By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

TEMPLE AS A DICTIONARY


By : Andrik Purwasito

Peran Candi pada Jamannya

Candi adalah hasil peradaban kuno. Ia didirikan sebagai wujud dari rasa syukur terhadap Shyang Yang Akarya Jagad, Tuhan Yang Maha Pencipta. Rasa syukur menampilkan cipta cita rasa khas (local genie) yang diekspresikan dalam berbagai gaya, bentuk, perwujudan yang khas, sebagai penggambaran atas keberkahan manusia atas karunia Illahi.

Oleh sebab itu, Candi pada zamannya mencerminkan sikap hidup, adat istiadat dan tata cara kehidupan yang dibanggakan hanya karena semua itu adalah berkah rahmat dan anugerah Tuhan. Tidak mengherankan apabila Candi pada akhirnya sebagai tempat untuk menumpahkan segala rasa syukur atas karunianya, ditandai dengan berbagai ritual yang bervaritif sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan mereka yang mereka anggap sebagai cara untuk memuliakan Yang Illahi karena rakhmat yang telah diberikan kepada mereka.

Peran Candi dalam Kekinian

Dalam kehidupan sekarang, candi-candi di Indonesia, seperti Gereja-gereja di Eropa memainkan peranan ganda. Di satu sisi, candi menjadi tempat memuji Illahi lewat ritual (tempat ibadah), di sisi lain sebagai tempat untuk memuji keindahan bangunan, arsitekturnya, sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Di antara kedua sisi tersebut, keberadaan candi adalah untuk kebutuhan ilmu pengetahuan, sejauh ini untuk menggali peradaban masa lalu serta memperkaya khasanah peradaban bangsa dari waktu ke waktu.

 

Makna relief dan arsitektur candi bagi manusia

Candi adalah monumen, prestasi intelektual suatu peradaban bangsa. Apa yang tergambarkan dalam relief dan arsitekturnya merupakan sebuah catatan kebudayaan simbolik. Para perancang tidak menuliskan gagasan dan ideologinya dalam buku-buku saja, dalam kitab tembang, nyanyian dan syair, tetapi juga dalam wujud fisik yang simbolik.

Relief menceritakan tentang banyak hal, dari gagasan yang bersifat immaterial seperti kekuatan gaib maupun bersifat material berupa teknologi, kehidupan ritual, bercocok tanam, rumah tangga, seks sampai persoalan kehidupan flora dan fauna. Mereka menceritakan tentang eksistensi dan substansi dari benda-benda atau simbolisasi yang dituangkan dalam bentuknya yang khas. Candi Sukuh merupakan manifestasi dari kehidupan dan pendidikan seks dalam kehidupan. Candi Sukuh memperlihatkan sosok eksistensi dan substansi kehidupan manusia yang paling hakiki, yaitu kenikmatan, keindahan, kebahagiaan lahir dan batin.

Maka dari itu, kita melihat candi seperti halnya berhadap dengan buku. Kita harus mampu membaca dari kata pengantar, daftar isi, dari bab I sampai selesai, sampai pada kesimpulan dan referensi. Dengan demikian, dibutuhkan suatu latar referensi tertentu agar setiap orang mampu membaca relief dan arsitektur candi secara lebih cermat. Artinya, candi sangat terbuka untuk diinterpretasi sesuai dengan reference yang dimiliki oleh Sang Pembacanya.

Perhatian Pemerintah

Pemerintah lebih menitikberatkan candi sebagai aset bangsa. Aset adalah kekayaan yang membutuhkan perlindungan dan perawatan. Hal ini sudah cukup baik. Ini disebabkan tekanan Pemerintah lebih pada pembangunan candi untuk pariwisata, belum sebagai Cagar Budaya yang menyimpan memori kultural bangsa yang tinggi. Tapi itu sudah cukup baik.

Dalam hal ini biarlah candi tetap sebagai tempat ibadah bagi yang menggunakannya, candi tetap dikunjungi bagi wisatawan dan candi dibebaskan dari intervensi berbagai pihak. Prinsip saling menghormati dan menghargai antar sesama umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, akan menciptakan suatu  harmonisasi dan kehidupan yang lebih rukun dan damai.

 

 

Comments are closed.