By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

DUNIA JAWA

DUNIA IMAJINER JAWA

Candi Kalasan, Sang Dewi Tara

Oleh : Andrik Purwasito

Hampir semua peneliti Eropa sepakat bahwa pada zaman Hindu-Budha, bangsa Indonesia mengalami apa yang disebut sebagai proses Indianisasi. Kata Indianisasi terkesan menyederhanakan masalah dan mengesampingkan eksistensi dan kekuatan budaya lokal (local genius). Memang tak seoranpun menolak bahwa ada pengaruh India, tetapi pengaruh itu bukanlah sebagai proses Indianisasi, melainkan sebaliknya terjadinya proses Indonesiniasi. Yakni proses serapan budaya lokal terhadap budaya luar yang menonjol (mainstream) pada zamannya.

Semua orang tahu, bahwa budaya dan agama India menjadi mainstream (arus budaya dominan) pada paruh pertama masehi sampai abad ke enam belas. India memainkan peran yang sangat besar dalam pembudayaan dunia. Tidak saja berpengaruh terhadap Asia tetapi juga sampai ke Barat, Yunani dan semenanjung jasirah Arab. Tidak mengherankan jika kaum cendekiawan Indonesia pada zamannya juga memperdalam ilmu sampai ke India.

Sebelum bangsa Eropa datang, pengaruh Islam juga amat kuat merasuk ke dalam balung-sungsum bangsa Indonesia. Boleh dikatakan bahwa sebagai proses Indonesianisasi tahap kedua. Ketika bangsa Eropa memasuki Asia, India tenggelam, Islam terus bertahan dan melakukan kontra kultural atas kedatangan orang-orang Eropa. Sementara pusat-pusat kebudayaannya, India dan Timur Tengah telah jatuh ke tangan bangsa Eropa.

Demikian pula para cendekiawan Indonesia, tidak lagi mencari ilmu di Nalanda, dan masih terus berlanjut pergi ke Mesir dan Arab Saudi, tetapi ilmu modern mereka tekuni di Leiden, Utrecht, Amsterdam, Belanda atau ke Paris, Perancis. Mainstream budaya telah berubah, dominasi budaya Barat mulai merajalela di seluruh dunia. Era kolonialisme dan imperealisme Barat diwujudkan. Mulailah pengaruh Barat membanjiri Indonesia dan proses Indonesianisasi tahap ketiga dimulai.

Meskipun terjadi tiga tahap Indonesianisasi dan sekarang tahap globalisasi, pengaruh India memang tampak dominan, khususnya pada orang-orang Jawa. Mengapa demikian?

*

Kehidupan orang-orang Jawa adalah dunia pewayangan. Dunia yang merupakan representasi dari dunia  makro­kosmos. Semua orang di mata manusia Jawa tidak lebih dari tokoh-tokoh dalam wayang, lengkap dengan perilaku dan mentalitasnya.. Semua tempat selalu diasosiasikan ke dalam alam wayang. Tidak mengherankan setiap puncak gunung dibayangkan sebagai Junggring Saloka, gunung diberi nama Indrakila, gunung Semeru, desa dinamakan desa Darawati, goa disebut goa Trajutrisna dll.

Dunia wayang dibangun demikian indah dan ideal. Setiap orang Jawa bebas mengidentifikasikan dirinya dengan siapapun tokoh pewayangan. Setiap orang merdeka membangun kreativitas, idealisasi dari perilaku sebagaimana perilaku tokoh dalam cerita-cerita wayang yang sudah dibakukan. Idealisasi, perubahan nama, dilepaskan dari espase budaya India sebagai  babon wayang, yaitu Mahabharata dan Ramayana.

Dunia wayang itulah espase kultural manusia Jawa. India sendiri bahkan dilepaskan dari espase kultural itu. Espase kultural Jawa dibayangkan membentang dari Samodra Madagaskar di tepi Timur benua Afrika sampai kepulauan Samodra Pasifik, dari pulau Jawa sampai ke Filipina, Taiwan, dan Kamboja. Jadi, espase kultural Jawa dimanifestasikan bukan sebagai pulau Jawa tetapi wilayah budaya, yang berarti juga wilayah pengaruh yang dapat melampaui batas-batas geografis sebenarnya.

Oleh sebab itu, espase kultural Jawa adalah dunia imajiner yang diciptakan dari keyakinan budayanya. Sehingga, manusia Jawa secara rasional tidak mengakui India sebagai pusat dan Jawa sebagai periperi. Tetapi  India, sebagaima ditulis dalam Negarakertagama, ditempatkan pada posisi sebagai negara tetangga dan sahabat yang sederajat.

*

Hal ini dapat dimengerti karena dalam konsep manusia Jawa, espase geografis tak dipentingkan. Pusat peradaban bagi manusia Jawa terletak pada setiap komunitas Jawa itu sendiri. Sehingga dalam kehidupan manusia Jawa espase kultural dan espase pengaruh yang utama. Sriwijaya, Songosasi dan Majapahit berkuasa atas dasar dunia imajiner itu. Bumi yang diinjak dan langit yang dijunjung adalah dunia milik yang di Atas (Illahi). Manusia saderma ngenggoni (mendiami) dan ngopeni (memelihara).

Manusia Jawa semakin  percaya diri bahwa dunianya itu  adalah dunia yang mereka bangun dari kesadaran dan kekuatan sendiri. Yakni kekuatan untuk menyerap budaya lain dari manapun datangnya. Sedangkan di luar espase kultural Jawa dikenal dengan “wong sabrang”, yakni mereka yang secara kultural dudu Jawa (bukan orang Jawa) dan durung Jawa (belum Jawa).

Dudu Jawa bukanlah konsep yang menunjuk “orang dari luar pulau Jawa”, atau seberang lautan, sebagaimana yang banyak ditulis para ahli. Tetapi menunjuk mereka yang memang tidak dibesarkan dalam budaya Jawa dan belum menjadi jawa (durung Jawa). Sehingga, orang dari manapun asalnya, dapat diterima menjadi manusia Jawa apabila telah mengenal, memahami dan menghayati budaya Jawa.

Konsep ini juga berlaku bagi orang-orang Jawa sendiri. Meskipun mereka lahir, dibesarkan dan tinggal di wilayah Jawa, tetapi selama durung Jawa, belum diakui sebagai manusia Jawa. Sebab, dasar espase kultural itu memang bukan berlandaskan lingkungan fisik geografis.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa manusia Jawa pada dasarnya adalah egaliter: tidak membedakan asal-usul, warna kulit, ras, suku dan agama. Bagaimana menjadi Jawa?

Menjadi Jawa itu tercakup dalam ungkapan ngerti empan-papan. Yakni memahami kodrat manusia sebagai makluk individu dan sebagai makluk sosial. Yakni manusia yang mampu menempatkan diri dalam berbagai tempat dan situasi. Mengutamakan hubungan harmonis, yang bersumber pada semangat kebersamaan (kolektif). Yaitu dapat berlaku rukun dan ngemong (kekeluargaan). Menjadi Jawa berarti pula manusia yang andap asor, yaitu manusia yang mampu mengerti dan menghormati perasaan  dan hak-hak asasi orang lain.

Ngerti empan-papan juga berarti manusia yang mampu mendudukan persoalan secara proporsional, tidak merasa besar (adigang,adigung adiguna), tidak mencari menangnya sendiri dan mampu berkomunikasi dengan bahasa jiwa dan bahasa pikir. Artinya, manusia yang mampu mengemban keadilan, berjiwa arif dan bijaksana, pemurah, suka menolong, jujur, setia dan mampu menjadi suri tauladan di lingkungannya (dll).

 


Abonnez-vous à ces articles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s