By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Pasar Tradisional Haruskah DiBumi Hanguskan?


Bagian II/ dari 2 tulisan/Andrik Purwasito

Seorang bertanya, mengapa pasar tradisional itu di renovasi? Mengapa harus dibangun dengan bangunan yang modern? Apakah pasar itu dapat disebut pasar tradisional lagi, atau pasar modern? Bagaimana sebaiknya  melestarikan pasar tradisional itu?

Pertanyaan ini akan menjadi mudah ketika kita memahami Bagian I tulisan ini. Apa saja yang berbau tradisional itu harus dimodernisir, karena kata tradisional adalah masalalu. Tahapan peradaban yang paling terbelakang adalah tradisionalitas. Oleh sebab itu, Rostow menyebutkan tahapan negara yang terbelakang ke negara yang maju melalui lima tahapan transformatif: 1). Tahapan masyarakat tradisional, 2. Tahapan persiapan tinggal landas, 3. Tahapan tinggal landas, 4. Tahapan masyarakat Dewasa, 5. Tahapan masyarakat konsumtif. Inilah proses modernisasi yang dijadikan landasan dasar kemajuan kita.  Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan akhirnya menjadi tema-tema untuk menjauhkan manusia dari tradisionalitas menuju modernitas.

Pasar Tradisional

Maka jangan heran apabila, Pasar Tradisional, seperti Windu Jenar, Pasar Legi, Pasar Nusukan, Pasar Klewer, Pasar Palur dan pasar-pasar lainnya dianggap sebagai simbol keterbelakangan. Jangan heran ada pasar kebakaran di mana-mana, tidak lain adalah simbol proses modernitas. Tradisionalitas dianggap tidak mempunyai kemampuan produktif, tidak berdaya, tidak menimbulkan trickle down effect, tidak menjujung kesetaraan dan keberlanjutan, statis dan rendahnya tingkat partisipasi.

Modernitas, yang banyak diyakini oleh pemimpin kota dan kabupaten kita ini, adalah sebuah ikon keberhasilan dan prestasi. Oleh sebab itu, yang dihitung bukannya pengangguran rendah, kemiskinan makin menipis, kesempatan kerja makin bertambah, tetapi berlomba-lomba membangun sarana fisik, gedung-gedung, monument, patung-patung, mall-mall, nembok sungai, membagun jembatan, termasuk memugar pasar dan terminal. Harga diri seorang Bupati, Walikota, Gubernur tergantung dari berapa gedung dibangun, berapa panjang jalan dibuat, berapa mall didirikan dan berapa ribu meter kubik batu-batu dibuat tembok-tembok. Semua ini menunjukkan sebuah keberhasilan pembangunan yang dipuja dengan satu alasan, perubahan yang terjadi pada latar fisik akan mempengaruhi perubahan sikap masyarakat dengan kesadaran baru untuk memperbaiki kehidupannya.

Ruang Perjudian

Ini adalah hasil dari teori yang mengatakan bahwa masyarakat tradisional yang statis dan diam adalah cermin keterbelakangan dan ketertinggalan. Kehidupan modern diterjemahkan sebagai sebuah kejuaraan atau kompetisi yang mempersiapkan setiap orang bersaing dan bertanding, setiap orang harus saling mengalahkan, maka kehidupan modern yang dipercaya oleh banyak pemimpin kita adalah sebagai Pemenang. Akhirnya saya menjadi yakin bahwa ruang kehidupan modern adalah ruang perjudian.

Sang Pemenang

Paradigma atau model kehidupan inilah yang pada akhirnya membuat setiap orang melakukan tindakan yang keras bahkan kurang terpuji, atau juga menghalalkan cara untuk menjadi Sang Pemenang. Seluruh ruang kehidupan ini akhirnya diterjemahkan sebagai ajang perjudian. Oleh sebab itu, setiap memasuki tempat (pos pekerjaan, pos kehidupan) membutuhkan udu (modal) agar bisa bermain. Yang tidak bermodal otomatis minggir dengan sendirinya. Jadi jangan heran, setiap lowongan pekerjaan tak ubahnya memasuki ruang perjudian, para pelamar harus siap dengan tidak saja intelektual dan pengalaman, tetapi sekarang membutuhkan modal-modal sebagai pelicin, sogokan dan sebutan lain.

Banyak Korban

Maka kita lihat, semakin hari semakin banyak orang yang kalah, yang terjerambab dalam keputusasaan, yang terguling dalam persaingan tidak sehat, yang terjerumus dalam tindak korupsi dan kejahatan, korban karena lemah modal. Sekarang orang berpikir harus menang dalam setiap pertermpuran. Yang terjadi adalah moral masyarakat yang kehilangan akal sehat, mental yang tidak waras, masyarakat yang makin kehilangan humanisme, serta masyarakat yang tidak punya lagi daya tawar karena keterasingan dan aleniasi struktural yang dijalankan akibat proses pembangunan dan revolusi kebudayaan itu.

Dehumanisasi

Demikianlah yang terjadi pada pasar tradisional, adalah pengalihan bentuk adalah pengalihan fungsi, akhirnya juga menyebabkan dehumanisasi dan keterasingan masyarakat pedangan dan pelanggan dari habitatnya.  Dengan cara pandang saya di depan, modernisasi pasar dapat dikatakan sebagai bentuk kekerasan kultural yaitu penyesuaian paksa/coersion secara sadar oleh kekuasaan. Pasar tradisional telah mati. Renovasi memang hasilnya bisa sangat cepat dan tampak megah. Hasilnya sebuah monument modernitas, gedung bertingkat, lantai mengkilat, dan ruang-ruang privat yang berupa sekat-sekat. Semua perubahan tersebut selain terjadinya dehumanisasi juga memperkuat individualisasi dalam proses peradaban Jawa.

Inilah yang saya kira sebagai salah satu cara yang ditempuh oleh para pengambil keputusan yang dikemas kedalam bentuk konsep Revolusi Budaya.

Hukum Alam

Proses pencepatan melalui renovasi sekilas adalah sebuah niat baik. Ini memang benar, pasar menjadi bersih. Tetapi yang terjadi sesungguhnya adalah proses pengubahan secara cepat perilaku, sikap, adat kebiasaan para penghuni pasar, termasuk perubahan yang bersifat kognitif maupun ketrampilan. Saya kira inilah yang diharapkan dari modernisasi dan pembangunan kembali pasar-pasar tradisional di Indonesia. Dalam proses ini, partisipasi masyarakat serta keterbedayaan tidak pernah terjadi dan tergantikan oleh metoda kompetitif. Modernitas adalah memperkuat Hukum Tradisional, yaitu hokum alam itu sendiri. Artinya siapa kuat, yaitu yang mempunyai uang dan modal besar merekalah yang akan mampu untuk membeli kios strategis sementara yang lemah secara modal dan akses akan mendapatkan tempat yang kurang strategis. Akhirnya, yang lama tetapi lemah akan kalah akan kehilangan pelanggan, berarti akan kehilangan mata pencaharian, seperti ketika pasar masih bersifat tradisional. Sementara orang baru, tetapi bermodal dan berpengetahuan serta punya akses akan mendapatkan tempat yang strategis dan akan mendapatkan keuntungan yang lebih di atas rata-rata.

Inilah cara pandang atau paradigma pembangunan Indonesia, yang mengambil paradigma dan teori-teori pembangunan barat (modernisasi dan westernisasi)’

Revolusi Budaya

Saya akhirnya meragukan pembangunan pasar tradisional yang agaknya dibangun secara sembarangan itu akan merusak tata kehidupan milik kita yang khas. Dan saya telah melihat dan menjadi saksi tata nilai kehidupan perdagangan kita yang khas, milik kita yang sudah lama menjadi model (local genie) dan kearifan lokal kita akan musnah. Pasar tradisional tak ubahnya Mall-mall. Apakah ada cara selain revolusi budaya?

Saya kira kita punya cara cara tradisional yang arif, seperti mengemukakan unsur edukasi masyarakat, serta persuasi yang berkelanjutan. Ini memang membutuhkan waktu panjang yang saya kira membuat Pemimpin kita tidak sabar. Maka dibutuhkan jalan pintas, potong kompas yaitu dengan cara revolusi. Kebijakan revolusi budaya diberlakukan di mana-mana, hampir terhadap seluruh kehidupan masyarakat. Inilah cara instant sesuai dengan masa jabatan seorang walikota, gubernur atau bupati. Pada hal, sesungguhnya semua itu adalah metoda perubahan masyarakat yang tidak saja cara jalan pintas tetapi cenderung menyesatkan masyarakat itu sendiri. Reward yang menjadi kualitas sistem edukasi agaknya memang ditinggalkan, karena metode edukasi dan bujukan hasilnya membutuhkan waktu lama dan tidak efektif-efisien.

Pesimis

Akhirnya, saya tidak terlalu banyak berharap bahwa ruh pasar tradisonal bisa tetap bertahan. Ketika pasar direnovasi dengan gaya pembangunan modernitas, maka pada saat yang sama, pasar akan kehilangan ruhnya, ruh tradisionalitas itu. Karena revolusi budaya sudah menjadi tekad para Pemimpin kita, ya sudahlah. Kecuali mau sadar diri.

Kita setiap hari akan melihat orang-orang kehilangan matapencaharian, tidak sedikit pedagang yang teraleniasi dan mencari cara hidup yang baru, dan mereka yang tersingkirkan dari arena pasar mereka akan Anda kemanakan? Semakin hari, agaknya kita akan melihat semakin banyak orang-orang akan kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang penuh kompetisi dan hidup dalam persaingan, baik secara ekonomi, intelektual, sosial dan budaya.

Effectnya adalah, banyak orang kehilangan jati diri, kehilangan tempat berpijak secara kultural, dan semakin banyak orang kehilangan orientasi terhadap masa depannya. Maka jangan salahkah kalau ada yang berkata, “Pemimpin hanya memberi impian, membela yang kuat, dan tidak memberi  peluang dan akses bagi yang lemah. Lalu, siapakah yang melindungi orang-orang yang lemah kecuali para Pemimpin yang dipilihnya? Apakah benar kata Bung Karno bahwa revolusi selalu menelan korban.

Comments are closed.