By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Cross-Cultural Management of President Gus Dur

Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya Gaya Gus Dur

by:  Andrik Purwasito/2010

Guru Besar dalam bidang Komunikasi Lintas-Budaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta

KATA PENGANTAR

Mengapa saya tertarik menulis tentang Gus Dur? Semua ini tidak terlepas dari kehebatan Gus Dur,  menurut kacamata saya, dalam menjalankan manajemen komunikasi lintas-budaya, suatu bidang yang saya geluti sehingga saya dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Manajemen komunikasi Gus Dur yang tampak controversial adalah bagian dari keyakinannya sekaligus sebagai cara untuk mengedalikan kekuasaan. Tidak hanya itu, manajemen komunikasi politik gaya Gus Dur jugalah yang mengantarkannya meraih kekuasaan. Sekarang kita tahu bahwa manajemen politik Gus Dur itu nyata dan telah dibuktikan sendiri oleh sejarah. Ia berhasil Presiden RI Ke IV, suatu humor yang pernah lontarkan penulis kepada Gus Dur di tahun 1991 ketika ia berkunjung ke Paris. Sungguh suatu prestasi gemilang bagi seorang seniman, kiai, politikus dan intelektual, yang membuat tangan saya cukup gemas untuk meneliti dan menuliskan buku ini.[1]

Buku ini saya hadirkan sekarang, tetapi ingatan penulis sudah barang tentu tertuju kepada situasi politik di tahun 2001 tersebut, dimana pada waktu itu, Megawati mengatakan bahwa ia sejak awal tidak pernah mendukung Gus Dur menjadi Presiden. Sebagai wakil Presiden waktu itu Megawati mengatakan bahwa ia hanya sebatas menjalankan tugasnya. Sebuah pernyataan tajam, yang kemudian digunakan oleh lawan-lawan politik untuk mengundurkan Gus Dur mundur dari jabatan Presiden.

Usulan Amien Rais untuk segera menjadikan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional, mengingatkan saya terhadap ungkapan Amin Rais yang dulu amat sangat gemas dengan perilaku politik Gus Dur yang sulit ia mengerti bahkan Amin sampai tak sabar dengan perilaku tersebut sehingga ia merasa yakin bahwa usia pemerintah Gus Dur waktu itu hanya tinggal empat bulan lagi, karena Memorandum II atau Sidang Istimewa akan segera digelar.  Dinamika politik yang berkembang mendorong saya menuliskan catatan atas observasi saya selama ini, sebagai saksi dalam perjalanan sejarah seorang Gus Dur, sehingga tetap saja tulisan ini menjadi cukup menarik untuk saya lanjutkan sebagai sebuah buku.

Dorongan saya yang lain yang mungkin tak terelakkan untuk mengabadikan perilaku Gus Dur selain saya telah menemukan suatu cara budaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini, yaitu manajemen komunikasi lintas-budaya, buku ini hadir sebagai masukan apabila benar seorang Gus Dur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Saya kira tidak kalah pentingnya hadirnya buku ini, karena cukup banyak kenangan manis antara penulis dengan Gus Dur selama berjuang menegakkan demokrasi di Indonesia, terutama di berbagai pertemuan di Paris, Prancis, yang dimulai sejak tahun 1989 (lihat foto). Ketika itu Gus Dur sudah memulai membangun wacana dan Forum Demokrasi, sementara itu, Amin Rais membangun Ikatan Cendekiawan Muslik Indonesia. Pada saat yang sama kaum intelektual, khususnya gerakan demokratisasi penulis bersama-sama dengan kawan-kawan mahasiswa di Paris, tidak ketinggalan melakukan gerakan keterbukaan di tahun 1989-1991 yang tergabung dalam gerakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).

Selain penulis aktif di organisasi PPI, penulis memimpin sebuah kelompok studi kecil bernama Kelompok Studi Masalah Sosial Indonesia (KSMS),  yang kurang lebih mempunyai pemikiran yang sama dengan gerakan Forum Demokrasi, yang secara kritis mendiskusikan tentang perpolitikan di Tanah Air. Gus Dur adalah ikon penggerak dinamika demokratisasi yang cerdas dan berani, selain sebagai narasumber yang kaya akan informasi dan analisis yang tajam, Gus Dur juga mempunyai proyek-proyek untuk pengembangan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Lahirnya Nusuma dan berbagai kegiatan ekonomi adalah implementasi dari gagasannya yang cemerlang, tetapi kurang dikelola oleh SDM yang professional.

Selain Gus Dur, narasumber lain yang terkemuka pada waktu itu adalah tokoh politikus senior, yaitu Subadio Sastrotomo serta para tokoh politik Orde Baru yang mempunyai visi dan misi demokratisasi,  seperti BJ Habibie, Sarwono Kusumaatmaja, Kharis Suhud, Fuad Hassan, dll. Beberapa kawan penulis yang aktif mendorong gerakan keterbukaan antara lain, Tisnaya I. Kartakusuma, Mirwan Yusuf, Bambang Setyawan, dll mencoba membuka di mata internasional tentang gerakan demokratisasi Indonesia, selain diskusi ilmiah juga menyelenggarakan Simposium Internasional (April 1989) dengan tema kajian, “Masa depan Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (paper penulis terlampir).”

Di tengah suasana demokratisasi yang kian kritis dan matang, Gus Dur pada waktu itu datang di tengah kami membawa angin segar dan sempat menawarkan berdirinya Forum Demokrasi di Paris. Hanya saja, situasi politik di Paris sendiri waktu itu sangat ketat, yang sering menimbulkan ketegangan dengan KBRI, hanya karena persoalan salah paham. Informasi Gus Dur tentang realitas politik yang hangat di Tanah Air selain menghapus kerinduan kami ternyata sangat berguna dalam membuka kepedulian mahasiswa Indonesia di luar negeri agar misi menjadi seorang doctor yang utama diperuntukkan bagi kepentingan masa depan bangsa.

Apa yang terjadi dengan kedatangan Gus Dur, selain menimbulkan saling curiga disana-sini, mengingat ia memang salah satu tokoh yang sedang “dijinakkan” oleh rezim Orde Baru agar supaya jangan sampai melahirkan gerakan yang lebih besar. Meskipun kita semua tahu bahwa waktu itu Gus Dur adalah tokoh terdepan dalam menggalang demokratisasi yang sekarang kita semua memetik buahnya. Apa yang terjadi apabila pada waktu itu tidak lahir seorang Gus Dur. Kepeloporannya dan kekuatan Gus Dur menggalang gerakan dari tokoh yang bertolak-belakang seperti Amin Rais dan Megawati Sukarnoputri adalah tanpa tandingan. Sebagai “opposan loyal” pemikiran Gus Dur tetap saja dianggap berbahaya oleh rezim yang berkuasa karena diperkirakan akan mampu mengganggu stabilitas politik Dalam Negeri, dalam hal ini meruntuhkan sebuah rezim berkuasa. Maka tidak mengherankan jika orang-orang yang dekat dengannya pun pada waktu itu akan mendapatkan getah perlakuan yang keras dari Orde Baru, termasuk perlakuan terhadap penulis.

Nah, untuk mengetahui kesaksian saya atas sebagian kehidupan politik Gus Dur, marilah kita simak selanjutnya isi buku ini. Semoga kehadirannya membawa manfaat dan yang bagus dari Gus Dur wajib dilanjutkan.

Paris-Solo, Januari 1989-Januari 2010


[1]Buku hasil penelitian saya serahkan 3 bulan sebelum Gus Dur mundur dari Jabatannya, diterima oleh  Yenni putri Gus Dur, ketika penulis diminta oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto untuk memberi early warning kepada Presiden akan situasi politik yang berkembang, dengan istilah Gus Dur artinya di bulan aGUStus munDur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s