By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

ModaL Sosial dan Budaya Bagi Dosen Profesional


Gagasan/masukan materi: Andrik Purwasito, Guru Besar dalam bidang Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya

Disampaikan dalam Lokakarya Sistem Pengembangan Profesionalisme Dosen (SPPD), tanggal 16 Desember 2009 di Ruang Perpustakaan UNS

1.  Siapakah Dosen yang Profesional? Yang dimaksud dosen yang profesional adalah dosen yang memenuhi standar kompetensi dalam 3 bidang yaitu :

1). Kompeten sebagai seorang pendidik dan pengajar; 2). Kompeten sebagai seorang peneliti (inovator dan inventor); 3). Kompeten sebagai seorang penggagas dan pengabdi masyarakat

Untuk mendukung tercapainya tingkat kompetensi, seorang dosen profesional dibutuhkan modal sosial dan modal budaya sebagai faktor pendukung. Yaitu, kepemilikan modal sosial dan kepemilikan modal budaya.

2. Apa saja Faktor pendukung Dosen yang Profesional?

  1. Pendekatan

Pendekatan untuk mencapai tingkat profesionalisme dosen dapat di dekati dengan cara pandang ekonomi (economic approach). Dalam ilmu ekonomi, tujuan utama kegiatan ekonomi adalah mencapai laba sebesar-besarnya di atas rata-rata. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan setidaknya tiga faktor vital yaitu :

1). Ketersediaan Modal; 2). Kualitas Manajerial; 3). Lingkungan Bisnis; 4). Tingkat Kompetisi

  1. Pendekatan Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, tujuan utama pendidikan adalah membangun manusia seutuhnya berdasarkan kodrat yang dimilikinya. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan tenaga profesional yang wajib mempunyai kompetensi dan modal dasar serta sistem manajerial dan iklim kehidupan kampus yaitu:

1). Kompetensi dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian Masyarakat; 2). Mempunyai Modal Budaya dan Modal Sosial yang cukup; 3). Kualitas Manajerial Universitas yang mendukung profesionalitas; 4). Atmosphere Kehidupan Kampus yang menghidupi iklim profesional

Artinya, bahwa meningkatkan profesionalisme dosen tidak dapat hanya dilihat atau ditingkatkan aspek teknik mengajar, tetapi harus dilihat secara holistik. Pendekatan holistik dalam profesionalisme dosen berarti selain menunjuk pada kapasitas dan aksesbilitas serta akseptabilitas seorang dosen dalam kaitannya dengan ketersediaan modal dan keterlibatan dosen dalam kegiatan di kampus dan di luar kampus, juga adanya dukungan kualitas dan good will dari Pimpinan universitas, fakultas dan prodi untuk meningkatkan dosen yang profesional dan terus menerus melakukan pembinaan secara berkesinambungan..

Selain itu, dibutuhkan atmosfere kehidupan kampus yang kondusif sebagai wahana intelektual dengan berbagai kegiatan tidak saja pendidikan dan pengajaran, tetapi juga bidang pengembangan gagasan, penemuan, penelitian, seni, budaya, spiritual, olah-raga dan pengabdian sosial.

3. Apa Kongkritnya Culture Capital, Social Capital, Manajerial dan Academic atmosphere

Culture Capital (Kapital budaya) adalah modal seorang dosen mampu bertindak secara profesional. Tindakan yang dimaksud adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan dosen yang dinilai dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai makluk individual maupun sebagai makluk sosial. Modal budaya juga berarti kepemilikan atas berbagai pendukung seorang dosen sebagai tenaga profesional.

Social Capital (Kapiial Sosial) adalah bagaimana seorang dosen melakukan interaksi dengan lingkungannya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Manajerial, adalah bagaimana gaya pimpinan dalam upaya meningkatkan dosen yang profesional.

Academic Atmosphere adalah bagaimana warga kampus menghidupkan kampus sebagai university of learning dan research university atau apapun kegiatan yang semarak hidup sebagai masyarakat ilmiah dan menghidupi warga kampus sebagai insan ilmuah.

Penjelasan:

Social Capital

Mempunyai tingkat interaksi yang tinggi baik di Kampus maupun dalam kegiatan di Masyarakat di luar bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi (Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Bidang Penelitian dan Bidang Pengabdian pada Masyarakat).

Interaksi di Kampus

o Kebiasaan Target Keterangan
1 Kehadiran di Kantor 4 kali dalam seminggu Dibuktikan dengan absen
2 Rapat-rapat jurusan, fakultas, universitas dan kepanitiaan 3 kali/Smt Dibuktikan dengan Absen
3 Kegiatan Penemuan dan Penulisan Buku Tidak dibatasi waktu Ditunjukkan dengan rencana dan proses
4 Kehadiran di Perpustakaan 1 kali dalam seminggu Dibuktikan dengan Kartu Kehadiran di Perpustakaan
5 Kegiatan Ilmiah di Institusi sendiri 2 kali peserta seminar/Smt Dibuktikan dengan sertifikat atau Surat Tugas
  1. Interaksi di Luar Kampus
1 Kegiatan Karya yang di Patenkan Tidak dibatasi waktu Ditunjukkan dengan Sertifikat Hak Intelektual/Patent
2 Kegiatan Pameran 1 dalam 2 tahun Internasional, Nasional, Lokal
3 Kegiatan Pelatihan/workshop Berbagai bidang (bidang ilmu dan diluar bidan ilmu) Dibuktikan dengan sertifikat keikutsertaan
4 Kegiatan pengabdian atas inisiatif sendiri di luar kegiatan Tri Dharma, organisasi masyarakat dan kerjasama dengan pihak di luar institusi 2/tahun Tingkat internasional (2) Tingkat nasional (1), Regional (0,75), Lokal (0,5)
5 Kegiatan Ilmiah di luar Institusi sendiri 2 kali peserta seminar/Smt Dibuktikan dengan sertifikat atau Surat Tugas

Culture Capital

Seorang dosen dikatakan profesional apabila mempunyai modal budaya. Pembuktian atas modal budaya dilakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk Verifikasi Faktual. Dibawah ini modal budaya seorang dosen dengan minimal kepemilikan pendukung profesionalisme sebagai berikut :

No Kepemilikan Target Keterangan
1 Perpustakaan pribadi 100 buku ilmiah Di rumah mempunyai perpustakaan dengan minimal 100 buku ilmiah, 20 buku yang berhubungan langsung dengan keahliannya
2 Internet Provider Memiliki minimal 1 Sambungan provider Kepemilikan internet dan modem
3 Ruangan kerja 2 x3 atau berapa ukurannya Apakah ada ruangan khusus
4 Komputer Laptop/desktop Minimal mempunyai satu laptop atau komputer di rumahnya
5 Pemilikan Buku karya sendiri 1 bab buku/ semester Menulis buku dalam waktu 3 tahun (6 bab) setiap bab minimal 50 halaman, ketik 1,5 spasi, kertas kwarto
6 Rumah Kerja secara mandiri Sebuah bangunan Bangunan khusus untuk kegiatan pendukung dosen berkarya
7 Letak Rumah Berapa Kilometer dari Kampus Jarak tersebut ditentukan dengan menyebutkan kota tempat tinggal sehari-hari.

Manajerial dan Academic atmosphere

Oleh karena pengembangan profesionalisme dosen terkait erat dengan Sistem Manajerial dan Atmosphere akademik, maka kedua hal tersebut juga perlu ditingkatkan secara beriringan.

Artinya, bahwa penilaian profesionalisme dosen harus mencakup aspek penilian manajerial dan atmosphere akademik. Jawaban yang bisa kita peroleh adalah :

Mungkin saja dosen tidak bisa menjadi profesional karena tidak adanya dukungan positif dari manajerial dan kurang mendukungnya atmosphere akademik.

Dalam hal ini kita akan lebih obyektif dalam menilai tingkat profesionalisme soerang dosen.

Apabila tidak adanya dukungan manajerial dan iklim akademik yang mendukung pengembangan tersebut, maka SPPD juga akan tidak banyak berfungsi sebagai salah satu cara peningkatan profesionalisme dosen.

SPPD bisa berjalan apabila tujuan utama adalah penilaian terhadap dosen dalam hal teknik mengajar di kelas. Kalau ini yang dikehendaki, yang dimaksud profesional hanya dalam hal mengajar di depan kelas, maka faktor-faktor yang saya sebutkan tadi kurang begitu berpengaruh, karena hanya menilai dari satu aspek saja dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sekian dan terima kasih. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan. Sukses SPPD dan Sukses UNS sebagai World Class University

Hormat Kami

Andrik Purwasito

Comments are closed.