By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Radikalisme di Kampus


Mempertimbangkan Metoda Menuju Sorga dengan Redesign Kurikulum

Andrik Purwasito

1. Pengantar

Radikalisme dan fundamentalisme tidak saja dalam Islam, tetapi juga terdapat dalam semua agama: Kristen, Katolik, Hindu, Budha, juga terdapat dalam kelompok/sekte aliran kepercayaan, kelompok atau organisasi dalam masyarakat. Khusus, radikalisme adalah gagasan ideal  tentang ajaran yang ingin kembali kepada akarnya (radix). Radikalisme adalah gerakan yang diwujudkan oleh para penggagas dan pengikutnya melawan status-quo. Radikalisme tersebut melakukan pemurnian/kembali ke akar secara konservatif  (tidak dengan kekerasan) dan sebagian yang lain secara ekstreem (dengan kekerasan). Di bawah ini saya akan sedikit menguraikan tentang Pengaruh yang melahirkan Radikalisme Ekstreem.

2. Faktor Media Baru

Dua faktor pengaruh lahirnya radikalisme ajaran keagamaan di kalangan mahasiswa. Pertama, faktor pengaruh eksternal, yakni semakin mudahnya akses informasi global melalui media baru, yaitu internet. Informasi tentang berbagai hal, tidak saja tentang ajaran agama, tetapi juga ideologi, ekonomi, politik, budaya, dll. yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan ciri-khas mudah diakses.

Berbagai informasi tersebut menawarkan gagasan baru, termasuk ideologi dan ajaran keagamaan untuk kembali kepada akarnya sesuai dengan visi dan missinya masing-masing. Sementara itu, siapa sumber-sumber informasi tersebut, mustahil dapat diketahui secara baik, karena saking melimpah ruahnya sumber informasi, baik secara individu maupun kelompok. Kekuatan dan kemampuan setiap orang menjadi sumber berita adalah dukungan yang kuat meluasnya radikalisme.

Mahasiswa yang tergolong individu terdidik, cerdas dan penuh obsesi kebaruan, lebih banyak mempunyai kesempatan untuk melakukan browsing dan selalu ingin mencoba apa saja yang dianggapnya cocok dengan nurani dan intelektualitasnya. Termasuk ingin mengetahui lebih banyak tentang pemahaman keagamaan dan kepercayaan yang selama ini diyakininya.

Biasanya ketertarikan terhadap ajaran keagamaan tersebut merupakan trend bagi generasi muda, karena ingin mengetahui lebih banyak tentang bagaimana kehidupan setelah dunia ini.  Oleh sebab itu, semua ajaran tentang purifikasi ajaran agama, yakni pemurnian terhadap keyakinan untuk kembali ke –akarnya, tersebut menjadi pusat perhatian yang menarik. Terutama adalah pengetahuan tentang sorga dan neraka.

Iming-iming (tawaran) tentang jalan menuju kepada keabadian (sorga) dan menghindari kesengsaraan yang abadi (di neraka) selalu menarik perhatian kalangan mahasiswa. Dengan metoda rasionalisasi, seperti ungkapan “Hidup di dunia hanya sekedar mampir ngombe” dan “bahwa kehidupan dan kebahagiaan yang abadi adalah sorga.” Harta benda, derajat, pangkat dan pemilikan dunia lainnya hanyalah sekedar titipan yang tidak akan pernah di bawa mati.” Maka berjihad selama di dunia di jalan Allah akan menerima imbalan yang setimpal yaitu sorga abadi.

Ungkapan tersebut sangat rasional dan merupakan daya pikat (sihir) kuat, yang digunakan oleh Gerakan Radikal Ekstreem untuk merekrut pengikutnya. Mereka mencuci otak setiap pengikutnya dengan meyakinkan bahwa apa yang dilakukan adalah ajaran yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan di luar kelompoknya adalah kaum yang sesat dan kafir.

Agaknya, metoda untuk meraih pengikut gerakan radikal adalah menjelaskan secara ilmiah (rasional) tentang ajaran yang benar sesuai akarnya. Dengan arah mencapai sorga abadi, agaknya dijadikan problematika sentral dalam pengembangan radikalisme. Di satu pihak,  radikalisme ekstrem mengembangkan ideologi  jihad radikal (dengan kekerasan), tidak patuh terhadap hukum dan pengabaian terhadap nilai dan norma budaya masyarakat. Di pihak lain, mengembangkan ideologi jihad secara damai, yakni mementingkan kedamaian dan ketentraman dalam masyarakat, melawan kebodohan dan kemiskinan. Sementara radikalisme ekstrem menggunakan metoda kekacauan, teror dan tindak kekerasan lainnya.

Metoda-metoda “jalan menuju sorga” tersebut, dengan berbagai “kemasan,” memang  sangat banyak dirilis di Dunia Maya, dan sangat mudah (real time) di akses oleh setiap orang, termasuk mahasiswa yang sudah sangat minded dengan komputer. Semakin besar content informasi radikal ekstrem tersedia di Dunia Maya, sementara content informasi radikal konservativ kecil, peluang bagi masyarakat ketika meng “klick” mesin pencari (Google), yang muncul adalah content informasi radikal ekstrem tersebut.

  1. Faktor Tokoh Panutan

Pada zamannya, Wali Songo adalah panutan masyarakat untuk mempratekkan ajaran agama secara benar. Otoritas Wali Songo menduduki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, seperti pada zaman Kuno ketika para Brahmana dan Biksu memainkan peranan sebagai panutan masyarakat. Kiblat kepemimpinan panutan tersebut kini telah luntur.

Apa yang terjadi adalah masyarakat selalu mencari tokoh panutan lain. Ketika tokoh panutan tidak ada, manusia selalu mencari ideal type untuk dirujuk sebagai penunjuk jalan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Tokoh-tokoh wayang semakin kehilangan tempat di masyarakat dan karenanya juga sangat jarang anak-anak muda, mahasiswa akan merujuk pada tokoh-tokoh tersebut.

Faktor pengaruh internal ini juga menjadi faktor merebaknya radikalisme. Hal ini juga didorong oleh kekecewaan dan apatisme yang berkembang karena keadaan yang kurang menggembirakan, seperti situasi politik, ekonomi dan sosial-budaya. Ketidakpuasan tersebut sangat direspon di kalangan mahasiswa dan selalu saja kampus tidak memberi jalan keluar yang progresif.  Kampus lebih banyak berhitung soal prestise sebagai World Class University, kampus hanya menjadi mercu-cuar keberhasilan dalam bidang akademik. Kampus tidak lagi memberikan pendidikan budaya, ethos kebersamaan, persaudaraan dan kreativitas sosial tetapi lebih banyak berbicara mengenai profit dan “ideologi materialisme.”

Hal ini merupakan lahan yang subur bagi gerakan pemurnian, kembali ke akarnya. Kembali kepada harkat kemanusiaan. Gerakan radikal berkembang subur dan karena ini mungkin dianggap oleh mahasiswa sebagai anti-tesa terhadap “ideologi materialisme”  yang dikembangkan di kampus. Namun, gerakan radikal ekstreem, yakni menggunakan cara-cara kejam untuk mencapai tujuannya belum separah yang kita bayangkan. Kejadian mahasiswa menyimpan bahan peledak di UMS Surakarta dan juga 5 mahasiswa UGM adalah salah satu bukti adanya masuknya gerakan radikal ekstrem ke kampus.

  1. Re-design Kurikulum

Sebagai solusi merebaknya radikalisme, baik bersifat konservatif dan ekstrem, perlunya Mendiknas me-redesign kurikulum. Sebagaimana saya sebutkan di atas bahwa kurikulum kita dominan untuk mencapai profit, baik secara sosial maupun ekonomis. Sehingga, perguruan tinggi tidak ubahnya Pabrik atau Industrialisasi Pendidikan yang arahnya mencetak anak didik menjadi “mesin industrialisasi global.” Keinginan terhadap mondialisasi, seperti sekolah RSBI, World Class University tidak lain adalah perwujudan menciptakan dunia pendidikan menjadi ajang atau kawah candradimukanya materialisme.

Redesign kurikulum memang bukan jaminan untuk memotong lahirnya radikalisasi di kalangan mahasiswa dan dosen. Tetapi design pendidikan yang seimbang, yakni antara pendidikan spiritualitas dan pendidikan intelektual seharusnya menjadi visi pendidikan kita. Selama ini kurikulum hanya berkutat masalah kompetensi tetapi tidak pernah berbicara tentang spiritual dan emotional quotien, serta cultural quotien. Pendidikan dengan kompetensi sangat baik untuk satu sisi, yakni meraih sesempurna mungkin aspek materialistiknya, tetapi tidak pada aspek spiritual.

Saya pernah mengajukan kurikulum berbasis lintas-budaya, sebagaimana Pidato Pengukuhan Guru Besar saya, dimana aspek pengembangan intelektual dalam waktu bersamaan perlu diberikan pemahaman tentang aspek pengembangan budaya, yaitu ajaran moral, nilai dan norma budaya serta kehidupan multikultural. Saya kira perlunya redesign kurikulum pendidikan agar peluang setiap anak didik untuk mengembangkan bakatnya, menanamkan sikap tolerasi, solidaritas sosial dan persaudaraan antar etnik, antar rasial dan antar bangsa dapat tumbuh berkembang.

Sekian semoga tulisan ini bermanfaat.

H. Andrik Purwasito, Guru Besar Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya, doktor Ilmu Sejarah dan Peradaban, Lulusan Paris, Pernah menjadi Panjatap Kodam IV Diponegoro, bidang Kesejahteraan Rakyat, pernah menjadi Direktur Eksekutif Forum Rektor Indonesia, Wilayah Eks Karesidenan Surakarta.

Comments are closed.