By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Professor Discours

Pidato Guru Besar

MANAJEMEN KOMUNIKASI LINTAS-BUDAYA

DI TENGAH DINAMIKA DAN PERUBAHAN GLOBAL

(This is just Excecutive summary, the Complet Discours, please see on Book and Article page)


Bismillahirochmanirrachim

Yang saya hormati, Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Prof . Dr. Muhammad Nuh, DEA,

Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris dan para anggota Senat,  para Pembantu Rektor, Direktur dan Asisten Direktur Pasca Sarjana di Universitas Sebelas Maret

Para Pejabat Sipil dan Militer, para Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta seluruh Indonesia, Dekan dan Pembantu Dekan, Ketua Jurusan dan Program Studi, Ketua Lembaga, Ssekretaris Lembaga, Kepala Biro, Kepala UPT serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret,

Para kolega dan sejawat, dosen, wartawan, seniman, budayawan, mahasiswa, staf dan seluruh civitas akademika Universitas Sebelas Maret, para Tamu Undangan, sanak keluarga dan handaitaulan serta seluruh hadirin yang berbahagia,

Assamu’alaikum wr. wb

Selamat pagi, salam damai dan sejahtera bagi kita semua

Alhamdulillahirabbil’alamin …. Pertama-tama puja dan puji syukur kehadhirat Allah SWT, yang telah memberikan kita berupa limpahan rahmat, berkah, kenikmatan dan kebahagiaan, petunjuk dan bimbingan, serta kesehatan dan perlindungan yang teduh, sehingga kita dapat berkumpul di ruangan ini untuk menghadiri Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret dalam rangka Pengukuhan Guru Besar saya dalam bidang komunikasi lintas-budaya, Amien..amien ya rabbal’alamin….

Kedua, perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya, rasa terima kasih yang dalam dan tulus eklas kepada Bapak Rektor dan Pembantu Rektor UNS, Ketua Senat, Sekretaris Senat dan Anggota Senat UNS, yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk menduduki jabatan fungsional Guru Besar dalam bidang Komunikasi Lintas-Budaya, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Selanjutnya ucapan terima kasih dan rasa hormat saya sedalam-dalamnya kepada seluruh hadirin yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara ini.

Hadirin yang saya muliakan,

Ijinkanlah pada kesempatan hari ini saya menyampaikan sekelumit gagasan saya dalam bidang ilmu yang saya tekuni selama ini, yaitu membangun masyarakat sadar budaya dengan strategi manajemen komunikasi lintas-budaya.[1] Gagasan ini lahir dari pengalaman dan perjalanan intelektual saya selama ini, yang sebelumnya pernah saya tulis di beberapa, artikel dan buku antara lain :

  1. Strategi Global AS-US dalam Era Perang Dingin, diterbitkan oleh Universitas Sebelas Maret Press 1995
  2. Komunikasi Multikultural yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta Press tahun 2003.
  3. Imajeri India, diterbitkan oleh Ford Foundation dan Pustaka Cakra, tahun 2001
  4. Message Studies, diterbitkan oleh Ndalem Poerwahadiningratan Press, tahun 2002
  5. “Kemiskinan Intelektual” yang dimuat Surat Kabar Nasional, Kompas, tahun 1994
  6. “Perang Peradaban”,  dimuat di Surat Kabar Nasional, Kompas, tahun 1995
  7. “La Patrie en Danger” dimuat dalam Akademika, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1995
  8. “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Masa Depan Indonesia: Pentingnya Komunikasi Antar Budaya masuk dalam Kurikulum Pendidikan Nasional,” dimuat dalam jurnal terakreditasi Varidika, Varia Pendidikan, FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, tahun 2000
  9. Perpektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah, Penerbit Political Laboratory for Supporting Good Governance,  2001

10.  “Menggugat Historiografi Indonesia,” Jurnal Sejarah, Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi, tahun 2007,  diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor

11.  “Demokrasi Waton Sulaya,”  dimuat dalam Jurnal Politika, tahun 2008 yang diterbitkan oleh Akbar Tanjung Institute

Dari pemikiran-pemikiran yang telah dipublikasikan tersebut saya rangkum menjadi program sadar budaya ini, yang pada intinya berasal dari gabungan antara rancang bangun komunikasi nasional (national communication engeenering) dan manajemen lintas-budaya (cross-cultural management).  Kemudian keduanya saya gabungkan ke dalam konsep baru, yaitu Manjemen Komunikasi Lintas-budaya (cross-cultural communication management).

Itulah kira-kira gagasan kontributif  saya kepada Indonesia,   selain sebagai wujud kepedulian dan kesadaran intelektual saya untuk ikut cawe-cawe membangun Indonesia yang kuat dan bersatu, gagasan saya ini juga sebagai wujud sumbangsih ilmu-ilmu sosial Indonesia dan khususnya Universtas Sebelas Maret, dalam ikut serta membantu menyelesesaikan persoalan bangsa, terutama pada usaha bela Negara dalam rangka menjaga dan memperkokoh ke-Indonesiaan kita.

  1. Alasanya apa?

Bagaimanapun budaya adalah pedoman berperilaku yang membimbing kita untuk melakukan tindakan dan bagaimana cara kita bergaul dengan orang lain, la culture, ou se tient le plus clair dela conduite humaine, est egalement importance pour tout le monde.[2] Saya tertarik menekuni bidang komunikasi dan kebudayaan, sejak saya menjadi mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Gajahmada tahun 1976, ketika itu eskalasi konflik kepentingan dan konflik budaya di berbagai belahan dunia terus meningkat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ciri-khas masyarakat Indonesia adalah multikultur. Perbedaan kultur bisa menjadi kekuatan pemersatu bangsa, tetapi dalam perjalanan sejarah bangsa, perbedaan kultur bisa menjadi sumber potensi konflik yang mampu mengancaman integrasi nasional. Sejarah mencatat bahwa upaya Negara mengatasi persoalan tersebut dimanifestasikan ke dalam berbagai kebijakan, yang pada umumnya bertitik tolak dari kebijakan politik, hukum dan ekonomi. Sedangkan kebijakan dalam bidang komunikasi dan bidang kebudayaan agaknya belum digarap secara lebih serius.

Sementara saya berasumsi apabila Negara kita mengamalkan program sadar budaya yang saya ajukan dalam pidato pengukuhan kali ini, saya yakin bangsa kita akan mempunyai daya linuwih; yaitu seperangkat pengetahuan budaya yang canggih  berupa kemampuan diri mengendalikan perubahan dan dinamika sosial-politik di dalam negeri dan pada level internasional adalah kemampuan aksesbilitas dan peningkatan posisi tawar dalam persaingan global.

  1. Mengapa Manajemen Komunikasi Lintas-budaya?

Bahwa komunikasi memegang peranan sangat vital dalam mengubah kesadaran budaya seseorang. Komunikasi mampu mendekatakan unsur-unsur yang berbeda baik dalam skala yang kecil (dyadic frame) atau dalam kerangka yang lebih besar, yaitu wacana masyarakat (discourse frame). Contohnya Amerika Serikat mengubah perilaku etnosentrisme dan ambiguitas yang berkembang dengan program tersebut.[3] Jadi,  pada dasarnya manajemen komunikasi lintas-budaya antara laub merekayasa komunikasi massa untuk mengubah perilaku masyarakat sesuai yang dikehendaki (hardening attitudes), menghapuskan keraguan dan kebimbangan masyarakat (breeding belief) terhadap kerangka nasionalisme,  menghapuskan ketidakpastian (avoid uncertainty) yang berkepanjangan dalam jiwa masyarakat serta mengatasi adaptasi yang sesat (avoid maladaptation). Pada akhirnya, komunikasi digunakan untuk menghapuskan kesenjangan informasi (gap information) menimbulkan chaos.[4]

Sedangkan budaya pada dasarnya adalah konsepsi tentang dunia(vision du monde) serta seperangkat gagasan yang memungkinkan mereka memahami kehidupan mereka, yang tergambar sebagai imago mundi. Hanya saja mereka seringkali kurang kritis disebabkan karena pemikiran mereka berasal dari berbagai sumber dan kejadian masa lalu yang cenderung membuat mereka menerima ketidakadilan dan penindasan sebagai hal yang alamiah dan tidak dapat diubah-ubah.[5] Setiap hari kita bergaul dengan kebudayaan yang berbeda dan kita menemukan bahwa keberagaman budaya adalah kenyataan hidup, cultural diversity is a fact of life.[6] Nah, sekarang apa yang disebut dengan budaya itu? Saya akan menjawab dengan ilustrasi sebagai berikut :

Seorang teman berpesan kepada saya, “Hati-hati dengan budaya Jawa.” Lalu saya bertanya pada diri sendiri, mengapa teman itu berkata seperti itu?. Memangnya apa ada yang salah dengan budaya Jawa?. Bukankan saya lahir dari Ayah-Ibu Jawa, hidup dan dibesarkan oleh keluarga Jawa dengan adat istiadat dan cara Jawa pula? Mengapa?            Setelah saya belajar tentang budaya Jawa, saya baru menyadari bahwa apa yang tampak dari wajah orang Jawa, apa itu senyuman manis, anggukan yang santun atau keramahtamahan, bisa jadi itu bukan menunjuk pada perilaku yang sebenarnya. Senyum dan anggukan mungkin sama sekali bukan berarti wellcome, OK, atau D’accord (kata orang Prancis). Jadi jangan marah kalau keramahtamahan itu bukan juga ungkapan ketulusan dan cermin kejujuran. Jadi, saya berpikir, O itulah pentingnya sadar dan peka budaya itu.

Ilustrasi saya yang kedua, ketika saya berada di tengah-tengah sumber budaya Jawa yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat. Di Karaton ini saya banyak belajar tentang budaya Jawa dan Orang-orang Jawa. Akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa budaya dalam kehidupan Orang-orang Jawa berarti kolektivitas bukan individualitas. Budaya adalah kebersamaan dan komunalisme. Maka jangan pernah menonjolkan keahlian dan memperlihatkan kecerdasan anda dihadapan orang lain, karena tindakan itu dianggap vulgar bahkan tindakan anda dianggap sombong. Juga jangan pernah mengritik pikiran orang lain secara terbuka, karena kritikan Anda dianggap sebagai serangan terhadap kehidupan privasinya.

Dengan dua ilustrasi tersebut memberi pengetahuan kepada kita bahwa setiap kebudayaan itu menyimpan simbol-simbol unik. Budaya Jawa sering bersifat tersembunyi (tertutup), diam itu emas,  ambigu, ngono ya ngono ning aja ngono, pesan-pesan konotatif, sanepan jadi apa yang tersurat bukan menunjuk pada makna yang tersirat, inggih inggih ora kepanggih. Jadi, budaya itu memang tidak mudah dipahami, tetapi dapat dipelajari dan dengan demikian dapat berubah.[7] Oleh sebab itu budaya perlu dikelola secara baik dan wajib hukumnya, dan inilah gagasan inti pidato pengukuhan Guru Besar saya kali ini.

3.   Sebuah Cultural Teraphy bagi Bangsa Indonesia?

Hadirin yang saya muliakan,

Manajemen Komunikasi Lintas-budaya saya sebut juga sebagai cultural teraphy dengan asumsi bahwa bangsa Indonesia berisi manusia yaitu individu-individu, dan karena manusia logikanya sakit adalah bagian dari kehidupannya. Dari sudut pandang ini, saya melihat bahwa bangsa Indonesia juga sedang kurang sehat, ditandai dengan banyaknya berita sumbang, apatisme dan fatalisme yang terjadi dari seluruh tingkatan kehidupan. Apabila hal ini tidak mendapatkan teraphy yang tepat, maka bangsa ini juga mengalami siklus organik seperti makluk hidup lainnya yaitu akan mati juga.

Demi menjaga kelangsungan hidupnya, menjaga agar bangsa Indonesia tetap sehat wal-afiat, hari ini saya tawarkan cultural teraphy untuk menyembuhkannya. Apa saja yang perlu disembuhkan dalam terapi budaya ini? Setelah saya lakukan “diagnosa,” saya termukan empat penyakit yang ganas dan berbahaya, yaitu:

  1. Lemahnya integrasi nasional karena berkembangnya “musuh-musuh tersembunyi” dalam diri anak bangsa
  2. Berkembangnya ketidakadilan makna dalam proses nation state building.
  3. Terjadinya “Kiamat kecil” sebagai konsekuensi logis “Tsunami” globalisasi
  4. 4. Kompleksitas komunikasi massa yang mampu mempengaruhi perjalanan anak-anak bangsa ke jalur yang sesat.

Karena keterbatasan waktu, saya mohon maaf tidak akan menjelaskan keempat hasil diagnosa saya tersebut, dan saya persilakan hadirin membaca penjelasan secara rinci pada buku pidato yang sekarang  telah ada di tangan Anda.

4. Madinatul Approach: Membangun Pendekatan Baru

Dalam proses terapi tersebut memang dibutuhkan janga waktu, tenaga dan pendekatan serta strategi yang memadai. Dalam kesempatan ini, saya mengajukan pendekatan baru, dari khasanah arkaik, dalam upaya menyelesaikan persoalan bangsa, yakni Madinatul Approach, yang saya sebut juga sebagai pendekatan damai (peacefull approach). Pendekatan ini saya ambil dari pendekatan masyarakat oleh Muhammad Rosullah SAW ketika beliau memimpin Madinah. Saya ktakan baru oleh karena kajian ini kurang populer atau jarang diangkat oleh kaum Orientalis untuk sebuah pendekatan msyarakat dan lebih mengemukakan pendekatan mereka sendiri (Barat)./

. Di sini saya angkat kembali sebagai salah satu cara iba’ Rosul yang saya yakini bisa menjadi pendekatan terbaik dalam menjalankan kemudi penyelenggaraan Negara. Rosul sebagai pribadi Panutan, selayaknya menjadikannya sebagai Panutan dalam hal menjalankan amanah kedaulatan rakyat. InsyaAllah.

Pendekatan ini pernah saya ajukan dalam Jurnal prestisius yang diterbitkan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor, yaitu  Jurnal Sejarah, Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi,  dengan  judul, “Menggugat Historiografi Indonesia,”  (no. 13 tahun 2007).  Pada intinya isi gagasan itu adalah menggugat interpretasi terhadap sejarah bangsa yang menggunakan pendekatan klasik perang bharatayuda.

Saya mengingatkan bahwa salah satu musuh besar bangsa ini adalah cara pandang dunia yang salah, yakni memandang dunia (bawana langgeng) sebagaimana Ki Dalang memainkan wayang, dengan pendekatan dua kubu besar yang saling dihadapkan yaitu Pendawa dan Kurawa, seperti dalam era Perang Dingin yaitu memandang dunia dengan cara blok-blok : antara Blok Timur dan Blok Barat, seperti Pasca Perang Dingin dengan cara membagi Dunia Ekonomi atas Negara-negara Utara dan Negara-negara Selatan. Cara pandang yang sama dilakukan oleh Huntington dengan apa yang ia sebut sebagai clash of civilisation. Akhirnya, yang hidup dalam pikiran kita hanyalah clash dan conflict. Sehari-hari hidup kita diliputi oleh perasaan “in group” dan “out group”,  “We are” dan “the others” memandang dunia dengan cara kita yang “normal” dan yang lain “abnormal.”  Dan masih banyak diantara kita menjadi pewaris dialektika Karl Marx yang melihat hidup sebagai pertentangan antar kelas,  yang secara alami melakukan perang tanding dalam segala lapangan kehidupan.

Menurut hemat saya, pendekatan tersebut bersifat simplifistik dan nasionalis chauvistik, dan saatnya kita tinggalkan. Mendekati kehidupan peradaban manusia dari sisi ego sentris tersebut cenderung mengumbar nafsu untuk menguasai dan meng- hegemoni satu peradaban terhadap peradaban yang lain, dll. Lebih celaka lagi, banyak pikiran yang mengkondisikan agar peradaban yang satu dihadapkan dengan peradaban yang lain, dan menggantikannya dengan peradaban baru.

Paradigma clash dan konflik kultural melahirkan cara pandangan dunia yang penuh syakwasangka dan sikap-sikap arogan karena memandang peradaban yang lebih maju akan menggayang peradaban yang lemah. Maka logislah bila hari ini saya mengajak hadirin dan seluruh bangsa di dunia ini untuk berubah dan berbenah, meninggalkan pendekatan dikhotomis yang penuh konflik dan mengamalkan pendekatan yang lebih dingin, damai, multidisiplin dan interdisipliner, yakni apa yang di atas tadi saya sebutkan pendekatan Madinah.

Mungkin saja hadirin akan mengatakan bahwa saya terlalu religius dalam hal ini, tetapi inilah wujud  rasa syukur saya terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT beserta hidayah dan innayahNya, dengan semangat menanamkan pemikiran yang lebih positif  terhadap kehidupan, mempromosikan pentingnya hidup berdampingan secara damai (peacefull coexistance) dan penuh persaudaraan (human brotherhood), bersikap adil terhadap sesama, membuka diri dan kesediaan saling berbagi, demi membangun sebuah dunia yang rukun, damai, sejahtera tanpa menghadirkan kekerasan dan penindasan.

  1. Bagaimana Implementasinya?

Hadirin yang saya Muliakan

Atas dasar latar belakang masalah dan pendekatan tersebut, saya menyusun metode strategis untuk mengimplementasikan manajemen komunikasi lintas-budaya, melalui apa yang saya sebut sebagai Program Pembelajaran Budaya.

Apa itu program pembelajaran budaya?

Program pembelajaran budaya metoda mengelola budaya untuk mencapai tingkat kesadaran dan kepekaaan budaya tertentu, artinya “mengisi kesadaran pola berpikir seseorang tentang dunia asing (orang lain, the others).” Caranya dengan mengubah konsepsi tentang dunia (vision du monde) seseorang  atau kelompok dengan cara memperkuat norma dan nilai perilaku lokal mereka sebagai bagian dari warga Desa Global.[8] Inilah proses evolusi dan kultivasi yang direncanakan sehingga terjadi proses “reformasi intelektual dan moral masyarakat” secara lebih alamiah.

Dalam strategi Jangka Panjang, program ini ditujukan kepada seluruh komponen bangsa dan dalam strategi Jangka Pendek diarahkan untuk mereka yang melakukan tugas khusus seperti para calon diplomat, Tenaga Kerja Indonesia, pelajar dan mahasiswa, pebisnis, kalangan pers dan pejabat politik (seperti anggota legislatif, yudikatif dan eksekutif).

Hadirin yang saya muliakan,

Program Pembelajaran tersebut dapat dijabarkan dalam 3 kegiatan besar yaitu:

  1. 1. Rancang bangun (Rekayasa) Komunikasi Massa

Apa yang dimaksud rancang bangun komunikasi massa adalah melakukan manajemen budaya lewat kegiatan penyebaran informasi publikasi, baik cetak dan elektronik. Rancang bangun komunikasi massa lebih dititikberatkan untuk memberikan bekal yang baik bagi masyarakat untuk saling memahami dan mengerti budaya daerah satu dengan budaya daerah lain, dengan penekanan pada perilaku dan adat kebiasaan, pandangan dunia, cara hidup, kepercayaan, gaya hidup, dan berbagai persoalan budaya yang lainnya.

  1. 2. Penetrasi kurikulum Pendidikan Formal

Program pembelajaran budaya wajib dimasukkan ke dalam sistem pendidikan formal, mulai dari sekolah taman kanak-kanak. sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, diwajibkan untuk memberikan tambahan materi lintas-budaya. Hal ini merupakan komitmen bersama mengenalkan lebih baik tentang manusia dengan adat istiadat daerah  meningkatkan derajat dan kualitas patriotisme dan nasionalisme.

  1. 3. Pusat Pelatihan/Pendidikan Informal

Implementasi manajemen komunikasi lintas-budaya diarahkan untuk pembekalan terhadap mereka yang akan menjadi calon pemimpin, mereka yang menjalankan kegiatan bersama dengan orang asing, atau mereka yang ingin bekerja di daerah yang kurang mengenal latar budayanya. Untuk mengatasi hambatan budaya, setiap orang membutuhkan bekal budaya, agar supaya lebih cepat beradaptasi dan menyesuikan dengan lingkungan budaya yang baru.

Program budaya ini telah dilakukan oleh banyak negara, misalnya militer dan pejabat tinggi Belanda, yang akan dikirim ke Indonesia, mereka dibekali dengan materi budaya. Maka lahirlah sekolah Breda, yang intinya adalah mempersiapkan militer Belanda dalam tugas di Indonesia.  Di Amerika Serikat, pengenalan materi lintas-budaya diberikan kepada para pejabat dan pebisnis termasuk tenaga kerja dan mahasiswa yang akan melakukan kegiatan di luar negeri.

Di Indonesia hal ini sudah dilakukan untuk beberapa institusi, tetapi kesadaran lintas-budaya saya lihat belum merupakan kebijakan nasional. Program lintas-budaya ini saya kira merupakan program spesial dan oleh karena itu perlu penanganan yang bersifat spesial pula. .[9]Contohnya adalah LEMHANAS sebagai salah satu instutisi yang mendidik calon pemimpin, saya sarankan agar memasukkan materi Manajemen Komunikasi Lintas-budaya sebagai bahan ajarnya

Agar program implementasi tersebut berhasil, perlu dukungan dari semua pihak, terutama institusi, lembaga atau departemen yang secara langsung berkaitan erat dengan pencapaian tujuan ini. Program tersebut hanya dapat dicapai dengan adanya kerja antar departemen dan lembaga terkait.

6.Penutup

Dari apa yang telah saya uraikan di muka, akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa Negara harus mempunyai kepekaan terhadap dinamika dan perkembangan kebudayaan. Dinamika dan perubahan budaya lokal dan global harus mendapat perhatian dan penanganan serius dan secara berkesinambungan.

Ucapan Terima Kasih

Hadirin yang saya Muliakan

Di penghujung pidato saya hari ini, perkenankanlah saya sekali lagi memanjatkan puji syukur yang setinggi-tingginya kehadhirat Allah s.w.t  atas segala limpahan nikmat dan karunia, hidayah dan innayahNya,  kasih dan sayangNya, sehingga saya diijinkan mengemban amanah sebagai Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret.

Kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung, menyetujui dan mengabulkan pengajuan saya sebagai Guru Besar ini, perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus-iklas, kepada :

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. Muhammd Nuh, DEA, yang telah memberi restu atas pengukuhan Guru Besar saya pada hari ini.
  2. Bapak Prof Dr. Bambang Sudibyo, MBA sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional telah menandatangani Surat Keputusan pengangkatan saya sebagai Guru Besar, dengan SK No. 57685/A4.5/KP/2009 tertanggal 30 Juni 2009, tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada Sekjend Depdiknas, Bapak Prof Dr. Ir. Dody Nandika, MS
  3. Terima kasih, penghargaan dan rasa hormat saya haturkan kepada Bapak  Prof. Dr. H. Muchamad Syamsulhadi, dr. Sp.KJ (K) selaku Rektor Universitas Sebelas Maret, beserta para Pembantu Rektor.[10]
  4. Ketua dan Sekretaris Senat[11] serta seluruh Anggota Senat Universitas Sebelas Maret, para Pejabat di lingkungan Universtias Sebelas Maret, khususnya Bapak Drs. Supriyadi SN, SU selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS, para Pembantu Dekan,[12] serta seluruh Anggota Senat Fakultas dan seluruh jajaran Pimpinan dan staf baik di lingkungan Program Studi, Jurusan, Fakultas serta Universitas, khususnya kepada Ibu Dr. Prahastiwi Utari, MS, selaku Ketua jurusan Ilmu Komunikasi, jurusan dimana saya bernaung sejak awal karir saya dalam dunia akademik. Kepada Bapak Drs. Surisno Satriyo Utomo, MSi, yang telah berkenan membacakan riwayat hidup saya dan Bapak Prof. Dr. Ir. Suntoro, MS, yang berkenan membacakan doa dalam pengukuhan kami kali ini.
  5. Kepada Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Bapak Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA, Ph.D dan Ketua Program Pasca Sarjana, Bapak Dr. Martinus Dwi Maryanto, MA, sebagai alumni ISI (waktu itu masih Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia ASRI), saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengembangkan keahlian saya dalam bidang Art Communication dan Art and Environment, dengan melibatkan saya dalam membimbing  dan menguji program doktor penciptaan dan pengkajian seni. Atas dorongan ini, juga telah mengantarkan saya ke jenjang Internasional, terutama terpilihnya saya menjadi Artist in Residence di Rumania bulan Juli 2009 dan bulan Nopember 2009 terpilih salah satu diantara seniman Dunia untuk mengikuti Gumgang pre-Biennalle of Korea, di Korea Selatan.
  6. Kepada almarhum SISKS Pakoeboewana ke XII, Drs. Gusti Dipokusumo, Dra. Gusti Moeng, MPd dan suami, Kanjeng Pangeran Dr. Eddi S. Wirabhumi, SH yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk bekerja dan meneliti budaya Jawa di lingkungan Karaton Surakarta sejak tahun 1998-sekarang. Kepada Almarhum Susuhanan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya saya haturkan, karena berkat inspirasi dari Beliau saya menggagas kembalinya Surakarta sebagai Daerah Istimewa Surakarta dan menjadi Daerah Otonomi Istimewa.[13] Mudah-mudahan Allah AWT mengijinkan Solo mendapat kesempatan mengelola daerahnya berdasarkan aspirasi masyarakat. InsyaAllah.
  7. Rasa hormat, sembah sujud saya, kepada Ayah-Bundaku, yang dengan tenang, telah berpulang ke Pangkuan Illahi,[14] berkah beliau berdualah saya hadir di sini, meskipun tidak lagi Mereka berdua bisa menyaksikan prestasi saya, insyaAllah di Sorga mereka merasakan kebahagiaan ini. Tidak lupa, rasa terima kasih dan syukur kepada Keluarga Besar H. Daoed,[15] seluruh Keluarga Besar H. Waluyo, seluruh Keluarga Besar Busroni Elly Fathoni, yang telah mendukung saya baik secara moral dan material.
  8. Kepada Istri dan Anakku[16] yang memberi kekuatan pada saya untuk berjuang, yang setia mendampingi saya dalam suka dan duka, yang mendoakan kebaikan di waktu siang dan malam, yang membukakan pintu ketika saya pulang, yang mendamaikan segala kebencian, fitnah dan  adu-domba yang datang bertubi-tubi dalam keluarga saya, yang dengan rasa syukur ikut membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah….Amien amien ya rabbal’alamin, … Guru Besar ini  adalah tanda cinta kasih saya yang abadi untuk kalian semua.
  9. Kepada guru formal saya, Prof. Dr. Dennys Lombard (promotor), Prof. Dr. Claude Bremont (Ketua penguji dan Ahli Semiotika), Prof. Dr. Idris A. Kesuma (pembimbing skripsi) Prof. Dr. M. Amien Rais, (penguji skripsi), Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA (pengirim program Doktor ke Prancis), Prof. Dr. Yahya Muhaimin, MA (penguji wawancara masuk HI), Prof. Dr. Koentowibisono (Rektor UNS yang memfasilitasi saya belajar di luar Negeri). Kepada kolega, seniman dan para dosen ISI Yogyakarta, terutama Bapak Nyoman Gunarsa, Affandi, Surisman Marah,  Guru informal saya, Prof. Dr. Marcel Bonneff, Prof. Dr. Umar Kayam, Prof. Darmanto Yatman, Dr. Koentara Wiryomartono, Prof Dr. Bakdi Soemanto, Prof. Dr. Koentowidjojo, dan Prof. Dr. Mochtar Mas’oed, serta tidak akan lupa jasa Guru spiritual saya, Prof Mr. Hardjono.
  10. Dalam kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada guru madrasah, guru ngaji, guru SD, SMP dan SMA yang tercinta, semua adalah para inspirator dan guru saya yang membimbing saya baik secara intelektual, secara moral maupun spiritual.
  11. Kepada kolega sejawat, Mas Ravik Karsidi, Mas Supriyadi, SN, Pak Sholahuddin, Pak Sudiharjo SH, Pak Dwi Tiyanto, Pak Totok Sarsito, Pak Agung Satyawan, rekan satu lighting masuk di FISIP Pak Surisno Satriyo Utomo, Pak Pawito, Pak. Sudarto, Pak Ali, Pak Mohtar Hadi, MSi. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada kolega dan para asisten saya yang telah membantu mempersiapkan dokumen: Dra. Trisni Utami, MSi, Yudiawati Kusumaningrum, Nia Fathoni, Yuni, Ratna, Inchen, Rane, Amy, dll. Kepada tenaga birokrasi seperti mbak Eny, Mas Sony, Mas Bambang, Mas Gofur,  Mas Budi, Mas Wily, Bu Heny, Bu Nurhayati, Mas Bahtiar dan seluruh staf yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu: terima kasih, sekali lagi  terima kasih kepada semuanya. Berkat dorongan dan dukungan, informasi dan akses, serta bantuan tenaga dan pikiran anda,  Guru Besar saya ini akhirnya turun juga setelah kurang lebih 10 (sepuluh tahun) diajukan oleh Senat Universitas Sebelas Maret.[17] Banyak pelajaran yang saya dapatkan dalam kurun waktu penantian panjang itu, selain makin rajin berdoa dan tawakal, selalu belajar mensyukuri akan nikmatNya, membekali diri dengan kesabaran dan kerelaan serta kerendahan hati nrima ing pandum, akhirnya kini saya percaya bahwa waktu adalah Guru saya yang  paling bijak dan bersifat adil, yang membuat saya lebih penyabar, lembah manah dan tahan uji.
  12. Kepada seluruh hadirin yang hadir di sini, kolega, sejawat, handai-taulan, rekan-rekan wartawan, seniman dan budayawan, tetangga, dan semua pihak yang telah membantu, yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung atas capaian ini, semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipatganda kepada Anda semua, rezeki yang lumintu, keberkahan, kesejahteraan dan kenikmatan lahir dan batin. Amien…amien ya rabbal’alamin.

Sekian, terima kasih, matur nuwun, merci beaucoup,  wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  1. I. Daftar Pustaka
  1. Buku Referensi

Balle, Francis, Medias et Societes, edisi ke 5,  Penerbit Montchrestien, Paris, 1990

Ball, Donald A. dan  W.H. Mc Culloch, “International Business”, edisi ke 7,  terjemahan, Bisnis Internasional,  Buku I, McGraw Hill, Salemba Empat, Jakarta, 2000

Black, Jay and Frederick C. Whitney, Introduction to Mass Communication, second edition, Wm. C. Brown Publisher, Iowa, 1983

Braudel, Fernand,  Ecrit sur l’Histoire, Penerbit Champ Flammarion, Paris, 1969

Effendy, Onong Uchjana, Psikologi Manajemen dan Administrasi. CV Mandar Maju, Bandung. 1989

Fillingham, Lydia Alix,  “Foucault for Beginners,” diterjemahkan  Foucault untuk Pemula, diterbitkan oleh Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 2001

Fukuyama, Francis, The Great Disruption, Hakikat sionaManusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2002

Jandt, Fred E., Intercultural Communication, An Introduction, second edition, Sage Publications, London, 1998

Hitt, Michael A. and R. Duane Ireland dan Robert E. Hoskisson, Strategic Management Competitiveness and Globalization Concepts, terjemahan, Manajemen Stratgegis daya saing dan Globalisasi, Konsep,  Penerbit Salemba 4, Jakarta, 2001

Huntington, Samuel P., “The Clash of Civilisation and the Remaking of World Order” terjemahan Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2000

Kahin, George Mc., Nationalism and Revoultion in Indonesia, Cornel Universtity Press, Ithaca, 1970

Koorntz, Harold and Cyril O’Donnell, Management a Systems and Contigency Analysis of Managerial Functions, sixth edition, McGraw-Hill, Los Angeles, 1976

Kotler, Philip. dkk, “The New Competition,”  terjemahan  Kompetisi Baru,  PT Gramedia, Jakarta, 1986

Kim, Y., Communication and cross-cultural Adaptation, An Introgative Theory,  Mutilingual Matters, Clevedon, UK 1988, dalam R.L. Wiseman, ed, Theories in Intercultural Communication, Sage, California

Lull, James, “Media, Communication, Culture: A Global Approach,” terjemahan Media, Komunikasi Kebudayaan, sebuah pendekatan Global, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1998

Malinowski, Bronislaw, Une Theorie Scientific de la culture,  diterjemahkan dari  “A Scientific Theory of Culture and Others Essays,” (1944)  Point, Paris, 1968

Martin, Judith N. and Thomas K. Nakayama,  Intercultural Communication in Contexts,  edisi III, Mc Graw-Hill, New York, 2004

Martin, Judith N. et al, Reading in Intercultural Communication, Second edition, Nanette Kauffman,  Boston, 2002

Mitchel, Charles, Short Course in “International Business Culture”, diterjemahkan dalam Budaya Bisnis Internasional,  World Trade Press, Penerbit PPPM, Jakarta, 2001

Mowlana, Hamid Global Information and World Communication,  New  Frontiers in International Relations, edisi 2, Sage Publication, London

Naisbitt, John dan Patricia Aburdene, Megatrends 2000, Sidwick &Jackson, London, 1990

Ohmae, Kenichi, “The End of the Nation Stated; The Rise of Regional Economies,” Hancurnya Negara Bangsa, Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat Ekonomi Regional di Dunia tak Terbatas, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 1995

Purwasito, Andrik,  Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana, Penerbit Ford Foundation dan Pustaka Cakra, Surakarta, 2001

_______________, Pengembangan Program Pembelajaran, Metode Role-Play System mata Ajaran Komunikasi Antar-Budaya, Proyek QUE, FISIP-UNS,  Surakarta, 2001

_______________, Perpektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah, Penerbit Political Laborator,y for Supporting Good Governance, Surakarta, 2001

_______________,  Komunikasi Multikultural, Penerbit Universitas Muhammadiyah Surakarta  Press, Surakarta, 2003

_______________, Message Studies, Penerbit Ndalem Poerwahadiningratan Press, Surakarta, 2003

Samovar, Larry A. and Richard E. Porter, Intercultural Communication, A Reader, Wadsworth Publishing Company, Belmont, 1999

_________________________, Intercultural Communication, A Reader, edisi ke IX, Wadsworth Publishing, Belmont, 2000

Schramm, Wilbur and Daniel Lerner, Communication and Change, East-West Center Book Publisher, Honolulu, 1978

Simon, Roger, “Gramci’s Political Thought,” terjemahan Gagasan-Gagasan Politik  Gramci, Insist dan Pustaka Pelajar, cet 3, Yogyakarta, 2000

Sullivan, Tim O’ et all, Key Concepts in Communication and Cultural Studies,  second edition, Routledge, London, New York, 1994

Undang-Undang Republik Indonesia tentang Penyiaran,  No. 32 tahun 2002

  1. Internet, Suratkabar, Jurnal :

http://wiki.answers.com, “What is cross cultural management,” download 20 Oktober 2009 pk. 10.00 WIB

http://en.wikipedia.org, Cross-cultural communication, Wikipedia, the free encyclopedia, dalam download 25 Oktober 2009, pk. 11.09

http://www.allconferences.com, Understanding Conflicts Cross-Cultural Perspectives, download, 1 Nopember 2009, pk. 3.30 wib

Kompas,  21/10/2009

Kompas, 29/10/2008 “Pidato Presiden Soesilo Bambang Yudoyono dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda”,

Kompas: 1992, Andrik Purwasito, “Perang Peradaban.”

Kompas, 1993, Andrik Purwasito, “Kemiskinan Intelektual.”

Jurnal Sejarah, pemikiran, rekonstruksi, persepsi, Purwasito, Andrik, “Menggugat Historiografi Indonesia,”  no. 13 tahun 2007,  diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor, Jakarta, 2007

Varidika, Varia Pendidikan,vol XII, no. 21, Desember 2000, Andrik Purwasito, “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Emas Masa Depan Indonesia,”


[1]Cross-cultural communication, Wikipedia, the free encyclopedia, dalam http: //en.wikipedia.org download 25 Oktober 2009, pk. 11.09. Studi komunikasi lintas-budaya, yang sering disebut studi komunikasi antar-budaya mengalami perkembangan sangat cepat sebagai medan riset global. Di Inggris bidang ini dipelajari dalam bidang communication studies, sedangkan di Inggris sebagai sub-bagian dari applied linguistics.  Studi komunikasi lintas-budaya juga dipelajari untuk bidang ekonomi dan bisnis serta dalam bidang pendidikan. Dalam kesempatan ini, komunikasi lintas-budaya dipelajari sebagai kajian inter-disipliner sebagai metoda strategis dalam menghadapi persoalan integrasi nasional (ke-Indonesiaan) dan hubungan internasional (globalisasi).

[2]Bronislaw Malinowski, Une Theorie Scientific de la culture,  diterjemahkan dari  “A Scientific Theory of Culture and Others Essays,” (1944)  Point, Paris, 1968,  p. 11

[3]Carey, op. cit., p. 1

[4]Andrik Purwasito, Pengembangan Program Pembelajaran, Metode Role-Play System mata Ajaran Komunikasi Antar-Budaya, Proyek QUE, FISIP-UNS,  Surakarta, 2001, p.31

[5]Ibid, p. 27

[6]Larry A. Samovar  and  Richard E Porter, Intercultural Communication, A Reader, edisi ke IX, Wadsworth Publishing, Belmont, 2000, p. 1

[7]Mitchel, op.cit, p. 4-5

[8]Roger Simon, Gramci’s Political Thought, terjemahan Gagasan-Gagasan Politik  Gramci, Insist dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet 3, 2000, p. 26

[9]Meskipun dalam masyarakat tampak adanya kesamaan dalam etnisitas atau ras, tetapi dalam prakteknya mereka mempunyai adat istiadat yang berbeda dan pengalaman sosial-budaya yang berbeda pula, menyebabkan mereka tidak mampu membangun hubungan yang optimal, dalam Peter and Samovar,  loc. cit

[10]Pembantu Rektor I, Bapak Prof. Dr. Ravik Karsidi, Ms, Pembantu Rektor II, Bapak Prof. Dr. Sholahuddin, Pembantu Rektor III, Bapak Drs. Dwi Tiyanto, SU, Pembantu Rektor IV, Prof. Dr. Adi Sulistyo, SH, M.Hum

[11]Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr, Sp Kj  (K)

[12]Drs.Supriyanto Susiloadi, MSi ( Pembantu Dekan 1), Drs. H. Marsudi Ms, (Pembantu Dekan II), Dra Suyatmi, SU (Pembantu Dekan III)

[13]Gagasan ini saya sampaikan dalam Debat Publik Calon Walikota Solo tahun 1999/2000

[14]Ayah dan Ibu : Pembantu Letnan Satu (purnawirawan), H. Daoed Soekardji, dan Hj. Toemiatoen

[15]9 bersaudara, Endah Karmiasih (almarhumah),  Dr. Anjar Wibisono (Balikpapan), Ir. Ayik Widiarso (Kediri), Drs. Agung Prawidodo (Tulungagung), Teguh Hernowo, Amd (Semarang), Uztad Rochmat Susilohadi (Mojokerto), Siti Nawangsasi, SE  (Surabaya), Sri Suwitaningsih S.Sos (Trenggalek).

[16]Istri dan Anak : Hj. Wida Prihastuti, Amd, Erwin Kartinawati, S.Sos, Elkautzar Poetry Argapatni, S.Sos, Al Qadrine Poetry Galihsuci, Humaida Poetry Al Arsy, Al Eqlas Purwasito Yunior, Al Maydah Romania Purwasito

[17]Diajukan oleh Senat Universtitas Sebelas Maret tertanggal 17 November 1999 dan ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional No. 57685/A4.5/KP/2009 tertanggal 30 Juni 2009, dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret, 10 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.