By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Kebo Bule in Karaton Kasunanan

Kebo Bule itu… Sang Penuntun.

Oleh : Andrik Purwasito

Kehadiran Kebo-kebo bule di tengah Kirab malem 1 Syuro oleh Karaton Surakarta Hadiningrat melahirkan beragam pertanyaan baik bagi turis asing maupun orang-orang di luar etnis Jawa, bahkan orang-orang Jawa sendiri.  Stasiun TV nasional dan kantor berita asing pernah menanyakan kepada saya tentang makna apa yang termuat atas kehadiran kerbau-kerbau yang menduduki posisi terdepan dalam ritual kirab melem 1 Syura.

Bagi orang-orang Solo sendiri, Kebo Bule Karaton yang berjumlah 12 ekor tersebut dipercaya mempunyai mukjisat atau kekuatan gaib, termasuk binatang yang dikeramatkan. Banyak cerita seputar Kebo-kebo bule itu yang dianggap bukti adanya kekuatan gaib dan punya mukjisat dan keramat itu.

Penulis pernah mendengar bahwa Kebo Bule itu dulunya memang dibiarkan hidup secara bebas, bergerak dari alun-alun Kidul sampai ke berbagai penjuru dan pelosok kota. Menurut kisahnya, orang-orang Pekalongan melihat Kebo Bule tersebut dan melaporkan ke Karaton, bagaimana mungkin sampai di sana yang jaraknya lebih dari 250 Km dari Karaton Solo. Juga pernah ada yang melihatnya sampai di Ponorogo Jawa Timur yang jaraknya lebih dari 100 km dari Karaton, di Wonogiri dan kota-kota lain.

Gaibnya adalah ketika ia mengembara ke berbagai tempat, tetapi mereka tidak pernah lupa akan tugasnya di malem 1 Syura. Tanpa diundang sebelum malam 1 Syura tanpa diketahui datangnya, mereka sudah berada di Karaton menunggu tugasnya yang mulia, Sang Penuntun (cucuk lampah) dalam kirab Karaton. Entah datangnya darimana dan sejak kapan pulangnya, tahu-tahu Kebo-kebo Bule itu, sudah berada di tempatnya.

Keramat

Pada suatu siang, ada orang yang tergopoh-gopoh sambil menangis datang ke Karaton Surakarta. Orang itu datang dari daerah Sukoharjo, berjarak 20 Km dari Karaton. Ia menceritakan tentang Kebo Bule yang kemungkinan mendatangkan musibah bagi keluarganya. “Suami saya menyabet dengan golok salah satu Kebo Bule itu hingga berdarah. Suami saya melakukannya karena marah Kebo-kebo itu memakan sebagian dari tanaman padinya. Sekarang suami kami sakit, juga anak-anak. Untuk kelancangan itu kami sekeluarga mohon maaf. Semua ini terjadi karena ketidaktahuan kami.”

Begitulah utusan itu pulang, setelah memberikan makanan kepada Kebo Bule dan meminta maaf langsung kepada Kerbau-kerbau Bule dimaksud, hasilnya memang sangat menakjubkan. Suami dan anak-anaknya yang sakit itu bisa sembuh seperti sedia kala.

Kisah kedua dialami oleh penulis sendiri. Hari itu sangat panas, kira-kira tahun 1998, waktu itu saya ada di Kamandungan, Karaton Surakarta. Saya memanggil pakati, yakni orang yang bertugas merawat Kebo Bule tersebut. Saya minta supaya mereka dibelikan makanan, lalu berangkatlah pakati itu membeli jajan pasar, seperti pisang, roti, jadah ketan, dll.

Sejak saat itu saya lupa atas pemberian makanan tersebut. Saya baru ingat ketika suatu sore mobil saya dihadang oleh sekawanan Kebo Bule di Alun-alun Kidul. Agak beberapa lama memandangi saya dengan mata yang lemah lembut. Dari bibirnya itu, mata batin saya menangkap ungkapan rasa terima kasih. “Terima kasih telah bersedia memberi kami makan,” demikianlah kira-kira apa yang dikatakannya. Setelah saya jawab dengan kata batin saya, “Baiklah sama-sama, Kiyai” mereka akhirnya menyingkir perlahan-lahan.

Dengan dua kejadian itu, saya mulai percaya bahwa memang berbuat kebaikan itu akan dibalas dengan kebaikan dan berbuat kerusakan dan keburukan bisa mendatangkan bencana, baik bagi dirinya sendiri maupun bencana bagi orang lain.

Pelajaran Kebo Bule

Orang sering meremehkan keberadaan Kebo Bule karena mungkin sosoknya binatang. Pada hal, kebinatangannya sangat mulia dari kemanusiaan yang dipunyai manusia. Maka jangan sekali-kali melihat sesuatu makluk dari jenisnya, tetapi haruslah dilihat dari sifat dan karakter perilakunya. Tepat kiranya, para Raja Karaton Surakarta Hadiningrat akhirnya memilih dan menempatkan kedudukan paling depan kepada Kebo Bule itu, karena memang ia mempunyai nilai luhur yang patut dicontoh oleh manusia, sebagai Sang Penuntun.

Bayangkan saja, peranannya tidak tanggung-tanggung, sebagai cucuk lampah. Ini peranan yang utama dan sangat mulia. Ia adalah pengawal, penunjuk jalan, karena Raja melihat bahwa mata batinnya, meskipun fisiknya Kebo Bule, tetapi mempunyai daya linuwih dibandingkan manusia yang sudah terinfeksi oleh halunisasi dan virus-virus materi serta imajinasi sorga dunia.

Tidak heran jika di malem 1 Syuro orang-orang ramai-ramai memperebutkan kotoran Kebo Bule. Ini adalah bukti nyata bahwa Kebo Bule mempunyai kekuatan gaib, yang dipercaya orang-orang Jawa mampu mendatangkan berkah. Bahwa yang sebenarnya, adalah bentuk penghormatan yang tinggi terhadap eksistensi dan kemuliaan yang dimiliki oleh Kebo Bule.

Agaknya, orang-orang Jawa memandang Kebo Bule bukan saja simbol, tetapi benar-benar menjadi panutan. Sebagai Sang Panutan, ia adalah binatang bijak, sabar dan kuat. Ia dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk menjadi korban dalam ritual-ritual, ia dengan senang hati membantu petani membajak sawah di tengah terik matahari dan hujan lebat, ia pun di malam 1 Syura dengan tulus iklas dan suka cita, mengawal Raja Kasunanan, para Pangeran, Adipati, Tumenggung dan Pusaka-pusaka Keramat Keraton Surakarta Hadiningrat. Dengan penuh kesabaran pula, ia dimaki-maki oleh orang-orang arogan, dengan teriakan “dasar otak kerbau!” “dasar otak kerbau!.”

Tak heran di malam 1 Syura itu, ada orang yang mengatakan sesuatu yang mengejutkan, “Binatang seperti Kebo Bule saja tahu terimakasih, apalagi manusia. Tapi kenyataannya, banyak manusia yang tidak tahu terima kasih dan bersyukur.”

Ikon Modernitas

Dari apa yang telah kami uraikan, semestinyalah bahwa orang-orang Jawa dan cerdik pandai sekarang ini menggunakan kembali Kerbau sebagai ikon modernitas. Dulu orang-orang Jawa sangat bangga dengan nama-nama binatang, seperti Gajahmada, Kebo Anabrang, Kebo Ijo, tidak lain karena binatang ini mempunyai sense of mentale melebihi manusia.

Negeri kita sekarang terpuruk, salah satu sebabnya adalah karena tidak menghormati binatang yang telah menyelematkan jutaan petani, dan ribuan suku yang menggunakan kerbau sebagai tumpuan kekuatan dan penolak balak dalam ritual-ritual.

Sekarang orang melakukan tindakan kekerasan, tidak saja penganiayaan dan marginalisasi terhadap binatang, tetapi juga kerakusan dan kerusakan alam oleh manusialah yang menjadi penyebab bencana ada di mana-mana. Manusia sekarang sudah kehilangan nature nya, bahkan takdirnya sebagai manusia dan kafilah di bumi. Sekarang apa yang ingin kalian capai dengan Negara Republik Indonesia?

Prioritas

Ritual Malem 1 Syura hanyalah satu kaca brenggala, satu cermin yang retak, karena substansinya (wahyu) telah mokswa (lenyap), kembali kepada alam tradisional yang ditinggalkan. Cermin apa yang sekarang dapat kita lihat dari perilaku Kebo-kebo Bule? Berita terakhir adalah mereka tidak lagi akur, hidup guyup rukun. Kebo-kebo Bule itu, tidak lagi menjadi satu keluarga yang kuat. Kebo-kebo saling bercakar-cakaran dan bermusuhan satu sama yang lain. Maka tahun ini, kita melihat bahwa hanya ada 4 Kebo Bule saja yang menjadi cucuk lampah dalam kirab malem 1 Syuro. Yang lain berdiam di tempat lain, di dalam kandang yang menjadi tontonan orang-orang. Sangat menyedihkan.

Sebagaimana kita tahu, keluarga Karaton Kasunanan sekarang ini juga terbelah ketika ada dua Raja dengan gelar yang sama. Kebo bule sekali lagi memberikan kepada kita pelajaran yang sangat berharga. Artinya apa?

Ketika para Kebo Bule tidak lagi bersatu, ketika hanya empat atau lima saja yang menjadi cucuk lampah, ini juga cermin bahwa Karaton Surakarta tidak lagi utuh, dan tidak lagi bisa diharapkan menjadi cucuk lagu kebudayaan Jawa? Benarkah demikian? Hanya waktu yang akan menjawab dengan bijaksana. (2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s