By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

BENARKAH KARYA SAYA ILMIAH?


Is my thesis scientific/by Andrik Purwasito on Wednesday, January 26, 2011 at 7:38pm

Pengantar

Kerja di Studio Wong Kampoeng Contemporary

Sebelum saya menguji tesis, untuk pertama kali saya bertanya, ”apakah karya saudara telah memenuhi standar ilmiah?” Biasanya mahasiswa akan menjawab ”YA” saya lanjut bertanya: ”Coba jelaskan jawaban saudara.

Standar Ilmiah

Sebuah karya disebut memenuhi standar ilmiah apabila setidaknya memenuhi  tiga standar, yaitu pertama : memenuhi standar  metodologi,  kedua, memenuhi standar penyusunan karya ilmiah/sistematis dan ketiga penyimpulan yang obyektif  dan dapat bersifat general.

Komponen Ilmiah

Penelitian adalah kerja ilmiah. Empat (4) komponen pokok meliputi kegiatan atau kerja ilmiah, yaitu:  menyusun problematik dan merumuskan secara jelas (1), membangun metodologi untuk memecahkan problematik dan menjawab rumusan masalah (2),  kemudian mengumpulkan bahan-bahan lewat observasi, diskusi, survey, dll (3), melakukan analisis dengan metoda analisis tertentu, melakukan eksplanasi, deskripsi dan perbandingan  (4), membuat kesimpulan, refleksi, dan prediksi

Metodologi

Metodologi adalah tahapan kerja ilmiah. Dari gagasan sampai refleksi atau prediksi. Maka dalam membangun kerja ilmiah dibutuhkan metodologi, yakni sekumpulan metoda-metoda yang digunakan untuk membangun tiap tahapan dari penelitian. Misalnya, metoda membangun masalah, metoda merumuskan masalah, metoda pengumpulan data, metoda penyajian data, metoda analisis data sampai metoda menyusun kesimpulan dan membangun prediksi).

Ilmiah tetapi  Tetap  Penting, Menarik , dan Berguna

Bagaimana caranya memilih tema dan merumuskan masalah yang memang berguna, penting dan menarik bagi tidak saja bagi pribadi tetapi juga bagi perkembangan ilmu pengetahuan? Caranya, jawablah pertanyaan saya di bawah ini:

1. Mengapa tema ini penting?, seberapa pentingkah masalah itu kok saya teliti? Penting bagi siapakah ini, kalau Cuma untuk saya mengapa harus diteliti? Mestinya berguna untuk kepentingan umat manusia. Jelaskan kegunaan dan manfaat itu.

2. Apakah benar menarik, seperti apa yang disebut menarik itu? Adakah tema lain yang lebih menarik tetapi tidak anda lakukan? Menarik karena untuk siapa juga?

3. Seberapa besar target yang ingin anda capai. Seberapa gunakah penelitian itu, setidaknya adakah pengaruhnya dalam kehidupan kita? Meluruskan, membenarkan, menolak, menjelaskan atau anda menggali. Sebutkan jenis penelitian saudara.

Mungkin, secara individual dianggap penting dan berguna tetapi tidak menarik secara intelektual (keilmuan). Mungkin sekali secara individual sangat menarik tetapi tidak penting dan tidak berguna secara intelektual.

Idealnya, masalah yang diajukan adalah subyek yang menarik dan penting baik secara individual maupun bagi kepentingan ilmu pengetahuan.

Mengapa Anda Perlu Bekal

Seorang peneliti membutuhkan Bekal. Bekal orang Jawa adalah CENGKIR, Kecenging pikir. Tetapi sebenarnya motivasi yang tinggi, rajin dan ketekunan serta kesabaran adalah bekal utama. Selain itu juga perlu (1) Sadar menggunakan nalar disertai semangat yang menyala-nyala, (2), loyal terhadap masalah yang diajukan, (3) mempertajam persepsi, konsepsi, analisis dengan kemampuan menunjukkan perbandingan/intertekstual (4) dan memperluas wawasan kita tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan membaca (penelitian sejenis) dan referensi yang terkait.

Tepat,  Fokus, Terbatas

Masalah yang dikemukan harus fokus, jelas konsepnya, terbatas ruang lingkupnya, terbatas pada hal-hal yang khusus. Artinya, memperoleh pengetahuan mengenai suatu segi saja, atau bagian dari kejadian, tetapi tidak pernah mengenai kejadian seluruhnya. Caranya, membatasi masalah dengan definisi yang obyektif, menjelaskan makna dan batasan  terhadap terminologi yang dipakai, teori-teori yang mendukung atau teori sebagai model, fakta-fakta empiris yang diamati (penelitian lapangan),  referensi yang terkait (penelitian pustaka).

Henry Bergson (filsuf Prancis) menggunakan intuisi (pengalaman batin) untuk memperoleh pengetahuan tentang suatu kejadian (kasus). Pengetahuan itu diperoleh secara langsung yang dialami oleh bersangkutan. Hasilnya mutlak. Logikanya, pengetahuan inderawi itu menghasilkan yang nampak saja, tetapi intuisi sudah menjadi kenyataan. (Louis Kattsoff:

Ini membedakan dengan pengetahuan (diskursif) penggambaran secara simbolik, atau pelukisan oleh orang lain, yaitu pengetahuan (data) yang diperoleh lewat perantara (nara sumber). Sudah tentu nara sumber yang mengetahui secara langsung dan seketika atas kejadian (kasus) itu. Bergson menganggap hasil pelukisan narasumber itu nisbi.

Jadi data harus diperoleh dengan jalan yang benar (metode yang valid). Ini bisa dilihat dari kemampuan peneliti menyajikan ketepatan data.

Metode Analisis

Susunlah metode kerja (tahap pertahap analisis. Ajukan metode analisis yang runut, eksplisit dan detail). Ini juga membutuhkan kemampuan mengurai data dengan kerumitan (detail) analisis.  Berkatalah “Inilah jalan bagaimana (menjawab pertanyaan) cara saya menjawab pertanyaan yang diajukan. Inilah alat-alat untuk menemukan apa yang saya cari.”

Metode Penyimpulan

Dua metode penyimpulan yang lurus harus dipahami, yaitu metode penyimpulan secara deduktif dan induktif.  Menyangkut hukum-hukum penyimpulan yang lurus merupakan wilayah logika. Supaya kita dapat mengerti bagaimana menarik kesimpulan itu, maka peneliti wajib memahami hukum-hukumnya.  (Celakanya, menalar yang lurus (benar) tidak harus repot belajar logika). Setidaknya jawablah pertanyaan di bawah ini:

Apakah saya mengetahui aturan-aturan penyimpulan yang sah?

Apakah saya mengetetahui corak-corak penalaran yang logis itu?

Apakah saya mampu menyusun kesimpulan dengan baik, jelas dan sesuai dengan hipotetis atau problematik yang saya ajukan?

Logika Induktif

Logika atau penalaran induktif banyak digunakan dalam penelitian sosial. Logika ini menarik kesimpulan  tidak dari susunan preposisi-preposisi (premis-2) yang sudah diakui dan diterima kebenarannya (deduktif) tetapi diperoleh dari sifat-sifat seperangkat bahan-bahan yang diamati. (Louis O Kattsoff: 72). Logika induktif bergerak dari suatu perangkat fakta yang diamati secara khusus yang digunakan untuk membuat generalisasi (pernyataan yang bersifat umum) mengenai fakta yang ada, atau bergerak dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kearah sebab atau sebab-sebab dari adanya akibat-akibat tersebut.

Induktif berbicara tentang aturan-aturan probabilitas, sedangkan deduktif memuat aturan-aturan yang pasti (matematis).

Jadi, kesimpulan dengan menggunakan logika induktif bersifat probabilitas.

Contoh: Anda mengamati peristiwa berikut ini:

1. Seseorang pergi ke gereja. Secara tetap ia memberi bantuan kepada orang miskin.

2. Beberapa orang yang pergi ke gereja secara tetap juga memberi bantuan.

Dari pengamatan itu anda membuat kesimpulan kira-kira begini :

3. “Setiap orang ke gereja memberi bantuan orang miskin.”

Metode induktif tidak ada aksioma (dalil-dalil) yang ditetapkan seperti deduktif.  Jadi, hanya bersifat generalisasi saja. AKibatnya dalam membuat kesimpulan, data yang kita kumpulkan berada dalam syarat. Sudah cukup (Sample) yang digunakan untuk membuat kesimpulan. Cukupnya seberapa besar jumlahnya?

Peristiwa yang diteliti itu haruslah bersifat istimewa (menarik, penting dan berguna), tetapi ukuran apa yang digunakan untuk mengatakan peristiwa itu istimewa?

Demikian semoga bermanfaat

House of Cross-Cultural Studies, Prof Dr Andrik Purwasito, DEA, Triyagan, Sukoharjo 2011

Comments are closed.