari Majapahit, berbentuk lintasan kilat disertai halilintar yang menakutkan, membentuk bola kebiru-biruan, terkadang berwarna putih atau hijau menyerupai bintang berjalan, oncat (melesat) dari Majapahit dan jatuh pada tempat yang di percaya dikarunia Illahi, yaitu di Bintara, Demak. [1]

Suksesi di Karaton Surakarta sejak Mataram Baru, menandai awal mula pemerintahan Raja Baru, didefinisikan sebagai babak baru, dengan sistem pergantian yang lebih menekankan pada aspek keturunan, rahmat Illahi dan kualitas dari suksesor itu sendiri.

Pertanda babak baru, biasanya direpresentasikan dalam pagelaran wayang. Maksud pagelaran ini, selain sebagai tanda dimulainya babak baru, secara spiritual adalah membabar makna  yang terkandung dalam substnasi Gunungan. Gunung, dianggap sebagai lambang jagad raya, yang dipercaya terbentuk oleh adanya proses empat unsur alam: angin, air, api dan tanah. Unsur-unsur tersebut menyatu dalam sistem jagad raya dan membentuk kehidupan alam raya, beserta isinya seperti binatang, makluk halus dan kemudian kehadiran manusia.

Bagi masyarakat Jawa percaya bahwa alam itu terbentuk atas dua unsur: bersifat lahir, wadhag (material, kasar) dan bersifat batin (immaterial, halus). Sedangkan hubungan di antara kedua jagad tersebut sangat dipengaruhi dan bahkan ditentukan oleh empat unsur di atas, air, api, angin dan tanah. Manusia Jawa mempunyai sifat wadhag, melahirkan pancadriya: pandulu, pangrungu, pangucap, pangambu dan pangrasa. Yang batin, melahirkan nafsu empat perkara: luwamah, amarah, sofiah dan mutmainah. Hubungan interaktif antara yang wadhag dan yang batin secara terus menerus akan membentuk kehendak dan kawicaksanan manusia, yang mampu memancarkan cahaya kekuatan pribadi atau kharisma.

Kawicaksanan adalah keunggulan pribadi, seperti kecerdasan, kebijaksanaan, terampil, berpengatahuan luas, berpandangan jernih serta mampu melihat hal-hal yang sangat rahasia sekalipun dengan tujuan melindungi harmonisasi tatanan alam raya (makrokosmos) dan tatanan hubungan antar manusia (mikrokosmos).  Keduanya, saling mengisi dan mempengaruhi dalam membentuk dan menjaga tata kehidupan sosial yang harmonis. Jadi, Gunung adalah representasi dari jagad raya yang membuka dan menutup kehidupan pada setiap babak, pada regenerasi atau pada awal dinasti atau Raja baru.

Ramalan usia Karaton Surakarta hanya berusia 200 tahun, diwiradati (diupayakan) agar wahyu kedhaton tidak oncat (melesat) dari Karaton maka dibuatlah oleh Paku Buwana X sebuah miniatur Gunung lengkap dengan hutan dan isinya di Dalem (komplek) Karaton Surakarta. Maksudnya, agar supaya melesatnya wahyu kedhaton tersebut tidak ke luar teritori Kerajaan dan masih dalam batas wilayah Karaton. Sehingga, keyakinan atas 200 tahun Karaton berakhir, dimulai dengan babak baru, dengan hadirnya miniatur Gunungan tersebut

Babak baru pada milllenium ke Tiga yang dideklarasikan lewat Maklumat Sinuhun Paku Buwana XII, dalam Jumenengan Dalem ke 55, dilambangkan dengan diadakannya parade pagelaran Wayang Kulit selama satu tahun, di mulai dari Karaton dan merambah ke luar Karaton, yang berakhir pagelaran itu di Dalem Karaton, menandai digelarnya babak baru. Gunungan, yang melambangkan awal kehidupan telah digelar secara luas, sebagai tanda babak baru, Gunungan sebagai Meru melambangkan pengakuan terhadap rahmat Illahi. Di masa depan Karaton Surakarta selalu siap menangkap rahmat dan karunia Yang Maha Agung demi kelangsungan hidup dinasti Mataram.

Uraian di atas dapat dipahami bahwa perubahan dan pergantian (suksesi) Raja tidak akan pernah merubah tatanan kehidupan dan tradisi kerajaan. Karaton telah dijaga oleh kekuatan  dan energi kebudayaan sedangkan Raja boleh berganti-ganti tetapi masyarakat akan selalu menempatkan Karaton sebagai lambang dunia (imago mundi) yang tidak pernah lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Dalam keadaan seperti ini, Raja adalah pribadi sentral yang memadukan perubahan dengan kesinambungan generasi dengan dunianya sendiri yang tak tergugatkan. Artinya, bahwa Karaton Surakarta di masa depan kiranya akan tetap eksis mengikuti arah perubahan dan kelanjutannya sangat ditentukan oleh para pendukung serta semangat jamannya.


[1]Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau, Yayasan Obor, Jakarta, 1985, p.62-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s