By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

1 Syuro for Javanesse

“Lengkaplah Sudah Jadi Orang Jawa”

by:  Andrik Purwasito

Malem 1 Suro sangat berarti bagi orang Jawa, karena tidak saja memiliki dimensi fisik, perubahan tahun tetapi juga mempunyai dimensi spiritual. Orang Jawa yakin bahwa perubahan tahun Jawa bertepatan dengan tahun Hijriyah, menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmis. Orang-orang Jawa menjalanku laku ritual malem 1 Suro dengan berbagai maksud, yang utama adalah perubahan hidup yang lebih baik di tahun akan datang yang akan dijalaninya.

Lelakoning kanthi laku, yang dimaksud adalah laku spiritual. Setiap anggota masyarakat, anggota komunitas tertentu, atau institusi menjalankan tirakat dengan berbagai cara. Ada yang melakukan ritual selamatan  dengan menyembelih korban binatang, beberapa orang mengumpulkan sejumlah dana untuk selamatan bersama, ada yang melakukan tapa brata, laku menyepi, iktikaf di masjid, dll.

Sedangkan di Karaton Surakarta atau di Mangkunegaran melakukan kirab dan jamas pusaka. Masyarakat berjalan mengelilingi keraton dengan harapan menyempurnakan laku sebagai orang Jawa. Tempat-tempat sakral menjadi ramai dikunjungi, terutama Karaton Solo dan Mangkunegaran, pantai Parangtritis, Kahyangan, Gunung Lawu, dan tempat para Dahyang bertempat tinggal.. Mereka ada yang dilakukan di rumah, di sanggar ada juga yang masjid dan di langgar, bahkan di jalanan.

Makna 1 Syura

1 Syura adalah awal tahun Muharam, tahun Islam yang telah ditranskulturisasi dengan tradisi ritual Jawa kuno. Karaton Mataram menerima dan mengembangkan ide transkulturasi terutama sejak Sultan Agung dari Karaton Yogyakarta. 1 Syuro menjadi bagian penting dari sebuah siklus kehidupan manusia. Ia menandai bergantinya Naga Dina dan Naga Tahun, yakni berubahnya sifat dan karakter kosmis, berserta dunia Gaib, yang secara langsung diyakini mempengaruhi kehidupan manusia dibumi.

Orang Jawa melengkapi ritual kehidupan itu sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Maha Tinitah, yang diyakini sebagai Dzat Suci yang memberi hidup dan menghidupi. Seluruh gerakan bersama, manusia dan alam, roh-roh dan kehidupan gaib, semuanya berasal dari kekuasaanNya. Oleh sebab itu, pergantian tahun adalah terjadinya pergantian kosmis, yang disebut sebagai siklus cakramanggilingan. Yaitu, kehidupan diasumsikan berputar silih berganti seperti berputarnya roda. Ada saat jaman keemasan (age d’or), ada saat jaman mengalami masa kegelapan, kalabendu (age de sombre). Di jaman yang bergulir manusia harus selalu eling dan waspada.

Apa wujud dari perilaku eling dan waspada salah satunya dengan cara menjalankan ritual malem 1 Syura. Saat inilah datangnya malam tahun baru, orang harus melakukan mesu diri (melakukan laku spiritual) dengan berkosentrasi pada penguasaan diri (mawas diri) selama semalam suntuk.

Dalam situasi yang khusyuk tersebut, diri orang Jawa melebur ke dalam dunia yang tengah berubah. Memanjatkan kepada Yang Maha Agung doa dan permohonan serta rasa syukur terhadap berkah dan innyayah yang selama ini diterimanya. Dalam kesempatan ini pulalah, seseorang membaca perubahan yang akan terjadi di tahun mendatang. Petunjuk akan apa yang terjadi pada masa depan sangat penting bagi orang Jawa, terutama untuk menyikapi Naga Taun dan mengantisipasi Bencana dan menyiapkan Berkah yang mungkin bisa diberikan kepadanya.

Bagi Raja sebagai rasa tanggung jawab kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, yang telah memberikan kuasa kepadanya, maka Raja melakukan kirab menjenguk setiap sudut rumah-rumah warga, dengan harapan tuah dan berkahnya dapat memasuki setiap pintu rumah-rumah. Raja membagikan kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian batin dan kekuatan hidup dengan cara gaib.

Apabila tidak semua pintu rumah warga dapat dilalui, maka orang-orang yang jauh dari jalur kirab berdatangan di pinggir-pinggir jalan yang dilalui dengan harapan memperoleh tuah dan berkah yang sama. Raja beserta dengan pusaka-pusaka, yang belakangan ditambahkan dengan binatang Kebo Bule sebagai cucuk laku, adalah manifestasi yang sama untuk mempromosikan dan penjelasan secara simbolik antara Raja dengan Masyarakatnya.

Inti penjelasan dan promosi itu adalah upaya memperoleh dukungan dan legitimasi secara spiritual bahwa Raja adalah penguasa tunggal, sebagai wakil Tuhan di bumi. Tugas itu dijalankan agar masyarakat tetap mempercayai Karaton sebagai Pusat Dunia, yang menjamin terwujudnya masyarakat yang  aman, adil, makmur, dan sejahtera (gemah ripah lohjinawi kerta tur raharjo).

“Rukun Jawa”

Lengkaplah menjadi orang Jawa apabila seluruh “rukun Jawa” sudah dijalankan. Sebagaimana rukun Islam berjumlah lima, dan rukun kelima adalah haji dengan cara salah satunya adalah melakukan thowab di Ka’bah. Rukun Jawa, penulis sarikan menjadi lima rukun. Artinya, orang Jawa lengkap menjadi Jawa apabila telah menjalankan laku sebagai berikut: Rukun, Hormat, Halus, Asih dan Laku.

Rukun yang terakhir itulah yang dijalankan oleh orang Jawa, yaitu berjalan mengelilingi Karaton tujuh kali. Setiap pojok Karaton mengucapkan puja dan puji syukur, disertai dengan permohonan-permohonan. Maka malem 1 Syura adalah salah satu wujud hubungan antara Manusia dengan Khaliknya, dalam upaya mencari keseimbangan dan keserasian hidup dengan penuh harap di tahun mendatang memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Rukun Kelima

Malem 1 Syura bagi orang Jawa adalah malam teropong kehidupan. Seorang teman bersamadi tepat jam 00 dengan khusyuk sekali. Ia menjalani laku, “rukun kelima”. Dalam laku tersebut, ia menceritakan bahwa mata batinnya melihat perubahan kosmis Naga Taun seperti gelombang mengamuk. Ia berdiam diri lalu pergi menjalankan tapa bisu  sambil berjalan dari rumah menuju Karaton. Lalu, dijalanilah tujuh kali putaran mengelilingi Karaton. “Lengkaplah sudah jadi orang Jawa” katanya. Ia menceritakan kepada saya bahwa mata batinnya sekali lagi tidak melihat sinar yang cerah dalam kosmis yang tengah berubah. Inilah yang disebut tanda-tanda kehidupan disharmoni di tahun 2008 yang perlu mendapatkan pencerahan.

Apa yang harus dilakukan sebagai orang Jawa menghadapi situasi yang tidak menentu dan agar supaya memperoleh pencerahan? Pertama, adalah penguasaan diri (mawas diri), yakni mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri apa yang sudah dilakukan dan apa saja yang ingin dilakukan. Kedua, membaca tanda-tanda zaman, yakni mencermati setiap perubahan yang terjadi disekitar kita sehingga secara dini mampu mengantisipasi dan memutuskan tindakan apa yang terbaik untuk selamat dari bencana. Ketiga, eling dan waspada, dengan cara selalu ingat kepada Yang Maha Kuasa, dan selalu waspada terhadap tindakan manusia dan alam yang bersangkut paut dengan kehidupan kita.

Ngalap Berkah

Ritual malam 1 Syura sebagai manifestasi dari rasa syukur orang-orang Jawa dan  malam penuh harapan agar kehidupan di setahun ke depan lebih baik, kirab malam  1 syura adalah medan gaib yang dipercaya mampu mendatangkan berkah. Apa saja yang diperoleh dari Karaton, baik berupa percikan air dari jamasan pusaka, kotoran kerbau bule yang menjadi cucuk lampah, atau apa saja lambang-lambang yang diterima setiap orang yang datang ngalap berkah malam itu, semua pribadi memperolehnya dengan cara yang unik.

Setiap orang menerima lambang-lambang khusus, yang memberi tanda berkah yang khusus pula bagi setiap orang. Kebo Bule adalah simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa. Kerbau juga mempunyai nilai tinggi dalam sebuah ritual, tidak saja di Karaton Surakarta, tetapi juga di Sulawesi, Kalimantan, sehingga secara material ia menjadi simbol kejayaan dan kesuburan. Sebuah cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Raja beserta rakyatnya. Kyai Slamet adalah sebuah visi Raja. Secara harfiah, visi Karaton Surakarta adalah ingin mewujudkan keselamatan dunia yang sempurna. (2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s