By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Taman Jurug Riwayatmu Kini


ZOO-EDUTAINMENT/by Andrik Purwasito on Tuesday, January 25, 2011 at 6:15pm

Gesang

Dalam perkembangan peradaban, kemajuan peradaban material suatu bangsa selalu mempertimbangkan beberapa karakter, seperti berkarakter romantik (klasik), epik (heroik) dan fiertik (kebanggaan). Di Kota Solo, Pemerintah Kota saya lihat juga mencoba melakukan “pembangunan” material kota dengan pendekatan ketiga karakter tersebut. Maka lahirlah karakter romantik, seperti Solo Past Solo Future, juga bersifat epik seperti  Solo Spirit of Java. Sedangkan yang bersifat fiertik seperti Solo kota Budaya, Solo City of Batik, Solo City of Charm,. Kesemuanya itu sering disebut sebagai strategi branding. Maksudnya, Solo mempunyai nilai jual kepada Dunia dengan ciri-khas tertentu, sebagai wujud dasar dari karakter kota. Dengan melihat branding tersebut, kita sepertinya diajak berpihak untuk melihat Solo sebagai kawasan budaya.Kontraproduktif

Branding mencerminkan content kota. Solo dipresentasikan sebagai simbol kecantikan kota yang menawan, yang bersumber dari semangat kejawen yang kenthal, sebagai pusat Batik Dunia, yang kotanya sama seperti suasana Solo di masa lampau. Namun, branding tetap menjadi branding. Memang tidak menjadi soal antara branding tidak selalu sama. Tetapi, branding yang jauh dari kenyataan membuat orang berpikir skeptis bahkan menjadi kontra-produktif.

Apabila kita melihat kenyataan, Kota Solo telah berubah menjadi kota metropolis, sehingga kita temukan antagonistik dalam pembangunan peradaban budaya material. Antagonistik sebagai anti-tesa dapat menjad sumber kemajuan yang luar biasa, namun perlu redefiisi dam reaktualisasi dalam branding membranding tersebut.

Sehingga pembrandingan yang muluk-muluk seperti di atas jangan sampai tidak lebih dari sekedar slogan kosong yang terpisah dengan realitas kebijakan pembangunan tersebut. Branding “Karanganyar sebagai Kota Jemani,” menjadi kontra produktif ketika Daun ajaib itu kini jatuh dari pasaran dan tidak lagi dipuji dan dicari orang.

Solo Kota Budaya

Penelitian saya tentang interaksi simbolik peradaban material di Solo menunjukkan, bahwa pembangunan fisik tata kota, seperti gedung dan pembangunan kawasan tidak didasarkan atas branding Solo spirit of Java. Solo tidak lagi memberi spirit terhadap Kejawaan, karena orang tidak lagi berpikir tentang Jawa Jiwa Jawi, tetapi lebih berpikir tentang partai politik, tentang kelompok, tentang agama, suku dan tentang asal-usul (KTP). Karaton sebagai sumber budaya makin kehilangan kekuatan (tidak nge-tuk lagi), karena memang jaman telah bergeser. Kraton hanya dilihat orang perorang, tetapi bukan dilihat sebagai institusi sosial yang mampu menjadi sumber peradaban tersebut.

Saya pernah meneliti empat kawasan di kawasan Solo yakni Gladak, Sriwedari, Manahan dan Solo Baru. Keempat kawasan tersebut sesungguhnya sudah mempunyai tata-kota yang dilandasi dengan semangat budaya.

Gladak sebagai kawasan yang terdapat Karaton Surakarta dan Benteng Vastenberg beserta Gedung Kuno lainnya, saya golongkan sebagai wajah kota, kawasan budaya yang sangat njawani. Dengan begitu, konsep pembangunan tata kotanya juga yang berhubungan erat dengan persoalan Solo sebagai Kota Budaya. Misalnya, dibandung Gallery, Gedung Pertunjukan, bukan pusat perbelanjaan. Kini kawasan “wajah kota” tersebut menjadi pusat ekonomi, dan lengkaplah sudah dengan kehadiran Galabo.

Bagaimana dengan Sriwedari yang berdekatan dengan Lapangan Olah Raga, dijadikan Taman kota yang sekaligus menjadi paru-paru kota. Sriwedari yang dulu menjadi wilayah Bon Rojo, dapat dikembalikan sebagai Taman dimana setiap orang dapat memanfaatkan secara gratis. Ini adalah Ruang Publik Sosial yang merupakan sumbangsih Kota terhadap warganya agar mempunyai kesempatan untuk rilaksasi dengan murah sambil mendengarkan musik Jawa atau alunan irama kroncong dan campur sari. Kalau seperti itu, maka jelas sekali tembok Sriwedari yang kokoh dan tinggi seperti tembok Kraton itu kurang lebih menunjukkan arogansi kekuasaan. Hal ini sudah barang tentu bertentangan dengan konsep Jawa (kalau itu Solo spirit Java) yang mengatakan bahwa “pagar mangkok lebih kuat dari pagar tembok.” Saya melihat di berbagai kota budaya dunia, seperti Roma, Paris, Berlin, London, Ottawa, pagar Taman itu biasanya transparan. Artinya orang luar masih dapat melihat kegiatan apa yang terjadi di dalamnya.Jadikan, taman Sriwedari jadi Taman kota yang gratis bagi siapa saja tidak peduli apa punya KTP Solo apa tidak.

Kawasan Ekonomi

Perubahan drastis terjadi di kawasan Solo Baru (wilayah administratif Sukoharjo), yang pada dasarnya menjadi kawasan ekonomi. Tetapi sejak peristiwa kerusuhan 1998, yang meluluhlantakkan kota Solo, kini kawasan itu diubah wajahnya dengan menggunakan pendekatan budaya. Lihatlah patung Pandawa, Patung Gatutkaca, dan nama Waterboom Investornya menggunakan nama Pandawa.  Dengan hadirnya spirit budaya Jawa yang kental di kawasan itu, tampaknya memberikan kesan yang lebih akrab dan handarbeni.

Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembangunan fisik (material)  suatu kawasan akan mengubah mental para penghuninya. Dengan pembangunan perbelanjaan di seluruh sudut kota Solo, kini Solo memang kehilangan ruhnya sebagai Kota Budaya dan apalagi sebagai Spirit of Java. Solo lebih kuat sebagai kawasan ekonomi. Kebijakan tersebut membawa konsekuensi bahwa Pemerintah Kota Solo secara tidak langsung dan tidak sadar bahwa mereka sesungguhnya “anti-tradisi budaya Jawa.” Dengan kata lain, tradisi budaya Jawa yang diagung-agungkan tersebut hanya dijadikan branding kota saja tetapi dalam prakteknya yang dilakukan adalah menanamkan tradisi budaya kapitalisme.

Bengawan Solo

Zooedutainment

Menanggapi akan dibenahinya Taman Satwa Njurug, saya menanggapi sangat positif. Karena tempat itu terlihat menjadi DTW (Daerah TUjuan Wisata) rakyat (turis domestik). Yang khas dari Njurug adalah letaknya di pinggir Bengawan Solo,yang legendaris. Konsep apa yang terbaik untuk taman ini adalah mengembalikan fungsi Taman Satwa sekaligus memberikan nilai tambah misalnya dengan Taman Pendidikan. Jadi, judulnya memang agak aneh, menjadi Zooedutainment (Taman Satwa, Pendidikan dan Hiburan). Apa isi dari Taman tersebut, tidak lain adalah berisi tentang ilmu pengetahuan tentang kebinatangan dari lahir, dipelihara, fungsi, sampai makanannya. Sudah barang tentu harus dibangun tempat display untuk menjelaskan tentang keberadaan binatang dari purba sampai kini.

Apa sesunggunya yang memberi ruh agar Taman Jurug menjadi terkenal. Selain karena mitos Bengawan Solo sebaiknya mempertimbangkan aspek Sungai Bengawan yang liar itu. Saya kira apabila kita berhasil menjinakkan Bengawan sehingga mampu menjadi bagian integral dari pembenahan, hal itu akan menjadi prestasi sendiri. Bengawan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari Taman Jurug sehingga pamornya lebih melegenda.

Patung Ronggowarsito

Taman Ronggowarsito

Di Taman Njurug itu terdapat Taman Ronggowarsito yang kini kurang terawat dan disebelahnya ada Taman Gesang yang dibangun oleh Yayasan Gesang dari Jepang. Untuk masukan pembenahan kawasan Njurug, perlu diingat bahwa perubahan pada tata letak dan bentuk fisiknya suatu kawasan maka akan mengubah fungsi. Oleh sebab itu, pembangunan Taman Satwa Jurug haruslah tetap berpegangan pada branding kota Solo, seperti Solo Spirit of Java. Kalau Ronggowarsito akan dilestarikan hal itu suatu upaya yang selaras dengan branding kota. Saya ingat beberapa tahun lewat, BBC London meminta saya untuk menjadi Guide Research pembuatan film Ronggowarsito dan Situs Purba. Kami sulit menemukan rumah tempat tinggal dimana Sang Pujangga menorehkan penanya, sampai kami menelusur ke Ponorogo, Trenggalek, Ngawi. Saya hanya ingin mengatakan bahwa betapa besar perhatian pihak asing tersebut, yang menggugah perasaan saya, sambil bergumam dalam hati, “kenapa kita sendiri yang hidup dan tinggal di Solo tidak mengindahkan para Pujangganya?” Ya, dengan cara membangun Taman Pendidikan Ronggowarsito, hal itu sudah cukup baik untuk menghargai Pujangga Kota yang adiluhung. Lebih baik lagi apabila disitu ada Taman Waridi, Marto Pangrawit, Taman Warseno yang merupakan para empu yang telah menunjukkan loyalitas dan prestasinya terhadap kesenian.

PKL

Pedagang Kaki Lima agaknya memang menjadi gaya perekenomian rakyat. Pastilah mereka akan kehilangan tempat untuk berjualan karena kawasan itu dibangun. Oleh karena itu, sebelum pembangunan dilakukan sebaiknya berdialog dulu dengan para PKL yang menggantungkan hidupnya lewat berdagang di tempat itu. Hal ini untuk memberikan solusi yang lebih beradab.

Di Indonesia, baik pedagang maupun pembeli agaknya memang lebih suka bertransaksi seperti PKL itu. Oleh sebab itu, PKL harus menjadi perhatian dari pengelola dan Pemerintah Kota, agar branding Solo City of Charm dapat terwujud. Persoalannya memang bagaimana membuat PKL justru mampu memperindah Kawasan dan bukan menjadikan mereka biang keladi kekumuhan.

Apa yang saya sampaikan tersebut dengan serta merta memberikan lampu merah kepada investor agar tidak memasukkan pemoda besar seperti Mac Donald, KFC dan sejenisnya supaya Taman Jurug benar-benar dilandasi oleh ekonomi kerakyatan.

Demikian semoga bermanfaat.

Solo 26 Januari 2011

· · Share · Delete

    • Tri Wintolo Solo punya akar budaya yg kuat tapi sdh tercerabut oleh hegemonis sosial sekitarnya, tidak adanya konservasi situs budaya yg tetap akhirnya ditelan pasar sindikat budaya, korbannya ada gedung brsejarah dijual, patung dicuri dsb, Solo hrs diselamatkan dari kesrakahan manusianya sndiri ?.

      Tuesday at 9:04pm · · 1 personLoading…

Comments are closed.