By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

GURITA CIKEAS


(Tulisan ini melengkapi tulisan yang dimuat VIVA NEWS)

Pertama-tama, saya memuji buku Gurita Cikeas sebagai tulisan yang sangat langka ditengah gerakan pemberantasan korupsi.  Dalam hal ini Goerge telah berhasil mengangkat persoalan korupsi lebih dekat lagi ke ranah publik dengan metoda yang dia kembangkan sejak lama, yaitu membangun wacana populer.

Tetapi, kita tetap harus berhati-hati,  karena isu korupsi sebagai bagian dari wacana media, bisa kehilangan arah dan bisa saja menutupi penyelesaian penyelesaian korupsi itu sendiri.  Dalam hal ini, media massa  mempunyai kepentingan yang beragam, mempunyai norma dan nilai sendiri, yang berbeda dengan nilai-nilai yang berkembang di lingkungan lain, seperti lingkungan kaum gerakan dan LSM, berbeda dengan norma dan nilai yang dikembangkan dalam lingkungan kaum akademisi, serta lingkungan kaum politisi.

Perbedaan nilai dan norma yang dianut, sebagai kaidah untuk bertindak dan berperilaku, pada akhirnya juga membedakan cara pandang mereka terhadap suatu masalah yang dihadapi,  dalam hal ini cara-cara memberantas korupsi.

Selain perbedaan norma dan nilai yang dianut sebagai kaidah penyelesaian korupsi, perbedaan dalam persoalan pengkajian saAngat dipengaruhi oleh cara memperoleh, menguji validitas  dan menggunakan data-data. Selain juga perbedaan dalam cara pendekatan, metodologi bahkan madzab filsafat ilmu yang dianut. Beberapa hal tersebut, akan menghasilkan variasi hasil yang dicapai oleh setiap peneliti.

Lazimnya, saya mempercayai bahwa  sebuah hasil kajian didasarkan atas tujuan mencari atau memverifikasi kebenaran; mengeksplorasi sesuatu yang tak terungkap atau menjelaskan dan mendiskripsikan secara seimbang terhadap data-data yang harus digali.  Sesungguhnya, apapun perbedaan visi dan metodologi, yang jelas hasil kajian adalah mencapai kebenaran yang obyektif  serta pengambilan kesimpulan yang lurus.  Persoalannya memang bisa diperdebatkan tentang apakah itu kebenaran, kebenaran  yang bagaimana, kebenaran untuk siapa, dll dll.  Lazimnya kebenaran yang dimaksud dalam kajian ilmiah adalah kebenaran obyektif.

Apa yang disebut ilmiah dan tidak ilmiah akhirnya menjadi perdebatan falsafat yang dikaji tanpa henti. Tidak ada klaim kebenaran ilmiah yang memuaskan semua pihak. Oleh sebab itu, dalam hal perbedaan interpretasi terhadap persoalan ilmiah dan tidak ilmiah sangat bergantung dari sikap sendiri dalam menyikapi kebenaran itu sendiri.

Yang jelas setiap orang boleh mengkritik dan terbuka terhadap kritik orang lain.  Setiap peneliti mempunyai kearifan dalam berbeda pendapat.  Karena apa disebut obyektif ilmiah diinterpretasi secara beragam?

Bagi saya sendiri,  standar ilmiah sebuah karya apabila memenuhi beberapa kriteria, yang secara klasik dapat disebutkan antara lain:  mempunyai hasil kajian mempunyai landasar berpikir (teori) dan metodologi. Bahwa yang obyektif adalah yang dapat diterima oleh akal sehat,  bersifat general (umum dapat menerima) dan lazimnya  dapat dipertanggungjawabkan secara substansial.  Kebenaran ilmiah bukanlah kebenaran pengadilan. Kebenaran ilmiah berangkat dari metodologi yang digunakan untuk mencapai kebenaran itu.

Tetapi perlu diingat bahwa setiap peneliti mempunyuai cara pandang dan capaian hasil, setiap peneliti mempunyai hak untuk meyakini kebenaran itu berdasarkan hati nuraninya. Dalam subyek kajian yang sama biasanya dihasilkan capaian yang kurang lebih sama. Tetapi bisa juga berbeda, karena faktor madzab peneliti yang dianut dan paham atau filsafat yang mendasari kajiannya. Seorang mengaku sebagai kaum peneliti Nihilis atau Dadais adalah syah-sayah saja. Dia tetap mempunyai hak dan keabsahannya sendiri yang patut dihargai.

Begitupun seorang realis, fenomologis, seorang naturalis, seorang marxis  atau seorang kritis, masing-masing mempunyai cara pandang dan landasan filsafati  yang berbeda, dan sah-sah saja sekaligus perlu mendapatkan penghargaan yang sewajarnya.

Justru terjadinya kritik dan dialektika pemikiran dalam kehidupan ilmiah akan justru memajukan dan meningkatkan kualitas keilmuan.  Yang penting, setiap orang dan peneliti perlu terbuka terhadap kritik dan menerima saran dan kritikan yang membuatnya lebih valid.  Tidak ada gading yang tak retak, jangan pernah membangun tirani karena merasa paling pandai, jangan pernah merasa paling benar, karena di atas langit masih ada langit.

Semoga berguna. Terima kasih.

Comments are closed.