By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Symbolic Trouble dalam Analogik, Metaforik dan Interpretatif

Oleh : Andrik Purwasito

  Tulisan ini adalah hasil pengembangan dari tinjauan kritis saya terhadap Pameran Tunggal Gigih Wiyono di Taman Budaya Jawa Tengah, Januari 2010 di Surakarta, yang saya beri judul  “Tupai dan Bluluk sebagai perwujudan Harmoni Kehidupan”.  Karena tulisan ini bersifat pengembangan, maka diperkaya dengan pembahasan mengenai berbagai hal menyangkut proses kreatif seniman sebagai proses penciptaan seni. Tinjauan ini hadir juga atas permintaan beberapa seniman, akademisi,  terutama yang menekuni bidang penciptaan seni, agar memberi konteribusi terhdap khasanah pengembangan ilmu pengetahuan. Terima kasih kepada Mas Gigih yang telah memberi kesempatan kepada saya  untuk melakukan kritik khusus terhadap karya pameran “Eksistensi Tupai”  dan bukan karya Gigih secara keseluruhan.[1] Tinjauan pengembangan ini juga dimaksudkan untuk meluruskan beberapa kata, kalimat yang hilang karena proses editing yang akhirnya mengubah secara substansial isi tinjauan kritis saya, sehingga tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Gigih, tulisan ini hadir sekaligus meluruskan apa-apa yang telah menyimpang  tersebut.

Dalam masyarakat yang kian termodernisasi, keberadaan kebun kelapa memang sangat memprihatinkan. Semakin hari lahan tanaman ini kian menipis. Manusia telah menjadi perampas hak-hak hidup hayati dengan berbagai caranya telah mengakibatkan kehidupan flora dan fauna semakin menipis. Manusia menjadi subyek kehidupan dengan tingkat derajat yang paling mulia dan tinggi berubah menjadi makluk nggegirisi (terrible) yang makin hari makin rendah derajat dan kemuliannya. Manusia akhirnya menjadi serakah terhadap alam jagad semesta yang menghidupinya.

Tupai adalah salah satu jenis fauna mengerat yang hidup dari pohon kelapa satu ke pohon kelapan yang lainnya. Tupai kini hadir melalui interpretasi, metaforik dan analog karya seni oleh Gigih Wiyono, perupa lulusan S2 ISI Yogyakarta, dalam karya-karya mutakhirnya yang dipamerkan di Taman Budaya Surakarta (Januari 2010) berjudul “Eksistensi Tupai.” Dari judulnya kita akan mudah menebak pastilah tentang keberadaan dan kehidupan tupai, tetapi ternyata saya keliru karena Gigih menggunakan Tupai sebagai metaforik pemberantasan korupsi. Berangkat dari perhatian saya terhadap Tupai sebagai metaforik pemberantasan korupsi, memancing saya lebih lanjut untuk mengkaji dari aspek pemanfaatan logika analogik dan interpretatif yang akhirnya menjadi fokus persoalan yang akan saya bahas dalam tulisan di bawah ini.

The Exploration

Tupai diciptakan di bumi ini pasti mengembang misi. Ini persoalanyang harus dipahami secara baik oleh perupa apabila ia mengambil sebagai bahan mentah untuk ideologi karyanya. Tupai binatang yang kecil dan lucu itu bukanlah tanpa maksud Allah mendatangkannya di muka bumi. Ia adalah bagian dari makluk hidup yang tak terpisahkan dari equilibrium kehidupan.  Jadi saya yakin bahwa tupai-tupai yang melompat-lompat dari dahan kelapa satu ke dahan kelapa lainnya merupakan penyeimbang kehidupan alamiah. Mereka pastilah membantu kita, sebagai penyeimbang dalam hidup kita yang tak pernah kita mau tahu dan bahkan tak kita pedulikan. Mereka dihadirkan Allah sebagai sahabat yang melengkapi proses alami demi kehidupan yang selaras, seimbang dan damai.

Maksud saya menjelaskan semua ini, sudah barang tentu mengkritisi analogik dan metaforik[2] yang diambil Gigih untuk menjadikan tupai sebagai analogik koruptor dan metaforik korupsi. Selain itu, kampanye Gigih terhadap pembasmian tupai sampai keakar-akarnya juga bukan gagasan yang simpatik. Kalau toh tupai sampai meresahkan petani kelapa di Cangkringan Sleman, bentuk perburuan untuk mengurangi dan menghambat perkembangan kelahiran boleh-boleh saja. Saya setuju dengan cara bijak seperti itu.

Semua dikembalikan kepada hak Gigih untuk tetap bertahan dengan gagasan tersebut. Ini hanya persoalan kajian kritis dan bukan sesuatu mutlak. Karena simbol sendiri juga bersifat ambigu dan karena sebab itu terkadang pemakaian tanda/simbol mempunyai makna yang lain (tupai sebagai bajingan menjadi koruptor misalnya) bisa menyakitkan banyak orang (karena sumber pengacauan) di satu pihak tetapi di pihak lain justru bisa menguatkan. Artinya bahwa tanda atau simbol tersebut memiliki penanda yang tidak tunggal dan sejumlah simbol dan tanda-tanda bisa direpresetasikan melalui satu tanda saja.[3] Oleh sebab itu, Berger menulis “kita harus belajar untuk bersikap hati-hati atau seksama bila kita memakai tanda-tanda itu.”[4] Dalam bagian lain, ia menulis “bahwa tanda-tanda merupakan fenomena yang kompleks dan menuntut pembacaan yang hati-hati dan penuh pertimbangan.”[5]

Apa yang saya uraikan di atas menuju kepada pemikiran bahwa karya seni mempunyai hubungan erat dengan masalah aksiologis dalam filsafat keilmuan. By the way, tupai jenis yang kita bicarakan ini memang makanan utamanya adalah kelapa, dan bukanlah suatu kebetulan meskipun pengetahuan kita menunjukkan ada jenis Tupai lain yang hanya memakan serangga.

Saya membayangkan Gigih melakukan eksplorasi dengan penuh semangat memasuki ladang-ladang kelapa yang luas. Di sana ia menemukan kelapa-kelapa yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan pada berlobang-lobang yang ia pikirkan adalah tindak kejatahan Tupai. Ia tercengang dan membawanya peristiwa itu kedalam proses penciptaan. Maka mulailah ia dengan merancang bangun karyanya (art engineering) dengan hasil “eksistensi tupai.” Kalau boleh saya terjemahkan secara harfiah dari judul itu Gigih berbicara tentang keberadaan tupai sebagai komunitas bajing(an).

Bagi orang Jawa, Tupai memang disebut bajing. Karena menurutnya tupai memakan kelapa tanpa harus minta ijin dulu kepada yang empunya kelapa. Ia disebut “bajing” karena dianggap mencuri kelapa. Pada hal secara alami, kelapa adalah makanan utamanuya. Tetapi Tupai tahu (yang manusia tidak tahu) kelapa yang bagaimana yang ia konsumsi dan kelapa mana yang dikonsumsi manusia. Untuk hal ini, saya kira Gigih juga tidak tahu,  bahwa Tupai tersebut memakan buah kelapa yang “bajang,” yaitu kelapa masih muda dan bakal tidak jadi matang.[6] Tupai-tupai tersebut memakan kelapa-kelapa adalah hak yang diberikan Tuhan untuk hidup, seperti halnya manusia boleh menguasai kelapa sebagai hak miliknya.

Jadi disini ada pembagian yang adil antara binatang dan manusia untuk menguasai dan menggunakan hasil ciptaan Allah. Manusia tidak bisa serakah begitu saja dan tidak memberi hak penguasaan terhadap makluk yang lain. Dengan takdir masing-masing pembagian berkah Allah dari alam raya saya anggap sudah seimbang. Kelapa adalah milik Allah dan dibagikan kemana makluk di bumi dengan cara seadil-adilnya. Artinya manusia menguasai kelapa yang kualitasnya bagus, sedangkan Tupai cukup dengan kelapa bajang, yang oleh manusia kelapa yang demikian itu tidak akan  laku dijual dan akhirnya toh juga tidak berguna atau sia-sia.[7]

Tupai adalah binatang yang lucu, mungil dan cerdas. Itu yang akan saya katakan kepada Gigih. Lihatlah tupai itu mampu melompat dengan lihay dan lincah. Pikirkanlah bahwa ia juga warga dunia yang mempunyai hak hidup seperti kita dan juga membutuhkan perlindungan. Ketika kelapa sudah tidak lagi menjadi bagian penting dari kehidupan penduduk desa-desa di Jawa, dan mereka beralih ke kelapa kemasan yang praktis penggunaannya, akibatnya adalah kebun kelapa semakin hari tak dianggap penting akhirnya semakin lama akan terkikis habis pula. Kita juga melihat banyak pohon kelapa ditebangi oleh tangan-tangan manusia yang serakah sementara mereka tidak pernah berpikir bahwa menanam kembali adalah regenerasi yang nantinya kelapa-kelapa itu dibutuhkan anak cucu.

Nenek moyang kita yang menanam, manusia sekarang yang merusak. Lihatlah penebangan pohon kelapa untuk konsumsi bangunan rumah sudah membabi buta, bahkan jumlah kelapa yang ditebang tidak dibarengi dengan jumlah tananam baru sebagai pengganti. Akhirnya, justru manusialah yang merusak habitat Tupai sehingga kehidupan mereka  sudah demikian terancam. Maka tidak dibunuhpun, ketika habitus Tupai musnah maka ia akan hilang dari pandangan kita, seperti dinosaurus, karena kehilangan mata kehidupannya. Seperti Burung-burung Manyar, sesungguhnya kini Tupai adalah binatang langka, karena habitatnya rusak.

Apabila eksplorasi sampai pada substansinya maka saya yakin Gigih tidak akan mengkampanyekan pembasmian Tupai yang hampir punah itu. Sehingga, metaforik “membasi tupai”  diartikan sebagai membasmi korupsi adalah sebuah fallacy, kerancuan relevansi berpikir (ignoratio elenchi).[8] Menggunakan tupai sebagai metaforik koruptor  adalah kerancuan relevansi logik.

Symbolic Trouble

Uraian saya di atas menggambarkan adanya fallacy dalam proses kreatif dalam eksplorasi. Kesalahan dalam proses penalaran selama menyusun konseptual dalam eksplorasi tersebut, menunjukkan ada yang cacat (trouble) dalam merancang bangun simbol yang diajukan. Dari sinilah muncul istilah yang saya ajukan sebagai symbolic trouble, yang akan saya jelaskan sebagai berikut:

Saya melihat Tupai sesungguhnya hidup dalam harmonisasi dengan manusia. Hasil eksplorasi penciptaan Gigih menunjukkan sebaliknya. Saya kira eksplorasi belum tuntas dan eksploitasi masih berjalan, tetapi segera membuat suddenly jugdment, (penghakiman yang mengejutkan), kurang lebih intinya, “Mari membasmi tupai supaya negeri ini lebih sejahtera.”

Membasmi Tupai sebagai metaforik koruptor agaknya kita sulit menemukan rujukan dan analoginya. Tupai biasanya merujuk pada binatang yang pandai melompat, yang kurang relevan jiga dijadikan metaforik Koruptor. Tupai hanya makan beberapa buah kelapa, sebagai bagian dari hak hidup yang diberikan oleh Allah. Sedangkan Koruptor melakukan perbuatan mengambil barang, uang, benda yang bukan haknya. Analog demikian agaknya jauh panggang dari apinya.

Fallacy Gigih Wiyono agaknya berangkat dari premisnya bahwa “tupai sebagai perusak kehidupan,” oleh sebab itu secara metaforik dan analogik disebut seperti koruptor yang juga merusak negara.  Pada hal metaforik Tupai secara konvensi telah digunakan untuk menyebut pencurian barang yang diangkut oleh truk-truk sebagai “Si Bajing Loncat.” Interpretasi makna ini adalah sangat jelas dan nyata dipakai oleh masyarakat sebagai metaforik pencuri di atas angkutan darat. Dengan demikian antara premis dan kesimpulan tidak terdapat adanya hubungan logikal.

Seharusnya eksplorasi penciptaan bukan hanya melihat dengan kedua mata, tetapi melihatlah dengan kaca mata batin. Observasi terlibat menggunakan inderawi adalah benar tetapi membutuhkan peralatan lain, yaitu intuisi. Dengan demikian eksplorasi sesungguhnya adalah segala daya manusia, baik logika inderawi maupun intuisi, bekerja besama-sama untuk menemukan sebuah kebenaran.

Untuk sampai di sana banyak cara yang bisa dilakukan antara lain, seperangkat hipotesis atau pengajuan persoalan yang ditandai penyusunan pertanyaan mendasar tentang kehidupan, misalnya mempertanyakan apa dan siapa Tupai serta apa peranannya di dunia. Dengan hipotesis dan segudang persoalan yang ingin di eskplor, maka Sang Kreator tidak hanya melihat-lihat dan bertanya kepada manusia tetapi juga bertanyalah kepada Sang Maha Pencipta. Terhadap diri sendiri bersera seluruh makluk dan alam semesta raya ini. Berpikirlah dengan pembatinan yang transendental.

Saya yakin apabila Gigih melakukan eksplorasi dengan cara di atas, setidaknya lebih berhati-hati dalam membuat kesimpulan. Seseorang melihat dengan mata batin, intuisi akan memperkaya inderawi kita menangkap gejala dan fenomena yang tersembunyi sekalipun.. Pasti Nenek moyang tidak akan pernah menyuruh kita, “basmi saja saja tupai-tupai karena memang mereka bajingan.” Tetapi dengan bahasa yang lebih halus, burulah Tupai sebagai cara kita mengurangi populasi. Pengurangan populasi berbeda dengan pembasmian. Oleh sebab itu, tupai lebih cocok sebagai metaforik pencuri kelas teri atau bajingan yang mencuri di truk pengankut dan bukan koruptor.

Dengan kata lain, penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam eksplorasi penciptaan seni, Sang Kreator harus berangkat dari hadirnya pencerahan jiwa. Karena kita dengan berkarya seni kita juga bermaksud untuk memberi pencerahan kepada umat manusia. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa pencerahan adalah kunci untuk membuka sebuah Pintu Gerbang eksplorasi sebelum akhirnya kita mampu membuka pintu kesatu, pintu kedua, pintu ketiga dan seterusnya ke pintu-pintu yang lainnya.

Pencerahan adalah cara kita memperoleh jalan sinar terang benderang (enligtment, la lumiere) dari kegelapan belantara yang akan kita eksplore. Perangkat pengetahuan yang kita menjadi bekal kita, sebagai tools (peralatan jelajah) dibuka dan disistematisir berdasarkan kebutuhan. Salah satu tools tersebut adalah cara pandang. Bagaimana cara memandang kegelapan dengan cahaya, bayangkan anda membawa flashligt (senter). Dalam kegelapan itu, pertama yang harus anda lakukan adalah menerangi seluruh obyek yang ada, untuk menentukan subyek yang telah kita temukan.

Lihatlah obyek secara menyeluruh baru temukan subyek. Guru saya di Prancis, Dennys Lombard mengajarkan tentang bagaimana menemukan sesuatu subyek eksplorasi. Saya berkali-kali diminta pergi ke Bibliotheque (perpustakaan) sampai saya menemukan subject matternya dalam bahasa Prancis le problematique.  Setelah saya lama tak menemu karena lemahnya metodologi, Pak Lombard kemudian menawarkan metoda dan pendekatan bersama beberapa mahasiswa yang lain atas permintaan saya, yang pada prinsipnya suatu sikap ilmiah yang terbuka terhadap disiplin lain, “ilmu humaniora tidak dapat melepaskan diri dari ilmu-ilmu lain,” begitu katanya. Saya kira itu adalah spirit Madzab Annales (ecole annales) yang mengajarkan tentang mengkaji masyarakat secara interdisiplin dan multidisiplin.

Pada prinsipnya metoda kajian secara holistik, membangun kesimpulan melalui penjelajahan keilmuan yang seluas-luasnya. Mencakup tidak saja bidang ilmu tetapi juga l’espace et le temp (ruang dan waktu). Artinya, mengeksplorasi subyek persoalan masyarakat dari berbagai sudut pandang.

Di sini kita mencatat bahwa mencermati suatu fenomena dan energi kehidupan masyarakat membutuhkan kejelian (detail) dan ketekunan (sabar) karena masyarat dalam realitasnya sangat rumit dan kompleks. Demikian pula dalam eksplorasi karya seni yang berada pada ladang kemanusiaan, maka dibutuhkan pula metoda yang bersifat holistik, yakni penglihatan yang menyeluruh atas fenomena masyarakat, baik yang tampak dan yang tersembunyi. Dengan kata lain, melihat fenomena (art-fact, socio-fact dan mental-fact) harus dilihat dari berbagai aspek, dari berbagai sisi, dari berbagai sudut pandangan, dari berbagai tempat, dan dalam kurun waktu yang berlainan.

Maksud dari pernyataan saya di atas adalah memandang seni tidak saja melihat dengan kacama dan dalam ruang lingkup kesenian (orang Prancis bilang l’art pour l’art), tetapi juga dalam konteks peradaban manusia yang lebih luas. Dengan melakukan kerja keras yang demikian itu akhirnya, Si eksplorer akan memperoleh tidak saja hasil “panen” atau “harta karun” yang melimpah ruah, tetapi juga pengalaman-pengalaman sosial dan transedental yang tak terlupakan.

Tahap berikutnya, barulah memilah-milah hasil eksplorasi (melalui proses reduksi), mana yang dianggap penting dan perlu oleh eksplorernya, mana yang penting tetapi tidak dibutuhkan, dan mana tidak terlalu penting tetapi dibutuhkan. Ini juga menyangkut persoalan metodologis, artinya pemilahan (klasifikasi, pembagian, pemilahan) membutuhkan pengetahuan khusus pula.

Eksplorasi bukanlah sekedar melihat alam atau peristiwa, atau mengamati candi-candi dengan segala patung dan ornamennya, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan menangkap dan melihat apa yang tersembunyi sampai akhirnya mencapai pada tingkat yang hakiki (substansial).

Jangan seperti akademikus congkak yang mencemooh metoda deskriptif sebagai metoda yang tidak ilmiah. Pada hal apabila secara benar kita menggunakan metoda deskriptif justru metoda ini sangat rumit dan sulit. Namun saya lega ketika ia mendefinisikan studi deskriptif tidak ubahnya sebagai karya laporan pandangan mata. Sesuatu penglihatan luarnya saja yang tidak menukik ke kedalaman tertentu. Hanya apa terlihat oleh mata saja atau apa yang didengar oleh telinga.

Agaknya saya mempunyai pandangan yang lain. Metoda deskriptif adalah suatu metoda penelitian yang sulit dan rumit. Sulit karena alatnya adalah diri si penelitis endiri. Rumit karena metoda deskriptif tidak saja mendeskripsikan apa yang dilihat dan didengar tetapi juga mendeskripsikan apa yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat didengar tetapi bisa dirasakan. Semua panca-indera bekerja semaksimal mungkin untuk menangkap gejala, fenomena dihadapan kita, mencatat seluruh apa yang kasat mata dan tankasat mata.

Metoda deskriptif sulit dan rumit karena menjelaskan suatu peristiwa (socio-fact) yang manifest dan yang latent, memaknai suatu teks, atau benda-benda (art-fact) yang tidak saja fisik tetapi juga yang non-fisik. Yang paling sulit lagi ketika eksplorer harus mengeksplorasi keadaan mental suatu masyarakat (mental-fact). Dalam kondisi seperti ini pengamatan dan eksplorasi Sang Kreator membutuhkan kejelian, kecerdasan dan pengalaman.

Dari semua yang saya jelaskan di atas, pada dasarnya saya ingin menjelaskan bahwa betapa pentingnya ideologi dalam berkarya. Ideologi adalah pedoman seorang seniman dalam bersikap untuk membawa misi kemanusiaannya. Ideologi di dalamnya terkandung muatan etis, moralitas dan tanggung jawab sosial.  Seperti halnya dalam mengeksplorasi Tupai sebagai Bajing maka metaforiknya hanyalah bajingan. Koruptor lebih dari bajingan atau pencuri, tetapi merusak Negara.

Coba kita ingat pada waktu kita muda, orang-orang dulu tidak terlalu gelisah kelapanya dimakan Tupai, mungkin karena mereka tahu, bahwa Tupai tidak pernah makan habis kelapanya.

Sekarang saja ada orang marah, seperti pemilik kebon di Cangkringan Sleman yang digunakan Gigih untuk eksplorasi. Itu karena ia berpikir bahwa setiap butir kelapa harganya tinggi. Tidak menyalahkan orang berpikir lebih materialistis seperti sekarang. Karena kehidupan mengarah pada materialisme sehingga berpikir harga (materi) adalah utama. Sedangkan berpikir tentang kesinambungan kebun kelapa bagi generasi mendatang dianggap bukan urusannya. Sungguh sangat egois.

Kita tahu konsumsi kelapa semakin tinggi sementara kebon kelapa semakin hilang. Sehingga wajar saja Tupai kini menjadi kambing hitam dan dimusuhi karena dianggap sebagai penghambat nilai ekonomis. Pada hal tukang kebon tersebut tidak pernah mawas diri, bahwa rusaknya keseimbangan alam ini karena juga ulah manusia seperti dia.

Sebagai seniman yang memposisikan diri sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan, seharusnya bisa melihat eksistensi tupai sebagai siklus keseimbangan alam, bukan hanya sebagai bajingan yang merusak kehidupan kelapa. Nenek moyang kita dulu tidak memusuhi tupai karena memang gangguannya masih bisa ditolerir. Sekarang siklus keseimbangan alam telah dirusak oleh manusia, tetapi jangan menyalahkan dan mengkambinghitamkan tupai saja karena masih banyak faktor lain sebagai penyebabnya.

Masyarakat sangat cerdas dalam mengambil simbol Tupai sebagai pencuri di angkutan darat tersebut karena analoginya para pencuri itu dalam melakukan aksinya persis seperti tupai yaitu melakukan lompatan.  Dengan begitu, Tupai sebagai analogi koruptor agaknya kurang lazim. Di sinilah letak symbolic trouble yang dibangun Gigih dalam rancang bangun (art engineering) yang melibatkan metode analogi seperti apa yang sudah dibangun oleh common sense masyarakat.

Akal sehat masyarakat menuntun Tupai sebagai metaforik “bajingan” dan simbol pencuri kelas teri, karena secara analogis memang tupai tidak pernah menghabiskan secara total kelapa di pohon-pohon itu, kecuali mungkin hanya satu dua. Analognya, “Si Bajing loncat” yang mencuri di bak-bak truk itu, juga tidak sampai menghabiskan seluruh muatan barang yang diangkut oleh truk-truk tersebut. Jadi, Tupai sebagai metafor Si Bajing Loncat mencapai derajat common-sense yang tinggi. Tupai sebagai analog juga sangat mudah diterima oleh akal sehat.

Sementara ini, masyarakat juga sangat cerdas membangun simbol koruptor dengan Tikus. Begitu berbicara kelas koruptor, metaforiknya berubah. Bagi koruptor kecil, menunjuk koruptor kelas dibawah 100 juta, metaforiknya ikan Teri sedangkan untuk menunjukan koruptor besar (menunjuk koruptor berkelas di atas satu milyar) metaforiknya menjadi ikan Kakap. Secara analogis, perilaku Tikus dalam menghabiskan padi sifatnya menggerogoti lumbung padi, persis seperti perilaku koruptor yang menggoroti keuangan negara dengan cara-cara seperti tikus. Sudah tentu, tikus bukan binatang yang melompat-lompat seperti Tupai, oleh sebab itulah pencuri di atas bak-bak truk tidak disimbolkan Tikus, tetapi tupai.

Dengan uraian di atas, ketika kata Tupai oleh seorang Gigih[9] dijadikan metaforik koruptor, selain kurang lazim juga kurang tepat. Seluruh penjelasan di atas baik kesalahan metaforik dan analogik tersebut menimbulkan apa yang saya sebut sebagai symbolic trouble dalam karya seni.

Memang penciptaan simbolik artistik merupakan hak setiap orang termasuk seniman untuk menciptakannya. Hal ini karena memang pada dasarnya simbol itu bersifat privat. Tetapi jangan dilupakan bahwa simbol juga bersifat universal dan bersifat partikular. Ini artinya, pengambilan simbol universal dan simbol partikular yang akan dijadikan simbol privat oleh seorang seniman haruslah dengan pertimbangan sangat berhati-hati. Karena kedua simbol tersebut (partikular dan universal) telah dimiliki oleh masyarakat yang bersifat manifest (interpretasinya telah given/ditentukan) yang mana masyarakat yang empunya simbolik itu sendirilah yang secara konvensi telah menyepakati makna yang terkandung di dalam simbol tersebut. Sehingga simbol itu telah benar-benar nyata dan jelas maknanya (meminjam istilah Rene Descartes).

Misalnya, tikus secara konvensi sudah disepakati oleh masyarakat Indonesia sebagai metafor koruptor adalah simbol partikular (karena mungkin di negeri lain tidak semua menggunakan simbol tikus). Hanya saja, tikus menjadi simbol universal tatkala ia dijadikan ikon dalam teknologi komputer sebagai mouse. Dalam hal ini tikus yang mouse tersebut telah diterima dan digunakan manusia seluruh dunia. Berarti tikus menjadi simbol universal sebagai ikonik dalam komputer.

Apabila seorang seniman sewenang-wenang mengambil dari simbol universal dan partikular yang ia temukan ketika melakukan eksplorasi dan menawarkan kembali simbol tersebut dengan makna baru yang privat kepada masyarakat, risikonya sangat mungkin apa yang dilakukan oleh seniman tersebut menimbulkan persepsi yang sesat (symbolic trouble). Seorang Edi Sunaryo ketika menyelesaikan dissertasinya “Sublimasi Erotik,” sebagai penguji saya menyarankan agar cukup berhati-hati dalam membangun simbol erotik sebagai basis gagasan kedoktorannya. Saya mengatakan kepadanya bahwa erotisme bisa menimbulkan symbolic trouble dalam masyarakat apabila tidak diletakkan secara cerdas.

Ketika seorang photograper membuat karya seni erotisnya, ia kaget ketika dijemput oleh serombongan polisi Negara. Sedangkan polisi mendapat laporan masyarakat tertentu dengan tuduhan karya photografi tersebut telah menodai kesucian dalam beragama. Menurut senimannya sendiri, karya seni photografi tersebut adalah hasil karya seni orisinal yang tidak digunakan untuk tujuan sesat.

Masalahnya mungkin menjadi berbeda kalau photografi erotis tersebut dinikmati sendiri atau kalangan terbatas. Dengan publik yang terbatas tersebut masih bisa menghindari terjadinya symbolic trouble, kecuali ada orang yang mempermasalahkan dan membawanya ke ranah hukum. Bisa-bisa seniman photografi terjerat pasal undang-undang pornografi dan porno-aksi.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah itu sebagai karya seni yang setiap orang bebas dalam ber-ekspresi? Dalam hal-hal tertentu, kebebasan dalam berkesenian selalu melalui pembatasan. Sebagaimana kehidupan sehari-hari, bagaimanapun juga dalam karya seni juga sewajarnyalah mempertimbangkan kaidah atau pedoman hidup yang dipegang oleh masyarakat lingkungan dimana karya itu dihadirkan.

Oleh sebab itu, ketika karya seni erotis dipamerkan di sebuah ruang pamer yang bersifat publik, ukuran symbolic trouble  kedua ini bukan persoalan metaforik dan analogik tetapi berangkat dari persoalan interpretatif. Akibatnya photograper yang bersangkutan harus berurusan dengan polisi karena karya seni erotisnya yang oleh publik dianggap melanggar norma dan nilai agama tertentu.

Pada tahun 1980-an ketika para seniman muda membaca puisi, karya-karya mereka termasuk karya penulis buku ini disensor oleh pihak keamanan. Sensorship ini dilakukan agar si penyair jangan sampai membacakan karya puisi yang isinya mengritik rezim Orde baru dan para penguasa. Beberapa puisi memang akhirnya kena sensor dan tidak dapat dibacakan. Di sini terjadi symbolic trouble  berangkat dari persoalan interpretatif.

Persoalannya jadi lain, ketika Si Seniman sendiri memang sengaja memposisikan diri karyanya sebagai symbolic trouble. Dalam hal ini  karena Si Seniman ingin mencapai tujuan tertentu, misalnya supaya meggerakkan orang lain untuk melakukan perbuatan seperti yang dikehendaki, misalnya melakukan kekerasan, teror. Atau Si Seniman memang memancing persoalan dengan pihak keamanan, aparat kepolisian, kejaksaan atau pengadilan.

Mungkin juga karena Si Seniman bertujuan agar polisi bergerak melakukan sweeping terhadap gallery dan studio yang menyimpan karya yang disebutkan dalam undang-undang sebagai pornografi. Ini bisa saja terjadi dalam sebuah kondisi tertentu (chaos). Inilah paradoksal simbolikum yang bersifat latent yang tersembunyi di dalam fenomena kekuasaan masyarakat.

Tetapi dalam dissertasi seorang calon doktor, secara falsafati kebebasan akademik terkandung di dalamnya kaidah nilai, etika dan moral serta tanggung jawab sosial masyarakat. Maka selama menempuh jenjang pendidikan akademis, seperti sarjana, magister dan doktor (sebaiknya juga begitu bagi para seniman otodidak), agar tetap mengendepankan aspek-aspek aksiologis dalam berkarya.

Berbeda seandainya karya photograper, atau pembacaan puisi  tersebut dipamerkan dan dibacakan di negara-negara Barat, saya kira tidak menjadi masalah dan karena memang disana hal tersebut tidak ada masalah. Inilah mengapa karya-karya seni erotis dan juga seni politis bersifat partikular. Artinya tergantung dari ruang dan waktu dimana dan kapan karya itu diekspos.

Art Engineering

Proses penciptaan melibatkan apa yang saya sebut sebagai art engineering. Artinya, proses kehadiran gagasan, eksplorasi, sampai eksekusi karya adalah proses rancang bangun simbol, untuk merekaya realitas kehidupan menjadi realitas artistik. Dalam art engineering dibutuhkan seperangkat ilmu pengetahuan yang mendasari proses tersebut, yaitu metodologi penciptaan seni yang melibatkan unsur interdisipliner, seperti filsafat ilmu,  ilmu komunikasi, psikologi, arkeologi, lingkungan, sosiologi, histori, antropologi, etnografi, sosial-ekonomi, dan ilmu politik.

Dalam art engineering (baca di bagian lain dari buku ini) sebagaimana diuraikan di atas, analogis artistik sangat dibutuhkan karena proses analog tersebut akan membantu seorang seniman membangun simbol-simbol baru yang bersifat privat. Simbol privat adalah milik sah seniman. Dengan kata lain, simbol privat adalah identitas diri atau ciri-khas yang menjadi representasi dari gagasan seniman. Bagaimana simbol privat dibangun, yakni melalui proses rekayasa (engineering), proses dimana seniman menggunakan kecerdasan dan elan vitalnya untuk mengolah dan merancang bangun hasil eksplorasi menjadi simbol baru miliknya. Apabila berhasil maka akan tampak sekali simbol baru tersebut memiliki “aura” sekaligus “kekuatan pribadi” si seniman, yang pada akhirnya merupakan representasi ideologi dari senimannya.

Dalam “Eksistensi Tupai” karya-karya Gigih Wiyono, saya melihat proses art engineeringnya mengalami gegar metodologis (metaforik, analogik, simbolik). Artinya, di sini kelemahannya terletak pada art enginnering, yang tampak tidak melalui proses rancang bangun atau rekayasa secara ketat terutama pada persoalan ontologisnya.

Dalam rancang-bangun seninya, yakni menetapkan simbol yang sama yaitu “tupai” Si Seniman melakukan pengubahan makna Tupai yang bersifat partikular sebagai bajingan, diubah menjadi “koruptor,” yang bersifat makna privat.

Pengubahan tersebut tidak menjadi masalah selama karya tersebut dipajang di rumah sendiri dalam lingkungan sendiri (privat) yang terbatas. Saya kira hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi ketika simbol dengan makna yang sudah menjadi konvensi tersebut diubah (meskipun Tanda itu bersifat arbitrair, semena-mena, siapa saja boleh memberi makna), tetapi tanda itu bersifat logik. Dalam hal ini, ketika Tupai dihadirkan sebagai metaforik dan analog Korupsi, masyarakat penerima yang telah mempunyai kesepakatan tersebut terganggu karenanya. Gangguan makna ini terjadi karena adanya simbolyc trouble.

Kemungkinan yang terjadi selanjutnya adalah: pertama, simbol baru yang privat tersebut bisa diterima dan dijadikan konvensi (simbol partikular). Kedua, simbol tersebut hilang begitu saja dan dilupakan orang sebagai lossing face symbol (simbol memalukan).

Intellectual Right

Art Engineering memang membutuhkan eksplorasi tidak saja terjun langsung dan terlibat dalam kehidupan nyata, tetapi juga eksplorasi referensi yang prima (buku babon). Kedua unsur tersebut harus disebutkan sejak awal, karena disana memuat tentang berbagai hal menyangkut subyect matter yang tengah dikerjakan.

Terlepas dari apa yang telah saya uraikan di atas, sesungguhnya adalah hak intelektual (intellectual right) Gigih Wiyono untuk merancang bangun Tupai sebagai binatang berkonotasi negatif yaitu koruptor. Masyarakatlah yang menguji simbol privat Gigih menjadi sesuatu yang dianut atau dilupakan begitu saja. Semua kita serahkan kepada waktu sebagai hakim yang paling bijaksana.

Dalam memposisikan diri sebagai hak intelektual, agaknya juga membutuhkan sikap ideologis tertentu, yang pada prinsipnya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, seperti menghormati ekspresi dan hak orang lain, menjamin hak-hak azasi manusia, menyelematkan lingkungan alam dan habitus manusia.

The Tressure

Tressure atau dalam bahasa Prancisnya tresor, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai harta karun. Tresor adalah benda-benda yang sangat berharga bagi peradaban manusia yang tersimpan di alam raya, di dalam tanah, di tempat ghoib, di planet, di bulan, yaitu benda seperti emas, intan, minyak, yang hanya dapat ditemukan dengan cara eksplorasi dan eksploitasi yang melibatkan tenaga, pikiran, waktu, tenaga kerja dan biaya.

Demikian juga dengan penciptaan seni, sebagaimana eksplorasi dan eksploitasi harta karun, membutuhkan segala daya upaya agar mendapatkan sesuatu yang sangat berharga sebagai harta karun tersebut. Penciptaan seni dalam bidang akademik tahapan untuk menghasilkan karya seni (art-works) ditempuh melalui apa yang disebut sebagai metodologi.[10]

Demikian pula ketika melihat karya  Gigih Wiyono, art engineering yang kurang cermat sebagaimana diuraikan di atas barangkali juga disebabkan oleh penerapan epistemologis yang tergesa-gesa. Sebagai seorang lulusan pasca-sarjana sesungguhnya tidak melupakan aspek aksiologis dalam berkarya dan bersikap dalam kehidupan masyarakat. Motivasi dan potensi intelektualnya yang baik, ditambah dengan biaya yang tersedia dan tenaga yang masih muda, memungkinkan seorang Gigih menemukan “harta karun” yang lebih besar melalui proses eksplorasi yang benar.

Dalam hal ini, penciptaan seni membutuhkan permenungan, sublimasi gagasan, yang membuat art-engineeringnya mampu menampilkan harta karun tersebut secara apa adanya, tetapi mampu menyihir publik sehingga akan tercengang dengan kehadiran karya Anda yang mengejutkan. Bekerja dalam dunia seni membutuhkan ketenangan batin, spiritual quotient yang memperkuat posisi batiniahnya agar pikiran tidak dibiarkan liar. Yang mungkin perlu dihindari oleh seniman akademikus adalah sifat tergesa-gesa dan memaksakan diri untuk mengerjakan sesuatu karya seni atau karya ilmiah lainnya.

The Ideology

Bapak Rasionalisme Prancis, Rene Descartes mendefisinikan ideologi sebagai intisari pemikiran manusia. Dengan demikian, ideologi pada prinsipnya adalah gagasan tentang pandangan hidup seseorang, atau seperti yang disebut oleh filosof Prancis yang lain, Francis Bacon, sebagai sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.

Dari pengertian tersebut, ideologi seorang seniman menyangkut persoalan konsepsi hidup seniman yakni bagaimana pandangan hidup, sikap hidup seorang seniman dalam berhadapan dengan orang lain. Setidaknya, ideologi secara sederhana saya terjemahkan sebagai pandangan dunia dan keberpihakan kita terhadap orang lain, alam raya, binatang, tumbuhan dan benda-benda.

Dengan cara pandang itu, saya selalu tidak dapat melepaskan diri saya untuk melihat karya seniman dari persoalan konsepsi tentang hidup. Oleh sebab itu, gagasan, pemusnahan Tupai oleh Gigih Wiyono sangat menggelisahkan saya, sebagaimana yang ia tulis “penghancuran Tupai-Tupai karena merusak sendi-sendi kehidupan.”

Saya pernah menguji disertasi seorang mahasiswa dengan mengunakan pendekatan lingkungan. Saya agak gelisah ketika dalam eksekusinya mahasiswa tersebut justru tidak berpihak kepada keselamatan lingkungan. Spirit lingkungan adalah save nature, dengan begitu Si Seniman perlu menjauhkan diri terhadap apapun yang merusak lingkungan dan tidak membuat karya yang membawa polusi, seperti digunakannya sepeda motor dengan asap buangnya, penggunaan lahan ladang yang tidak mendorong produktivitas tetapi dengan kehadiran seni malah merusak. Maka saya menyebutnya (mohon maaf) karya demikian bukan sebagai karya seni lingkungan tetapi lebih tepat sebagai “seni ladang.”

Artinya apa dari semua yang saya ceritaka di atas, tidak lain adalah masalah keberpihakan tertentu dalam berkarya seni, misalnya keberpihakan terhadap penyelamatan lingkungan, berarti seni ikut serta dalam penyelematan terhadap hajat hidup orang banyak  termasuk menyelamatkan flora-fauna serta pusat mata pencaharian rakyat.

Dalam hal ini, saya megacungi jempol kepada Gigih terhadap keberpihakannya terhadap pemerintah yang bersih dan berwibawa (good governance) yang mendukung pemberantasan korupsi dalam bentuk karya seni. Ini adalah suatu sikap kesenimanan Gigih  yang peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara.

Hanya saja saya prihatin dengan sikap Gigih yang lain, ketika ia menganjurkan untuk membasmi Tupai-tupai, tidak saja sebagai metaforik membasmi korupsi, tetapi dalam arti yang sebenarnya, yaitu membasmi hak hidup Tupai dari muka bumi. Di sini terjadilah symbolic trouble karena ambiguitas makna yang juga menyimpulkan sesuatu tetapi kehilangan relevansinya.

Perlu diingat bahwa Tupai mempunyai hak hidup bersama manusia. Tidak masuk akal membasmi Tupai yang sesungguhnya adalah korban dari kesalahan manusia sendiri, yakni merusak mata pencaharian hidup dan keseimbangan lingkungan. Saya setuju Koruptor dihukum seberat-beratnya sesuai dengan dosa yang dilakukan. Pemberantasan korupsi adalah kebijakan dan himbauan yang sangat mulia. Tetapi memusuhi Tupai karena Korupsi adalah sebuah kerancuan berpikir yang bisa menyesatkan.

Gigih yang baik, Tupai-tupai bukanlah musuh kita. Kita memusuhi koruptor ya. Kita membersihkan Negara dari para koruptor ya. Tetapi saya tidak setuju atas gagasanmu, seperti yang Gigih tulis dalam catatan di buku katalogmu, sebagai berikut, “Seperti bajing-bajing nakal yang menghacurkan kelapa tanaman petani, Kita basmi tanpa harus ragu-ragu lagi. Tanpa takut dengan perlindungan binatang, sebab dia telah menghacurkan sendi-sendi kehidupan.”

Ia ingin mencabut hak hidup binatang yang lucu dan lincah itu karena ia mendeskripsikan dalam catatan pamerannya, sebagai berikut “eksistensi Tupai saya angkat sebagai tema besar yang lebih menohok pada persoalan tindakan korupsi yang membabi buta, beranak pinak, menggurita dan lebih menggila.”

Saya kira ini persoalan analogi. Menurut hemat saya, Tupai hanyalah sekedar pencuri biasa atau bajingan kelas teri, bukan kelas kakap, oleh karena itu dianalogkan oleh masyarakat hanya sebagai bajing loncat saja. Supaya tidak terlalu janggal, barangkali si Tupai memakai dasi sehingga tidak korupsi terhadap uang Negara tetapi juga Si Tupai  pembobol ATM.

Jadi, ini bukan hanya persoalan analogi tetapi juga ideologi seniman. Menurut pandangan hidup saya, seni adalah kehadiran gagasan dan hati nurani seorang manusia. Seni bukan sekedar media atau wahana yang menghibur, tetapi seni adalah kehidupan itu sendiri yang membawa pencerahan dan tuntunan hidup manusia yang lebih beradab. Dengan spirit ini, saya berpandangan bahwa seni seharusnya juga tidak merusak lingkungan alam, lingkungan hayati dan kehidupan itu sendiri, termasuk membasmi Tupai. Maka sewajarnya, produk manusia apapun, termasuk produk seni, yang dapat merusak lingkungan, seperti polusi, asap buang motor dan mobil, ladang yang tercerai-berai, penggunaan freon, serta semua yang mampu merusak ozon, penyebab kanker pembunuh nomor satu di dunia, narkoba dan sejenisnya sepatutnyalah kita hindarkan.

The Present of Idea and Representation

Visualisasi art-works pastilah kehadiran gagasan (presentation) dan sekaligus mewakili gagasan dari seniman (idea representation). Ketika eksplorasi dilakukan dan menemukan “harta karun” maka mulailah kerja eksploitasi. Kerja eksploitasi adalah upaya yang lebih nyata untuk mengangkat harta karun yang sudah ditemukan melalui eksplorasi tersebut.

Cara kerja eksploitasi sangat berlainan dengan kerja eksplorasi. Eksplorasi adalah tahap pencarian harta karun (sesuatu di luar diri seniman) sedangkan eksploitasi mengangkat harta karun yang melibatkan banyak peralatan dan mungkin juga tenaga kerja dan biaya. Dalam hal ini adalah senimannya sendiri atau pihak lain yang membantu, karena eksplotasi yang besar membutuhkan tenaga dan biaya yang besar pula.

Ketika saya membantu Edi Sunaryo dalam proses eksploitasi erotik di Candi Sukuh (dan masih banyak obyek lain yang musti eksploitasi, seperti Candi Surowana, Penataran, Cetho, Planggatan, Menggung, Prambanan, Borobudur, sampai situs Merbabu). Apa yang dimaksud dengan eksploitasi adalah menggali harta karun Sukuh dengan cara memahami kehadiran Sukuh dalam konteks peradaban akhir Majapahit. Kedua, memahami bentuk dan tata ruang yang mepresentasikan suatu gagasan dan peristiwa, dan ketiga memahami  sesuatu yang direpresentasikan dalam bentuk sesuatu yang lain. Keempat, mengangkat harta karun sebagai jawaban dari tempat yang paling ghoib sekalipun (nyadhong dhawuh) terhadap pertanyaan yang diajukan dalam konsepsi tentang erotisme partikular.

Di situlah bertemunya konsepsi tentang erotisme universal sebagaimana berada dalam wilayah semua peradaban umat manusia, Sukuh memberi tempat yang khusus (partikular) terhadap erotisme. Di sini setiap orang yang melakukan eksploitasi akan mendapatkan harta karun dengan jumlah, volume, dan bentuknya yang berbeda-beda. Itu sangat tergantung dari kepekaan dan perjalanan intelektual dari seniman sendiri.

Saya tidak tahu apakah Gigih Wiyono juga melakukan seperti apa yang pernah saya lakukan dengan Edi Sunaryo. Yang jelas, Gigih melihat kelapa berlobang bekas gigitan Tupai dan mengambilnya sebagai media ekspresi. Rata-rata kelapa yang berlubang tersebut masih muda (Cengkir). Ratusan Cengkir tersebut diangkut ke tempat pameran sebagai upaya menampilkan gagasan Gigih tentang akibat korupsi yang dilakukan oleh para koruptor.

Visualisasi Tupai tidak pernah ditemukan dalam karya ini. Saya bertanya-tanya bahwa metaforik Tupai, sebagai koruptor dihadapan saya, gagasan tersebut  telah kehilangan konteksnya. Maka saya berpikiran bahwa sesungguhnya Gigih mengeksplorasi dan mengeksploitasi Kelapa-kelapa muda yang berlobang dan tidak memfokuskan pada Tupai sebagai subyeknya. Ketika saya tak menemukan apapun yang bernama Tupai (tupai hidup, patung, gambar, foto, sketsa), lalu apa artinya “Tupai-tupai” yang menjadi subyek dalam pameran kali ini?

Secara kelakar saya berkata kepada kawan disamping saya bahwa menjadi seniman memang seperti manusia setengah dewa. Seniman selain mengedepankan kejujuran dan kebenaran hati nurani juga membutuhkan konsistensi dalam berkarya, yang dapat dilihat konsistensi antara  konsepsi dan visualiasi. Absennya Tupai dalam pameran tersebut telah mengkibatkan kita kehilangan konsistensi. Kelapa-kelapa yang diletakkan di dalam ruangan bisa saja menjadi suatu representasi atas kejahatan tupai, tetapi bagaimana mungkin publik dapat mengetahui bahwa itu perilaku tupai sementara tak ada sedikitpun jalan menuju interpretasi sebagaimana yang diharapkan, karena Sang Kreator tidak menghadirkan (mempresentasikan) tupai sebagai subyeknya.

Bagaimana kita tahu bahwa bekas kelapa berlobang di cengkir itu adalah akibat gigitan tajam taring-taring Tupai. Yang lebih celaka lagi, orang-orang yang belum tahu tupai terutama anak-anak kota yang datang ke Pameran itu bertanya-tanya seperti apa sih bentuknya Tupai itu? Saya kira bukan karena Gigih membenci sosok Tupai yang bajingan, perusak kehidupan dan koruptor, kemudian ia merasa tidak perlu menampilkan secara visual? Atau adanya kekhawatiran, jangan-jangan apabila sosok Tupai ditampilkan, publik yang hadir akan protes dengan mengatakan, “Masak iya Tupai begitu lucu dan manisnya kok disamakan dengan para koruptor? Oooh Kasihan Tupai itu!” Gloodag……!”

“Ya, itulah karya seni, sah-sah saja.”

Dari uraian diatas memberikan kepada kita bahwa banyak perupa merasa kesulitan dihadapkan pada persoalan konseptualisasi dan visualisasi. Dengan cara mengerti tentang tiga hal, yaitu presentasi (kehadiran), representasi (keterwakilan), dan simbolisasi (perlambangan),[11]  seperti memaknai lambang Radyo laksono dari Karaton Surakarta,  kesulitan-kesulitan dalam eksploitasi obyek akan dapat terbantu.

Sebaliknya dalam realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak seniman yang minim pengetahuan tentang konseptualisasi, tetapi karya visualnya mampu menembus harga pasar milyaran rupiah, sedangkan yang paham betul tentang konsepsi belum tentu karyanya bisa terjual. Untuk persoalan tersebut, tentu di bagian lain saya akan berbicara tentang seni, pasar dan politik kebudayaan.

The Meditation

Dari apa yang saya lihat dalam Biennalle X di Yogyakarta, performance art Gigih menunjukkan gagasan yang orisinal, mengangkat kelapa sebagai faktor penggugah gagasan (sebagai tanda), sebagai metafor. Jadi, kelapa sisa bajing atau cengkir itulah sebenarnya subyek yang ingin ditampilkan oleh Gigih Wiyono, sebagai hasil perbuatan Tupai. Hal ini dibuktikan dengan visualisasi artitistiknya, Gigih mengangkut ratusan kelapa yang dikemas dalam tampilan instalasi artistic.

Berbeda dengan pameran visual-artnya, di sini Gigih kurang mesu budi (meditation) untuk mendapatkan harta karun. Barangkali karena ia sudah pesimis dan negatif terhadap Tupai dan ingin sekali menghukum Tupai sebagai Koruptor, sehingga nafsu kemarahan dan emosi yang meledak-ledak itulah yang mungkin menghalang-halanginya  untuk berkarya lebih intens.

Meditasi, seperti Yoga,  dibutuhkan untuk menghadirkan gagasan yang tersembunyi atau gagasan baru yang lebih segar. Meditasi adalah proses “pematungan diri” (seperti tampak dalam gambar), yang dibutuhkan dalam proses penciptaan sebagai wahana mesu budi, menguji kemampuan intelektual sekaligus kemampun pembatinan untuk sampai kepada makna hakiki.

Bagaimana praktek meditasi, setiap orang biasanya punya caranya sendiri-sendiri berdasarkan keyakinan yang dimilikinya. Apabila seniman belum punya pengalaman sebaiknya dapat meminta bimbingan pada orang yang telah menguasai teknik meditasi secara baik. Memang persoalannya bukan bagaimana meditasinya, tetapi mengapa dengan meditasi itu. Apakah akan menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan atau menemukan gagasan-gagasan baru.

Meditasi atau permenungan tidak saja dilakukan sebelum, dalam proses dan setelah penciptaan tetapi seorang kreator harus memberikan jugdment (pengabsahan) terhadap karyanya secara menyeluruh. Meskipun sebuah karya tidak pernah selesai dalam arti yang sesungguhnya, seniman tidak bisa terus saja menambah atau mengurangi karyanya. Oleh sebab itu, perlu jugdment yang sifatnya bisa sementara, tetapi telah mengikat bagi pihak lain. Jugdment dibutuhkan karena ini sebuah keputusan yang paling menentukan dalam proses penciptaan.

Art for Public

Dalam beberapa dissertasi yang saya baca, secara akademik promovendus diwajibkan untuk menjelaskan tujuan, manfaat dan implikasi hasil karya ilmiahnya. Di sinilah, seorang seniman berhadapan dengan publik sebagai ruang pamer atas karya seninya. Ketika Gigih memberi pertanyaan kepada saya melalui suratnya, “sejauhmana karya seni itu mampu mempengaruhi masyarakat?” saya selalu bertanya balik kepada seniman sendiri, Mengapa ini perlu dan mengapa itu ditinggalkan, mengapa memilih subyek yang ini dan subyek yang itu. Mengapa memilih trend tematik pasar daripada memilih trend idealistik. Semua ini menunjukkan bahwa semua visi dan misi memproduk karya seni tujuannya ada pada Sang Kreatornya.

Saya sebagai publik melihat secara sederhana. Bahwa karya seni itu sesuatu yang netral. Seni menjadi laku, seni menjadi tinggi nilainya, seni menjadi termasyhur, seni menjadi terkutuk, semuanya sangat tergantung dari kekuasaan, baik pasar, kurator, akademisi, kolektor dan kolekdol. Saya sebagai masyarakat awam manut saja dengan pendapat para pakar di bidangnya.

Tetapi ijinkanlah saya melihat seni sebagai bentuk lain dari revolusi. Seni mempunyai kemampuan revolusioner melalui revolusi halus. Seni mampu menyihir, mempersuasi dan menggaet duit orang kaya atau gallery juga pejabat tinggi,  pastilah ada kekuatan lain yang ada dibalik itu selain kekuatan uang. Kekuatan itulah yang saya sebut sebagai kuasa seni yang mampu menggerakkan revolusi. Monalisa mampu menggerakkan orang seluruh dunia untuk datang di Paris. Lukisan itu kecil, tidak boleh dipotret dengan blitz, dilapisi kaca berlapis-lapis, dan tidak pernah sepi dari penonton. Setiap detik penuh sesak hanya sekedar intin melihat dari dekat si Monalisa. Hanya sebuah lukisan.

Memang seni tidak pernah membangun revolusi sosial dan politik yang sifatnya sebagai revolusi kasar. Seni drama mampu membuat Roma jatuh karena kegandrungan Sang Raja dengan kesenian. Yang membedakan keduanya adalah perbedaan dalam kecepatan mengubah masyarakat, yang revolusi keras lebih cepat, instan dan bersifat massive sedangkan efek seni membutuhkan waktu panjang, efeknya lamban dan tidak massive. Hal ini disebabkan kekuatan seni juga sangat tergantung dari kekuasaan. Apakah kekuasaan yang melibatkan pengambilan keputusan politik dan pengambilan kebijakan pasar atau apresisasi kekuasaan sipil.

Oleh sebab itu, sebagai perupa, seperti halnya Gigih Wiyono dan Edi Sunaryo, mungkin tidaklah terlalu penting dengan serta merta memperhitungkan apakah karya seni membawa pengaruh atau tidak terhadap masyarakat.[12] Namun pertimbangan tersebut dibutuhkan ketika Kreator sampai pada tahap jugdment. Dalam tahap ini Kreator/eksplorer/seniman dapat mengajukan pertanyaan atas pentingnya karya seni membawa kontribusi dan pengaruh bagi masyarakat. Hal ini bukan untuk gerakan nyata di masyarakat, tetapi sebagai pengujian atau check -rechek terhadap konsistensi antara konsepsi dan eksekusi.

Menurut saya tugas seniman selesai ketika karya telah dihadirkan. Tugas lain diserahkan kepada Kritikus, Kurator, Kolektor, Akademisi dan masyarakat. Meskipun dalam pidato yang berapi-api Sang Kreator mengatakan bahwa korupsi harus dihentikan dan diberantas, tetapi biarlah karya itu berbicara sendiri kepada publiknya. Jangan pernah berpikiran yang terlalu muluk-muluk, bahwa karya seni akan mengubah dunia. Sudah sangat baik Seniman mau menyuarakan kepedulian, keprihatinan terhadap persoalan yang mengancam kehidupan manusia, pastilah semua akan dicatat oleh sejarah sebagai suatu perbuatan terpuji yang tidak banyak dilakukan orang.

Kesimpulan

Dari uraian dimuka kiranya dapat saya simpulkan bahwa symbolic trouble dapat dihindari selama Kreator bersedia terbuka terhadap kritik orang lain. Kesadaran diri terhadap kritik dan pencerahan selama eksplorasi membimbing Kreator menghindari jebakan-jebakan atau iming-iming yang tanpa kesadaran dan cahaya itu, bisa menjebloskan Kreator pada jurang kesesatan.

Tinjauan di atas hanya sebagian kecil rambu-rambu yang mungkin bisa digunakan agar Kreator tidak terjebak dalam penalaran palsu. Berbagai rambu-rambu tersebut pada hakekatnya adalah bersumber dari bahasa sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya Nenek moyang, yang akhirnya kita sendiri juga menurunkan pewarisan nilai-nilai kepada generasi selanjutnya.

Bahasa sebagai sarana sharing of symbol dengan orang lain menjadi penting karena pertukaran gagasan melahirkan penemuan-penemuan penting, kemajuan ilmu pengetahuan, agama dan kebudayaan pada umumnya. Bahasa sebagai rangkaian simbol-simbol, termasuk bahasa seni visual, selain alat berkomunikasi juga sebagai kehadiran gagasan Kreator (presentatum), mewakili suatu idea Kreator tentang sesuatu (representatum), serta lambang-lambang (symbolicum) yang menyuarakan perasaan dan pembatinan Kreator untuk dipertukarkan dan dibagikan dengan orang lain.

Dengan kata lain, pernyataan verbal dan non-verbal atas gagasan Kreator (dalam filsafat logika disebut term), baik berupa kata maupun visual, yang disusun dari temuan eksplorasi membutuhkan pemahaman tentang sign (tanda), referent (rujukan), concept (penyebutan umum terhadap obyek) dan meaning (makna).

Penjelasan di atas juga mengingatkan kepada pembaca bahwa selama eksplorasi tersebut Kreator akan berhadapan dengan berbagai subyek eksplorasi yang mempunyai sifat kongkrit, yaitu obyek yang bisa kita lihat dan kita dengar, pohon, candi, suara angin, suara burung, cahaya. Kedua, subyek eksplorasi yang bersifat abstrak, yang mana suatu obyek tersebut hanya dapat dimengerti setelah melalui proses abstraksi, sepeti kemegahan, keganjilan, kengerian, dan ketiga subyek eksplorasi yang bersifat absent, yaitu suatu obyek yang dapat kita lihat secara inderawi tetapi untuk mengerti membutuhkan pengetahuan khusus, seperti mitos, kebiasaan, kepercayaan, selain karena obyek tersebut tidak memiliki rujukan juga bersifat imajinatif, fiktif seperti Dewi Nawangwulan, Bethara Wisnu, Eyang Bodronoyo, dalam mitologi Yunani seperti Centour dan dalam mitologi Mesir seperti Spink dll.

Demikian tinjauan ini semoga bermanfaat.

Sukoharjo, 24 Januari 2010/ Agustus 2011

Ndalem Poerwahadiningratan

The House of Cross- Cultural Studies


[1]Saya adalah orang  yang  pertama kali memberi tinjauan terhadap karya –karya Gigih Wiyono pada pameran tunggal perdana dan beberapa pameran lainnya yang saya sertakan juga dalam buku ini sebagai pembanding.

[2]Metaforik adalah  kata yang artinya berubah tidak seperti  yang biasa digunakan atau mengindikasikan seusatu dari yang berbeda dengan makna aslinya. Contohnya, Saya mau bikin dia makan kata-katanya sendiri karena kepala batu. Makan biasanya berarti menyantap sesuatu yang biasa dimakan seperti nasi, roti, buah, dsb. Tetapi makan kata disebut metaforik, demikian juga kata kepala Batu menunjuk pada orang yang keras kepala.

[3]Arthur Asa Berger, Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer,  terj. M. Dwi Marianto dan Sunarto,  dari judul asli “Sign and Contemporary Culture” (1984), diterbitkan Tiara Wacana, Yogyakarta, 2000, p.49

[4]Ibid, p. 50

[5]Ibid, p. 165

[6]Idealnya begitu, tetapi berhubung sudah tidak banyak lagi kelapa “bajang” maka tupai juga memakan kelapa yang kondisinya baik.

[7]Terkecuali ada satu dua orang yang memanfaatkan kelapa bajang sebagai obat atau sesaji.

[8]Dalam filsafa logika, fallacy sering diterjemahkan sebagai “kesesatan dalam berpikir” didefinisikan sebagai proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah dan menyesatkan, suatu gejala berpikir yang salah yang disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya. Diambil dari E Sumaryono, Dasar-dasar Logika, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1999,  p.9

[9]Untuk Gigih Wiyono tulisan ini dihadirkan sebagai kelanjutan dan pengembangan kajian kritis terhadap karya-karya pameran bertajuk “Eksistensi Tupai.” Tulisan ini saya buat atas permintaan banyak pihak, yang ditujukan bagi mahasiswa yang sedang menempuh jalur penciptaan seni, dan bukan untuk tujuan yang selain dari itu.

[10]Diakui atau tidak, bahwa metodologi juga dilakukan oleh para seniman otodidak. Hanya saja, dalam dunia akademik seniman dibatasi dengan metodologi baku yang mendasarkan diri pada falsafah ilmu pengetahuan sendiri. Kebebasan akademik mempunyai pengertian yang sedikit agak berbeda dengan kebebasan individual. Kebebasan yang dianut didasarkan atas nilai dan norma yang kita ikuti sebagai kaidah kehidupan kita sehari-hari.

[11]Ketiga istilah tersebut mempunyai kaitan erat makna, karena masing-masing menjadi atau memperkuat bagian dari yang lain.   Dengan penerjemahan yang saya lakukan tersebut, berharap lebih mudah dimengerti untuk menjelaskan tentang Tanda-tanda yang dikonstruksi oleh manusia dalam peradabannya. Apakah Tanda itu sebagai bentuk kehadiran atau eksistensi sebuah kebudayaan, atau mewakili suatu kebudayaan atau dengan bentuknya melambangkan sesuatu.

[12]Dalam etape tertentu bagaimanapun juga seorang seniman sah saja mempertimbangkan karya seninya laku di pasar atau tidak.  Pertimbangan komersial bisa juga menjadi salah satu faktor dalam berkarya seni, dengan catatan secara berhati-hati seniman juga perlu memperhitungkan idealisme (misalnya berpengaruhnya karya seni  terhadap gaya hidup dan perubahan sosial). Dominasi pasar yang tumbuh seperti sekarang ini menandai era “booming” yang berkahnya positif bagi seniman karena karya seni mampu menghidupi seniman untuk hidup secara berkualitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s