By Foundation of Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA

Author Archive

Radikalisme di Kampus


Mempertimbangkan Metoda Menuju Sorga dengan Redesign Kurikulum

Andrik Purwasito

1. Pengantar

Radikalisme dan fundamentalisme tidak saja dalam Islam, tetapi juga terdapat dalam semua agama: Kristen, Katolik, Hindu, Budha, juga terdapat dalam kelompok/sekte aliran kepercayaan, kelompok atau organisasi dalam masyarakat. Khusus, radikalisme adalah gagasan ideal  tentang ajaran yang ingin kembali kepada akarnya (radix). Radikalisme adalah gerakan yang diwujudkan oleh para penggagas dan pengikutnya melawan status-quo. Radikalisme tersebut melakukan pemurnian/kembali ke akar secara konservatif  (tidak dengan kekerasan) dan sebagian yang lain secara ekstreem (dengan kekerasan). Di bawah ini saya akan sedikit menguraikan tentang Pengaruh yang melahirkan Radikalisme Ekstreem.

2. Faktor Media Baru

Dua faktor pengaruh lahirnya radikalisme ajaran keagamaan di kalangan mahasiswa. Pertama, faktor pengaruh eksternal, yakni semakin mudahnya akses informasi global melalui media baru, yaitu internet. Informasi tentang berbagai hal, tidak saja tentang ajaran agama, tetapi juga ideologi, ekonomi, politik, budaya, dll. yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan ciri-khas mudah diakses.

Berbagai informasi tersebut menawarkan gagasan baru, termasuk ideologi dan ajaran keagamaan untuk kembali kepada akarnya sesuai dengan visi dan missinya masing-masing. Sementara itu, siapa sumber-sumber informasi tersebut, mustahil dapat diketahui secara baik, karena saking melimpah ruahnya sumber informasi, baik secara individu maupun kelompok. Kekuatan dan kemampuan setiap orang menjadi sumber berita adalah dukungan yang kuat meluasnya radikalisme.

Mahasiswa yang tergolong individu terdidik, cerdas dan penuh obsesi kebaruan, lebih banyak mempunyai kesempatan untuk melakukan browsing dan selalu ingin mencoba apa saja yang dianggapnya cocok dengan nurani dan intelektualitasnya. Termasuk ingin mengetahui lebih banyak tentang pemahaman keagamaan dan kepercayaan yang selama ini diyakininya.

Biasanya ketertarikan terhadap ajaran keagamaan tersebut merupakan trend bagi generasi muda, karena ingin mengetahui lebih banyak tentang bagaimana kehidupan setelah dunia ini.  Oleh sebab itu, semua ajaran tentang purifikasi ajaran agama, yakni pemurnian terhadap keyakinan untuk kembali ke –akarnya, tersebut menjadi pusat perhatian yang menarik. Terutama adalah pengetahuan tentang sorga dan neraka.

Iming-iming (tawaran) tentang jalan menuju kepada keabadian (sorga) dan menghindari kesengsaraan yang abadi (di neraka) selalu menarik perhatian kalangan mahasiswa. Dengan metoda rasionalisasi, seperti ungkapan “Hidup di dunia hanya sekedar mampir ngombe” dan “bahwa kehidupan dan kebahagiaan yang abadi adalah sorga.” Harta benda, derajat, pangkat dan pemilikan dunia lainnya hanyalah sekedar titipan yang tidak akan pernah di bawa mati.” Maka berjihad selama di dunia di jalan Allah akan menerima imbalan yang setimpal yaitu sorga abadi.

Ungkapan tersebut sangat rasional dan merupakan daya pikat (sihir) kuat, yang digunakan oleh Gerakan Radikal Ekstreem untuk merekrut pengikutnya. Mereka mencuci otak setiap pengikutnya dengan meyakinkan bahwa apa yang dilakukan adalah ajaran yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan di luar kelompoknya adalah kaum yang sesat dan kafir.

Agaknya, metoda untuk meraih pengikut gerakan radikal adalah menjelaskan secara ilmiah (rasional) tentang ajaran yang benar sesuai akarnya. Dengan arah mencapai sorga abadi, agaknya dijadikan problematika sentral dalam pengembangan radikalisme. Di satu pihak,  radikalisme ekstrem mengembangkan ideologi  jihad radikal (dengan kekerasan), tidak patuh terhadap hukum dan pengabaian terhadap nilai dan norma budaya masyarakat. Di pihak lain, mengembangkan ideologi jihad secara damai, yakni mementingkan kedamaian dan ketentraman dalam masyarakat, melawan kebodohan dan kemiskinan. Sementara radikalisme ekstrem menggunakan metoda kekacauan, teror dan tindak kekerasan lainnya.

Metoda-metoda “jalan menuju sorga” tersebut, dengan berbagai “kemasan,” memang  sangat banyak dirilis di Dunia Maya, dan sangat mudah (real time) di akses oleh setiap orang, termasuk mahasiswa yang sudah sangat minded dengan komputer. Semakin besar content informasi radikal ekstrem tersedia di Dunia Maya, sementara content informasi radikal konservativ kecil, peluang bagi masyarakat ketika meng “klick” mesin pencari (Google), yang muncul adalah content informasi radikal ekstrem tersebut.

  1. Faktor Tokoh Panutan

Pada zamannya, Wali Songo adalah panutan masyarakat untuk mempratekkan ajaran agama secara benar. Otoritas Wali Songo menduduki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, seperti pada zaman Kuno ketika para Brahmana dan Biksu memainkan peranan sebagai panutan masyarakat. Kiblat kepemimpinan panutan tersebut kini telah luntur.

Apa yang terjadi adalah masyarakat selalu mencari tokoh panutan lain. Ketika tokoh panutan tidak ada, manusia selalu mencari ideal type untuk dirujuk sebagai penunjuk jalan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Tokoh-tokoh wayang semakin kehilangan tempat di masyarakat dan karenanya juga sangat jarang anak-anak muda, mahasiswa akan merujuk pada tokoh-tokoh tersebut.

Faktor pengaruh internal ini juga menjadi faktor merebaknya radikalisme. Hal ini juga didorong oleh kekecewaan dan apatisme yang berkembang karena keadaan yang kurang menggembirakan, seperti situasi politik, ekonomi dan sosial-budaya. Ketidakpuasan tersebut sangat direspon di kalangan mahasiswa dan selalu saja kampus tidak memberi jalan keluar yang progresif.  Kampus lebih banyak berhitung soal prestise sebagai World Class University, kampus hanya menjadi mercu-cuar keberhasilan dalam bidang akademik. Kampus tidak lagi memberikan pendidikan budaya, ethos kebersamaan, persaudaraan dan kreativitas sosial tetapi lebih banyak berbicara mengenai profit dan “ideologi materialisme.”

Hal ini merupakan lahan yang subur bagi gerakan pemurnian, kembali ke akarnya. Kembali kepada harkat kemanusiaan. Gerakan radikal berkembang subur dan karena ini mungkin dianggap oleh mahasiswa sebagai anti-tesa terhadap “ideologi materialisme”  yang dikembangkan di kampus. Namun, gerakan radikal ekstreem, yakni menggunakan cara-cara kejam untuk mencapai tujuannya belum separah yang kita bayangkan. Kejadian mahasiswa menyimpan bahan peledak di UMS Surakarta dan juga 5 mahasiswa UGM adalah salah satu bukti adanya masuknya gerakan radikal ekstrem ke kampus.

  1. Re-design Kurikulum

Sebagai solusi merebaknya radikalisme, baik bersifat konservatif dan ekstrem, perlunya Mendiknas me-redesign kurikulum. Sebagaimana saya sebutkan di atas bahwa kurikulum kita dominan untuk mencapai profit, baik secara sosial maupun ekonomis. Sehingga, perguruan tinggi tidak ubahnya Pabrik atau Industrialisasi Pendidikan yang arahnya mencetak anak didik menjadi “mesin industrialisasi global.” Keinginan terhadap mondialisasi, seperti sekolah RSBI, World Class University tidak lain adalah perwujudan menciptakan dunia pendidikan menjadi ajang atau kawah candradimukanya materialisme.

Redesign kurikulum memang bukan jaminan untuk memotong lahirnya radikalisasi di kalangan mahasiswa dan dosen. Tetapi design pendidikan yang seimbang, yakni antara pendidikan spiritualitas dan pendidikan intelektual seharusnya menjadi visi pendidikan kita. Selama ini kurikulum hanya berkutat masalah kompetensi tetapi tidak pernah berbicara tentang spiritual dan emotional quotien, serta cultural quotien. Pendidikan dengan kompetensi sangat baik untuk satu sisi, yakni meraih sesempurna mungkin aspek materialistiknya, tetapi tidak pada aspek spiritual.

Saya pernah mengajukan kurikulum berbasis lintas-budaya, sebagaimana Pidato Pengukuhan Guru Besar saya, dimana aspek pengembangan intelektual dalam waktu bersamaan perlu diberikan pemahaman tentang aspek pengembangan budaya, yaitu ajaran moral, nilai dan norma budaya serta kehidupan multikultural. Saya kira perlunya redesign kurikulum pendidikan agar peluang setiap anak didik untuk mengembangkan bakatnya, menanamkan sikap tolerasi, solidaritas sosial dan persaudaraan antar etnik, antar rasial dan antar bangsa dapat tumbuh berkembang.

Sekian semoga tulisan ini bermanfaat.

H. Andrik Purwasito, Guru Besar Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya, doktor Ilmu Sejarah dan Peradaban, Lulusan Paris, Pernah menjadi Panjatap Kodam IV Diponegoro, bidang Kesejahteraan Rakyat, pernah menjadi Direktur Eksekutif Forum Rektor Indonesia, Wilayah Eks Karesidenan Surakarta.


Message Packaging


Orientasi Teoritik Studi Pesan/by Andrik Purwasito

 Apakah pesan itu?

Pesan dalam bahasa Prancis message (baca: mesaz), berasal dari bahasa latin “missus” artinya mengirim dan digunakan sejak akhir abad ke XI untuk mengatakan “sesuatu yang kita kirimkan ( ce que l’on tramet). Sekarang pesan digunakan untuk memberi definisi tentang “isi” (content) yang dikirimkan, seperti isi percakapan secara langsung maupun lewat telpun, isi yang dikemas lewat iklan, isi media elektronik dan cetak, isi film, isi buku, isi brosur, isi baliho, (media content). Dalam hal ini yang termasuk pesan adalah “segala sesuatu” yang dipertukarkan dalam proses komunikasi, melalui berbagai produksi manusia.

Di Prancis secara khusus, pesan berarti juga, untuk menggambarkan bagaimana komunikasi resmi antara Pejabat Negara dan Kekuasaan Legislatif. Dengan demikian definisi pesan dalam masyarakat Prancis digunakan untuk menunjuk pada proses komunikasi politik antar lembaga negara.

Pengertian pesan, sesuai dengan perkembangan jaman, dalam kamus bahasa Prancis Petit Robert, disebutkan menjadi sekumpulan tanda-tanda yang dikelola berdasarkan kode-kode tertentu yang dipertukarkan antara komunikator dan komunikan melalui saluran (ensemble de signaux organises selon un code et qu’un emetteur transmet a un recepteur par l’intermediare d’un canal). Pengertian “message” tersebut menurut kamus Prancis selalu dihubungkan dengan semiology dan cybernetique.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gagasan komunikator yang dipertukarkan (dikomunikasikan) kepada komunikan dalam wujud tanda-tanda tertentu, yang mengandung maksud tertentu, untuk mendapatkan hasil tertentu (kekuasaan) yang ditetapkan.

2. Apakah rekayasa pesan?

Rekayasa pesan adalah proses penciptaan pesan melalui pengolahan cipta (gagasan yang ingin disampaikan), dengan rasa (intuisi yang membimbing) dan karsa (kehendak yang mewujudkan), yang hasil akhirnya berupa kemasan. Dapat digambarkan bagaimana pesan merupakan kemasan gagasan sebagai berikut:

 Dalam proses rekayasa pesan, pengolahan cipta, rasa dan karsa sehingga menghasilkan kemasan, dikonstruksi melalui rekayasa simbolik, yang melibatkan kesadaran individual dan kesadaran kolektif. Pesan adalah gagasan komunikator yang dimanifestasikan dalam wujud kemasan. Definisi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Bahwa Pesan sebagai Rekayasa simbolik
  • Bahwa Rekayasa simbolik menghasilkan Kemasan
  • Bahwa kemasan dielaborasi dari cipta, rasa, karsa Komunikator
  • Bahwa cipta, rasa, karsa Komunikator bersumber dari Pandangan dunia Komunikator
  • Bahwa Pandangan dunia diperoleh dari kesadaran diri dan kesadaran kolektif.

 Uuraian di atas maka dapat dijelaskan bahwa pesan adalah kemasan (message is packaging) gagasan, merupakan proses intelektual yang dikonstruksi melibatkan banyak faktor, seperti faktor psikologis, faktor gender, faktor sosial-budaya, faktor ekonomis dan faktor politis. Pesan sebagai rekayasa simbolik dibangun melalui proses sosialisasi komunikator, selain pewarisan leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi, diperoleh melalui pengalaman sosial. Sehingga komunikator dalam merekayasa pesan selalu merefers (merujuk) pada apa yang menjadi pandangan dunianya. Selain itu, rekayasa pesan juga merefers pada dua sumber kaidah berperilaku, yaitu pertama, sumber konvensi yang telah menjadi kaidah normatif dan kedua, seperangkat nilai yang menjadi pedoman berperilaku masyarakatnya.

Dengan demikian, kemasan sesungguhnya adalah representasi pikiran komunikator untuk menyampaikan gagasannya ketika berhadapan dengan dunia di luarnya.

 3. Apakah kemasan itu?

Kemasan sebagai hasil olahan cipta, rasa, karsa di dalamnya terkandung 5 (lima) unsur. 1. Komunikator, 2. Saluran, 3. Manifest, 4. Ruang dan Waktu, 5. Makna. Dapat digambarkan sebagai berikut:

 Penjelasan mengenai bagaimana kemasan dikontruksi oleh Komunikator, dari diagram kelima unsur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Komunikator : pentingnya mengetengahkan tentang status dan peran komunikator dalam masyarakat, motif dan kepentingannya.
  • Saluran : pentingnya menjelaskan saluran yang digunakan, apakah media tradisional, media cetak/elektronika, media baru
  • Manifestasi : wujud kemasannya apakah berupa arsitektur, sastra, seni (suara, rupa, pertunjukan), tata ruang
  • Ruang dan waktu : menyebutkan dimana dan kapan kemasan itu dibuat.
  • Makna : makna yang manifest dan makna yang laten (gunakan 7 formula tafsir pesan yang sudah ada).


Taman Jurug Riwayatmu Kini


ZOO-EDUTAINMENT/by Andrik Purwasito on Tuesday, January 25, 2011 at 6:15pm

Gesang

Dalam perkembangan peradaban, kemajuan peradaban material suatu bangsa selalu mempertimbangkan beberapa karakter, seperti berkarakter romantik (klasik), epik (heroik) dan fiertik (kebanggaan). Di Kota Solo, Pemerintah Kota saya lihat juga mencoba melakukan “pembangunan” material kota dengan pendekatan ketiga karakter tersebut. Maka lahirlah karakter romantik, seperti Solo Past Solo Future, juga bersifat epik seperti  Solo Spirit of Java. Sedangkan yang bersifat fiertik seperti Solo kota Budaya, Solo City of Batik, Solo City of Charm,. Kesemuanya itu sering disebut sebagai strategi branding. Maksudnya, Solo mempunyai nilai jual kepada Dunia dengan ciri-khas tertentu, sebagai wujud dasar dari karakter kota. Dengan melihat branding tersebut, kita sepertinya diajak berpihak untuk melihat Solo sebagai kawasan budaya.Kontraproduktif

Branding mencerminkan content kota. Solo dipresentasikan sebagai simbol kecantikan kota yang menawan, yang bersumber dari semangat kejawen yang kenthal, sebagai pusat Batik Dunia, yang kotanya sama seperti suasana Solo di masa lampau. Namun, branding tetap menjadi branding. Memang tidak menjadi soal antara branding tidak selalu sama. Tetapi, branding yang jauh dari kenyataan membuat orang berpikir skeptis bahkan menjadi kontra-produktif.

Apabila kita melihat kenyataan, Kota Solo telah berubah menjadi kota metropolis, sehingga kita temukan antagonistik dalam pembangunan peradaban budaya material. Antagonistik sebagai anti-tesa dapat menjad sumber kemajuan yang luar biasa, namun perlu redefiisi dam reaktualisasi dalam branding membranding tersebut.

Sehingga pembrandingan yang muluk-muluk seperti di atas jangan sampai tidak lebih dari sekedar slogan kosong yang terpisah dengan realitas kebijakan pembangunan tersebut. Branding “Karanganyar sebagai Kota Jemani,” menjadi kontra produktif ketika Daun ajaib itu kini jatuh dari pasaran dan tidak lagi dipuji dan dicari orang.

Solo Kota Budaya

Penelitian saya tentang interaksi simbolik peradaban material di Solo menunjukkan, bahwa pembangunan fisik tata kota, seperti gedung dan pembangunan kawasan tidak didasarkan atas branding Solo spirit of Java. Solo tidak lagi memberi spirit terhadap Kejawaan, karena orang tidak lagi berpikir tentang Jawa Jiwa Jawi, tetapi lebih berpikir tentang partai politik, tentang kelompok, tentang agama, suku dan tentang asal-usul (KTP). Karaton sebagai sumber budaya makin kehilangan kekuatan (tidak nge-tuk lagi), karena memang jaman telah bergeser. Kraton hanya dilihat orang perorang, tetapi bukan dilihat sebagai institusi sosial yang mampu menjadi sumber peradaban tersebut.

Saya pernah meneliti empat kawasan di kawasan Solo yakni Gladak, Sriwedari, Manahan dan Solo Baru. Keempat kawasan tersebut sesungguhnya sudah mempunyai tata-kota yang dilandasi dengan semangat budaya.

Gladak sebagai kawasan yang terdapat Karaton Surakarta dan Benteng Vastenberg beserta Gedung Kuno lainnya, saya golongkan sebagai wajah kota, kawasan budaya yang sangat njawani. Dengan begitu, konsep pembangunan tata kotanya juga yang berhubungan erat dengan persoalan Solo sebagai Kota Budaya. Misalnya, dibandung Gallery, Gedung Pertunjukan, bukan pusat perbelanjaan. Kini kawasan “wajah kota” tersebut menjadi pusat ekonomi, dan lengkaplah sudah dengan kehadiran Galabo.

Bagaimana dengan Sriwedari yang berdekatan dengan Lapangan Olah Raga, dijadikan Taman kota yang sekaligus menjadi paru-paru kota. Sriwedari yang dulu menjadi wilayah Bon Rojo, dapat dikembalikan sebagai Taman dimana setiap orang dapat memanfaatkan secara gratis. Ini adalah Ruang Publik Sosial yang merupakan sumbangsih Kota terhadap warganya agar mempunyai kesempatan untuk rilaksasi dengan murah sambil mendengarkan musik Jawa atau alunan irama kroncong dan campur sari. Kalau seperti itu, maka jelas sekali tembok Sriwedari yang kokoh dan tinggi seperti tembok Kraton itu kurang lebih menunjukkan arogansi kekuasaan. Hal ini sudah barang tentu bertentangan dengan konsep Jawa (kalau itu Solo spirit Java) yang mengatakan bahwa “pagar mangkok lebih kuat dari pagar tembok.” Saya melihat di berbagai kota budaya dunia, seperti Roma, Paris, Berlin, London, Ottawa, pagar Taman itu biasanya transparan. Artinya orang luar masih dapat melihat kegiatan apa yang terjadi di dalamnya.Jadikan, taman Sriwedari jadi Taman kota yang gratis bagi siapa saja tidak peduli apa punya KTP Solo apa tidak.

Kawasan Ekonomi

Perubahan drastis terjadi di kawasan Solo Baru (wilayah administratif Sukoharjo), yang pada dasarnya menjadi kawasan ekonomi. Tetapi sejak peristiwa kerusuhan 1998, yang meluluhlantakkan kota Solo, kini kawasan itu diubah wajahnya dengan menggunakan pendekatan budaya. Lihatlah patung Pandawa, Patung Gatutkaca, dan nama Waterboom Investornya menggunakan nama Pandawa.  Dengan hadirnya spirit budaya Jawa yang kental di kawasan itu, tampaknya memberikan kesan yang lebih akrab dan handarbeni.

Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembangunan fisik (material)  suatu kawasan akan mengubah mental para penghuninya. Dengan pembangunan perbelanjaan di seluruh sudut kota Solo, kini Solo memang kehilangan ruhnya sebagai Kota Budaya dan apalagi sebagai Spirit of Java. Solo lebih kuat sebagai kawasan ekonomi. Kebijakan tersebut membawa konsekuensi bahwa Pemerintah Kota Solo secara tidak langsung dan tidak sadar bahwa mereka sesungguhnya “anti-tradisi budaya Jawa.” Dengan kata lain, tradisi budaya Jawa yang diagung-agungkan tersebut hanya dijadikan branding kota saja tetapi dalam prakteknya yang dilakukan adalah menanamkan tradisi budaya kapitalisme.

Bengawan Solo

Zooedutainment

Menanggapi akan dibenahinya Taman Satwa Njurug, saya menanggapi sangat positif. Karena tempat itu terlihat menjadi DTW (Daerah TUjuan Wisata) rakyat (turis domestik). Yang khas dari Njurug adalah letaknya di pinggir Bengawan Solo,yang legendaris. Konsep apa yang terbaik untuk taman ini adalah mengembalikan fungsi Taman Satwa sekaligus memberikan nilai tambah misalnya dengan Taman Pendidikan. Jadi, judulnya memang agak aneh, menjadi Zooedutainment (Taman Satwa, Pendidikan dan Hiburan). Apa isi dari Taman tersebut, tidak lain adalah berisi tentang ilmu pengetahuan tentang kebinatangan dari lahir, dipelihara, fungsi, sampai makanannya. Sudah barang tentu harus dibangun tempat display untuk menjelaskan tentang keberadaan binatang dari purba sampai kini.

Apa sesunggunya yang memberi ruh agar Taman Jurug menjadi terkenal. Selain karena mitos Bengawan Solo sebaiknya mempertimbangkan aspek Sungai Bengawan yang liar itu. Saya kira apabila kita berhasil menjinakkan Bengawan sehingga mampu menjadi bagian integral dari pembenahan, hal itu akan menjadi prestasi sendiri. Bengawan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari Taman Jurug sehingga pamornya lebih melegenda.

Patung Ronggowarsito

Taman Ronggowarsito

Di Taman Njurug itu terdapat Taman Ronggowarsito yang kini kurang terawat dan disebelahnya ada Taman Gesang yang dibangun oleh Yayasan Gesang dari Jepang. Untuk masukan pembenahan kawasan Njurug, perlu diingat bahwa perubahan pada tata letak dan bentuk fisiknya suatu kawasan maka akan mengubah fungsi. Oleh sebab itu, pembangunan Taman Satwa Jurug haruslah tetap berpegangan pada branding kota Solo, seperti Solo Spirit of Java. Kalau Ronggowarsito akan dilestarikan hal itu suatu upaya yang selaras dengan branding kota. Saya ingat beberapa tahun lewat, BBC London meminta saya untuk menjadi Guide Research pembuatan film Ronggowarsito dan Situs Purba. Kami sulit menemukan rumah tempat tinggal dimana Sang Pujangga menorehkan penanya, sampai kami menelusur ke Ponorogo, Trenggalek, Ngawi. Saya hanya ingin mengatakan bahwa betapa besar perhatian pihak asing tersebut, yang menggugah perasaan saya, sambil bergumam dalam hati, “kenapa kita sendiri yang hidup dan tinggal di Solo tidak mengindahkan para Pujangganya?” Ya, dengan cara membangun Taman Pendidikan Ronggowarsito, hal itu sudah cukup baik untuk menghargai Pujangga Kota yang adiluhung. Lebih baik lagi apabila disitu ada Taman Waridi, Marto Pangrawit, Taman Warseno yang merupakan para empu yang telah menunjukkan loyalitas dan prestasinya terhadap kesenian.

PKL

Pedagang Kaki Lima agaknya memang menjadi gaya perekenomian rakyat. Pastilah mereka akan kehilangan tempat untuk berjualan karena kawasan itu dibangun. Oleh karena itu, sebelum pembangunan dilakukan sebaiknya berdialog dulu dengan para PKL yang menggantungkan hidupnya lewat berdagang di tempat itu. Hal ini untuk memberikan solusi yang lebih beradab.

Di Indonesia, baik pedagang maupun pembeli agaknya memang lebih suka bertransaksi seperti PKL itu. Oleh sebab itu, PKL harus menjadi perhatian dari pengelola dan Pemerintah Kota, agar branding Solo City of Charm dapat terwujud. Persoalannya memang bagaimana membuat PKL justru mampu memperindah Kawasan dan bukan menjadikan mereka biang keladi kekumuhan.

Apa yang saya sampaikan tersebut dengan serta merta memberikan lampu merah kepada investor agar tidak memasukkan pemoda besar seperti Mac Donald, KFC dan sejenisnya supaya Taman Jurug benar-benar dilandasi oleh ekonomi kerakyatan.

Demikian semoga bermanfaat.

Solo 26 Januari 2011

· · Share · Delete

    • Tri Wintolo Solo punya akar budaya yg kuat tapi sdh tercerabut oleh hegemonis sosial sekitarnya, tidak adanya konservasi situs budaya yg tetap akhirnya ditelan pasar sindikat budaya, korbannya ada gedung brsejarah dijual, patung dicuri dsb, Solo hrs diselamatkan dari kesrakahan manusianya sndiri ?.

      Tuesday at 9:04pm · · 1 personLoading…

BENARKAH KARYA SAYA ILMIAH?


Is my thesis scientific/by Andrik Purwasito on Wednesday, January 26, 2011 at 7:38pm

Pengantar

Kerja di Studio Wong Kampoeng Contemporary

Sebelum saya menguji tesis, untuk pertama kali saya bertanya, ”apakah karya saudara telah memenuhi standar ilmiah?” Biasanya mahasiswa akan menjawab ”YA” saya lanjut bertanya: ”Coba jelaskan jawaban saudara.

Standar Ilmiah

Sebuah karya disebut memenuhi standar ilmiah apabila setidaknya memenuhi  tiga standar, yaitu pertama : memenuhi standar  metodologi,  kedua, memenuhi standar penyusunan karya ilmiah/sistematis dan ketiga penyimpulan yang obyektif  dan dapat bersifat general.

Komponen Ilmiah

Penelitian adalah kerja ilmiah. Empat (4) komponen pokok meliputi kegiatan atau kerja ilmiah, yaitu:  menyusun problematik dan merumuskan secara jelas (1), membangun metodologi untuk memecahkan problematik dan menjawab rumusan masalah (2),  kemudian mengumpulkan bahan-bahan lewat observasi, diskusi, survey, dll (3), melakukan analisis dengan metoda analisis tertentu, melakukan eksplanasi, deskripsi dan perbandingan  (4), membuat kesimpulan, refleksi, dan prediksi

Metodologi

Metodologi adalah tahapan kerja ilmiah. Dari gagasan sampai refleksi atau prediksi. Maka dalam membangun kerja ilmiah dibutuhkan metodologi, yakni sekumpulan metoda-metoda yang digunakan untuk membangun tiap tahapan dari penelitian. Misalnya, metoda membangun masalah, metoda merumuskan masalah, metoda pengumpulan data, metoda penyajian data, metoda analisis data sampai metoda menyusun kesimpulan dan membangun prediksi).

Ilmiah tetapi  Tetap  Penting, Menarik , dan Berguna

Bagaimana caranya memilih tema dan merumuskan masalah yang memang berguna, penting dan menarik bagi tidak saja bagi pribadi tetapi juga bagi perkembangan ilmu pengetahuan? Caranya, jawablah pertanyaan saya di bawah ini:

1. Mengapa tema ini penting?, seberapa pentingkah masalah itu kok saya teliti? Penting bagi siapakah ini, kalau Cuma untuk saya mengapa harus diteliti? Mestinya berguna untuk kepentingan umat manusia. Jelaskan kegunaan dan manfaat itu.

2. Apakah benar menarik, seperti apa yang disebut menarik itu? Adakah tema lain yang lebih menarik tetapi tidak anda lakukan? Menarik karena untuk siapa juga?

3. Seberapa besar target yang ingin anda capai. Seberapa gunakah penelitian itu, setidaknya adakah pengaruhnya dalam kehidupan kita? Meluruskan, membenarkan, menolak, menjelaskan atau anda menggali. Sebutkan jenis penelitian saudara.

Mungkin, secara individual dianggap penting dan berguna tetapi tidak menarik secara intelektual (keilmuan). Mungkin sekali secara individual sangat menarik tetapi tidak penting dan tidak berguna secara intelektual.

Idealnya, masalah yang diajukan adalah subyek yang menarik dan penting baik secara individual maupun bagi kepentingan ilmu pengetahuan.

Mengapa Anda Perlu Bekal

Seorang peneliti membutuhkan Bekal. Bekal orang Jawa adalah CENGKIR, Kecenging pikir. Tetapi sebenarnya motivasi yang tinggi, rajin dan ketekunan serta kesabaran adalah bekal utama. Selain itu juga perlu (1) Sadar menggunakan nalar disertai semangat yang menyala-nyala, (2), loyal terhadap masalah yang diajukan, (3) mempertajam persepsi, konsepsi, analisis dengan kemampuan menunjukkan perbandingan/intertekstual (4) dan memperluas wawasan kita tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan membaca (penelitian sejenis) dan referensi yang terkait.

Tepat,  Fokus, Terbatas

Masalah yang dikemukan harus fokus, jelas konsepnya, terbatas ruang lingkupnya, terbatas pada hal-hal yang khusus. Artinya, memperoleh pengetahuan mengenai suatu segi saja, atau bagian dari kejadian, tetapi tidak pernah mengenai kejadian seluruhnya. Caranya, membatasi masalah dengan definisi yang obyektif, menjelaskan makna dan batasan  terhadap terminologi yang dipakai, teori-teori yang mendukung atau teori sebagai model, fakta-fakta empiris yang diamati (penelitian lapangan),  referensi yang terkait (penelitian pustaka).

Henry Bergson (filsuf Prancis) menggunakan intuisi (pengalaman batin) untuk memperoleh pengetahuan tentang suatu kejadian (kasus). Pengetahuan itu diperoleh secara langsung yang dialami oleh bersangkutan. Hasilnya mutlak. Logikanya, pengetahuan inderawi itu menghasilkan yang nampak saja, tetapi intuisi sudah menjadi kenyataan. (Louis Kattsoff:

Ini membedakan dengan pengetahuan (diskursif) penggambaran secara simbolik, atau pelukisan oleh orang lain, yaitu pengetahuan (data) yang diperoleh lewat perantara (nara sumber). Sudah tentu nara sumber yang mengetahui secara langsung dan seketika atas kejadian (kasus) itu. Bergson menganggap hasil pelukisan narasumber itu nisbi.

Jadi data harus diperoleh dengan jalan yang benar (metode yang valid). Ini bisa dilihat dari kemampuan peneliti menyajikan ketepatan data.

Metode Analisis

Susunlah metode kerja (tahap pertahap analisis. Ajukan metode analisis yang runut, eksplisit dan detail). Ini juga membutuhkan kemampuan mengurai data dengan kerumitan (detail) analisis.  Berkatalah “Inilah jalan bagaimana (menjawab pertanyaan) cara saya menjawab pertanyaan yang diajukan. Inilah alat-alat untuk menemukan apa yang saya cari.”

Metode Penyimpulan

Dua metode penyimpulan yang lurus harus dipahami, yaitu metode penyimpulan secara deduktif dan induktif.  Menyangkut hukum-hukum penyimpulan yang lurus merupakan wilayah logika. Supaya kita dapat mengerti bagaimana menarik kesimpulan itu, maka peneliti wajib memahami hukum-hukumnya.  (Celakanya, menalar yang lurus (benar) tidak harus repot belajar logika). Setidaknya jawablah pertanyaan di bawah ini:

Apakah saya mengetahui aturan-aturan penyimpulan yang sah?

Apakah saya mengetetahui corak-corak penalaran yang logis itu?

Apakah saya mampu menyusun kesimpulan dengan baik, jelas dan sesuai dengan hipotetis atau problematik yang saya ajukan?

Logika Induktif

Logika atau penalaran induktif banyak digunakan dalam penelitian sosial. Logika ini menarik kesimpulan  tidak dari susunan preposisi-preposisi (premis-2) yang sudah diakui dan diterima kebenarannya (deduktif) tetapi diperoleh dari sifat-sifat seperangkat bahan-bahan yang diamati. (Louis O Kattsoff: 72). Logika induktif bergerak dari suatu perangkat fakta yang diamati secara khusus yang digunakan untuk membuat generalisasi (pernyataan yang bersifat umum) mengenai fakta yang ada, atau bergerak dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kearah sebab atau sebab-sebab dari adanya akibat-akibat tersebut.

Induktif berbicara tentang aturan-aturan probabilitas, sedangkan deduktif memuat aturan-aturan yang pasti (matematis).

Jadi, kesimpulan dengan menggunakan logika induktif bersifat probabilitas.

Contoh: Anda mengamati peristiwa berikut ini:

1. Seseorang pergi ke gereja. Secara tetap ia memberi bantuan kepada orang miskin.

2. Beberapa orang yang pergi ke gereja secara tetap juga memberi bantuan.

Dari pengamatan itu anda membuat kesimpulan kira-kira begini :

3. “Setiap orang ke gereja memberi bantuan orang miskin.”

Metode induktif tidak ada aksioma (dalil-dalil) yang ditetapkan seperti deduktif.  Jadi, hanya bersifat generalisasi saja. AKibatnya dalam membuat kesimpulan, data yang kita kumpulkan berada dalam syarat. Sudah cukup (Sample) yang digunakan untuk membuat kesimpulan. Cukupnya seberapa besar jumlahnya?

Peristiwa yang diteliti itu haruslah bersifat istimewa (menarik, penting dan berguna), tetapi ukuran apa yang digunakan untuk mengatakan peristiwa itu istimewa?

Demikian semoga bermanfaat

House of Cross-Cultural Studies, Prof Dr Andrik Purwasito, DEA, Triyagan, Sukoharjo 2011


TEMPLE AS A DICTIONARY


By : Andrik Purwasito

Peran Candi pada Jamannya

Candi adalah hasil peradaban kuno. Ia didirikan sebagai wujud dari rasa syukur terhadap Shyang Yang Akarya Jagad, Tuhan Yang Maha Pencipta. Rasa syukur menampilkan cipta cita rasa khas (local genie) yang diekspresikan dalam berbagai gaya, bentuk, perwujudan yang khas, sebagai penggambaran atas keberkahan manusia atas karunia Illahi.

Oleh sebab itu, Candi pada zamannya mencerminkan sikap hidup, adat istiadat dan tata cara kehidupan yang dibanggakan hanya karena semua itu adalah berkah rahmat dan anugerah Tuhan. Tidak mengherankan apabila Candi pada akhirnya sebagai tempat untuk menumpahkan segala rasa syukur atas karunianya, ditandai dengan berbagai ritual yang bervaritif sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan mereka yang mereka anggap sebagai cara untuk memuliakan Yang Illahi karena rakhmat yang telah diberikan kepada mereka.

Peran Candi dalam Kekinian

Dalam kehidupan sekarang, candi-candi di Indonesia, seperti Gereja-gereja di Eropa memainkan peranan ganda. Di satu sisi, candi menjadi tempat memuji Illahi lewat ritual (tempat ibadah), di sisi lain sebagai tempat untuk memuji keindahan bangunan, arsitekturnya, sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Di antara kedua sisi tersebut, keberadaan candi adalah untuk kebutuhan ilmu pengetahuan, sejauh ini untuk menggali peradaban masa lalu serta memperkaya khasanah peradaban bangsa dari waktu ke waktu.

 

Makna relief dan arsitektur candi bagi manusia

Candi adalah monumen, prestasi intelektual suatu peradaban bangsa. Apa yang tergambarkan dalam relief dan arsitekturnya merupakan sebuah catatan kebudayaan simbolik. Para perancang tidak menuliskan gagasan dan ideologinya dalam buku-buku saja, dalam kitab tembang, nyanyian dan syair, tetapi juga dalam wujud fisik yang simbolik.

Relief menceritakan tentang banyak hal, dari gagasan yang bersifat immaterial seperti kekuatan gaib maupun bersifat material berupa teknologi, kehidupan ritual, bercocok tanam, rumah tangga, seks sampai persoalan kehidupan flora dan fauna. Mereka menceritakan tentang eksistensi dan substansi dari benda-benda atau simbolisasi yang dituangkan dalam bentuknya yang khas. Candi Sukuh merupakan manifestasi dari kehidupan dan pendidikan seks dalam kehidupan. Candi Sukuh memperlihatkan sosok eksistensi dan substansi kehidupan manusia yang paling hakiki, yaitu kenikmatan, keindahan, kebahagiaan lahir dan batin.

Maka dari itu, kita melihat candi seperti halnya berhadap dengan buku. Kita harus mampu membaca dari kata pengantar, daftar isi, dari bab I sampai selesai, sampai pada kesimpulan dan referensi. Dengan demikian, dibutuhkan suatu latar referensi tertentu agar setiap orang mampu membaca relief dan arsitektur candi secara lebih cermat. Artinya, candi sangat terbuka untuk diinterpretasi sesuai dengan reference yang dimiliki oleh Sang Pembacanya.

Perhatian Pemerintah

Pemerintah lebih menitikberatkan candi sebagai aset bangsa. Aset adalah kekayaan yang membutuhkan perlindungan dan perawatan. Hal ini sudah cukup baik. Ini disebabkan tekanan Pemerintah lebih pada pembangunan candi untuk pariwisata, belum sebagai Cagar Budaya yang menyimpan memori kultural bangsa yang tinggi. Tapi itu sudah cukup baik.

Dalam hal ini biarlah candi tetap sebagai tempat ibadah bagi yang menggunakannya, candi tetap dikunjungi bagi wisatawan dan candi dibebaskan dari intervensi berbagai pihak. Prinsip saling menghormati dan menghargai antar sesama umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, akan menciptakan suatu  harmonisasi dan kehidupan yang lebih rukun dan damai.

 

 


Pasar Tradisional Haruskah DiBumi Hanguskan?


Bagian II/ dari 2 tulisan/Andrik Purwasito

Seorang bertanya, mengapa pasar tradisional itu di renovasi? Mengapa harus dibangun dengan bangunan yang modern? Apakah pasar itu dapat disebut pasar tradisional lagi, atau pasar modern? Bagaimana sebaiknya  melestarikan pasar tradisional itu?

Pertanyaan ini akan menjadi mudah ketika kita memahami Bagian I tulisan ini. Apa saja yang berbau tradisional itu harus dimodernisir, karena kata tradisional adalah masalalu. Tahapan peradaban yang paling terbelakang adalah tradisionalitas. Oleh sebab itu, Rostow menyebutkan tahapan negara yang terbelakang ke negara yang maju melalui lima tahapan transformatif: 1). Tahapan masyarakat tradisional, 2. Tahapan persiapan tinggal landas, 3. Tahapan tinggal landas, 4. Tahapan masyarakat Dewasa, 5. Tahapan masyarakat konsumtif. Inilah proses modernisasi yang dijadikan landasan dasar kemajuan kita.  Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan akhirnya menjadi tema-tema untuk menjauhkan manusia dari tradisionalitas menuju modernitas.

Pasar Tradisional

Maka jangan heran apabila, Pasar Tradisional, seperti Windu Jenar, Pasar Legi, Pasar Nusukan, Pasar Klewer, Pasar Palur dan pasar-pasar lainnya dianggap sebagai simbol keterbelakangan. Jangan heran ada pasar kebakaran di mana-mana, tidak lain adalah simbol proses modernitas. Tradisionalitas dianggap tidak mempunyai kemampuan produktif, tidak berdaya, tidak menimbulkan trickle down effect, tidak menjujung kesetaraan dan keberlanjutan, statis dan rendahnya tingkat partisipasi.

Modernitas, yang banyak diyakini oleh pemimpin kota dan kabupaten kita ini, adalah sebuah ikon keberhasilan dan prestasi. Oleh sebab itu, yang dihitung bukannya pengangguran rendah, kemiskinan makin menipis, kesempatan kerja makin bertambah, tetapi berlomba-lomba membangun sarana fisik, gedung-gedung, monument, patung-patung, mall-mall, nembok sungai, membagun jembatan, termasuk memugar pasar dan terminal. Harga diri seorang Bupati, Walikota, Gubernur tergantung dari berapa gedung dibangun, berapa panjang jalan dibuat, berapa mall didirikan dan berapa ribu meter kubik batu-batu dibuat tembok-tembok. Semua ini menunjukkan sebuah keberhasilan pembangunan yang dipuja dengan satu alasan, perubahan yang terjadi pada latar fisik akan mempengaruhi perubahan sikap masyarakat dengan kesadaran baru untuk memperbaiki kehidupannya.

Ruang Perjudian

Ini adalah hasil dari teori yang mengatakan bahwa masyarakat tradisional yang statis dan diam adalah cermin keterbelakangan dan ketertinggalan. Kehidupan modern diterjemahkan sebagai sebuah kejuaraan atau kompetisi yang mempersiapkan setiap orang bersaing dan bertanding, setiap orang harus saling mengalahkan, maka kehidupan modern yang dipercaya oleh banyak pemimpin kita adalah sebagai Pemenang. Akhirnya saya menjadi yakin bahwa ruang kehidupan modern adalah ruang perjudian.

Sang Pemenang

Paradigma atau model kehidupan inilah yang pada akhirnya membuat setiap orang melakukan tindakan yang keras bahkan kurang terpuji, atau juga menghalalkan cara untuk menjadi Sang Pemenang. Seluruh ruang kehidupan ini akhirnya diterjemahkan sebagai ajang perjudian. Oleh sebab itu, setiap memasuki tempat (pos pekerjaan, pos kehidupan) membutuhkan udu (modal) agar bisa bermain. Yang tidak bermodal otomatis minggir dengan sendirinya. Jadi jangan heran, setiap lowongan pekerjaan tak ubahnya memasuki ruang perjudian, para pelamar harus siap dengan tidak saja intelektual dan pengalaman, tetapi sekarang membutuhkan modal-modal sebagai pelicin, sogokan dan sebutan lain.

Banyak Korban

Maka kita lihat, semakin hari semakin banyak orang yang kalah, yang terjerambab dalam keputusasaan, yang terguling dalam persaingan tidak sehat, yang terjerumus dalam tindak korupsi dan kejahatan, korban karena lemah modal. Sekarang orang berpikir harus menang dalam setiap pertermpuran. Yang terjadi adalah moral masyarakat yang kehilangan akal sehat, mental yang tidak waras, masyarakat yang makin kehilangan humanisme, serta masyarakat yang tidak punya lagi daya tawar karena keterasingan dan aleniasi struktural yang dijalankan akibat proses pembangunan dan revolusi kebudayaan itu.

Dehumanisasi

Demikianlah yang terjadi pada pasar tradisional, adalah pengalihan bentuk adalah pengalihan fungsi, akhirnya juga menyebabkan dehumanisasi dan keterasingan masyarakat pedangan dan pelanggan dari habitatnya.  Dengan cara pandang saya di depan, modernisasi pasar dapat dikatakan sebagai bentuk kekerasan kultural yaitu penyesuaian paksa/coersion secara sadar oleh kekuasaan. Pasar tradisional telah mati. Renovasi memang hasilnya bisa sangat cepat dan tampak megah. Hasilnya sebuah monument modernitas, gedung bertingkat, lantai mengkilat, dan ruang-ruang privat yang berupa sekat-sekat. Semua perubahan tersebut selain terjadinya dehumanisasi juga memperkuat individualisasi dalam proses peradaban Jawa.

Inilah yang saya kira sebagai salah satu cara yang ditempuh oleh para pengambil keputusan yang dikemas kedalam bentuk konsep Revolusi Budaya.

Hukum Alam

Proses pencepatan melalui renovasi sekilas adalah sebuah niat baik. Ini memang benar, pasar menjadi bersih. Tetapi yang terjadi sesungguhnya adalah proses pengubahan secara cepat perilaku, sikap, adat kebiasaan para penghuni pasar, termasuk perubahan yang bersifat kognitif maupun ketrampilan. Saya kira inilah yang diharapkan dari modernisasi dan pembangunan kembali pasar-pasar tradisional di Indonesia. Dalam proses ini, partisipasi masyarakat serta keterbedayaan tidak pernah terjadi dan tergantikan oleh metoda kompetitif. Modernitas adalah memperkuat Hukum Tradisional, yaitu hokum alam itu sendiri. Artinya siapa kuat, yaitu yang mempunyai uang dan modal besar merekalah yang akan mampu untuk membeli kios strategis sementara yang lemah secara modal dan akses akan mendapatkan tempat yang kurang strategis. Akhirnya, yang lama tetapi lemah akan kalah akan kehilangan pelanggan, berarti akan kehilangan mata pencaharian, seperti ketika pasar masih bersifat tradisional. Sementara orang baru, tetapi bermodal dan berpengetahuan serta punya akses akan mendapatkan tempat yang strategis dan akan mendapatkan keuntungan yang lebih di atas rata-rata.

Inilah cara pandang atau paradigma pembangunan Indonesia, yang mengambil paradigma dan teori-teori pembangunan barat (modernisasi dan westernisasi)’

Revolusi Budaya

Saya akhirnya meragukan pembangunan pasar tradisional yang agaknya dibangun secara sembarangan itu akan merusak tata kehidupan milik kita yang khas. Dan saya telah melihat dan menjadi saksi tata nilai kehidupan perdagangan kita yang khas, milik kita yang sudah lama menjadi model (local genie) dan kearifan lokal kita akan musnah. Pasar tradisional tak ubahnya Mall-mall. Apakah ada cara selain revolusi budaya?

Saya kira kita punya cara cara tradisional yang arif, seperti mengemukakan unsur edukasi masyarakat, serta persuasi yang berkelanjutan. Ini memang membutuhkan waktu panjang yang saya kira membuat Pemimpin kita tidak sabar. Maka dibutuhkan jalan pintas, potong kompas yaitu dengan cara revolusi. Kebijakan revolusi budaya diberlakukan di mana-mana, hampir terhadap seluruh kehidupan masyarakat. Inilah cara instant sesuai dengan masa jabatan seorang walikota, gubernur atau bupati. Pada hal, sesungguhnya semua itu adalah metoda perubahan masyarakat yang tidak saja cara jalan pintas tetapi cenderung menyesatkan masyarakat itu sendiri. Reward yang menjadi kualitas sistem edukasi agaknya memang ditinggalkan, karena metode edukasi dan bujukan hasilnya membutuhkan waktu lama dan tidak efektif-efisien.

Pesimis

Akhirnya, saya tidak terlalu banyak berharap bahwa ruh pasar tradisonal bisa tetap bertahan. Ketika pasar direnovasi dengan gaya pembangunan modernitas, maka pada saat yang sama, pasar akan kehilangan ruhnya, ruh tradisionalitas itu. Karena revolusi budaya sudah menjadi tekad para Pemimpin kita, ya sudahlah. Kecuali mau sadar diri.

Kita setiap hari akan melihat orang-orang kehilangan matapencaharian, tidak sedikit pedagang yang teraleniasi dan mencari cara hidup yang baru, dan mereka yang tersingkirkan dari arena pasar mereka akan Anda kemanakan? Semakin hari, agaknya kita akan melihat semakin banyak orang-orang akan kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang penuh kompetisi dan hidup dalam persaingan, baik secara ekonomi, intelektual, sosial dan budaya.

Effectnya adalah, banyak orang kehilangan jati diri, kehilangan tempat berpijak secara kultural, dan semakin banyak orang kehilangan orientasi terhadap masa depannya. Maka jangan salahkah kalau ada yang berkata, “Pemimpin hanya memberi impian, membela yang kuat, dan tidak memberi  peluang dan akses bagi yang lemah. Lalu, siapakah yang melindungi orang-orang yang lemah kecuali para Pemimpin yang dipilihnya? Apakah benar kata Bung Karno bahwa revolusi selalu menelan korban.


MANAJEMEN KONFLIK DI MINDANAO FILIPINA


Paper presented in Seminar on The Indonesian Role in Conflict Resolution Mindanao, Filipina

Resolution Conflict in Mindanao, Filipina

Using approach in Management in Cross-Cultural Communication

By :  Andrik Purwasito[1]

Mindanao adalah pulau paling berbahaya di Filipina. Banyak senjata berkeliaran dan kelompok orang yang selalu siap menggunakannya. (sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia)

  1. Pendahuluan

Paper ini akan membahas tentang penyelesaian konflik Mindanao[2] di Filipina dalam perspektif (melalui) manajemen komunikasi lintas budaya. Sumber naskah permalasahan Mindanao, yang saya gunakan sebagai bahan pembahasan adalah karya Rebecca Henschke, berjudul Sejarah Dan Akar Permasalahan Konflik Di Mindanao Filipina, yang ditulis pada Sabtu 10 Nopember 2007 dan dilaporkan kembali oleh Vitri Angraeni, merupakan seri pertama dari empat seri yang dijanjinkan (naskah terlampir).

Bahan kedua adalah karya Surwandono, Direktur Eksekutif IICR (Institute for Islamic Conflict Resolution), yang menulis dalam bentuk presentasi dengan format power point dengan judul “Dinamika Konflik, Perjanjian Damai, dan Kesejahteraan.” (naskah terlampir).  Ketiga adalah penulisan tim Al Kisah, [3] berjudul “Islam di Mindanao, Minoritas di Negeri Sendiri.”

Hasil yang diharapkan dari tulisan ini adalah masukan secara teoritis dan juga praktif,  yang dapat dilakukan oleh kedua belah pihak untuk menyelesaikan sengketa yang sudah berjalan puluhan tahun.  Kajian teoritis ini memberikan satu resep penyelesaian konflik (conflict resolution) dalam perspektif komunikasi dan kebudayaan. Sebagai alternatif pemecahan masalah yang selama ini didominasi oleh penyelesaian dengan kekerasan, militer dan sedikit perundingan damai yang dilakukan. Pada hal, penyelesaian yang terakhir itulah yang dapat menjamin tercapainya perdamaian dan meminimalisir konflik selama ini.

2. Pemetaan Masalah

Konflik selalu diawali oleh perbedaan kepentingan. Oleh sebab itu, kepentingan sebagai salah satu cara melihat konflik mendapatkan posisi yang vital. Kepentingan (ekonomi, politik, sosial-budaya, prestise) merupakan tempat berumuaranya konflik dalam kehidupan. Bagaimana peta konflik di Mindanao, tidak saja memusingkan Presiden Filipina[4], tetapi juga keprihatinan dunia, berdasarkan sudut pandang manajemen komunikasi, akan saya paparkan sebagai berikut:

 

ža.  Konflik Mindanao sebagai perebutan kepentingan politik demi Kekuasaan.

Dalam tulisannya, Surwandono menyatakan bahwa masalah Mindanao bersifat instrumentalis, artinya konflik tersebut terjadi karena danya pertarungan elit politik untuk mendapatkan kekuasaan. Kekerasan diciptakan untuk mencapai efek politik tertentu, sehingga lahir istilah yang mentradisi yakni lahirnya para “pengusaha kekerasan.” Eskhalasi konflik di Mindanao dapat dilihat seberapa besar kepentingan Elit Mindanao dan kepentingan Elit Filipina memobilisi massa demi  memperjuangkan kepentingannya. Rakyat Mindanao Muslim di diskripsikan sebagai berikut : “

“Warga Islam Bangsamoro yang beragama sangat miskin; Sebagian besar tidak berpendidikan dan tidak punya pengetahuan karena kemiskinan.”

 

ž b.Dari masalah politik kepentingan ke masalah primordial

Konflik Mindanao dari perebutan kepentingan dan kekuasaan menjadi masalah primordial. Artinya, dari adanya marginalisasi secara politik-ekonomi, menjadi marginalisasi dalam wilayah sosial budaya, termasuk di dalamnya marginalisasi demografis, tanah, adat istiadat (Khususnya ketika Filipina dipimpin oleh Rezim Marcos),[5] menjadi persoalan primordial yang rumit. Yakni, saling berhadapan Etnis Moro yang notebene Islam dengan Etnis Filipina yang mendominasi Pemerintahan dengan mayoritas Nasrani (tahun 1970-an). Problem antar budaya menjadi pemicu konflik di Filpina, yang justru dikukuhkan oleh meluasnya stereotype, etnosentrisme dan tingginya prejudice. Orang Mindanao Muslim, membangun dirinya sebagai identitas kultural, dan atas pertimbangan historis dan sosiologis, menggunakan Moro sebagai alat pemersatu dengan membangun slogan populer Bangsa Moro Merdeka.

ž c.Dari masalah primordial ke Negara Merdeka

Dengan slogan dan nama baru itu, Bangsa Moro (yang diklaim sebagai “tanah leluhur”) berniat memisahkan diri dengan Filipina dengan membentuk Negara Mindanao Merdeka.[6] Bangsa Moro secara historis dideskripsikan sebagai berikut: “Banyak hal yang terjadi yang membuat rakyat kami menderita. Yang bermula dari bersatunya tanah air Moro dengan negara Filipina tanpa persetujuan rakyat. Akibat kebijakan kolonial, perekonomian Bangsamoro tetap rendah. Sementara, warga dari Luzon dan Visayas menduduki tanah kami,”. kata Dr. Abbas, Ketua Badan Pembangunan Bangsamoro.

Sedangkan Pemerintah Filipina menghendaki bahwa konflik tersebut dalam konteks konflik Mindanao sebagai bagian integral Filipinan, bukan dengan bangsa Moro.[7] Oleh sebab itu, Pemerintah Filipina mendefinisikan konflik Mindanao adalah masalah internal dan tidak dapat melibatkan pihak dari Luar. Tetapi bagi Bangsa Moro,  konflik Mindanao sebagai masalah dunia yang perlu campur tangan pihak keTiga.

ž d.Perdamaian yang Melahirkan Masalah Baru

Dengan dua kubu yang saling berhadapan, Muslim Mindanao di satu sisi dengan Pemerintah Filipina di sisi lain telah menetapkan perjanjian damai, yang dikenal dengan Tripoli Agreement. Solusinya adalah otonomi bukan federasi. Agaknya konflik Mindanao Muslim berkembang menjadi faksionalisasi konflik. Yakni, lahirnya 3 kelompok besar di Mindanao, seperti MNLF (Moro National Liberation Front),  MILF (Moro Islamic Liberation Front, lebih moderat), dan diindikasikan lahir kelompok Abu Sayyaf dan Jemaah Islamiyah yang ditengarai oleh AS sebagai teroris.

Sedangkan pada kubu Nasrani (yang sebelumnya tereduksi dalam aspirasi Pemerintah Filipina) kembali memperkuat barisan.  Pilihan otonomi bagi Moro oleh Kubu Nasrrani dianggap sebagai ancaman dan mencurigai sebagai satu kekuatan yang akan menjalankan politik balas dendam. Tripoli agreement juga tidak menghentikan kebijakan represif Pemerintah Filipina terhadap Mindanao, karena interpretasi dan kecurigaan yang tinggi di berbagai level, seperti dalam kancah senator di Konggres, di Partai Politik dan Militer.

ž e.Persatuan yang tak kunjung Bersatu

Apabila di lihat pascar kemerdekaan sampai sekarang (1946-2010), nasib bangsa Moro nasibnya tetap terbelakang. Bangsa Spanyol menyebut bangsa “Moor” adalah untuk sebutan orang yang buta huruf, bodoh dan misikin. Dalam perjuangan kemerdekaan Filipina, Muslim Moro bersatu padu untuk membentuk kekuatan Muslim, lahirlah MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, lahir sempalan yaitu MNLF-Reformis,  dan BMIF.

Tetapi persatuan itu juga tidak bertahan lama ketika terjadi perpecahan bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang lebih kecil. Pada hal pada masa pemerintahan Ferdinand Marcos kebijakan represif bagi bangsa Moro digunakan sebagai peredam. Sikap represif tersebut melahirkan Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan tahun 1971 lahir Moro Liberation Front (MLF). Yang terakhir inipun akhirnya terpecah juga, yaitu menjadi Moro National Liberation Front (MNLF), pimpinan Nurulhaj Misuari, yang berideologikan nasionalis-sekuler. Yang lain adalah, Moro Islamic Liberation Front (MILF), pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Tugas pemerintah Filipina, untuk menjamin perdamaian di Mindanao, Pemerintah wajib merukunkan dan menyatukan kelompok masyarakat Mindanao yang bermusuhan dan tercerai berai.

 

3. Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya

Dari apa yang diuraikan di atas, kiranya dapat dimengerti bahwa konflik Mindanao adalah persoalan yang pelik dan multidimensional. Bagaimana Manajemen Komunikasi Lintas-budaya memberikan solusinya?

Prinsip dasar manajemen komunikasi lintas-budaya adalah : Mengelola konflik melalui cara membangun kebijakan yang saling menguntungkan semua pihak, mengintensifkan dialog yang hangat dan menciptakan program bersama antara pihak-pihak yang berkonflik, dengan dukungan orang-orang atau pihak-pihak yang kredibel, aseptabel dan netral, yang mendapat penghormatan sama dari pihak-pihak yang berseteru.

1. Membangun kebijakan Kultur Kesejahteraan (Cultural Brotherhood Policy)

Mendapat hak dan keadilan yang sama.  Aspirasi kultur kesejahteraan yang berkeadilan perlu dipromosikan lewat berbagai media massa dan media tradisional yang ada, dan dilakukan message engeenering[8] agar mendapatkan dukungan masyarakat secara luas. Sosialisasi lewat media massa merupakan hal yang mutlak jika menghendaki perubahan yang diinginkan karena media massa mampu membina sense of nation serta mendekatkan satu sama lain yang berbeda secara kultur, agama, kelompok serta secara fisik mereka berjauhan. Apa yang menjadi penting bagi perdamaian di Mindanao adalah political will dari Pemerintah Filipina untuk membangun pesan cultural brotherhood policy ini. Karena media massa sangat bergantung dari isi yang ingin disampaikan dan efek yang diharapkan. Dengan demikian media massa adalah salah satu alat yang akan efektif untuk mengelola konflik di Mindanao. Hal ini karena  media massa, meskipun tidak seluruhnya dapat dicapai, namun media massa tetap merupakan pilihan membangun jembatan emas dalam mewacanakan perdamaian untuk menyudahi konflik yang berkepanjangan di Mindanao.[9]

2. Membangun Komunikasi yang Toleran (Communication in a High Tolerance)

Dari musuh menjadi saudara (from enemy to brotherhood). Dari nafsu berperang diubah menjadi kemauan membangun persaudaraan. Demikianlah perbedaan dapat dibicarakan dengan kepala dingin di meja-meja perundingan.  Selama ini perundingan gagal karena terjadinya politisisasi dalam proses negosiasi sehingga tidak diperoleh kepercayaan pada semua pihak.[10] Perbedaan tersebut dapat didamaikan melalui proses komunikasi yang intens dan penuh toleran. Komunikasi melalui berbagai saluran media massa juga mampu membantu menciptakan suasana membangun dan toleransi.  Dengan informasi yang positif, melalui seluruh saluran media massa dapat memperluas cakrawala serta membangun empathi masyarakat. Masyarakat akhirnya juga mampu memusatkan  perhatian pada hal-hal yang bersifat politik, yakni mengetahui tentang aspirasi masyarakat dan pada saat yang tepat bertindak sesuai dengan pendapat mereka.

Namun yang kongkrit dari cara ini adalah duduk di meja perundingan. Karena inilah jalan menuju perdamaian abadi. Stereotype dan etnosentrisme yang berkembang di masyarakat dapat diminimalisir lewat dialog dan informasi yang positif yang terus menerus. Tugas media membantu mensosialisasikan dan memperluas capaian dan hasil-hasil perundingan secara terbuka dan berkecukupan.

3. Menjalankan Program Pemulihan yang  Partisipatif  (Participation Recovery  Program)

Masyarakat yang secara positif menerima pengetahuan yang cukup, melalui media massa, terutama generasi mudanya, pengetahuan tentang masa depan Mindanao yang gemilang, Mindanao yang penuh damai dan sejahtera. Harapan akan masa depan yang lebih baik, jauh dari permusuhan, menghapuskan ingatan akan konflik berdarah, balas dendam dan kekerasan dimana-mana, perlu diwujudkan dalam program recovery yang partisipatif di seluruh Mindanao. Dalam program pemulihan tersebut, karena biasanya membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan yang gigih, media massa akan membantu memperkuat sikap masyarakat yang goyah atau yang kehilangan harapan. Masyarakat menjadi tergugah untuk menjalankan missi kemanusiaannya, terutama dilakukan oleh para pemuka masyarakat yang dihormati.

4.  Penutup

 

Dari apa yang telah saya uraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa konflik di Mindanao Selatan merupakan konflik multidimensi, rumit dan membutuhkan perangkat politik, ekonomi, sosial, komunikasi dan budaya. Dalam hal ini, penggunaan senjata, militer dan kekerasan perlu dihindarkan untuk menjauhkan diri dari pertumpahan darah yang tidak berguna. Dengan melalui perundingan,  program kebersamaan, kebijakan yang berkeadilan, akan memberi peluang serta membuka pintu bagi Filipina untuk mewujudkan perdamaian.

Rekomendasi dari apa yang telah kami paparkan adalah perlunya dukungan media massa yang memberikan penguatan pada kerangka perdamaian tersebut serta memberi harapan baru untuk hidup yang lebih baik di masa depan. Generasi Muda sebagai penerusnya perlu diisi dengan jiwa besar untuk terbiasa hidup rukun dalam perbedaan. Sehingga, Pemerintah Filipina membutuhkan program yang bersifat partisipatif guna membangun generasi muda yang cinta damai dan berjiwa besar menerima perbedaan dalam kehidupan. Bagi Indonesia, pengenalan konsep Bhineka Tunggal Ika ke Filipina dan konsep Gotong Royong.

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat.


[1] Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA, Lulusan Hubungan Internasional, FISIPOL, UGM (1981), Guru Besar Manejemen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip UNS, Surakarta adalah Doktor lulusan Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (1992). Paper ini disampaikan dalam acara Seminar Internasional di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP UNISRI, Surakarta, 24 Nopember 2010

[2]Filipina mempunyai tiga pulau besar yaitu Luzon, Visayas, dan Mindanao. Mindanao atau Maluku Besar adalah pulau terbesar kedua di Filipina dan salah satu dari tiga kelompok pulau utama bersama dengan Luzon dan Visayas. Mindanao, terletak di bagian selatan Filipina, adalah kawasan hunian bersejarah bagi mayoritas kaum Muslim atau suku Moro serta etnis lainnya seperti Marano dan Tausug. Peperangan untuk meraih kemerdekaan telah ditempuh oleh berbagai faksi Muslim selama lima abad melawan para penguasa. Pasukan Spanyol, Amerika, Jepang dan Filipina belum berhasil meredam tekad mereka yang ingin memisahkan diri dari Filipina yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Kini mayoritas populasi Mindanao beragama Katolik berkat pola kepemilikan tanah yang tidak adil dan banyaknya pendatang ke wilayah ini. Hal ini memicu kemarahan kaum Muslim Mindanao yang miskin dan tersisih seta gerakan separatis yang telah berjuang selama ratusan tahun (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Mindanao)

[3]http://majalah-alkisah.com, terbitan tanggal Wednesday, 20 January 2010 14:02

[4]Salah satu masalah besar yang dihadapi Filipina adalah kondisi keamanan yang tidak menentu di wilayah Selatan negara itu akibat aktifitas bersenjata Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang menuntut pemisahan wilayah Selatan dari Filipina. Sampai saat ini, pemerintah Manila belum berhasil melepaskan diri dari krisis di wilayah yang berpenduduk mayoritas muslim ini. http://www.irib.ir/worldservice/melayu radio

 

[5]Dulu warga Islam Moro dan suku asli Lumad mengendalikan seluruh pulau ini. Namun jutaan umat Kristen kemudian di pindahkan ke sana, melalui program transmigrasi yang mencapai puncaknya pada masa kediktaktoran Ferdinand Marcos

[6]Sebab hanya ada sekitar 13 pulau saja  yang terdapat mayoritas Muslim dan sampai tahun 1980, ternyata hanya sekitar 4-5 propinsi saja yang mayoritas Muslim, yakni Basilan, Tawi-Tawi, Sulu, Maguindanao dan Lanao del Sur

[7]Pada 1972, bangsa Moro yang tergabung dalam Front Pembebasan Nasional Moro, memperjuangkan hak-hak tanah mereka dengan perlawanan yang terjadi pertumpahan darah selama lebih 30 tahun. Akibatnya ratusan ribu orang tewas dan yang lainnya kehilangan tempat tinggal. Baru pada 1992, sebuah kesepakatan damai ditandatangi untuk daerah otonomi warga Moro. Moro sebagai basis wilayah Islam Mindanao (ARMM) yang berpusat di kepulauan Sulu. Pembentukan wilayah itu bertujuan untuk pembangunan dan penentuan nasib sendiri warga Islam di sana. Tetapi apa yang diimpikan untuk menjadi wilayah Muslim hanyalah janji-janji kosong, demikian pernyataan para pemimpin Moro.

 

[8]Baca : Andrik Purwasito, Communication is power, power depend on message, message depend on packaging, Dalam 7 Basic Teori Message Studies, dalam http://facebook.com/purwasito, Surakarta, 2010

[9]Wilbur Schramm, “Peranan dan Bantuan Mass Media dalam Pembangunan Nasional,” dalam Eduard Depari dan Colin MacAndrew,  Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan, Gadjahmada University Press, Yogyakarta,  1985, hal 47-53

[10]Pelajaran berharga dari Aceh yang bisa diadopsi untuk menyelesaikan konflik di Mindanao, sepanjang ada keinginan dari para pihak untuk berdamai. “Momen terbaik untuk bicara damai adalah ketika kedua pihak sudah lelah berperang. Tapi kalau nafsu untuk berperang masih tinggi, percuma kita bicara damai melalui meja perundingan,”  (Pendapat. Gubernur Irwandi Aceh) dalam m.serambinews.com


Education as Indonesianisation Process


Pendidikan sebagai Prosesi “MENJADI INDONESIA”:

Pentingnya kurikulum nasional berbasis ke-Indonesiaan

Oleh: Andrik Purwasito, Guru Besar dalam bidang Komunikasi Lintas-Budaya

——————————————————————————————————–

Dalam pidato kali ini saya akan menyampaikan gagasan sentral yakni pendidikan sebagai prosesi “menjadi Indonesia.” Tema tersebut setidaknya mengandung dua pemikiran utama, yaitu : pertama, pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa dan kedua, pendidikan sebagai pengawal reformasi dan demokratisasi bangsa.

Mengapa menjadi Indonesia?

Saya telah menyampaikan gagasan tentang manajemen komunikasi lintas-budaya, dalam pidato pengukuhan Guru Besar saya, disana saya menyimpulkan bahwa pentingnya memasukkan materi komunikasi lintas-budaya dalam kurikulum pendidikan nasional.  Alasan saya, bangsa ini akan “menjadi Indonesia” apabila anak didik sebagai penerus bangsa mempunyai karakter bangsa sebagaimana telah diwariskan oleh Nenek Moyang dan para Founding-fathers Negeri ini, yakni  berbudi bawa laksana, artinya cerdas, patriotik dan berbudi pekerti yang luhur.

Dalam kesempatan kali ini, perkenankan saya mengawali pidato ini dengan beberapa pertanyaan mendasar:

1). Mengapa kita mendirikan pendidikan dari sekolah taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi

2). Mengapa kita terpukau dengan sistem pendidikan Bangsa Asing sementara kita mengesampingkan pesantrean dan padepokan sebagai basis pengembangan pendidikan kita?

3). Apakah kita sudah merasa benar apa yang kita putuskan sekarang ini?

4). Apakah pendidikan kita sekarang ini masih punya kebanggaan terhadap habitat budaya kita dengan lokal genius yang pernah kita miliki?

5). Lalu pendidikan yang beginikah yang kita bangga-banggakan sebagai sistem pendidikan bangsa yang mempunyai martabat?

Saya tidak akan menjawabnya satu persatu. Biarkanlah ke lima persoalan tersebut menjadi permenungan kita. Saya ingin mengemukakan bahwa sisem pendidikan kita sudah sangat materialistis. Suatu sistem yang menganggap institusi pendidikan sebagai pabrik yang menghasilkan mesin-mesin siap pakai. Institusi menjadi BUMN atau BLU dan sejenisnya, seperti sebuah perusahaan manufaktur, perguruan tinggi tidak melahirkan sistem pendidikan dan pengajaran yang dibutuhkan untuk “menjadi Indonesia” tetapi dipersiapkan untuk memenuhi “pasar Global.”Sehingga, standar kelulusan pendidikan adalah kelulusan yang laku keras di pasaran.

Tidak mengherankan apabila, pendidikan kita seperti pasar. Dimana-mana orang boleh mendirikan institusi pendidikan, bebas melakukan pengajaran apa saja yang berbasis kurikulum dan kompetensi. Namun, sekolah yang memiliki kemampuan dan kompetensi terhadap ke Indonesiaan tidak pernah dimunculkan dalam berbagai wacana nasional, termasuk kurikulum berbasis ke-Indonesiaan.

Hadirin yang saya mulyakan

Saya mohon maaf apabila saya menilai bahwa Negara seolah-olah kurang mempunyai kepedulian yang serius terhadap masalah pendidikan sebagai prosesi menjadi  Indonesiaan ini. Maksudnya, pendidikan tidak diletakkan sebagai fondasi yang vital dalam upaya membangun karakter bangsa yang unggul. Negara membebaskan anak-anak bangsa memilih karakter dan perilaku sesuai dengan yang dikehendakinya. Artinya, anak-anak bangsa tidak diberi kesempatan untuk memilih ke-Indonesiaan sebagai karakter yang dapat menjadikan seseorang bangga menjadi bangsa Indonesia. Kita masih disibukkan dan dikuras tenaga kita untuk mengurus hal-hal materialistik, seperti pembangunan fisik, pemberantasan korupsi dan mafia peradilan, tetapi pendidikan karakter bangsa (nation building) agaknya diabaikan.

Apa kita perlu bukti?

Buktinya sudah jelas, bahwa pendidikan kita tidak menghasilkan karakter bangsa yang patriotik, tidak melahirkan generasi yang kompetitif, jujur dan penuh dedikasi. Ini dapat dilihat dari pungutan liar terjadi dimana-mana, korupsi yang tumbuh subur di berbagai tempat dari birokrasi rendahan sampai birokrasi paling atas, maraknya mafia peradilan serta tidak ada penghargaan terhadap gagasan dan insiatif seseorang, dan dengan mudahnya satu orang mencuri ide dan gagasan orang lain, tanpa rasa bersalah.

Semua yang diuraikan di atas memanglah bukan kesalahan pendidikan semata, tetapi bagaimana mungkin pendidikan tidak memberikan kontribusi yang jelas terhadap perubahan perilaku? Saya melihat, pasti ada yang salah dari sistem pendidikan kita.

Perlunya revolusi kurikulum?

Saya sudah sejak lama menulis, mengemukaka ide dan gagasan tentang kurikulum pembentuk karakter bangsa. Antara lain dapat dibaca dalam jurnal “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Masa Depan Indonesia: Pentingnya Komunikasi Antar Budaya masuk dalam Kurikulum Pendidikan Nasional,” dimuat dalam jurnal terakreditasi Varidika, Varia Pendidikan vol XII, no. 21, Desember 2000. Dalam artikel tersebut, saya menyampaikan bahwa pentingnya dilakukan reformasi kurikulum pendidikan nasional dalam upaya membangung watak patriotik, membangun jiwa bangsa atau apa yang saya sebut sebagai “menjadi Indonesia.”

Kekawatiran saya terhadap konflik sosial dan horizontal yang berbasis primordialisme, harus diantisipasi lewat dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus bertanggung jawab terhadap masa depan generasi kita apabila berjalan di jalan yang sesat.

Mengapa?

Mungkin karena basis pendidikan kita hanya berbasis pada kompetensi, link and match dengan industri, bukan link and match dengan ke-Indonesiaan. Sehingga, hasil pendidikan kita kurang dapat diwujudkan secara nyata dalam realitas sosial. Pendidikan seperti menara gading yang sulit menyentuh realitas kehidupan yang sesungguhnya. Pendidikan sebagai rutinitas dan sekedar memenuhi gaya hidup yang diciptakan oleh mainstream kehidupan materialistis. Pendidikan hanya mencari selembar kertas berupa ijasah sebagai prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan lanjut, atau sekedar menaikkan harga diri di depan publik, misalnya untuk meningkatkan harga mahar dalam mencari pasangan hidup. Pendidikan kehilangan roh visi misinya yang suci sebagai pencerahan dan peningkatan kualitas kehidupan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat. Pendidikan juga semakin menjauhkan kemandirian masyarakat yang berbasis ke-Indonesiaan. Sehingga pengangguran semakin menumpuk, tetapi mereka tidak mempunyai daya kreativitas untuk membuka peluang usaha. Pendidikan tidak disiapkan untuk menghadapi dunia nyata, tetapi hanya untuk mencapai nilai A atau B, yang diperoleh oleh anak didik apapun caranya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Sekarang kita sudah jauh berjalan. Sejak 1908, pendidikan dianggap sebagai fondasi kebangkitan nasional dan mencatat rekor terbaiknya sebagai generasi yang membangkitkan nurani dan semangat untuk menghada0856pi masa depan yang makin sulit dan penuh tantangan. Kebangkitan nasional meletakkan pendidik sebagai motor kebangkitan.  Pada awal kebangkitan kita semua tahu, untuk apa kita bangkit? Kemana arah kita setelah bangkit? Kita bangkit menuju Indonesia Merdeka bersatu, rukun-damai, sejahtera lahir dan batin. Arah kita sangat jelas membangun Bangsa dan Negara Indonesia yang  kuat dan bermartabat.

Apa yang telah dilakukan?

Sekarang kita menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara lebih 100 tahun sejak kebangkitan. Tetapi apa yang terjadi dengan pendidikan kita? Kebangkitan Nasional hanya tinggal dalam upacara, seremoni dan ritual-ritual dangkal, disertai dengan refleksi, kontemplasi, mawas diri tetapi tidak pernah ada perubahan dan revisi terhadap perilaku kita. Sebagai contohnya, seberapa jauh telah kita tinggalkan budaya kita sebagai pedoman dan kaidah adat kebiasaan kita,  yang menjadi fondasi dasar perilaku kita? Lihatlah, kita telah tidak malu lagi melupakan  budi pekerti kita, budi pekerti sebagai etika pergaulan dan landasan komunikasi kita untuk bermasyarakat.

Sekarang budi pekerti telah punah. Budi pekerti kita sekarang telah terkubur di bumi pertiwi. Budi pekerti kita diinjak-injak oleh generasi kita, yang dengan mudahnya orang berkata, karena semua itu demi ke-Indonesiaan kita. Saya kira anda keliru. Ke-Indonesiaan adalah pendidikan yang berproses untuk menguatkan perilaku lokal genius kita.

Siapakah yang peduli dengan patriotisme? Sejak Nation State (Negara Kebangsaan) runtuh, akhir dari sejarah, tetapi kita malahan berpangku tangan dan tidak pernah berpikir kritis lagi terhadap arah perjalanan generasi kita. Dimana-mana kita melihat drama tragedi dari orang-orang kita yang terbiasa ngiwakke budaya (menghinakan kebudayaan sendiri). Lihatlah, patung Slamet Riyadi di Gladak. Patung raksasa itu berdiri megah. Semua orang bertepuk tangan dengan keindahan yang diciptakan itu. Tetapi lihatlah dengan cermat, setiap hari air mata Patung Slamet Riyadi itu meneteskan air mata. Itulah simbol dan contoh kongkrit bagaimana orang Jawa ngiwakke budaya sendiri. Patung itu menangis karena tidak bisa merubah dirinya untuk menghadap ke  Wajah Karaton Surakarta, Karaton sebagai sumber budaya jawa. Bukan ia yang bersalah membokongi dengan serta merta wajah Nenek Moyang budayanya itu.

Tidak ada yang salah?

Dalam hal ini memang tak ada yang salah. Karena memang beginilah jaman. Orang-orang hanya tunduk pada nut jaman kelakone.  Saya yakin bahwa para pemasang patung pahlawan itu, juga tidak sengaja, atau mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka itu ngingkuri (membokongi) apa yang disanjung-sanjungnya, yaitu wajah budaya Jawa, warisan Nenek Moyang yang diagung-agungkan itu.

Tetapi, itulah realitas hidup kita. Itulah salah satu contoh lemahnya pendidikan kita dalam membangun karakter budaya bangsa. Pendidikan yang telah meninggalkan budaya Jawa tanpa disadarinya, karena terpana oleh rayuan pendidikan duniawi yang mengejar selebritas dan puji-pujian prestasi dunia tetapi kehilangan ruhnya. Hasilnya, orang-orang Jawa telah lupa apa itu warisan leluhurnya. Mereka tidak lagi bisa mengamalkan nilai leluhur yang adiluhung, yang bisa dilakukan hanyalah memuja dan memuji budaya Jawa sebagai sebuah cerita masa lalu. Pendidikan kita juga mendukung teraleniasinya budaya sebagai pedoman dan kaidah hidup bermasyarakat.

Siapakah yang menjadi Idola?

Dulu pendidikan kita mengajarkan bahwa pendidikan adalah panutan berperilaku. Pendidikan sebagai pusat untuk meningkatkan kualitas dan derajat kemanusiaan seseorang.  Hal itu dikukuhkan lewat simbol Guru, digugu dan ditiru. Karena sekarang pendidikan berbasis kompetensi, maka Guru bukanlah sosok yang perlu digugu dan ditiru. Guru telah kehilangan peran dan sosok yang dihormati.  Dalam pendidikan sekarang Guru hanya fasilitator yang memfasilitasi anak didik untuk lulus dalam ujian.  Lingkungan dan habitatlah yang mempunyai pilihan untuk diambil alih oleh anak didik. Pendidikan dikonstruksikan secara sosial. Guru hanyalah faktor kontributif  dan kolaborator dalam transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dan bukan inspirator.

Oleh sebab itu, penghormatan terhadap Guru atau Dosen berubah dari nilai spiritual ke norma material. Guru atau Dosen dikatakan profesional apabila memberi nilai dengan sistem yang benar, sesuai dengan norma material seperti SK (Surat Keputusan) yang ditanda-tangani oleh Menteri, Dirjen atau Rektor. Sebaliknya, Guru atau Dosen dikatakan buruk apabila memberi hukuman dengan pukulan atau hukuman secara phisik.  Jadi penempatan posisi Guru atau Dosen yang berubah ini telah mengubah seluruh capaian yang menjadi produk perguruan tinggi. Apabila Guru dan Dosen kita ibaratkan penggembala, maka dari itu sistem pendidikan kita sekarang, memposisikan anak didik sebagai sentral pendidikan, dan mereka lebih berkuasa atas segala sesuatu. Guru dan Dosen kehilangan otoritas sebagai pendidik dan pengajar karena ia sekarang adalah fasilitator dan kolaborator yang mempunyai kesederajatan. Hal ini juga dapat dirasakan di masyarakat, dulu Guru dan Dosen menjadi penuntun jalan menuju pencerahan, sekarang tidak lagi menjadi pekerjaan terhormat, selain karena gajinya juga rendah peranannya hanya sekedar membubuhkan nilai di atas kertas rapor dan ijasah.

Pendidikan sebagai Penguatan Perilaku Beradab

Hadirin yang saya hormati,

Sebagai penutup pidato saya kali ini, saya akan memberikan pandangan baru terhadap pendidikan Nasional kita. Selama ini, saya melihat bahwa pendidikan telah merampas khasanah lokal genius sebagai warisan budaya adiluhung kita. Pendidikan diarahkan untuk mempertahankan dan menguatkan warisan budaya, tidak cukup hanya diukur dengan perhitungan kuantitatif. Pendidikan harus diukur berdasarkan hitungan kualitatif, yang melibatkan nilai dan norma yang diarahkan agar anak didik mampu mengkontruksikan makna-makna yang tersebar dan membuka anak didik untuk melakukan eksplorasi gagasan besar lalu menstrukturisasi ke dalam wilayah kongkrit. Di sini pendidikan menuntun setiap anak mendidik menjadi inventor atau penemu-penemu dari gagasan-gagsan besar.

Jadi, bagi para pengelola pendidikan jangan menepukkan dada karena merasa berhasil membangun institusi pendidikan tak ubahnya selebritis. Banyak ditulis di koran dan ditayangkan di televisi. Jangan terbuai oleh rangking kuantitatif yang secara sistematis dikenalkan oleh media massa di mana-mana. Pengelola pendidikan harus mampu mengimplementasikan konsep pendidikan yang selaras dengan substansi pendidikan itu sendiri. Pengelola jagnan tergila-gila dengan wacana peningkatan dan tingginya rangking. Tingginya ranking dalam hanya membuat pengelola pendidikan tinggi arogan dan terlalu membanggakan diri.  Pada hal bukan itu yang dimaksud oleh visi pendidikan kita. Jadi apa yang menjadi standar dan ukuran perguruan yang baik?

Karena tujuan diadakannya pendidikan untuk mendidik agar orang mengalami perubahan sebagaimana yang kita inginkan, yakni perubahan dan penguatan perilaku yang lebih beradab. Maka pendidikan kita, adalah upaya untuk mengeksplorasi khasanah budaya kita yang beradab, yaitu ke-Indonesiaan kita. Pendidikan nasional berhasil apabila terjadi secara nyata perubahan dan progresi seseorang menjadi berakal-budi baik, jujur, penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Perspekstif.?

Sebagai konklusi ruh pendidikan nasional kita setidaknya mengikutkan 3 hal berikut dalam Kurikulum Nasional, yaitu:

  1. Mengikuti dinamika perubahan dan perkembangan masyarakat secara arif berkesinambungan
  2. Membimbing anak didik ke jalur yang lurus dengan cara pandang yang kritis
  3. Memberi pencerahan kepada masyarakat dengan sudut pandang solutif        ===

GURITA CIKEAS


(Tulisan ini melengkapi tulisan yang dimuat VIVA NEWS)

Pertama-tama, saya memuji buku Gurita Cikeas sebagai tulisan yang sangat langka ditengah gerakan pemberantasan korupsi.  Dalam hal ini Goerge telah berhasil mengangkat persoalan korupsi lebih dekat lagi ke ranah publik dengan metoda yang dia kembangkan sejak lama, yaitu membangun wacana populer.

Tetapi, kita tetap harus berhati-hati,  karena isu korupsi sebagai bagian dari wacana media, bisa kehilangan arah dan bisa saja menutupi penyelesaian penyelesaian korupsi itu sendiri.  Dalam hal ini, media massa  mempunyai kepentingan yang beragam, mempunyai norma dan nilai sendiri, yang berbeda dengan nilai-nilai yang berkembang di lingkungan lain, seperti lingkungan kaum gerakan dan LSM, berbeda dengan norma dan nilai yang dikembangkan dalam lingkungan kaum akademisi, serta lingkungan kaum politisi.

Perbedaan nilai dan norma yang dianut, sebagai kaidah untuk bertindak dan berperilaku, pada akhirnya juga membedakan cara pandang mereka terhadap suatu masalah yang dihadapi,  dalam hal ini cara-cara memberantas korupsi.

Selain perbedaan norma dan nilai yang dianut sebagai kaidah penyelesaian korupsi, perbedaan dalam persoalan pengkajian saAngat dipengaruhi oleh cara memperoleh, menguji validitas  dan menggunakan data-data. Selain juga perbedaan dalam cara pendekatan, metodologi bahkan madzab filsafat ilmu yang dianut. Beberapa hal tersebut, akan menghasilkan variasi hasil yang dicapai oleh setiap peneliti.

Lazimnya, saya mempercayai bahwa  sebuah hasil kajian didasarkan atas tujuan mencari atau memverifikasi kebenaran; mengeksplorasi sesuatu yang tak terungkap atau menjelaskan dan mendiskripsikan secara seimbang terhadap data-data yang harus digali.  Sesungguhnya, apapun perbedaan visi dan metodologi, yang jelas hasil kajian adalah mencapai kebenaran yang obyektif  serta pengambilan kesimpulan yang lurus.  Persoalannya memang bisa diperdebatkan tentang apakah itu kebenaran, kebenaran  yang bagaimana, kebenaran untuk siapa, dll dll.  Lazimnya kebenaran yang dimaksud dalam kajian ilmiah adalah kebenaran obyektif.

Apa yang disebut ilmiah dan tidak ilmiah akhirnya menjadi perdebatan falsafat yang dikaji tanpa henti. Tidak ada klaim kebenaran ilmiah yang memuaskan semua pihak. Oleh sebab itu, dalam hal perbedaan interpretasi terhadap persoalan ilmiah dan tidak ilmiah sangat bergantung dari sikap sendiri dalam menyikapi kebenaran itu sendiri.

Yang jelas setiap orang boleh mengkritik dan terbuka terhadap kritik orang lain.  Setiap peneliti mempunyai kearifan dalam berbeda pendapat.  Karena apa disebut obyektif ilmiah diinterpretasi secara beragam?

Bagi saya sendiri,  standar ilmiah sebuah karya apabila memenuhi beberapa kriteria, yang secara klasik dapat disebutkan antara lain:  mempunyai hasil kajian mempunyai landasar berpikir (teori) dan metodologi. Bahwa yang obyektif adalah yang dapat diterima oleh akal sehat,  bersifat general (umum dapat menerima) dan lazimnya  dapat dipertanggungjawabkan secara substansial.  Kebenaran ilmiah bukanlah kebenaran pengadilan. Kebenaran ilmiah berangkat dari metodologi yang digunakan untuk mencapai kebenaran itu.

Tetapi perlu diingat bahwa setiap peneliti mempunyuai cara pandang dan capaian hasil, setiap peneliti mempunyai hak untuk meyakini kebenaran itu berdasarkan hati nuraninya. Dalam subyek kajian yang sama biasanya dihasilkan capaian yang kurang lebih sama. Tetapi bisa juga berbeda, karena faktor madzab peneliti yang dianut dan paham atau filsafat yang mendasari kajiannya. Seorang mengaku sebagai kaum peneliti Nihilis atau Dadais adalah syah-sayah saja. Dia tetap mempunyai hak dan keabsahannya sendiri yang patut dihargai.

Begitupun seorang realis, fenomologis, seorang naturalis, seorang marxis  atau seorang kritis, masing-masing mempunyai cara pandang dan landasan filsafati  yang berbeda, dan sah-sah saja sekaligus perlu mendapatkan penghargaan yang sewajarnya.

Justru terjadinya kritik dan dialektika pemikiran dalam kehidupan ilmiah akan justru memajukan dan meningkatkan kualitas keilmuan.  Yang penting, setiap orang dan peneliti perlu terbuka terhadap kritik dan menerima saran dan kritikan yang membuatnya lebih valid.  Tidak ada gading yang tak retak, jangan pernah membangun tirani karena merasa paling pandai, jangan pernah merasa paling benar, karena di atas langit masih ada langit.

Semoga berguna. Terima kasih.


ModaL Sosial dan Budaya Bagi Dosen Profesional


Gagasan/masukan materi: Andrik Purwasito, Guru Besar dalam bidang Manajemen Komunikasi Lintas-Budaya

Disampaikan dalam Lokakarya Sistem Pengembangan Profesionalisme Dosen (SPPD), tanggal 16 Desember 2009 di Ruang Perpustakaan UNS

1.  Siapakah Dosen yang Profesional? Yang dimaksud dosen yang profesional adalah dosen yang memenuhi standar kompetensi dalam 3 bidang yaitu :

1). Kompeten sebagai seorang pendidik dan pengajar; 2). Kompeten sebagai seorang peneliti (inovator dan inventor); 3). Kompeten sebagai seorang penggagas dan pengabdi masyarakat

Untuk mendukung tercapainya tingkat kompetensi, seorang dosen profesional dibutuhkan modal sosial dan modal budaya sebagai faktor pendukung. Yaitu, kepemilikan modal sosial dan kepemilikan modal budaya.

2. Apa saja Faktor pendukung Dosen yang Profesional?

  1. Pendekatan

Pendekatan untuk mencapai tingkat profesionalisme dosen dapat di dekati dengan cara pandang ekonomi (economic approach). Dalam ilmu ekonomi, tujuan utama kegiatan ekonomi adalah mencapai laba sebesar-besarnya di atas rata-rata. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan setidaknya tiga faktor vital yaitu :

1). Ketersediaan Modal; 2). Kualitas Manajerial; 3). Lingkungan Bisnis; 4). Tingkat Kompetisi

  1. Pendekatan Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, tujuan utama pendidikan adalah membangun manusia seutuhnya berdasarkan kodrat yang dimilikinya. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan tenaga profesional yang wajib mempunyai kompetensi dan modal dasar serta sistem manajerial dan iklim kehidupan kampus yaitu:

1). Kompetensi dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian Masyarakat; 2). Mempunyai Modal Budaya dan Modal Sosial yang cukup; 3). Kualitas Manajerial Universitas yang mendukung profesionalitas; 4). Atmosphere Kehidupan Kampus yang menghidupi iklim profesional

Artinya, bahwa meningkatkan profesionalisme dosen tidak dapat hanya dilihat atau ditingkatkan aspek teknik mengajar, tetapi harus dilihat secara holistik. Pendekatan holistik dalam profesionalisme dosen berarti selain menunjuk pada kapasitas dan aksesbilitas serta akseptabilitas seorang dosen dalam kaitannya dengan ketersediaan modal dan keterlibatan dosen dalam kegiatan di kampus dan di luar kampus, juga adanya dukungan kualitas dan good will dari Pimpinan universitas, fakultas dan prodi untuk meningkatkan dosen yang profesional dan terus menerus melakukan pembinaan secara berkesinambungan..

Selain itu, dibutuhkan atmosfere kehidupan kampus yang kondusif sebagai wahana intelektual dengan berbagai kegiatan tidak saja pendidikan dan pengajaran, tetapi juga bidang pengembangan gagasan, penemuan, penelitian, seni, budaya, spiritual, olah-raga dan pengabdian sosial.

3. Apa Kongkritnya Culture Capital, Social Capital, Manajerial dan Academic atmosphere

Culture Capital (Kapital budaya) adalah modal seorang dosen mampu bertindak secara profesional. Tindakan yang dimaksud adalah kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan dosen yang dinilai dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai makluk individual maupun sebagai makluk sosial. Modal budaya juga berarti kepemilikan atas berbagai pendukung seorang dosen sebagai tenaga profesional.

Social Capital (Kapiial Sosial) adalah bagaimana seorang dosen melakukan interaksi dengan lingkungannya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Manajerial, adalah bagaimana gaya pimpinan dalam upaya meningkatkan dosen yang profesional.

Academic Atmosphere adalah bagaimana warga kampus menghidupkan kampus sebagai university of learning dan research university atau apapun kegiatan yang semarak hidup sebagai masyarakat ilmiah dan menghidupi warga kampus sebagai insan ilmuah.

Penjelasan:

Social Capital

Mempunyai tingkat interaksi yang tinggi baik di Kampus maupun dalam kegiatan di Masyarakat di luar bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi (Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Bidang Penelitian dan Bidang Pengabdian pada Masyarakat).

Interaksi di Kampus

o Kebiasaan Target Keterangan
1 Kehadiran di Kantor 4 kali dalam seminggu Dibuktikan dengan absen
2 Rapat-rapat jurusan, fakultas, universitas dan kepanitiaan 3 kali/Smt Dibuktikan dengan Absen
3 Kegiatan Penemuan dan Penulisan Buku Tidak dibatasi waktu Ditunjukkan dengan rencana dan proses
4 Kehadiran di Perpustakaan 1 kali dalam seminggu Dibuktikan dengan Kartu Kehadiran di Perpustakaan
5 Kegiatan Ilmiah di Institusi sendiri 2 kali peserta seminar/Smt Dibuktikan dengan sertifikat atau Surat Tugas
  1. Interaksi di Luar Kampus
1 Kegiatan Karya yang di Patenkan Tidak dibatasi waktu Ditunjukkan dengan Sertifikat Hak Intelektual/Patent
2 Kegiatan Pameran 1 dalam 2 tahun Internasional, Nasional, Lokal
3 Kegiatan Pelatihan/workshop Berbagai bidang (bidang ilmu dan diluar bidan ilmu) Dibuktikan dengan sertifikat keikutsertaan
4 Kegiatan pengabdian atas inisiatif sendiri di luar kegiatan Tri Dharma, organisasi masyarakat dan kerjasama dengan pihak di luar institusi 2/tahun Tingkat internasional (2) Tingkat nasional (1), Regional (0,75), Lokal (0,5)
5 Kegiatan Ilmiah di luar Institusi sendiri 2 kali peserta seminar/Smt Dibuktikan dengan sertifikat atau Surat Tugas

Culture Capital

Seorang dosen dikatakan profesional apabila mempunyai modal budaya. Pembuktian atas modal budaya dilakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk Verifikasi Faktual. Dibawah ini modal budaya seorang dosen dengan minimal kepemilikan pendukung profesionalisme sebagai berikut :

No Kepemilikan Target Keterangan
1 Perpustakaan pribadi 100 buku ilmiah Di rumah mempunyai perpustakaan dengan minimal 100 buku ilmiah, 20 buku yang berhubungan langsung dengan keahliannya
2 Internet Provider Memiliki minimal 1 Sambungan provider Kepemilikan internet dan modem
3 Ruangan kerja 2 x3 atau berapa ukurannya Apakah ada ruangan khusus
4 Komputer Laptop/desktop Minimal mempunyai satu laptop atau komputer di rumahnya
5 Pemilikan Buku karya sendiri 1 bab buku/ semester Menulis buku dalam waktu 3 tahun (6 bab) setiap bab minimal 50 halaman, ketik 1,5 spasi, kertas kwarto
6 Rumah Kerja secara mandiri Sebuah bangunan Bangunan khusus untuk kegiatan pendukung dosen berkarya
7 Letak Rumah Berapa Kilometer dari Kampus Jarak tersebut ditentukan dengan menyebutkan kota tempat tinggal sehari-hari.

Manajerial dan Academic atmosphere

Oleh karena pengembangan profesionalisme dosen terkait erat dengan Sistem Manajerial dan Atmosphere akademik, maka kedua hal tersebut juga perlu ditingkatkan secara beriringan.

Artinya, bahwa penilaian profesionalisme dosen harus mencakup aspek penilian manajerial dan atmosphere akademik. Jawaban yang bisa kita peroleh adalah :

Mungkin saja dosen tidak bisa menjadi profesional karena tidak adanya dukungan positif dari manajerial dan kurang mendukungnya atmosphere akademik.

Dalam hal ini kita akan lebih obyektif dalam menilai tingkat profesionalisme soerang dosen.

Apabila tidak adanya dukungan manajerial dan iklim akademik yang mendukung pengembangan tersebut, maka SPPD juga akan tidak banyak berfungsi sebagai salah satu cara peningkatan profesionalisme dosen.

SPPD bisa berjalan apabila tujuan utama adalah penilaian terhadap dosen dalam hal teknik mengajar di kelas. Kalau ini yang dikehendaki, yang dimaksud profesional hanya dalam hal mengajar di depan kelas, maka faktor-faktor yang saya sebutkan tadi kurang begitu berpengaruh, karena hanya menilai dari satu aspek saja dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sekian dan terima kasih. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan. Sukses SPPD dan Sukses UNS sebagai World Class University

Hormat Kami

Andrik Purwasito


Jokowi dan Daerah Istimewa Surakarta


Daerah Istimewa Surakarta

Kunjungan Orasi

Di malam tahun baru 2010  Ir Joko Widodo, Walikota Surakarta menyempatkan hadir dalam acara Orasi Budaya Daerah Istimewa Surakarta by Prof. Andrik Purwasito, Teks selengkapnya dapat dibaca di Page Cross Cultural Studies : Daerah Istimewa Surakarta


About Author


Riwayat Hidup

Nama  :  Prof. Dr. H. ANDRIK PURWASITO, DEA. (KRT.POERWAHADININGRAT) NIP  : 1957813 198503 1 006.

Tempat /Tgl.    Lahir    : Trenggalek, 13 Agustus 1957 Agama   : Islam Bid. Keahlian      : Komunikasi Lintas-budaya Alamat Rumah  : Jl. Glatik 222, Perum UNS IV Triyagan, Pos Bekonang, 57554, Sukoharjo

Phone/fax  :  (0271) 7992817, HP:085647052375 Status : Menikah Websites  : http://andrikpurwasito.blog.com Email           : wongkampoeng@gmail.com Alamat Kantor   : FISIP-UNS, Jl. Ir Sutami 36A, Surakarta, 57126, Phone/Fax: (0271) 632478.

Riwayat Pendidikan

  1. Tingkat Dasar    : Madrasah Ibtidaiyah  Kedunglurah,  Pogalan, Trenggalek, Jawa Timur,1963-5, SD Negeri Kedunglurah,  Pogalan, Trenggalek,  Jawa Timur 1963-5 SD Negeri Wonocoyo,  Pogalan, Trenggalek, Jawa Timur,1966-7 SD Negeri Baruharjo II, Durenan, Trenggalek, tahun 1967-1969
  2. SLTP  : SMP Negeri Kalangbret, Tulungagung, Jawa Timur, lulus   1972
  3. SLTA   : SMA Negeri II, Kediri, Jawa Timur, lulus tahun 1975
  4. Bachelor of  Art:  Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, lulus Sarjana Muda 1978
  5. Doctorandus : Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, lulus Sarjana tahun 1981 Fakultas   : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan                : Hubungan Internasional Spesialisasi  : Kajian Eropa Timur Judul Skripsi   : Strategi Politik Uni Soviet di Eropa Timur : Sejak Konferensi Yalta sampai Berdirinya   Pakta Warsawa, 1945-55
  6. Strata 1  : Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia, ASRI, Yogya, 1980 Jurusan : Seni Lukis (Fine Art)
  7. Master : Ecole des Hautes Etudes en Sciences  Sociales,  Paris, lulus 1989
  8. Doctor : Ecole des Hautes Etudes en Sciences  Sociales,  Paris, lulus 1992 Jurusan              : Histoire et Civilisation Judul Disertasi   : L’Image de l’Inde dans le Discours   des Nationalistes Indonesiens, (1920-1965),  diterbitkan versi Indonesia judul  “IMAJERI INDIA”  Studi Tanda dalam Wacana, (597 halaman) oleh Ford Foundation dan Pustaka Cakra, Surakarta Mei 2002

B. Riwayat Mengajar

Di luar Institusi : (1979-1981) Asisten Dosen Prof. Dr. Idris A. Kesuma (Alm) program s- 1 : Hubungan Internasional – Fisipol – UGM, Yogyakarta dalam mata kuliah : Sejarah Diplomasi Indonesia, Politik Internasional,  Studi  Wilayah  dan (1990) Dosen Tamu di INALCO (Institute National Langue et Culture Orientale), Paris dalam mata kuliah : Vision Javanese sur La Litterature Indonesiennes , sedangkan tahun (1993) Dosen Luar Biasa Program Internship Pusat Antar Universitas, PAU-UGM, dalam mata kuliah : Politik dan Diplomasi Eropa Barat. Tahun (1993) Dosen Tamu  program S-2: Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri Surakarta mata kuliah : Sosiologi Agama . Ia mengajar juga tahun (2000-2001) sebagai Dosen Tamu program S-2: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (ISI Surakarta ) dalam mata kuliah : Teori Komunikasi sedangkan tahun (2000-2002) pada program S-3: Jurusan Administrasi Publik – Untag – Surabaya dalam  mata kuliah : Filsafat Ilmu dan Logika Sains . Terakhir tahun (2008-present) Dosen Tamu untuk program S-3 : ISI Yogyakarta dalam mata kuliah supplement : Art and Environment

Institusi Sendiri :

(1998-2001) Dosen Keahlian Praktis untuk Komunikasi Terapan pada program  penyiaran dan  advertising dalam mata kuliah (Peraturan Baru melarang dosen dengan gelar S3 mengajar D3):

  • Komunikasi Antar Budaya
  • Etika Periklanan
  • Fotografi
  • Manajemen Krisis
  • Penyutradaraan

(1984-present) dosen tetap untuk program S-1 : Ilmu Komunikasi dalam mata kuliah :

  • Komunikasi Antar-Budaya
  • Sistem Sosial dan Budaya
  • Gerakan Sosial dan Politik
  • Politik Internasional
  • Organisasi dan Administrasi Internasional
  • Komunikasi Internasional
  • Pengantar Ilmu Politik
  • Teori Sosial-Politik
  • Filsafat Ilmu
  • Dasar-Dasar Logika
  • Metode Penelitian Komunikasi/Semiologi Komunikasi

(2001-present ) dosen tetap untuk  program S-2 : Ilmu Komunikasi dalam mata kuliah:

  • Komunikasi Sosial Budaya
  • Komunikasi Media Tradisional
  • Filsafat Ilmu
  • Metode Penelitian Kualitatif
  • Komprehensif

(2001-2004) dosen tamu untuk program S-2: Ilmu Hukum dalam mata kuliah :

  • Hukum dan Otonomi Daerah

(2001-2006) dosen tamu untuk  program Magister Manajemen – Fakultas Ekonomi dalam mata kuliah :

  • Analisis Lingkungan Bisnis

C. Riwayat Jabatan  dan  Tugas  :

  1. Anggota Senat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret  Surakarta, 1993-1997
  2. Kepala P4M (Pusat Pengkajian Politik dan Pemberdayaan Masyarakat). Pada Lembaga Penelitian, UNS.1998-2001
  3. Direktur Eksekutif Forum Rektor Indonesia Rayon II eks Karesidenan Surakarta, Program Pemantauan Pemilu 2001
  4. Koordinator Bidang Pengawasan  Isi Siaran, Komisi Penyiaran Indonesia Pusat, KPI Pusat, Jakarta 2003-2006
  5. Ketua Team Pendirian  Program Studi Hubungan Internasional di FISIP UNS, 2009-present.
  6. Anggota DRJD (Dewan Riset dan Pembangunan Jawa Tengah), 2000-5
  7. D. Tanda Penghargaan  Akademik  dan  Seni
    1. a. Penghargaan dalam bidang Akademik :
      1. Penghargaan Kelulusan Terbaik 3, SD Negeri II Baruharjo, Trenggalek, 1969
      2. Penghargaan  Kelulusan Terbaik 2, Ilmu Sosial, SMA Negeri II Kediri, 1975
      3. Penghargaan Kelulusan Terbaik 1, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL UGM, Yogyakarta 1978
      4. Penghargaan Dosen Teladan 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret, 1994
      5. Penghargaan Dosen Teladan 2 Universitas Sebelas Maret,  Surakarta 1994

b. Penghargaan dalam bidang Seni :

Tingkat Internasional:

  1. Penghargaan tingkat Internasional Art Camp Lazarea sebagai Artist in Residence, di Harghita County,  Lazarea, Romania, Juli 2009
  2. Penghargaan Yatoo Art and Nature, dalam karya “The Sound of  Nature and Peace,”  tingkat Internasional, di Gumgang Biennalle, Korea Selatan, 2009

Tingkat Nasional:

  1. Penghargaan Kritik Sastra Harapan I, Tingkat Nasional, BKKNI, Padang, 1984
  2. Penghargaan Penulis Terbaik I Tingkat Nasional Penulisan Sandiwara Naskah Radio, Radio IBC Semarang, 1985
  3. Penghargaan Penulis Puisi Terbaik III,  Tingkat Nasional, Piala Kirjomulyo, UNDIP, Semarang 1985
  4. Penghargaan Pemenang Harapan I, Menulis Surat Cinta, Majalah Ibunda, Jakarta, 1995

Tingkat Lokal :

  1. Penghargaan Penyutradaan Terbaik Festival Drama se-SLTA, Kediri 1975
  2. Penghargaan sebagai  The Best Actor dalam Festival Drama SLTA,  Kediri, 1975
  3. Penghargaan  Deklamator dalam Festival Seni,  SLTA, Kediri 1975

E. Riwayat Pekerjaan

  1. a. Dalam bidang Penyiaran
  1. “Penyiar Acara Pelajar,”  Radio Kabupaten Pemerintah Daerah, Kodya Kediri, 1975
  2. Host acara Budaya  dan American Top 40,” pada Radio Retjo Buntung, Yogyakarta, 1981-1984
  3. Host untuk acara Talk Show “Acara Seni-Budaya,”  Stasiun TVRI, Yogyakarta, 1981
  4. Penulis dan Sutradara Fragmen Keluarga Berencana yang disiarkan di stasiun TVRI, Yogya, 1982
  5. Wakil Direktur Radio Gajahmungkur, Ngadirojo, Wonogiri, 1996-1997
  6. Host untuk acara Talk Show, “Obrolan Simpang Lima,” Stasiun  TVRI, Jateng, 1999 – 2003
  7. Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI PUSAT), Jakarta Periode Pertama, 2003-2006, membidangi Pengawasan Isi Siaran
  8. Ketua Jaringan Nasional Pemantau Media, (JNPM),  periode 2007-2011
  9. Adviser Hukum dan Hiburan di Lembaga Penyiaran, pada DEKA  & CO, Jakarta  sampai sekarang

b. Dalam bidang Media Massa

  1. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Majalah Sekolah SMA Negeri 2 Kediri, 1975
  2. Wartawan Majalah bahasa Jawa, JAYA BAYA. Surabaya, 1981-1983
  3. Wartawan Harian KEDAULATAN RAKYAT, Yogyakarta, 1983-1984
  4. Pimpinan Redaksi Penerbit PLP2M , Yogyakarta 1984-1985
  5. Kontributor free lance untuk berita budaya  Yogyakarta, Harian KOMPAS,1982-4
  6. Kontributor free lance berita budaya Yogyakarta, Harian SINAR HARAPAN, 1982-4
  7. Pemimpin Redaksi Bulletin Bulanan, PPI Paris, Prancis 1989-1990
  8. Penulis Kolom untuk Harian SOLOPOS (1997-1999), nama rubrik  “LINCAK.”
  9. Penulis Kolom untuk Harian SUARA MERDEKA (1987-2000) nama rubrik “WEDANGAN”

10.  Penulis Kolom untuk Mingguan, MINGGU INI (1997-1999), Semarang, nama rubrik “MANUSIA JAWA”

11.  Penulis Kolom untuk Harian POS KITA (2000-2001), nama rubrik “TEH JAHE”

12.  Konsultan Perencanaan dan Pengembangan surat kabar POS KITA, Surakarta, 2000

c. Dalam bidang PEMERINTAHAN

  1. Kepala Supervisi Program Keluarga Berencana, BKKBN, Bantul, 1982-1983
  2. Tenaga Ahli Anggota Badan Pekerja MPR tahun 1997-1998, Fraksi Utusan Daerah (untuk Asistensi Prof  Dr. Muladi, SH), di Jakarta
  3. Anggota PANJATAP untuk bidang Sosial Kemasyarakatan, Kodam IV Diponegoro, 1996-1997
  4. Pembahas Ahli Program Perencanaan Nasional, (PROPENAS),  yang diselenggarakan oleh Bappenas di Yogyakarta, tahun 2000
  5. Staf Ahli Walikota Surakarta, Periode Slamet Suryanto, 2001- 2003
  6. Ketua Komisi Bidang  Politik, Pembahasan Draft Materi GBHN 2000-2004, di Hotel Merdeka Yogyakarta, oleh WANHANKAMANAS, 1998-1999
  7. Memberi usulan konsep PENYIARAN KOMUNITAS untuk RUU Penyiaran,  2001
  8. Ketua Kelompok Kerja Pendampingan UNS untuk PANSUS DPR RI, pembahasan RUU Kebebasan Informasi, tahun 2002

d. Dalam bidang BISNIS DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

  1. Ketua PPI Prancis yang berkedudukan di Paris, 1989-1990
  2. Ketua Masyarakat Islam Indonesia Prancis, di Paris 1989-1992
  3. Ketua Komunitas Studi Masalah Sosial (KSMS) di Paris, 1989-1992
  4. Ketua ICMI Surakarta Bidang Organisasi, tahun 1998
  5. Expertise Perencanaan dan Pengembangan pada Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), Surakarta, 1993-1995
  6. Expertise untuk Pengembangan Riset Aksi hasil kerjasama UNS  dengan Kanada, di Sragen, 1993-1995
  7. Expertise Perencanaan dan Pengembangan pada PT Tunggal Dara Group di Wonogiri , 1996-1997
  8. Ketua Kelompok Kerja, Forum Komunikasi Pariwisata Surakarta, 2001
  9. Expertise Pendampingan Pengembangan Perguruan Tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi,  Surakarta 2000-2001

10.  Menjadi Supervisory dan advisory dalam program PDM-DKE daerah  Surakarta, 1999-2000

11.  Expertise dalam Konservasi, Revitalisasi dan Pengembangan Karaton Kasunanan, Surakarta, 1998- sekarang.

  1. Dalam Bidang SENI DAN BUDAYA
  • Kegiatan dan Organisasi Seni-Budaya
  1. Ketua Bidang Seni Budaya, Korps Mahasiswa Hubungan Internasional, 1976
  2. Ketua Komunitas Pengarang Sastra Jawa, Loro Jonggrang,  di Yogyakarta, 1978
  3. Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ), untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekitarnya, 1981
  4. Ketua Komunitas Penyair Yogyakarta, Sanggar Solidaritas, di Yogyakarta 1980-        1984
  5. Duta Penyair Yogyakarta dalam Temu Penyair Indonesia, di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 1987
  6. Artist in Residence pada Summer Symposium of Art and  Creation, Organized by Art Colony di Gyergyószárhegy (Romania), 14-31 Juli 2009
  7. Gumgang Biennalle Artist, Art and Peace Pre-Biennale Exhibition, Korea Selatan, November 2009
  • Pameran Tunggal, Solo Works-Art  Exhibition
  1. Pameran Tunggal “Aventure  en Europe” di keluarga De Monicault, Paris, Prancis, September 1991
  2. Pameran Tunggal “L’Amour de Paris,”  di Pendapa Ndalem Poerwahadiningratan, Sukoharjo, Agustus 2002
  3. Pameran Tunggal, “Tears Inside,” di Balai Soedjatmoko, Solo, 3-7 April 2009
  • Pameran Bersama,  Ensemble Contemporary Art Exhibition
  1. Pameran Seni Lukis Bersama dalam “Nur Gora Rupa,” Taman Budaya Surakarta, 1995
  2. Pameran Seni Lukis Bersama dalam “Pancasila Sakti,” Ndalem Poerwahadiningratan, 2005
  3. Pameran Bersama di Gallery Art Colony di Gyergyószárhegy (Romania), 31 Juli-Agustus 2009
  4. Exhibition in ASEAN DAY di Bucharest, Romania 6 August 2009
  • Penulisan Kritik Contemporary Art
  1. Menulis untuk Pameran Tunggal Bonyong Munnie Ardi, di Bentara Budaya Yogyakarta, dan Taman Budaya Surakarta, Solo
  2. Menulis kritik untuk Pameran Tunggal Choiri, OBSESI YANG TAK PERNAH BERHENTI, 2001
  3. Menulis kritik untuk pameran bersama kelompok “INTER AKSI” dengan judul “Respon-respon Kegelisahan,” di Taman Budaya Surakarta, 2003
  4. Menulis kritik untuk pameran tunggal  Perdana, Agus Sis, Taman Budaya Surakarta,
  5. Menulis kritik untuk pameran Tunggal Perdana, Gigih Wiyano di Taman Budaya Surakarta,
  6. Menulis kritik untuk pameran Tunggal Suryo, “Kupu-kupu kecil Sang Surya”di Balai Soedjatmoko, Solo, 2004
  7. Menulis kritik untuk Pameran Tunggal Gigih Wiyono, “Green Area”, di Balai Soedjatmoko, Solo, 2005
  • Performing Arts
  1. Performing Art in Public Underground Base, di Savana, Romania, Juli 2009
  2. Performing Art di Yogya Gallery, judul JUDHEG  HOGYA, Yogyakarta 5 September 2009
  3. Performing Art di Manahan Solo, Judul IN PEACE and FREEDOM,  Surakarta, Oktober 2009
  1. F. Riwayat Penelitian
No Judul Penyelenggara Kota Tahun

1 Riset Partisipatoris, di Sragen Puslitbangdes, UNS-UNDP, Surakarta 1984
2 Arah dan Strategi NGO Indonesia Pasca-IGGI, UGM, Yogya 1994
3 L’Image de L’Inde dans le  Discours des Nationalistes Indonesiens Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales Paris 1992
4 Analisis Potensi Akademik UNS UNS Surakarta 1994
5 Pemilihan Presiden Perancis Pemerintah

Prancis

Paris 1996
6 Keresahan, Kerusuhan dan Perubahan Sosial UNS Surakarta 1997
7 Mempertimbangkan Tanda-tanda Revolusi dalam Masa Transisi Pribadi Jakarta 1998
8 Dinamika Gerakan Pro-Demokrasi di Indonesia Pribadi Jakarta 1997
9 Reformasi Indonesia: Mengembalikan Kedaulatan di Tangan Rakyat Pribadi Surakarta 1998-1999
10 Wacana Begitu Koq Repot Gus Dur, Dampaknya dalam Komunikasi Politik Indonesia Bank Dunia, Proyek QUE Surakarta 2001
11 Pendekatan Role Play System dalam pengajaran bidang Komunikasi Antar Budaya Bank Dunia Proyek QUE Surakarta 2002
13 Pendekatan Observation Participation Approach dalam bidang Pengajaran Ilmu Politik Bank Dunia, Proyek QUE Surakarta 2003
14 Kajian terhadap program faktual misteri dan sinetron religius 2005 Indonesian Broadcasting Commission Jakarta 2005
15 Kajian terhadap program faktual misteri dan sinetron religius 2006 Indonesian Broadcasting Commission Jakarta 2006
16 Ritual Kebudayaan Sendawar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Pemkab Sendawar Kutai Barat 2007
17 Menakar Wawasan dan Pemahaman Wartawan Lokal Surakarta terhadap Standar Kompetensi Jurnalis Jurusan Komunikasi FISIP UNS Surakarta 2008
18 Konflik Simbolik dalam Komunikasi antar budaya : Studi interaksi simbolik antar ras, kelompok dan golongan di kota Surakarta Jurusan Komunikasi FISIP UNS Surakarta 2009

G. Publikasi Buku

  1. Islam dan Perubahan perubahan Sosial-Politik di Negara Sedang Berkembang, (sebagai Penyunting), Penerbit PLP2M,Yogyakarta, 1988
  2. Strategi  Global AS-US dalam Era Perang  Dingin,  Penerbit UNS Press, Surakarta 1994
  3. Imajeri India, Studi dalam Tanda, (600 halaman) Ford Foundation dan Pustaka Cakra, Surakarta, Mei 2001
  4. Perspektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah, (125 halaman) diterbitkan oleh Political Laboratory for Supporting Good Governance,  Surakarta, 2001
  5. Semiologi Komunikasi, (50 Halaman) diterbitkan oleh Masyarakat Semiologi Komunikasi, Surakarta, 2000
  6. 6. Message Studies, (50 halaman), diterbitkan oleh Masyarakat Semiologi Komunikasi, 2003
  7. 7. Komunikasi Multikultural, (365 halaman), diterbitkan oleh UMS Press, Surakarta, 2003
  8. Rantau  dan Renungan, Perjalanan Budayawan Indonesia di Prancis,   Penyunting oleh Ramadhan KH,  Pustaka Jaya, Jakarta, 1990
  9. Diktat Kuliah :Wacana Kaum Pergerakan Mencari Identitas Politik dan Kebudayaan, 1998

10.   Diktat Kuliah : Budaya Politik Imperialistik Super Power dalam Perebutan Pengaruh di Eropa,  diktat kuliah.

11.  Diktat Kuliah, Politik Internasional,  Buku Pegangan Kuliah,  UNS Press, Surakarta, 1990

  • Karya Fiksi (Telah Diterbitkan dalam bentuk Buku)
  1. Penyair Yogya Tiga Generasi, Kumpulan Puisi Penyair Yogyakarata, Diterbitkan oleh Adhi Dhahana, Yogyakarta, 1981
  2. Pagar-Pagar, Kumpulan Puisi Bersama, diterbitkan oleh Taman Budaya Yogya,  Yogyakarta, 1983
  3. Kisah Anak Pesisir Perigi, Cerita untuk Anak, diterbitkan dan diedarkan seluruh SD Se Indonesia oleh Depdikbud, Jakarta,1983.
  4. Prasasti, Kumpulan Puisi Bersama, diterbitkan dan dibacakan di Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, 1984
  5. Lagu Kanggo Sekar Biru, diterbitkan secara bersambung oleh Majalah Bahasa Jawa, Djaka Lodhang, Yogyakarta, 1983
  6. Tugu,   kumpulan  sajak bersama,  editor  Linus  Suryadi  AG,  diterbitkan Dewan Kesenian Yogyakarta, 1986
  7. Sketsa Sastra Indonesia,  kumpulan sajak, editor Ayit  Suyitno Ps,dkk. Jakarta, 1986
  8. Seninjong, Kumpulan/Antologi Puisi, diterbitkan oleh IKIP Muhamadiyah, Yogyakarta, 1987.
  9. Puisi Indonesia 1987,  diterbitkan oleh Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1987

10.  Tonggak IV, oleh Linus S.Ag, editor, Kumpulan Puisi Bersama Penyair Indonesia diterbitkan oleh PT. Gramedia, Jakarta, 1987

11.  Tentang Buah Apel, Antologi Puisi diterbitkan oleh Sanggar Sastra Solidaritas, Yogyakarta,1998

12.  Cintaku Menyebrang Laut, Antologi Puisi diterbitkan oleh Gender Baroeng Soloensis, Solo, 1999

13.  Lentik-Lentik Bulu Mata Patah, novel diterbitkan secara bersambung di Harian SOLO POS, Surakarta, dari bulan Oktober 1996- sampai April 1997

14.  Crita buat Kekasih Bernama angin, Pidato Kebudayaan diterbitkan oleh Komunitas Ndalem Poerwahadiningratan, 2002

  • Penulisan Karya Fiksi (belum diterbitkan)
  1. “Merpati Biarkan Aku terbang Bersamamu,” novel remaja, ditulis tahun 1978
  2. “Rumah Berpintu Kelabu,”  novel anak-anak ditulis tahun 1983
  3. “Melangkah ke Majapahit” berupa  puisi lirik, perjalanan spiritual, tahun 1987.
  4. “Sabda Pandhita Ratu,” berupa  kumpulan sajak metafisis, ditulis tahun 1984.
  5. “Pintu Air ,”  kumpulan naskah drama/sinetron, 1985
  6. “La Kates De Klungsu,”  kumpulan geguritan, Puisi Jawa, Yogyakarta 1984
  7. “The King,”  kumpulan cerita pendek, Yogyakarta, 1985
  8. “Rossignol ,” kumuplan sajak 1987-1989.
  9. “Musim Gugur Tak Sampai Selesai,”  novel, Paris, 1989.

10.  “Paragembel,” kumpulan sajak, Paris, 1990

11.  “Ramadhana,” kumpulan sajak, Paris, 1991

12.  “ Enjoy your Silence ” kumpulan sajak, Rumania, 2009

H. Karya dan Pemikiran, sebagai Narasumber Di Media Massa:

Media Internasional

NHK, Tokyo, Jepang, sebagai nara sumber  topik Gerakan anti-Kuningisasi; The Sidney  Herald Tribune, Australia, sebagai nara sumber  Pemilu 1998; Economic Far Eastern Review, Singapura, nara sumber Pemilu 1998; Radio BBC untuk ndonesia, London, sebagai nara sumber untuk Peringatan 1 Syura di Karaton Surakarta; Radio Jerman untuk Indonesia,  nara sumber untuk peraturan lembaga  Penyiaran asing di Indonesia; Radio Singapore Internasional, Singapura,  nara sumber untuk  masalah  kebudayaan Indonesia tahun 2005;  Radio ABC untuk Indonesia, nara sumber untuk Raibnya Arca di  Museum Radya Pustaka, 2008

Media Elektronik Nasional dan Lokal

1. Nara sumber  dalam acara  acara Dialog’s Today, Metro TV, Jakarta membahas “Raja Kermbar,”  2. Nara sumber  untuk Dialog’s Today, Metro TV bersama Menteri KOMINFO,  Dr. Sofyan Jalil, dalam acara membahas “Penhentian acara Smack Down di LA TIVI.” 3. Nara sumber siaran bahasa Inggris  di Metro TV , untuk  masalah penahanan  jurnalis  TEMPO, Harimurti.

4. Nara sumber bersama Slamet Yusuf  Effendi, Debat TVRI, Jakarta dalam topik    “Penyiaran Nasional.” Nara sumber beberapa topik di TVRI stasiun Semarang, Nara sumber beberapa topik di TVRI stasiun Banjarmasin,dll.

4.  Nara sumber di  stasiun televise swasta lokal, seperti di  TV Bukittinggi, Bukit Tinggi, Sumatra Barat, Nara sumber di  stasiun TV Makasar, Ujungpandang, Sulawesi Selatan, Nara sumber untuk lembaga penyiaran Radio di berbagai kota-kota besar   Indonesia, Menjadi Nara Sumber untuk Terorisme, dalam Respon Kematian Noordin M. Top, di TA TV Surakarta, 2009, dll

Media Cetak Bahasa Jawa

Penulisan artikel, geguritan, Cerita Bersambung, sejak tahun 1974 dll. Di Jaya Baya (Surabaya), Panyebar Semangat (Surabaya), Joko  Lodhang, Mekar Sari, Kandha Raharjo,  (ketiganya   terbit Yogyakarta),  Parikesit  (terbit Solo)  dan Pustaka  Chandra   (terbit di Semarang).

Media Cetak Nasional dan Lokal

Penulisan opini, kolom, puisi, cerita bersambung dll. Di Majalah Basis,  Koran Minggu Pagi, Kedaulatan  Rakyat,  Eksponen,  Masa  Kini, Berita Nasional, Yogya Post, Citra  Yogya,   Pusara (semua terbit di Yogya), Kompas, Sinar Harapan, Berita  Buana,   Mutiara,  Gadis, Suara Karya Minggu,  Swadesi,  Terbit  Minggu, Jayakarta  (semua terbit di  Jakarta),  Minggu  Ini,   Cempaka,(Semarang), Banjarmasin Post, dll.

I.  Paper dipresentasikan secara Internasional, Nasional dan Lokal

Catatan : Hanya dipilih 17 paper dari lebih 250 paper yang dipresentasikan secara Internasional, Nasional, regional dan Lokal selama kurun waktu 1989-2009 ):

Seminar Tingkat Internasional

  1. Studi di luar Negeri dan Inspirasi bagi Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, paper seminar Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar RI, Seminar tingkat Internasional, di Paris, 1989
  2. L’Indonesie : A La Recherche d’une Identite Musulmane, paper, seminar tingkat internasional pada  Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales,  direction Prof. Denny Lombard, Paris, 1992
  3. Le Discours des Nationalistes Indonesiens a la Recherche de l’Identite politique et culturelle, paper seminar, EHESS, Paris, 1991
  4. The Broad Out-Lines of The State Policy, paper in International Workshops, Rumah Sakit Rehabilitasi Center, Surakarta, 1995
  5. Junk-Food Art, A  Methode of Art and Creation Development, paper presented  in Summer Symposium of Art and Creation Organized by Art Colony di Gyergyószárhegy Romania, 17 July 2009

Seminar Tingkat Nasional dan Regional

  1. The Dual-Roles of ABRI in the Indonesian Politics, paper seminar, diselenggarakan oleh Universitas Jendral Soedirman, Purwokerta, 1998
  2. Civil Society, paper seminar, Yayasan Bina Keluarga Sejahtera, Surakarta, 1998
  3. Social Safety Net,” paper Simposium Nasional,  disampaikan dalam rangka Dies Natalis Universitas Slamet Riyadi, Surakarta, 1998
  4. Royal School for Cultural Education and Tourism, paper presented in Karaton Surakarta, Surakarta, 1999
  5. E-government, manajemen sistem informasi dan komunikasi berbasis teknologi digital, paper presented  in Badan Informasi Komunikasi,  Pemerinrah Daerah Jawa Tengah, Semarang, 2002
  6. Sistem Teknologi Pendokumentasian Data, E-Library, paper presented  in Badan Penelitian dan Pengembangan, Propinsi Jawa Tengah, Semarang, 2002
  7. Peran Masyarakat dalam mengontrol Eksekutif-Legislatif, paper presented  in Universitas Wijaya Kusuma, Purwokerto, 2002
  8. Produk lokal semangat Global, Perspektif Isi Siaran Penyiaran Swasta Lokal dan Penyiaran Komunitas, paper presented  in Forum Sosialisasi Regulasi Penyiaran di Malang oleh Depkominfo  Bidang Kelembagaan Komunikasi Sosial,  12 Mei 2007
  9. Etika Jurnalistik Penyiaran dalam era Kapitalisme. paper presented  in seminar nasional di Ruang Perpustakaan UNS, Surakarta, 2008

10.  Peran JNPM (Jaringan Nasional Pemantau Media) dalam Mnegoptimalisasi Kinerja Media Watch, (Lembaga Pemantau Media),  paper presented  in acara FASILITASI MEDIA WATCH di Padang, oleh Depkominfo bekerjasama dengan KP3I, 20 Oktober 2008

11.  Menyoal Kemandirian Bangsa dalam bidang Kebudayaan, paper presented  in Seminar Nasional, acara Dies Natalis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Desember 2008

12.  Tantangan globalisasi Relevansinya dengan Persatuan dan Kesatuan bangsa serta Budaya Bangsa, paper presented  in  Dialog Menakar Ulang Pluralisme dengan Pancasila, oleh LSM Dian Nusantara bersama dengan Pemda Kabupaten Karanganyar,  2009

J. Artikel/ Consept/Artworks yang dimuat di  Jurnal/Katalog Internasional, Nasional, Jurnal Terakreditasi, Surat kabar Nasional

Jurnal/Cataloque  Internasional

  1. Jurnal Internasional Archipel, “ Tikar Dalam Perubahan Zaman”, diterbitkan oleh Le Monde        Insulindien, Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, 1991
  2. Jurnal Internasional, Dossiers de l’Archeologie, berjudul “ L’Historique de la decouverte du Pithecanthrope,” ditulis bersama Tony Djubiantono, Francois Semah,  Paris, 1992
  3. International Cataloque Gumgang Pre-Bienalle, “The Sound of Nature and Peace,” Korea Selatan, diterbitkan oleh Yatto Group Nature Art, November 2009

Jurnal Terakreditasi

  1. Jurnal Nasional terakreditasi, Varidika, Varia Pendidikan, “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Masa Depan Indonesia: Pentingnya Komunikasi Antar Budaya masuk dalam Kurikulum Pendidikan Nasional,” diterbitkan oleh FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, vol X11, No. 21 Desember 2000
  2. Jurnal Nasional terakreditasi,  Jurnal Seni Dewa Ruci, “diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Seni Rupa (STSI),  Surakarta, 2008
  3. Jurnal Nasional terakreditasi, Mediator, Volume 7, N0. 1, Juni 2006, “Semiologi Komunikasi,” Bandung, 2006
  4. Jurnal Nasional terakreditasi, Jurnal Pasca Sarjana Hukum UMS, “Regulasi Penyiaran,” Surakarta, 2009

Jurnal Nasional

  1. Jurnal Nasional, Jurnal Sejarah, pemikiran, rekonstruksi, persepsi,  “Menggugat Historiografi Indonesia,” no. 13 tahun 2007,  diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor, Jakarta, 2007
  2. Jurnal Nasional Jurnal Politika, Volume 4, N0 1 tahun 2008, Akbar Tanjung Institute, “Demokrasi Waton Sulaya,” Jakarta 2008
  3. Majalah Nasional, Ulumul Qur’an, “Institute Du Monde Arab,” diterbitkan di Jakarta, 1993
  4. Surat Kabar Nasional, Kompas, judul artikel, “Perang Peradaban”, terbit tahun 1995
  5. Surat Kabar Nasional, Kompas, judul artikel, “Kemiskinan Intelektual”, terbit tahun 1994
  6. Jurnal Nasional, Jurnal Refleksi, “Sistem Multipartai dan Pemilu dalam perspektif Integritas Bangsa,” diterbitkan oleh YBKS, Surakarta, 1998
  7. Jurnal Nasional, Akademika, “La Patrie en Danger”, jurnal Ilmiah diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1995
  8. Jurnal Nasional, Jurnal Refleksi, “Indonesia Pasca Pemilu 1999,” diterbitkan oleh YBKS, Surakarta, 1998
  9. Jurnal Nasional Komunikasi Massa, Vol. 1, No. 1 Juli 2007, “Analisis Semiologi Komunikasi sebagai Tafsir Pesan,”  FISIP, UNS, Surakarta 2007

Pidato Pengukuhan Guru Besar


MANAJEMEN KOMUNIKASI LINTAS-BUDAYA

DI TENGAH DINAMIKA DAN PERUBAHAN GLOBAL

Bismillahirochmanirrachim

Yang saya hormati,

Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Prof . Dr. Muhammad Nuh, DEA,

Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris dan para anggota Senat,  para Pembantu Rektor, Direktur dan Asisten Direktur Pasca Sarjana di Universitas Sebelas Maret

Para Pejabat Sipil dan Militer, para Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta seluruh Indonesia, Dekan dan Pembantu Dekan, Ketua Jurusan dan Program Studi, Ketua Lembaga, Ssekretaris Lembaga, Kepala Biro, Kepala UPT serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret,

Para kolega dan sejawat, dosen, wartawan, seniman, budayawan, mahasiswa, staf dan seluruh civitas akademika Universitas Sebelas Maret, para Tamu Undangan, sanak keluarga dan handaitaulan serta seluruh hadirin yang berbahagia,

Assamu’alaikum wr. wb

Selamat pagi, salam damai dan sejahtera bagi kita semua

Alhamdulillahirabbil’alamin …. Pertama-tama puja dan puji syukur kehadhirat Allah SWT, yang telah memberikan kita berupa limpahan rahmat, berkah, kenikmatan dan kebahagiaan, petunjuk dan bimbingan, serta kesehatan dan perlindungan yang teduh, sehingga kita dapat berkumpul di ruangan ini untuk menghadiri Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret dalam rangka Pengukuhan Guru Besar saya dalam bidang komunikasi lintas-budaya, Amien..amien ya rabbal’alamin….

Kedua, perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya, rasa terima kasih yang dalam dan tulus eklas kepada Bapak Rektor dan Pembantu Rektor UNS, Ketua Senat, Sekretaris Senat dan Anggota Senat UNS, yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk menduduki jabatan fungsional Guru Besar dalam bidang Komunikasi Lintas-Budaya, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Selanjutnya ucapan terima kasih dan rasa hormat saya sedalam-dalamnya kepada seluruh hadirin yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara ini.

Hadirin yang saya muliakan,

Ijinkanlah pada kesempatan hari ini saya menyampaikan sekelumit gagasan saya dalam bidang ilmu yang saya tekuni selama ini, yaitu membangun masyarakat sadar budaya dengan strategi manajemen komunikasi lintas-budaya.[1] Gagasan ini lahir dari pengalaman dan perjalanan intelektual saya selama ini, yang sebelumnya pernah saya tulis di beberapa, artikel dan buku antara lain :

  1. Strategi Global AS-US dalam Era Perang Dingin, diterbitkan oleh Universitas Sebelas Maret Press 1995
  2. Komunikasi Multikultural yang diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta Press tahun 2003.
  3. Imajeri India, diterbitkan oleh Ford Foundation dan Pustaka Cakra, tahun 2001
  4. Message Studies, diterbitkan oleh Ndalem Poerwahadiningratan Press, tahun 2002
  5. “Kemiskinan Intelektual” yang dimuat Surat Kabar Nasional, Kompas, tahun 1994
  6. “Perang Peradaban”,  dimuat di Surat Kabar Nasional, Kompas, tahun 1995
  7. “La Patrie en Danger” dimuat dalam Akademika, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1995
  8. “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Masa Depan Indonesia: Pentingnya Komunikasi Antar Budaya masuk dalam Kurikulum Pendidikan Nasional,” dimuat dalam jurnal terakreditasi Varidika, Varia Pendidikan, FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, tahun 2000
  9. Perpektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah, Penerbit Political Laboratory for Supporting Good Governance,  2001

10.  “Menggugat Historiografi Indonesia,” Jurnal Sejarah, Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi, tahun 2007,  diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor

11.  “Demokrasi Waton Sulaya,”  dimuat dalam Jurnal Politika, tahun 2008 yang diterbitkan oleh Akbar Tanjung Institute

Dari pemikiran-pemikiran yang telah dipublikasikan tersebut saya rangkum menjadi program sadar budaya ini, yang pada intinya berasal dari gabungan antara rancang bangun komunikasi nasional (national communication engeenering) dan manajemen lintas-budaya (cross-cultural management).  Kemudian keduanya saya gabungkan ke dalam konsep baru, yaitu Manjemen Komunikasi Lintas-budaya (cross-cultural communication management).

Itulah kira-kira gagasan kontributif  saya kepada Indonesia,   selain sebagai wujud kepedulian dan kesadaran intelektual saya untuk ikut cawe-cawe membangun Indonesia yang kuat dan bersatu, gagasan saya ini juga sebagai wujud sumbangsih ilmu-ilmu sosial Indonesia dan khususnya Universtas Sebelas Maret, dalam ikut serta membantu menyelesesaikan persoalan bangsa, terutama pada usaha bela Negara dalam rangka menjaga dan memperkokoh ke-Indonesiaan kita.

  1. Alasanya apa?

Bagaimanapun budaya adalah pedoman berperilaku yang membimbing kita untuk melakukan tindakan dan bagaimana cara kita bergaul dengan orang lain, la culture, ou se tient le plus clair dela conduite humaine, est egalement importance pour tout le monde.[2] Saya tertarik menekuni bidang komunikasi dan kebudayaan, sejak saya menjadi mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Gajahmada tahun 1976, ketika itu eskalasi konflik kepentingan dan konflik budaya di berbagai belahan dunia terus meningkat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ciri-khas masyarakat Indonesia adalah multikultur. Perbedaan kultur bisa menjadi kekuatan pemersatu bangsa, tetapi dalam perjalanan sejarah bangsa, perbedaan kultur bisa menjadi sumber potensi konflik yang mampu mengancaman integrasi nasional. Sejarah mencatat bahwa upaya Negara mengatasi persoalan tersebut dimanifestasikan ke dalam berbagai kebijakan, yang pada umumnya bertitik tolak dari kebijakan politik, hukum dan ekonomi. Sedangkan kebijakan dalam bidang komunikasi dan bidang kebudayaan agaknya belum digarap secara lebih serius.

Sementara saya berasumsi apabila Negara kita mengamalkan program sadar budaya yang saya ajukan dalam pidato pengukuhan kali ini, saya yakin bangsa kita akan mempunyai daya linuwih; yaitu seperangkat pengetahuan budaya yang canggih  berupa kemampuan diri mengendalikan perubahan dan dinamika sosial-politik di dalam negeri dan pada level internasional adalah kemampuan aksesbilitas dan peningkatan posisi tawar dalam persaingan global.

  1. Mengapa Manajemen Komunikasi Lintas-budaya?

Bahwa komunikasi memegang peranan sangat vital dalam mengubah kesadaran budaya seseorang. Komunikasi mampu mendekatakan unsur-unsur yang berbeda baik dalam skala yang kecil (dyadic frame) atau dalam kerangka yang lebih besar, yaitu wacana masyarakat (discourse frame). Contohnya Amerika Serikat mengubah perilaku etnosentrisme dan ambiguitas yang berkembang dengan program tersebut.[3] Jadi,  pada dasarnya manajemen komunikasi lintas-budaya antara laub merekayasa komunikasi massa untuk mengubah perilaku masyarakat sesuai yang dikehendaki (hardening attitudes), menghapuskan keraguan dan kebimbangan masyarakat (breeding belief) terhadap kerangka nasionalisme,  menghapuskan ketidakpastian (avoid uncertainty) yang berkepanjangan dalam jiwa masyarakat serta mengatasi adaptasi yang sesat (avoid maladaptation). Pada akhirnya, komunikasi digunakan untuk menghapuskan kesenjangan informasi (gap information) menimbulkan chaos.[4]

Sedangkan budaya pada dasarnya adalah konsepsi tentang dunia(vision du monde) serta seperangkat gagasan yang memungkinkan mereka memahami kehidupan mereka, yang tergambar sebagai imago mundi. Hanya saja mereka seringkali kurang kritis disebabkan karena pemikiran mereka berasal dari berbagai sumber dan kejadian masa lalu yang cenderung membuat mereka menerima ketidakadilan dan penindasan sebagai hal yang alamiah dan tidak dapat diubah-ubah.[5] Setiap hari kita bergaul dengan kebudayaan yang berbeda dan kita menemukan bahwa keberagaman budaya adalah kenyataan hidup, cultural diversity is a fact of life.[6] Nah, sekarang apa yang disebut dengan budaya itu? Saya akan menjawab dengan ilustrasi sebagai berikut :

Seorang teman berpesan kepada saya, “Hati-hati dengan budaya Jawa.” Lalu saya bertanya pada diri sendiri, mengapa teman itu berkata seperti itu?. Memangnya apa ada yang salah dengan budaya Jawa?. Bukankan saya lahir dari Ayah-Ibu Jawa, hidup dan dibesarkan oleh keluarga Jawa dengan adat istiadat dan cara Jawa pula? Mengapa?            Setelah saya belajar tentang budaya Jawa, saya baru menyadari bahwa apa yang tampak dari wajah orang Jawa, apa itu senyuman manis, anggukan yang santun atau keramahtamahan, bisa jadi itu bukan menunjuk pada perilaku yang sebenarnya. Senyum dan anggukan mungkin sama sekali bukan berarti wellcome, OK, atau D’accord (kata orang Prancis). Jadi jangan marah kalau keramahtamahan itu bukan juga ungkapan ketulusan dan cermin kejujuran. Jadi, saya berpikir, O itulah pentingnya sadar dan peka budaya itu.

Ilustrasi saya yang kedua, ketika saya berada di tengah-tengah sumber budaya Jawa yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat. Di Karaton ini saya banyak belajar tentang budaya Jawa dan Orang-orang Jawa. Akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa budaya dalam kehidupan Orang-orang Jawa berarti kolektivitas bukan individualitas. Budaya adalah kebersamaan dan komunalisme. Maka jangan pernah menonjolkan keahlian dan memperlihatkan kecerdasan anda dihadapan orang lain, karena tindakan itu dianggap vulgar bahkan tindakan anda dianggap sombong. Juga jangan pernah mengritik pikiran orang lain secara terbuka, karena kritikan Anda dianggap sebagai serangan terhadap kehidupan privasinya.

Dengan dua ilustrasi tersebut memberi pengetahuan kepada kita bahwa setiap kebudayaan itu menyimpan simbol-simbol unik. Budaya Jawa sering bersifat tersembunyi (tertutup), diam itu emas,  ambigu, ngono ya ngono ning aja ngono, pesan-pesan konotatif, sanepan jadi apa yang tersurat bukan menunjuk pada makna yang tersirat, inggih inggih ora kepanggih. Jadi, budaya itu memang tidak mudah dipahami, tetapi dapat dipelajari dan dengan demikian dapat berubah.[7] Oleh sebab itu budaya perlu dikelola secara baik dan wajib hukumnya, dan inilah gagasan inti pidato pengukuhan Guru Besar saya kali ini.

3.   Sebuah Cultural Teraphy bagi Bangsa Indonesia?

Hadirin yang saya muliakan,

Manajemen Komunikasi Lintas-budaya saya sebut juga sebagai cultural teraphy dengan asumsi bahwa bangsa Indonesia berisi manusia yaitu individu-individu, dan karena manusia logikanya sakit adalah bagian dari kehidupannya. Dari sudut pandang ini, saya melihat bahwa bangsa Indonesia juga sedang kurang sehat, ditandai dengan banyaknya berita sumbang, apatisme dan fatalisme yang terjadi dari seluruh tingkatan kehidupan. Apabila hal ini tidak mendapatkan teraphy yang tepat, maka bangsa ini juga mengalami siklus organik seperti makluk hidup lainnya yaitu akan mati juga.

Demi menjaga kelangsungan hidupnya, menjaga agar bangsa Indonesia tetap sehat wal-afiat, hari ini saya tawarkan cultural teraphy untuk menyembuhkannya. Apa saja yang perlu disembuhkan dalam terapi budaya ini? Setelah saya lakukan “diagnosa,” saya termukan empat penyakit yang ganas dan berbahaya, yaitu:

  1. Lemahnya integrasi nasional karena berkembangnya “musuh-musuh tersembunyi” dalam diri anak bangsa
  2. Berkembangnya ketidakadilan makna dalam proses nation state building.
  3. Terjadinya “Kiamat kecil” sebagai konsekuensi logis “Tsunami” globalisasi
  4. 4. Kompleksitas komunikasi massa yang mampu mempengaruhi perjalanan anak-anak bangsa ke jalur yang sesat.

Karena keterbatasan waktu, saya mohon maaf tidak akan menjelaskan keempat hasil diagnosa saya tersebut, dan saya persilakan hadirin membaca penjelasan secara rinci pada buku pidato yang sekarang  telah ada di tangan Anda.

4. Madinatul Approach: Membangun Pendekatan Baru

Dalam proses terapi tersebut memang dibutuhkan jangka waktu, tenaga dan pendekatan serta strategi yang memadai. Dalam kesempatan ini, saya mengajukan pendekatan baru, dari khasanah arkaik, dalam upaya menyelesaikan persoalan bangsa, yakni Madinatul Approach, yang saya sebut juga sebagai pendekatan damai (peacefull approach). Pendekatan ini saya ambil dari pendekatan masyarakat oleh Muhammad Rosullah SAW ketika beliau memimpin Madinah. Saya ktakan baru oleh karena kajian ini kurang populer atau jarang diangkat oleh kaum Orientalis untuk sebuah pendekatan msyarakat dan lebih mengemukakan pendekatan mereka sendiri (Barat)./

. Di sini saya angkat kembali sebagai salah satu cara iba’ Rosul yang saya yakini bisa menjadi pendekatan terbaik dalam menjalankan kemudi penyelenggaraan Negara. Rosul sebagai pribadi Panutan, selayaknya menjadikannya sebagai Panutan dalam hal menjalankan amanah kedaulatan rakyat. InsyaAllah.

Pendekatan ini pernah saya ajukan dalam Jurnal prestisius yang diterbitkan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor, yaitu  Jurnal Sejarah, Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi,  dengan  judul, “Menggugat Historiografi Indonesia,”  (no. 13 tahun 2007).  Pada intinya isi gagasan itu adalah menggugat interpretasi terhadap sejarah bangsa yang menggunakan pendekatan klasik perang bharatayuda.

Saya mengingatkan bahwa salah satu musuh besar bangsa ini adalah cara pandang dunia yang salah, yakni memandang dunia (bawana langgeng) sebagaimana Ki Dalang memainkan wayang, dengan pendekatan dua kubu besar yang saling dihadapkan yaitu Pendawa dan Kurawa, seperti dalam era Perang Dingin yaitu memandang dunia dengan cara blok-blok : antara Blok Timur dan Blok Barat, seperti Pasca Perang Dingin dengan cara membagi Dunia Ekonomi atas Negara-negara Utara dan Negara-negara Selatan. Cara pandang yang sama dilakukan oleh Huntington dengan apa yang ia sebut sebagai clash of civilisation. Akhirnya, yang hidup dalam pikiran kita hanyalah clash dan conflict. Sehari-hari hidup kita diliputi oleh perasaan “in group” dan “out group”,  “We are” dan “the others” memandang dunia dengan cara kita yang “normal” dan yang lain “abnormal.”  Dan masih banyak diantara kita menjadi pewaris dialektika Karl Marx yang melihat hidup sebagai pertentangan antar kelas,  yang secara alami melakukan perang tanding dalam segala lapangan kehidupan.

Menurut hemat saya, pendekatan tersebut bersifat simplifistik dan nasionalis chauvistik, dan saatnya kita tinggalkan. Mendekati kehidupan peradaban manusia dari sisi ego sentris tersebut cenderung mengumbar nafsu untuk menguasai dan meng- hegemoni satu peradaban terhadap peradaban yang lain, dll. Lebih celaka lagi, banyak pikiran yang mengkondisikan agar peradaban yang satu dihadapkan dengan peradaban yang lain, dan menggantikannya dengan peradaban baru.

Paradigma clash dan konflik kultural melahirkan cara pandangan dunia yang penuh syakwasangka dan sikap-sikap arogan karena memandang peradaban yang lebih maju akan menggayang peradaban yang lemah. Maka logislah bila hari ini saya mengajak hadirin dan seluruh bangsa di dunia ini untuk berubah dan berbenah, meninggalkan pendekatan dikhotomis yang penuh konflik dan mengamalkan pendekatan yang lebih dingin, damai, multidisiplin dan interdisipliner, yakni apa yang di atas tadi saya sebutkan pendekatan Madinah.

Mungkin saja hadirin akan mengatakan bahwa saya terlalu religius dalam hal ini, tetapi inilah wujud  rasa syukur saya terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT beserta hidayah dan innayahNya, dengan semangat menanamkan pemikiran yang lebih positif  terhadap kehidupan, mempromosikan pentingnya hidup berdampingan secara damai (peacefull coexistance) dan penuh persaudaraan (human brotherhood), bersikap adil terhadap sesama, membuka diri dan kesediaan saling berbagi, demi membangun sebuah dunia yang rukun, damai, sejahtera tanpa menghadirkan kekerasan dan penindasan.

  1. Bagaimana Implementasinya?

Hadirin yang saya Muliakan

Atas dasar latar belakang masalah dan pendekatan tersebut, saya menyusun metode strategis untuk mengimplementasikan manajemen komunikasi lintas-budaya, melalui apa yang saya sebut sebagai Program Pembelajaran Budaya.

Apa itu program pembelajaran budaya?

Program pembelajaran budaya metoda mengelola budaya untuk mencapai tingkat kesadaran dan kepekaaan budaya tertentu, artinya “mengisi kesadaran pola berpikir seseorang tentang dunia asing (orang lain, the others).” Caranya dengan mengubah konsepsi tentang dunia (vision du monde) seseorang  atau kelompok dengan cara memperkuat norma dan nilai perilaku lokal mereka sebagai bagian dari warga Desa Global.[8] Inilah proses evolusi dan kultivasi yang direncanakan sehingga terjadi proses “reformasi intelektual dan moral masyarakat” secara lebih alamiah.

Dalam strategi Jangka Panjang, program ini ditujukan kepada seluruh komponen bangsa dan dalam strategi Jangka Pendek diarahkan untuk mereka yang melakukan tugas khusus seperti para calon diplomat, Tenaga Kerja Indonesia, pelajar dan mahasiswa, pebisnis, kalangan pers dan pejabat politik (seperti anggota legislatif, yudikatif dan eksekutif).

Hadirin yang saya muliakan,

Program Pembelajaran tersebut dapat dijabarkan dalam 3 kegiatan besar yaitu:

  1. 1. Rancang bangun (Rekayasa) Komunikasi Massa

Apa yang dimaksud rancang bangun komunikasi massa adalah melakukan manajemen budaya lewat kegiatan penyebaran informasi publikasi, baik cetak dan elektronik. Rancang bangun komunikasi massa lebih dititikberatkan untuk memberikan bekal yang baik bagi masyarakat untuk saling memahami dan mengerti budaya daerah satu dengan budaya daerah lain, dengan penekanan pada perilaku dan adat kebiasaan, pandangan dunia, cara hidup, kepercayaan, gaya hidup, dan berbagai persoalan budaya yang lainnya.

  1. 2. Penetrasi kurikulum Pendidikan Formal

Program pembelajaran budaya wajib dimasukkan ke dalam sistem pendidikan formal, mulai dari sekolah taman kanak-kanak. sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, diwajibkan untuk memberikan tambahan materi lintas-budaya. Hal ini merupakan komitmen bersama mengenalkan lebih baik tentang manusia dengan adat istiadat daerah  meningkatkan derajat dan kualitas patriotisme dan nasionalisme.

  1. 3. Pusat Pelatihan/Pendidikan Informal

Implementasi manajemen komunikasi lintas-budaya diarahkan untuk pembekalan terhadap mereka yang akan menjadi calon pemimpin, mereka yang menjalankan kegiatan bersama dengan orang asing, atau mereka yang ingin bekerja di daerah yang kurang mengenal latar budayanya. Untuk mengatasi hambatan budaya, setiap orang membutuhkan bekal budaya, agar supaya lebih cepat beradaptasi dan menyesuikan dengan lingkungan budaya yang baru.

Program budaya ini telah dilakukan oleh banyak negara, misalnya militer dan pejabat tinggi Belanda, yang akan dikirim ke Indonesia, mereka dibekali dengan materi budaya. Maka lahirlah sekolah Breda, yang intinya adalah mempersiapkan militer Belanda dalam tugas di Indonesia.  Di Amerika Serikat, pengenalan materi lintas-budaya diberikan kepada para pejabat dan pebisnis termasuk tenaga kerja dan mahasiswa yang akan melakukan kegiatan di luar negeri.

Di Indonesia hal ini sudah dilakukan untuk beberapa institusi, tetapi kesadaran lintas-budaya saya lihat belum merupakan kebijakan nasional. Program lintas-budaya ini saya kira merupakan program spesial dan oleh karena itu perlu penanganan yang bersifat spesial pula. .[9]Contohnya adalah LEMHANAS sebagai salah satu instutisi yang mendidik calon pemimpin, saya sarankan agar memasukkan materi Manajemen Komunikasi Lintas-budaya sebagai bahan ajarnya

Agar program implementasi tersebut berhasil, perlu dukungan dari semua pihak, terutama institusi, lembaga atau departemen yang secara langsung berkaitan erat dengan pencapaian tujuan ini. Program tersebut hanya dapat dicapai dengan adanya kerja antar departemen dan lembaga terkait.

6.Penutup

Dari apa yang telah saya uraikan di muka, akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa Negara harus mempunyai kepekaan terhadap dinamika dan perkembangan kebudayaan. Dinamika dan perubahan budaya lokal dan global harus mendapat perhatian dan penanganan serius dan secara berkesinambungan.

Ucapan Terima Kasih

Hadirin yang saya Muliakan

Di penghujung pidato saya hari ini, perkenankanlah saya sekali lagi memanjatkan puji syukur yang setinggi-tingginya kehadhirat Allah s.w.t  atas segala limpahan nikmat dan karunia, hidayah dan innayahNya,  kasih dan sayangNya, sehingga saya diijinkan mengemban amanah sebagai Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret.

Kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung, menyetujui dan mengabulkan pengajuan saya sebagai Guru Besar ini, perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus-iklas, kepada :

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. Muhammd Nuh, DEA, yang telah memberi restu atas pengukuhan Guru Besar saya pada hari ini.
  2. Bapak Prof Dr. Bambang Sudibyo, MBA sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional telah menandatangani Surat Keputusan pengangkatan saya sebagai Guru Besar, dengan SK No. 57685/A4.5/KP/2009 tertanggal 30 Juni 2009, tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada Sekjend Depdiknas, Bapak Prof Dr. Ir. Dody Nandika, MS
  3. Terima kasih, penghargaan dan rasa hormat saya haturkan kepada Bapak  Prof. Dr. H. Muchamad Syamsulhadi, dr. Sp.KJ (K) selaku Rektor Universitas Sebelas Maret, beserta para Pembantu Rektor.[10]
  4. Ketua dan Sekretaris Senat[11] serta seluruh Anggota Senat Universitas Sebelas Maret, para Pejabat di lingkungan Universtias Sebelas Maret, khususnya Bapak Drs. Supriyadi SN, SU selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS, para Pembantu Dekan,[12] serta seluruh Anggota Senat Fakultas dan seluruh jajaran Pimpinan dan staf baik di lingkungan Program Studi, Jurusan, Fakultas serta Universitas, khususnya kepada Ibu Dr. Prahastiwi Utari, MS, selaku Ketua jurusan Ilmu Komunikasi, jurusan dimana saya bernaung sejak awal karir saya dalam dunia akademik. Kepada Bapak Drs. Surisno Satriyo Utomo, MSi, yang telah berkenan membacakan riwayat hidup saya dan Bapak Prof. Dr. Ir. Suntoro, MS, yang berkenan membacakan doa dalam pengukuhan kami kali ini.
  5. Kepada Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Bapak Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA, Ph.D dan Ketua Program Pasca Sarjana, Bapak Dr. Martinus Dwi Maryanto, MA, sebagai alumni ISI (waktu itu masih Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia ASRI), saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengembangkan keahlian saya dalam bidang Art Communication dan Art and Environment, dengan melibatkan saya dalam membimbing  dan menguji program doktor penciptaan dan pengkajian seni. Atas dorongan ini, juga telah mengantarkan saya ke jenjang Internasional, terutama terpilihnya saya menjadi Artist in Residence di Rumania bulan Juli 2009 dan bulan Nopember 2009 terpilih salah satu diantara seniman Dunia untuk mengikuti Gumgang pre-Biennalle of Korea, di Korea Selatan.
  6. Kepada almarhum SISKS Pakoeboewana ke XII, Drs. Gusti Dipokusumo, Dra. Gusti Moeng, MPd dan suami, Kanjeng Pangeran Dr. Eddi S. Wirabhumi, SH yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk bekerja dan meneliti budaya Jawa di lingkungan Karaton Surakarta sejak tahun 1998-sekarang. Kepada Almarhum Susuhanan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya saya haturkan, karena berkat inspirasi dari Beliau saya menggagas kembalinya Surakarta sebagai Daerah Istimewa Surakarta dan menjadi Daerah Otonomi Istimewa.[13] Mudah-mudahan Allah AWT mengijinkan Solo mendapat kesempatan mengelola daerahnya berdasarkan aspirasi masyarakat. InsyaAllah.
  7. Rasa hormat, sembah sujud saya, kepada Ayah-Bundaku, yang dengan tenang, telah berpulang ke Pangkuan Illahi,[14] berkah beliau berdualah saya hadir di sini, meskipun tidak lagi Mereka berdua bisa menyaksikan prestasi saya, insyaAllah di Sorga mereka merasakan kebahagiaan ini. Tidak lupa, rasa terima kasih dan syukur kepada Keluarga Besar H. Daoed,[15] seluruh Keluarga Besar H. Waluyo, seluruh Keluarga Besar Busroni Elly Fathoni, yang telah mendukung saya baik secara moral dan material.
  8. Kepada Istri dan Anakku[16] yang memberi kekuatan pada saya untuk berjuang, yang setia mendampingi saya dalam suka dan duka, yang mendoakan kebaikan di waktu siang dan malam, yang membukakan pintu ketika saya pulang, yang mendamaikan segala kebencian, fitnah dan  adu-domba yang datang bertubi-tubi dalam keluarga saya, yang dengan rasa syukur ikut membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah….Amien amien ya rabbal’alamin, … Guru Besar ini  adalah tanda cinta kasih saya yang abadi untuk kalian semua.
  9. Kepada guru formal saya, Prof. Dr. Dennys Lombard (promotor), Prof. Dr. Claude Bremont (Ketua penguji dan Ahli Semiotika), Prof. Dr. Idris A. Kesuma (pembimbing skripsi) Prof. Dr. M. Amien Rais, (penguji skripsi), Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA (pengirim program Doktor ke Prancis), Prof. Dr. Yahya Muhaimin, MA (penguji wawancara masuk HI), Prof. Dr. Koentowibisono (Rektor UNS yang memfasilitasi saya belajar di luar Negeri). Kepada kolega, seniman dan para dosen ISI Yogyakarta, terutama Bapak Nyoman Gunarsa, Affandi, Surisman Marah,  Guru informal saya, Prof. Dr. Marcel Bonneff, Prof. Dr. Umar Kayam, Prof. Darmanto Yatman, Dr. Koentara Wiryomartono, Prof Dr. Bakdi Soemanto, Prof. Dr. Koentowidjojo, dan Prof. Dr. Mochtar Mas’oed, serta tidak akan lupa jasa Guru spiritual saya, Prof Mr. Hardjono.
  10. Dalam kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada guru madrasah, guru ngaji, guru SD, SMP dan SMA yang tercinta, semua adalah para inspirator dan guru saya yang membimbing saya baik secara intelektual, secara moral maupun spiritual.
  11. Kepada kolega sejawat, Mas Ravik Karsidi, Mas Supriyadi, SN, Pak Sholahuddin, Pak Sudiharjo SH, Pak Dwi Tiyanto, Pak Totok Sarsito, Pak Agung Satyawan, rekan satu lighting masuk di FISIP Pak Surisno Satriyo Utomo, Pak Pawito, Pak. Sudarto, Pak Ali, Pak Mohtar Hadi, MSi. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada kolega dan para asisten saya yang telah membantu mempersiapkan dokumen: Dra. Trisni Utami, MSi, Yudiawati Kusumaningrum, Nia Fathoni, Yuni, Ratna, Inchen, Rane, Amy, dll. Kepada tenaga birokrasi seperti mbak Eny, Mas Sony, Mas Bambang, Mas Gofur,  Mas Budi, Mas Wily, Bu Heny, Bu Nurhayati, Mas Bahtiar dan seluruh staf yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu: terima kasih, sekali lagi  terima kasih kepada semuanya. Berkat dorongan dan dukungan, informasi dan akses, serta bantuan tenaga dan pikiran anda,  Guru Besar saya ini akhirnya turun juga setelah kurang lebih 10 (sepuluh tahun) diajukan oleh Senat Universitas Sebelas Maret.[17] Banyak pelajaran yang saya dapatkan dalam kurun waktu penantian panjang itu, selain makin rajin berdoa dan tawakal, selalu belajar mensyukuri akan nikmatNya, membekali diri dengan kesabaran dan kerelaan serta kerendahan hati nrima ing pandum, akhirnya kini saya percaya bahwa waktu adalah Guru saya yang  paling bijak dan bersifat adil, yang membuat saya lebih penyabar, lembah manah dan tahan uji.
  12. Kepada seluruh hadirin yang hadir di sini, kolega, sejawat, handai-taulan, rekan-rekan wartawan, seniman dan budayawan, tetangga, dan semua pihak yang telah membantu, yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung atas capaian ini, semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipatganda kepada Anda semua, rezeki yang lumintu, keberkahan, kesejahteraan dan kenikmatan lahir dan batin. Amien…amien ya rabbal’alamin.

Sekian, terima kasih, matur nuwun, merci beaucoup,  wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  1. I. Daftar Pustaka
  1. Buku Referensi

Balle, Francis, Medias et Societes, edisi ke 5,  Penerbit Montchrestien, Paris, 1990

Ball, Donald A. dan  W.H. Mc Culloch, “International Business”, edisi ke 7,  terjemahan, Bisnis Internasional,  Buku I, McGraw Hill, Salemba Empat, Jakarta, 2000

Black, Jay and Frederick C. Whitney, Introduction to Mass Communication, second edition, Wm. C. Brown Publisher, Iowa, 1983

Braudel, Fernand,  Ecrit sur l’Histoire, Penerbit Champ Flammarion, Paris, 1969

Effendy, Onong Uchjana, Psikologi Manajemen dan Administrasi. CV Mandar Maju, Bandung. 1989

Fillingham, Lydia Alix,  “Foucault for Beginners,” diterjemahkan  Foucault untuk Pemula, diterbitkan oleh Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 2001

Fukuyama, Francis, The Great Disruption, Hakikat sionaManusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2002

Jandt, Fred E., Intercultural Communication, An Introduction, second edition, Sage Publications, London, 1998

Hitt, Michael A. and R. Duane Ireland dan Robert E. Hoskisson, Strategic Management Competitiveness and Globalization Concepts, terjemahan, Manajemen Stratgegis daya saing dan Globalisasi, Konsep,  Penerbit Salemba 4, Jakarta, 2001

Huntington, Samuel P., “The Clash of Civilisation and the Remaking of World Order” terjemahan Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2000

Kahin, George Mc., Nationalism and Revoultion in Indonesia, Cornel Universtity Press, Ithaca, 1970

Koorntz, Harold and Cyril O’Donnell, Management a Systems and Contigency Analysis of Managerial Functions, sixth edition, McGraw-Hill, Los Angeles, 1976

Kotler, Philip. dkk, “The New Competition,”  terjemahan  Kompetisi Baru,  PT Gramedia, Jakarta, 1986

Kim, Y., Communication and cross-cultural Adaptation, An Introgative Theory,  Mutilingual Matters, Clevedon, UK 1988, dalam R.L. Wiseman, ed, Theories in Intercultural Communication, Sage, California

Lull, James, “Media, Communication, Culture: A Global Approach,” terjemahan Media, Komunikasi Kebudayaan, sebuah pendekatan Global, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1998

Malinowski, Bronislaw, Une Theorie Scientific de la culture,  diterjemahkan dari  “A Scientific Theory of Culture and Others Essays,” (1944)  Point, Paris, 1968

Charles, Short Course in “International Business Culture”, diterjemahkan dalam Budaya Bisnis Internasional,  World Trade Press, Penerbit PPPM, Jakarta, 2001

Mowlana, Hamid Global Information and World Communication,  New  Frontiers in International Relations, edisi 2, Sage Publication, London

Naisbitt, John dan Patricia Aburdene, Megatrends 2000, Sidwick &Jackson, London, 1990

Ohmae, Kenichi, “The End of the Nation Stated; The Rise of Regional Economies,” Hancurnya Negara Bangsa, Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat Ekonomi Regional di Dunia tak Terbatas, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 1995

Purwasito, Andrik,  Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana, Penerbit Ford Foundation dan Pustaka Cakra, Surakarta, 2001

_______________, Pengembangan Program Pembelajaran, Metode Role-Play System mata Ajaran Komunikasi Antar-Budaya, Proyek QUE, FISIP-UNS,  Surakarta, 2001

_______________, Perpektif Kebijakan Publik dalam Otonomi Daerah, Penerbit Political Laborator,y for Supporting Good Governance, Surakarta, 2001

_______________,  Komunikasi Multikultural, Penerbit Universitas Muhammadiyah Surakarta  Press, Surakarta, 2003

_______________, Message Studies, Penerbit Ndalem Poerwahadiningratan Press, Surakarta, 2003

Samovar, Larry A. and Richard E. Porter, Intercultural Communication, A Reader, Wadsworth Publishing Company, Belmont, 1999

_________________________, Intercultural Communication, A Reader, edisi ke IX, Wadsworth Publishing, Belmont, 2000

Schramm, Wilbur and Daniel Lerner, Communication and Change, East-West Center Book Publisher, Honolulu, 1978

Simon, Roger, “Gramci’s Political Thought,” terjemahan Gagasan-Gagasan Politik  Gramci, Insist dan Pustaka Pelajar, cet 3, Yogyakarta, 2000

Sullivan, Tim O’ et all, Key Concepts in Communication and Cultural Studies,  second edition, Routledge, London, New York, 1994

Undang-Undang Republik Indonesia tentang Penyiaran,  No. 32 tahun 2002

  1. Internet, Suratkabar, Jurnal :

http://wiki.answers.com, “What is cross cultural management,” download 20 Oktober 2009 pk. 10.00 WIB

http://en.wikipedia.org, Cross-cultural communication, Wikipedia, the free encyclopedia, dalam download 25 Oktober 2009, pk. 11.09

http://www.allconferences.com, Understanding Conflicts Cross-Cultural Perspectives, download, 1 Nopember 2009, pk. 3.30 wib

Kompas,  21/10/2009

Kompas, 29/10/2008 “Pidato Presiden Soesilo Bambang Yudoyono dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda”,

Kompas: 1992, Andrik Purwasito, “Perang Peradaban.”

Kompas, 1993, Andrik Purwasito, “Kemiskinan Intelektual.”

Jurnal Sejarah, pemikiran, rekonstruksi, persepsi, Purwasito, Andrik, “Menggugat Historiografi Indonesia,”  no. 13 tahun 2007,  diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Yayasan Obor, Jakarta, 2007

Varidika, Varia Pendidikan,vol XII, no. 21, Desember 2000, Andrik Purwasito, “Komunikasi Antar-Budaya Jembatan Emas Masa Depan Indonesia,”


[1]Cross-cultural communication, Wikipedia, the free encyclopedia, dalam http: //en.wikipedia.org download 25 Oktober 2009, pk. 11.09. Studi komunikasi lintas-budaya, yang sering disebut studi komunikasi antar-budaya mengalami perkembangan sangat cepat sebagai medan riset global. Di Inggris bidang ini dipelajari dalam bidang communication studies, sedangkan di Inggris sebagai sub-bagian dari applied linguistics.  Studi komunikasi lintas-budaya juga dipelajari untuk bidang ekonomi dan bisnis serta dalam bidang pendidikan. Dalam kesempatan ini, komunikasi lintas-budaya dipelajari sebagai kajian inter-disipliner sebagai metoda strategis dalam menghadapi persoalan integrasi nasional (ke-Indonesiaan) dan hubungan internasional (globalisasi).

[2]Bronislaw Malinowski, Une Theorie Scientific de la culture,  diterjemahkan dari  “A Scientific Theory of Culture and Others Essays,” (1944)  Point, Paris, 1968,  p. 11

[3]Carey, op. cit., p. 1

[4]Andrik Purwasito, Pengembangan Program Pembelajaran, Metode Role-Play System mata Ajaran Komunikasi Antar-Budaya, Proyek QUE, FISIP-UNS,  Surakarta, 2001, p.31

[5]Ibid, p. 27

[6]Larry A. Samovar  and  Richard E Porter, Intercultural Communication, A Reader, edisi ke IX, Wadsworth Publishing, Belmont, 2000, p. 1

[7]Mitchel, op.cit, p. 4-5

[8]Roger Simon, Gramci’s Political Thought, terjemahan Gagasan-Gagasan Politik  Gramci, Insist dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet 3, 2000, p. 26

[9]Meskipun dalam masyarakat tampak adanya kesamaan dalam etnisitas atau ras, tetapi dalam prakteknya mereka mempunyai adat istiadat yang berbeda dan pengalaman sosial-budaya yang berbeda pula, menyebabkan mereka tidak mampu membangun hubungan yang optimal, dalam Peter and Samovar,  loc. cit

[10]Pembantu Rektor I, Bapak Prof. Dr. Ravik Karsidi, Ms, Pembantu Rektor II, Bapak Prof. Dr. Sholahuddin, Pembantu Rektor III, Bapak Drs. Dwi Tiyanto, SU, Pembantu Rektor IV, Prof. Dr. Adi Sulistyo, SH, M.Hum

[11]Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr, Sp Kj  (K)

[12]Drs.Supriyanto Susiloadi, MSi ( Pembantu Dekan 1), Drs. H. Marsudi Ms, (Pembantu Dekan II), Dra Suyatmi, SU (Pembantu Dekan III)

[13]Gagasan ini saya sampaikan dalam Debat Publik Calon Walikota Solo tahun 1999/2000

[14]Ayah dan Ibu : Pembantu Letnan Satu (purnawirawan), H. Daoed Soekardji, dan Hj. Toemiatoen

[15]9 bersaudara, Endah Karmiasih (almarhumah),  Dr. Anjar Wibisono (Balikpapan), Ir. Ayik Widiarso (Kediri), Drs. Agung Prawidodo (Tulungagung), Teguh Hernowo, Amd (Semarang), Uztad Rochmat Susilohadi (Mojokerto), Siti Nawangsasi, SE  (Surabaya), Sri Suwitaningsih S.Sos (Trenggalek).

[16]Istri dan Anak : Hj. Wida Prihastuti, Amd, Erwin Kartinawati, S.Sos, Elkautzar Poetry Argapatni, S.Sos, Al Qadrine Poetry Galihsuci, Humaida Poetry Al Arsy, Al Eqlas Purwasito Yunior, Al Maydah Romania Purwasito

[17]Diajukan oleh Senat Universtitas Sebelas Maret tertanggal 17 November 1999 dan ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional No. 57685/A4.5/KP/2009 tertanggal 30 Juni 2009, dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret, 10 Desember 2009


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.