By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Yang Tradisional Haruskah Dibuang?

Bagian I dari 2 Tulisan:Andrik Purwasito

Perhatikan apa saja yang berbau tradisional pasti akan dihancurkan. Tradisionalitas itu dianggap kuno dan tidak berguna. Rumusnya kata orang Jawa, double O, “yen Obah, Owah.” Setiap jaman adalah dinamika dan setiap dinamika harus  ada yang diubah. Perubahan dianggap kemajuan, bahkan dianggap pembangunan. Konsep inovasi, difusi, partisipasi, adopsi, modernisasi bertumpu pada konsep tentang perubahan. Perilaku tradisional dianggap tidak adaptif terhadap modernisasi perlu diubah melalui konsep penyadaran yang sistematis. Berhasilnya pembangunan diukur melalui perubahan perilaku masyarkat sejalan dengan ide-ide kapitalistik. Membeli barang-barang konsumtif dari sabun mandi, odol, pupur, gincu, obat kelek sampai obat nyamuk. Kemampuan menggunakan barang-barang kapitalisme dianggap keberhasilan dalam pembangunan, termasuk importasi, foto copy ilmu pengetahuan yang ditanamkan dalam mentalitas dan pikiran bangsa kita.

Hasilnya adalah pengingkaran terhadap apa yang dimiliki sendiri, hasilnya adalah ketidakpercayaan terhadap identitas dan kearifan sendiri. Hasil modernisasi (westernisasi) dan pembangunan menghasilkan homogenisasi seluruh tingkat kehidupan kita. Kalau minum air putih ya Aqua, kalau minum softdrink ya cocacola, kalau motor ya Honda apa Yamaha, kalau minya wangi ya Channel atau Christia Dior, kalau lagu ya Rap, Jazz, dan yang menjadi milik kita sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidup kita.

Tradisional harus diganti. Begitu rumusnya modernisasi yang kita terima dan kita jadikan pathokan. Tradisionalitas itu nilai dan norma yang usang, tidak reseptif terhadap modernisasi. Kini kita sudah terlambat untuk berbicara soal tradisionalitas. Kita dianggap kuno dan sering dianggap anti-perubahan.

Problematikanya adalah perubahan seperti apa yang ingin anda lakukan? Apakah anda ingin mengubah Jawa menjadi Indonesia, karena Jawa itu tradisional sedangkan Indonesia itu modern? Karena Jawa itu kolot, tidak maju, dan monarchi? Karena Jawa itu Kejawen? Karena Jawa itu anti-perubahan? Ini problematik yang diangkat dalam polemik kebudayaan yang dimulai di tahun 30an.

Ini hanya ngudaras saja, bahwa penghapusan Jawa dalam khasanah peradaban Indonesia ini semakin jelas. Kedhatonnya sudah di delegitimasi, artinya kekuasaan dan kesakralannya mulai dihapuskan dari muka bumi. Semakin orang tidak menghormati Kedhatonnya karena sesungguhnya orang-orang itu tidak suka terhadap keluarga kerajaan atas perilakunya. Demikian pula, masih saja ada Orang yang menghormati Raja tetapi ada kekuatan yang tidak membolehkan, karena sistem yang disembah-sembahnya adalah sistem demokrasi.

Al hasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Jawa akan sirna bahkan hilang ditelan bumi, seperti Mataram, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Kartasura, Surakarta dan sebentar lagi Yogyakarta. Kerajaan-kerajaan Indonesia tersebut akan lenyap dari Bumi Pertiwi, dan benarlah rumus sejarah, yang tradisionil itu anti-perubahan dan karenanya harus disingkirkan.

Maka dari itu, apabila seseorang membela sesuatu yang berbau tradisional, maka dengan cepat orang-orang akan mengatakan bahwa orang itu anti perubahan. Sungguh menyedihkan. Inilah situasi yang oleh Sinuwun Pakoe Boewana XII dikatakan, Manungsa kaya dene gabah den interi, sapa sing keri sing mrentes, sing gabug ya kesingkir bakale (bahwa manusia Indonesia dalam kondisi kebingungan, hanya orang yang berilmu yang bisa bertahan, sedangkan orang yang kehilangan akal sehat akan tersingkir dengan sendirinya).

Dari apa yang saya uraikan di atas, memberikan sebuah gambaran tentang masa depan kita yang kehilangan harta karun sendiri. Harta karun berupa nilai-nilai adiluhung yang seharusnya dijadikan pijakan untuk membangun masa depan Indonesia, kini dengan kesadaran palsu kita telah menerima nilai dan norma importasi yang tak terelakkan karena diboncengi oleh Kekuatan Ekonomi yang kita sendiri tak mampu melawannya.

Saya sendiri tidak berani mengatakan bahwa nilai tradisional kita (kearifan lokal/local genie) ini adalah fondasi yang kokoh untuk membawa kita ke dalam jaman gemilang. Mengapa? Karena anda akan mengatakan bahwa saya anti-perubahan dan membela local genie yang tidak kompatibel dengan era digitalisasi.

Telaga Madirda, 3 Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s