By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

MITOS INDIA-JAWA DALAM PERAN POLITIK DAN BUDAYA ORANG-ORANG JAWA

Andrik Purwasito, 2012

Oleh : Andrik Purwasito

Mitos hubungan India-Jawa tidak lagi diperbincangkan orang, kecuali dalam meja akademisi. Hubungan India-Jawa yang besar di masa lampau, seakan-akan lenyap dari perbincangan kita. Hubungan itu tidak terlalu menarik karena  discourse global lebih mendominasi percaturan kebudayaan kini. Kini orang sadar bahwa Indonesia merupakan bagian penting dari kultur global. Sebagai bagian dari espas kultur global, Indonesia merasa penting menyiapkan diri untuk menjadi warga yang aktif dan dinamis. Justru kesiapan menjadi warga global inilah yang mendorong tulisan ini diturunkan, yakni melihat seberapa besar mentalitas orang-orang Jawa yang dulu menangkap budaya global itu adaptif terhadap budaya global kekinian.

 

Bukan Akulturasi

Peran politik dan budaya orang-orang Jawa tercermin dalam kehidupan orang Jawa lewat dunia pewayangan. Dunia wayang adalah representasi dari dunia  makro­kosmos.  Dunia  yang bersumber dari epos  Mahabharata, sedikit banyak telah mendarah daging dalam kehidupan sosial-budaya dan politik orang-orang  Jawa.  Dunia wayang adalah milik  orang  Jawa  yang secara tidak terus terang memisahkan  diri  dari  sumber atau induknya, India.  Meskipun generasi sekarang telah berubah, tetapi dalam mentatlitas orang Jawa, mereka semakin  percaya diri bahwa dunianya itu  adalah  dunia  yang mereka bangun dari kesadaran akan mainstream budaya global pada saat  itu.  Karena budaya global itu adalah milik zaman,  maka wayang menjadi miliknya yang pribadi. Orang-orang Jawa tidak lagi mengacu pada induknya, India dan mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga, India bagi orang-orang Jawa hanyalah sebuah bayang-bayang induk yang terlupakan. Mereka yakin bahwa mental kultural dunia  wayang orang-orang Jawa adalah murni dari proses  pembudayaan  global dan bukan akulturasi sebagaimana dibayangkan oleh para ahli.

 Perlu redefinisi

Sejarah tetap mencatat bahwa India, pada zamannya memang menjadi sebuah pusat  peradaban dunia. Meskipun kini, India tak lagi mencerminkan sebuah pusat  peradaban, kecuali kita  lihat dalam film-film India yang klasik, kebesaran India tetap diwar­iskan dengan baik lewat buku-buku pelajaran sejarah di  sekolah Menengah. Seperti dalam buku karya Soekmono, India tetap  dile­takkan  sebagai “civilisateur” pertama bagi  bangsa  Indonesia. Pandangan  seperti sebaiknya  dirubah  dengan   mencari pendekatan lain yang juga akan memberi makna lain dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Kata-kata Soekmono, dalam buku itu  harus diubah, sebagaimana tertulis berikut ini:

“Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu,  berak­hirlah jaman pra sejarah Indonesia… pengaruh Hindu bukan saja mengantarkan bangsa Indonesia memasuki jaman  sejarah,  tetapi juga  membawa  perubahan  dalam  susunan  masyarakatnya, yaitu timbulnya kedudukan raja dan bentuk pemerintahan kerajaan,  dan dalam alam pikiran pula dengan adanya bentuk keagamaan  yang baru.  Dengan  sendirinya penghidupan dan adat  kebiasaan  ikut berubah.”

Pembudayaan  Indonesia  tidak  harus  dipandang  dalam  konteks pengaruh mempengaruhi melainkan melalui pendekatakan  mainstream  (arus besar budaya global), yang menganggap bahwa terdapatnya pengaruh yang menonjol dalam suatu kebudayaan itu karena « mode budaya » pada saat itu memang demikian.

 Kenangan

Pendekatan ini akan memberikan kejelasan mengenai berba­gai kenangan orang-orang Jawa terhadap India. Sehingga hubungan India  dengan  Indonesia tidak lagi dipandang  sebagai konteks pengaruh tetapi sebagai buah dari budaya global pada zamannya. Budaya  global  itulah yang merasuk di hati  orang-orang  Jawa, sebagaimana  diceritakan oleh Marcel Bonneff dalam “Pérégrinations  Javanaises”, bahwa orang-orang di sekitar puncak  gunung  Kendeng menganggap fosil-fosil manusia purba yang ditemukan  di sana adalah tempat kediaman (Keraton) dari Raja Raksasa bernama Arimba. Ditempat itu, dulu kala terjadi perang Bharatayuda yang mengakibatkan  korban  jiwa yang tak terhingga.  Kini,  menurut mereka, bekas perang itu telah meninggalkan bekas berupa tulang belulang  yang berserakan di mana-mana, yang dipercaya  sebagai tulang  para pahlawan yang gugur di medan laga. “Dans le monts Kendeng,  de gigantesques ossements fossiles  rapellent,  selon les  anciens,  qu’il s’y trouvait le palais du  roi  des  ogres Arimba…”

Budaya  global yang bersumber pada peradaban India  juga melahirkan persaudaraan atau hubungan emosional yang  kuat  di antara ke dua bangsa. Persis seperti hubungan orang-orang Rusia dengan Bizantium, Perancis dengan Italia, Barat dengan  Yunani. Hubungan batin itu tercermin pada pengalaman tentara Sepoy dari India yang bertugas di Jawa tahun 1815.

Seorang  tentara Sepoy dari India bernama Dhaugkul  Sing pernah berkunjung Sunan di Kasunanan Solo. Sing membawa  gambar Rama, sambil berkata kepada Sunan, “if you are a descendant  of a worshipper of the great Rama, then you are my master.”  Dunia wayang  yang dihadirkan di hadapan Sunan adalah  tepat,  memang itulah dunia orang Jawa.

Sepoy  secara emosional dan terbuka mengakui bahwa  bumi Jawa  adalah  the  land of Brama. Artinya,  orang  India  masih menganggap  bahwa  bumi Jawa tidak ubahnya  Bumi  Suci. Dengan pengakuan tersebut, mereka merasa malu jika bumi Brahma  berada di bawah kekuasaan orang kafir (bangsa Eropa), it was a sin and a  shame that te land of Bhrama should remain in the  hands  of infidels (Europeans). Kenyataan inilah yang menyebabkan  banyak diantara mereka yang meninggalkan barisan dan bergabung  dengan Keraton  Yogya,  bahkan diantara mereka ada yang  kawin  dengan keluarga keraton. Di Surakarta mereka juga merencanakan  perla­wanan  terhadap  kehadiran  Inggris di Jawa  itu  dengan fihak Keraton,”….Mangkubumi conceived the idea of using the Sepoys to bring pressure on the Sunan to take action both against  the European  government  and against the other  Central Javanesse courts.” Bahkan  terbukti  para deseter tentara  India  tersebut lebih suka tinggal di Jawa setelah berakirnya pemerintah  jaja­han Inggris 1916. Mereka pada umumnya menjadi body-guard dalam resimen Sunan dan Sultan, dan sebagian yang lain terlibat dalam perdagangan terutama berdagang beras di  Kedu,  Boyolali  dan sekitarnya.

 Alat Politis

Dari  gambaran  di  atas, penulis  memperoleh  gambaran  yang semakin  jelas bahwa kenangan tentang mitos India  masih  tetap hidup  di tengah masyarakat Jawa. Ternyata mitos adalah  sebuah kekuatan.  Ia  adalah sesuatu yang  bersifat imaginer,  tetapi mengandung  kekuatan legimatik. Apakah mitos  ini dimanfaatkan oleh  penjajah untuk mempertahankan statusquo maupun  oleh  pejuang  kemerdekaan sebagai suatu  modal  dalam  perjuangannya, adalah persoalan yang akan dibahas berikut ini.

Orang Belanda, lewat para indolognya adalah pembuka kebesaran bagi  masa  lalu Indonesia. Para indolog  memberikan  sumbangan yang  besar terhadap kemapanan Belanda menjajah  di Indonesia. Terutama studi mereka tentang mentalitas dan kebudayaan Indone­sia.  Hasilnya, antara  lain terlihat  pada  penggunaan  mitos kebesaran  India sebagai  suatu alat bagi kepentingan  politik Belanda. Kehadiran  “India”  dalam  peradaban  Indonesia  lama,  yang dibentuk  oleh Belanda tersebut diinterpretasi  sesuai  dengan kepentingan  kolonial. Antara lain, mengembangkan  mitos  India lama sebagai “ibu kandung” Indonesia (India Belanda) dan menu­tupi  realitas India modern yang tengah  menghadapi penjajahan

Inggris.  Belanda mencoba mengembangkan mitos  bahwa  Indonesia adalah  bagian tak terpisahkan dari India. Artinya,  India  dan Indonesia adalah satu kesatuan, senasib dan serumpun budaya.

Mitos di atas oleh Belanda dijadikan alat untuk  meruntuhkan moral  penguasa terakhir Mataram dan  Diponegoro,  sebagaimana dituturkan PRS Mani. Bahwa Belanda tidak segan-segan membujuk dan mengatakan kepada Diponegoro dan Raja Mataram untuk  tunduk pada Belanda, karena “Sang Ibu” yaitu India  telah jatuh ke tangan  bangsa Eropa, yakni Inggris. Dengan kata lain,  Belanda mencari legitimasi kekuasaan atas orang Mataram itu.

Di fihak lain, di kalangan kaum pejuang, kenangan India  lama itu  dijadikan suatu alat untuk menggerakkan nafas  kemerdekaan dan kebebasan.  Tidak  ayal lagi, jika  mereka  mengambil dan mensitir  ide dari para pemikir India, seperti Mahatma  Gandhi, Y.  Nehru,  dll.  Bukti adanya pengaruh  mitos tersebut dapat ditemui  dalam surat Soekarno kepada Yawarhalal Nehru  pada 19 Agustus 1946 antara lain, ia mengatakan: “Negara dan rakyat Anda terjalin dengan kami melalui  ikatan-ikatan  darah dan kebudayaan yang sudah ada sejak mula pertama sejarah.

Kata  “India” pasti akan selalu menjadi  bagian  dari hidup kami, karena kata itu membentuk 2 suku kata pertama, nama yang kami pilih bagi tanah dan bangsa kami, yaitu “Indo”  dalam Indonesia.  Yogyakarta tempat saya menulis surat ini –  seperti Jawa,  Sumatra,  dan kebanyakan nama  lainnya, termasuk  kata bahasa India, nama saya sendiri menjadi saksi mengesankan  akan betapa besarnya kami telah mewarisi kebudayaan kuno negeri Anda yang kaya ….” Surat  di atas jelas menunjukkan bahwa  Soekarno  menggunakan kedekatan budaya India-Indonesia untuk tujuan politisnya, yakni sebagai salah satu cara untuk mendapatkan dukungan India terha­dap perjuangan kemerdekaan yang ingin dicapainya.

 Kesimpulan

Dari  apa yang diuraikan di atas akhirnya  dapat  disimpulkan bahwa  mitos India yang besar, telah  mewarnai  cara  berpikir orang  Jawa. Fenomena ini sangat menarik untuk  diteliti  lebih lanjut,  jika  dikaitkan dengan  munculnya globalisasi dimana dominasi Barat semakin kokoh. Jika pada saat pergerakan nasion­al sebuah mitos dapat dijadikan alat politik, apakah mitos lain dapat dijadikan sebagai “alat” untuk mengatasi dominasi Barat?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,752 other followers