By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Education as Indonesianisation Process


Pendidikan sebagai Prosesi “MENJADI INDONESIA”:

Pentingnya kurikulum nasional berbasis ke-Indonesiaan

Oleh: Andrik Purwasito, Guru Besar dalam bidang Komunikasi Lintas-Budaya

——————————————————————————————————–

Dalam pidato kali ini saya akan menyampaikan gagasan sentral yakni pendidikan sebagai prosesi “menjadi Indonesia.” Tema tersebut setidaknya mengandung dua pemikiran utama, yaitu : pertama, pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa dan kedua, pendidikan sebagai pengawal reformasi dan demokratisasi bangsa.

Mengapa menjadi Indonesia?

Saya telah menyampaikan gagasan tentang manajemen komunikasi lintas-budaya, dalam pidato pengukuhan Guru Besar saya, disana saya menyimpulkan bahwa pentingnya memasukkan materi komunikasi lintas-budaya dalam kurikulum pendidikan nasional.  Alasan saya, bangsa ini akan “menjadi Indonesia” apabila anak didik sebagai penerus bangsa mempunyai karakter bangsa sebagaimana telah diwariskan oleh Nenek Moyang dan para Founding-fathers Negeri ini, yakni  berbudi bawa laksana, artinya cerdas, patriotik dan berbudi pekerti yang luhur.

Dalam kesempatan kali ini, perkenankan saya mengawali pidato ini dengan beberapa pertanyaan mendasar:

1). Mengapa kita mendirikan pendidikan dari sekolah taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi

2). Mengapa kita terpukau dengan sistem pendidikan Bangsa Asing sementara kita mengesampingkan pesantrean dan padepokan sebagai basis pengembangan pendidikan kita?

3). Apakah kita sudah merasa benar apa yang kita putuskan sekarang ini?

4). Apakah pendidikan kita sekarang ini masih punya kebanggaan terhadap habitat budaya kita dengan lokal genius yang pernah kita miliki?

5). Lalu pendidikan yang beginikah yang kita bangga-banggakan sebagai sistem pendidikan bangsa yang mempunyai martabat?

Saya tidak akan menjawabnya satu persatu. Biarkanlah ke lima persoalan tersebut menjadi permenungan kita. Saya ingin mengemukakan bahwa sisem pendidikan kita sudah sangat materialistis. Suatu sistem yang menganggap institusi pendidikan sebagai pabrik yang menghasilkan mesin-mesin siap pakai. Institusi menjadi BUMN atau BLU dan sejenisnya, seperti sebuah perusahaan manufaktur, perguruan tinggi tidak melahirkan sistem pendidikan dan pengajaran yang dibutuhkan untuk “menjadi Indonesia” tetapi dipersiapkan untuk memenuhi “pasar Global.”Sehingga, standar kelulusan pendidikan adalah kelulusan yang laku keras di pasaran.

Tidak mengherankan apabila, pendidikan kita seperti pasar. Dimana-mana orang boleh mendirikan institusi pendidikan, bebas melakukan pengajaran apa saja yang berbasis kurikulum dan kompetensi. Namun, sekolah yang memiliki kemampuan dan kompetensi terhadap ke Indonesiaan tidak pernah dimunculkan dalam berbagai wacana nasional, termasuk kurikulum berbasis ke-Indonesiaan.

Hadirin yang saya mulyakan

Saya mohon maaf apabila saya menilai bahwa Negara seolah-olah kurang mempunyai kepedulian yang serius terhadap masalah pendidikan sebagai prosesi menjadi  Indonesiaan ini. Maksudnya, pendidikan tidak diletakkan sebagai fondasi yang vital dalam upaya membangun karakter bangsa yang unggul. Negara membebaskan anak-anak bangsa memilih karakter dan perilaku sesuai dengan yang dikehendakinya. Artinya, anak-anak bangsa tidak diberi kesempatan untuk memilih ke-Indonesiaan sebagai karakter yang dapat menjadikan seseorang bangga menjadi bangsa Indonesia. Kita masih disibukkan dan dikuras tenaga kita untuk mengurus hal-hal materialistik, seperti pembangunan fisik, pemberantasan korupsi dan mafia peradilan, tetapi pendidikan karakter bangsa (nation building) agaknya diabaikan.

Apa kita perlu bukti?

Buktinya sudah jelas, bahwa pendidikan kita tidak menghasilkan karakter bangsa yang patriotik, tidak melahirkan generasi yang kompetitif, jujur dan penuh dedikasi. Ini dapat dilihat dari pungutan liar terjadi dimana-mana, korupsi yang tumbuh subur di berbagai tempat dari birokrasi rendahan sampai birokrasi paling atas, maraknya mafia peradilan serta tidak ada penghargaan terhadap gagasan dan insiatif seseorang, dan dengan mudahnya satu orang mencuri ide dan gagasan orang lain, tanpa rasa bersalah.

Semua yang diuraikan di atas memanglah bukan kesalahan pendidikan semata, tetapi bagaimana mungkin pendidikan tidak memberikan kontribusi yang jelas terhadap perubahan perilaku? Saya melihat, pasti ada yang salah dari sistem pendidikan kita.

Perlunya revolusi kurikulum?

Saya sudah sejak lama menulis, mengemukaka ide dan gagasan tentang kurikulum pembentuk karakter bangsa. Antara lain dapat dibaca dalam jurnal “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Masa Depan Indonesia: Pentingnya Komunikasi Antar Budaya masuk dalam Kurikulum Pendidikan Nasional,” dimuat dalam jurnal terakreditasi Varidika, Varia Pendidikan vol XII, no. 21, Desember 2000. Dalam artikel tersebut, saya menyampaikan bahwa pentingnya dilakukan reformasi kurikulum pendidikan nasional dalam upaya membangung watak patriotik, membangun jiwa bangsa atau apa yang saya sebut sebagai “menjadi Indonesia.”

Kekawatiran saya terhadap konflik sosial dan horizontal yang berbasis primordialisme, harus diantisipasi lewat dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus bertanggung jawab terhadap masa depan generasi kita apabila berjalan di jalan yang sesat.

Mengapa?

Mungkin karena basis pendidikan kita hanya berbasis pada kompetensi, link and match dengan industri, bukan link and match dengan ke-Indonesiaan. Sehingga, hasil pendidikan kita kurang dapat diwujudkan secara nyata dalam realitas sosial. Pendidikan seperti menara gading yang sulit menyentuh realitas kehidupan yang sesungguhnya. Pendidikan sebagai rutinitas dan sekedar memenuhi gaya hidup yang diciptakan oleh mainstream kehidupan materialistis. Pendidikan hanya mencari selembar kertas berupa ijasah sebagai prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan lanjut, atau sekedar menaikkan harga diri di depan publik, misalnya untuk meningkatkan harga mahar dalam mencari pasangan hidup. Pendidikan kehilangan roh visi misinya yang suci sebagai pencerahan dan peningkatan kualitas kehidupan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. Pendidikan juga semakin menjauhkan kemandirian masyarakat yang berbasis ke-Indonesiaan. Sehingga pengangguran semakin menumpuk, tetapi mereka tidak mempunyai daya kreativitas untuk membuka peluang usaha. Pendidikan tidak disiapkan untuk menghadapi dunia nyata, tetapi hanya untuk mencapai nilai A atau B, yang diperoleh oleh anak didik apapun caranya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Sekarang kita sudah jauh berjalan. Sejak 1908, pendidikan dianggap sebagai fondasi kebangkitan nasional dan mencatat rekor terbaiknya sebagai generasi yang membangkitkan nurani dan semangat untuk menghada0856pi masa depan yang makin sulit dan penuh tantangan. Kebangkitan nasional meletakkan pendidik sebagai motor kebangkitan.  Pada awal kebangkitan kita semua tahu, untuk apa kita bangkit? Kemana arah kita setelah bangkit? Kita bangkit menuju Indonesia Merdeka bersatu, rukun-damai, sejahtera lahir dan batin. Arah kita sangat jelas membangun Bangsa dan Negara Indonesia yang  kuat dan bermartabat.

Apa yang telah dilakukan?

Sekarang kita menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara lebih 100 tahun sejak kebangkitan. Tetapi apa yang terjadi dengan pendidikan kita? Kebangkitan Nasional hanya tinggal dalam upacara, seremoni dan ritual-ritual dangkal, disertai dengan refleksi, kontemplasi, mawas diri tetapi tidak pernah ada perubahan dan revisi terhadap perilaku kita. Sebagai contohnya, seberapa jauh telah kita tinggalkan budaya kita sebagai pedoman dan kaidah adat kebiasaan kita,  yang menjadi fondasi dasar perilaku kita? Lihatlah, kita telah tidak malu lagi melupakan  budi pekerti kita, budi pekerti sebagai etika pergaulan dan landasan komunikasi kita untuk bermasyarakat.

Sekarang budi pekerti telah punah. Budi pekerti kita sekarang telah terkubur di bumi pertiwi. Budi pekerti kita diinjak-injak oleh generasi kita, yang dengan mudahnya orang berkata, karena semua itu demi ke-Indonesiaan kita. Saya kira anda keliru. Ke-Indonesiaan adalah pendidikan yang berproses untuk menguatkan perilaku lokal genius kita.

Siapakah yang peduli dengan patriotisme? Sejak Nation State (Negara Kebangsaan) runtuh, akhir dari sejarah, tetapi kita malahan berpangku tangan dan tidak pernah berpikir kritis lagi terhadap arah perjalanan generasi kita. Dimana-mana kita melihat drama tragedi dari orang-orang kita yang terbiasa ngiwakke budaya (menghinakan kebudayaan sendiri). Lihatlah, patung Slamet Riyadi di Gladak. Patung raksasa itu berdiri megah. Semua orang bertepuk tangan dengan keindahan yang diciptakan itu. Tetapi lihatlah dengan cermat, setiap hari air mata Patung Slamet Riyadi itu meneteskan air mata. Itulah simbol dan contoh kongkrit bagaimana orang Jawa ngiwakke budaya sendiri. Patung itu menangis karena tidak bisa merubah dirinya untuk menghadap ke  Wajah Karaton Surakarta, Karaton sebagai sumber budaya jawa. Bukan ia yang bersalah membokongi dengan serta merta wajah Nenek Moyang budayanya itu.

Tidak ada yang salah?

Dalam hal ini memang tak ada yang salah. Karena memang beginilah jaman. Orang-orang hanya tunduk pada nut jaman kelakone.  Saya yakin bahwa para pemasang patung pahlawan itu, juga tidak sengaja, atau mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka itu ngingkuri (membokongi) apa yang disanjung-sanjungnya, yaitu wajah budaya Jawa, warisan Nenek Moyang yang diagung-agungkan itu.

Tetapi, itulah realitas hidup kita. Itulah salah satu contoh lemahnya pendidikan kita dalam membangun karakter budaya bangsa. Pendidikan yang telah meninggalkan budaya Jawa tanpa disadarinya, karena terpana oleh rayuan pendidikan duniawi yang mengejar selebritas dan puji-pujian prestasi dunia tetapi kehilangan ruhnya. Hasilnya, orang-orang Jawa telah lupa apa itu warisan leluhurnya. Mereka tidak lagi bisa mengamalkan nilai leluhur yang adiluhung, yang bisa dilakukan hanyalah memuja dan memuji budaya Jawa sebagai sebuah cerita masa lalu. Pendidikan kita juga mendukung teraleniasinya budaya sebagai pedoman dan kaidah hidup bermasyarakat.

Siapakah yang menjadi Idola?

Dulu pendidikan kita mengajarkan bahwa pendidikan adalah panutan berperilaku. Pendidikan sebagai pusat untuk meningkatkan kualitas dan derajat kemanusiaan seseorang.  Hal itu dikukuhkan lewat simbol Guru, digugu dan ditiru. Karena sekarang pendidikan berbasis kompetensi, maka Guru bukanlah sosok yang perlu digugu dan ditiru. Guru telah kehilangan peran dan sosok yang dihormati.  Dalam pendidikan sekarang Guru hanya fasilitator yang memfasilitasi anak didik untuk lulus dalam ujian.  Lingkungan dan habitatlah yang mempunyai pilihan untuk diambil alih oleh anak didik. Pendidikan dikonstruksikan secara sosial. Guru hanyalah faktor kontributif  dan kolaborator dalam transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dan bukan inspirator.

Oleh sebab itu, penghormatan terhadap Guru atau Dosen berubah dari nilai spiritual ke norma material. Guru atau Dosen dikatakan profesional apabila memberi nilai dengan sistem yang benar, sesuai dengan norma material seperti SK (Surat Keputusan) yang ditanda-tangani oleh Menteri, Dirjen atau Rektor. Sebaliknya, Guru atau Dosen dikatakan buruk apabila memberi hukuman dengan pukulan atau hukuman secara phisik.  Jadi penempatan posisi Guru atau Dosen yang berubah ini telah mengubah seluruh capaian yang menjadi produk perguruan tinggi. Apabila Guru dan Dosen kita ibaratkan penggembala, maka dari itu sistem pendidikan kita sekarang, memposisikan anak didik sebagai sentral pendidikan, dan mereka lebih berkuasa atas segala sesuatu. Guru dan Dosen kehilangan otoritas sebagai pendidik dan pengajar karena ia sekarang adalah fasilitator dan kolaborator yang mempunyai kesederajatan. Hal ini juga dapat dirasakan di masyarakat, dulu Guru dan Dosen menjadi penuntun jalan menuju pencerahan, sekarang tidak lagi menjadi pekerjaan terhormat, selain karena gajinya juga rendah peranannya hanya sekedar membubuhkan nilai di atas kertas rapor dan ijasah.

Pendidikan sebagai Penguatan Perilaku Beradab

Hadirin yang saya hormati,

Sebagai penutup pidato saya kali ini, saya akan memberikan pandangan baru terhadap pendidikan Nasional kita. Selama ini, saya melihat bahwa pendidikan telah merampas khasanah lokal genius sebagai warisan budaya adiluhung kita. Pendidikan diarahkan untuk mempertahankan dan menguatkan warisan budaya, tidak cukup hanya diukur dengan perhitungan kuantitatif. Pendidikan harus diukur berdasarkan hitungan kualitatif, yang melibatkan nilai dan norma yang diarahkan agar anak didik mampu mengkontruksikan makna-makna yang tersebar dan membuka anak didik untuk melakukan eksplorasi gagasan besar lalu menstrukturisasi ke dalam wilayah kongkrit. Di sini pendidikan menuntun setiap anak mendidik menjadi inventor atau penemu-penemu dari gagasan-gagsan besar.

Jadi, bagi para pengelola pendidikan jangan menepukkan dada karena merasa berhasil membangun institusi pendidikan tak ubahnya selebritis. Banyak ditulis di koran dan ditayangkan di televisi. Jangan terbuai oleh rangking kuantitatif yang secara sistematis dikenalkan oleh media massa di mana-mana. Pengelola pendidikan harus mampu mengimplementasikan konsep pendidikan yang selaras dengan substansi pendidikan itu sendiri. Pengelola jagnan tergila-gila dengan wacana peningkatan dan tingginya rangking. Tingginya ranking dalam hanya membuat pengelola pendidikan tinggi arogan dan terlalu membanggakan diri.  Pada hal bukan itu yang dimaksud oleh visi pendidikan kita. Jadi apa yang menjadi standar dan ukuran perguruan yang baik?

Karena tujuan diadakannya pendidikan untuk mendidik agar orang mengalami perubahan sebagaimana yang kita inginkan, yakni perubahan dan penguatan perilaku yang lebih beradab. Maka pendidikan kita, adalah upaya untuk mengeksplorasi khasanah budaya kita yang beradab, yaitu ke-Indonesiaan kita. Pendidikan nasional berhasil apabila terjadi secara nyata perubahan dan progresi seseorang menjadi berakal-budi baik, jujur, penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Perspekstif.?

Sebagai konklusi ruh pendidikan nasional kita setidaknya mengikutkan 3 hal berikut dalam Kurikulum Nasional, yaitu:

  1. Mengikuti dinamika perubahan dan perkembangan masyarakat secara arif berkesinambungan
  2. Membimbing anak didik ke jalur yang lurus dengan cara pandang yang kritis
  3. Memberi pencerahan kepada masyarakat dengan sudut pandang solutif        ===

Comments are closed.